Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

Zafran dan si Kembar

Seneng ada notifikasi up?


Selamat membaca . . .


Reyhan yang baru saja keluar melakukan pemantau di pabrik melihat adiknya keluar ruangan dengan terburu-buru. Pemandangan yang sering Reyhan lihat belakang ini setiap jam istirahat. Bahkan Mamanya sempat mengeluh, katanya sang adik tidak berada di Amerika ataupun di Jakarta, sama saja. Tidak ada pernah di rumah, kecuali Sabtu jika ada si Kembar di rumah keluarga Kafka.

"Mau kemana, Zaf?" tanya Reyhan yang menghadang langkah Zafran. Pertanyaan yang sebenarnya Reyhan tahu jawabannya karena selama dua bulan ini Zafran tidak pernah absen untuk menjemput anak-anaknya. Kadang Zafran juga mengajak Mayra untuk beraktivitas bersama si kembar selepas pulang sekolah.

"Mau pergi makan siang," jawab Zafran seadanya. Zafran pun tidak mengindahkan keberadaan kakaknya dengan kembali berjalan.

"Kalau begitu aku ikut. Kita makan bareng," kata Reyhan yang menggoda adiknya.

"Enggak, Kak Reyhan makan sendiri saja." Zafran terus berjalan seakan keberadaan kakaknya tidak kasat mata.

"Halah, bilang saja mau ketemu sama si Kembar," cibir Reyhan.

Zafran berhenti sejenak dan menaikkan salah satu alisnya. "Sudah tahu, kan?"

Sebagai seorang kakak, Reyhan sangat tahu bagaimana tabiat adiknya. Apabila sudah jatuh cinta atau mencintai sesuatu maka Zafran akan meyerahkan segalanya termasuk hidupnya sendiri. Reyhan masih ingat saat pernikahannya dengan Tania berusia sebulan, istrinya sudah positif hamil Mayra. Saat itu Zafran yang bertanya bagaimana perasaannya akan menjadi ayah?

Zafran pun mengatakan pada Reyhan bahwa dia tidak sabar menunggu situasi seperti kakaknya. Mendengar kabar kalau Almira sedang mengandung anaknya. Bahkan Zafran mengatakan bahwa setelah Almira menyelesaikan skripsinya maka mereka akan segera melakukan program hamil. Sehingga, ketika hadirnya si Kembar tidak mengherankan jika mengalihan hidup adiknya.

"Ingat kamu tunangannya Tita, Zaf," teriak Reyhan sambil menyunggingkan senyum meremehkan. Reyhan yakin tidak ada wanita yang bisa bertahan dengan Zafran. Dimana dia

"Aku menemui anak-anakku, bukan sedang selingkuh," balas Zafran tidak mau kalah. Dengan langkah lebarnya Zafran pergi untuk menemput anak-anaknya di sekolah.

Setiap akan bertemu si Kembar, ekspresi Zafran selalu saja semringah. Padahal, waktu untuk bertemu dengan anak-anaknya yang rutin tersebut seperti seorang yang sedang mencuri-curi waktu. Dimana setiap istirahat kerja Zafran akan ke sekolah untuk menjemput anak-anak, mengajak mereka makan siang sambil ngobrol sebentar. Kemudian selepas bekerja, Zafran akan ke rumah Almira untuk menemani anak-anaknya belajar atau bermain.

"Sudah kalian masuk, Appa langsung kembali ke kantor ya." Mendengar kata pamit yang disampaikan appanya, si kembar mengcium tangan Zafran.

Seperti biasanya Zafran akan melabuhkan usapan pelan di puncak kepala kedua anaknya dan mengecup. Setelahnya Iim dan Aam beriringan masuk ke N Resto menemui ibunya yang sedang bekerja.

"Nanti malam Appa main ke rumah, kita kerjakan tugas bareng-bareng," teriak Zafran yang akan memasuki mobilnya.

"Okee," teriak Aam. Iim yang ikut mendengar berjalan tanpa menjawab.

Ketika dua anak sekolah dasar itu membuka pintu ruang kerja ibu bersama Papi Alvindra, Iim dan Aam mencium punggung tangan keduanya. Alvindra yang memang lagi banyak pekerjaan langsung fokus menatap layar dan memeriksa kesesuaian dengan kertas-kertas yang di tangannya. Sedangkan Almira langsung meletakkan pekerjaannya demi membantu si kembar tentang apa yang anak-anak butuhkan.

"Abang, Kakak, ini baju gantinya," kata Almira yang telah memegang dua setelan baju untuk anak-anaknya.

"Anya, Appa bilang nanti malam mau main ke rumah, mau menemani kami belajar," kata Iim ketika mengambil baju dari tangan ibunya.

Almira hanya mengangguk sebagai jawaban, karena sudah biasa Zafran setiap malam selalu berkunjung menemui si kembar dan dirinya harus mengungsi ke rumah sebelah supaya tidak berada di bawah bangunan yang sama dengan Zafran. Hal tersebut karena Almira tidak ingin timbulnya fitnah di antara keduanya.

Ketika anak-anak Almira sedang ke kamar mandi untuk menganti pakaian, Alvindra yang juga mendengar laporan Iim pun mengonfirmasi perihal Zafran yang sering berkunjung ke rumah Almira.

"Sering banget Zafran ke rumahmu, Al. Sepertinya hampir setiap hari," ucap Alvindra.

Almira menaikkan alisnya sebagai jawaban iya. "Katanya Zafran sebelum dia berkeluarga lagi dia ingin menghabiskan waktu yang hilang bersama si Kembar, Vin."

"Tapi tidak sesering ini, Al. Kamu janda sedangkan Zafran calon suami Tita. Biar tidak terjadi sesuatu yang diinginkan, kamu harus membuat jadwal Zafran bersama si Kembar. Zafran itu kalau sudah fokus atau suka sesuatu kadang suka enggak ngotak."

Almira yang tidak ingin berdebat serta yang diucapkan oleh kembarannya tersebut memang kebenaran membuat Almira mengangguk seperti sedang mempertimbangkan saran adiknya.

Selepas menunaikan salat Magrib, Almira segera menyiapkan ruang tamu dan keperluan tidur si kembar di kamar mereka. Mulai menyediakan cemilan dan minuman sebagai suguhan yang biasa bapak dan anak itu nikmati. Biasanya Zafran akan datang tidak lama setelah azan Isya berkumandang.

"Kalau Appa lagi ada di sini, pintu depan jangan di tutup ya," pesan Almira setiap kali Zafran bilang akan datang berkunjung.

Pernah sekali anak-anak dan Zafran tidak mengindahkan pesan Almira tersebut, karena membuka pintu artinya mereka tidak bisa menggunakan AC dan hanya berpuas beraktivitas di ruang tamu menggunakan kipas angin. Tapi, karena kemarahan Almira dan larangan agar Zafran tidak pernah datang ke rumahnya lagi apabila tidak mengindahkan larangannya. Ada di rumah Almira berarti harus patuh dengan aturannya.

Bukan tanpa alasan Almira seperti itu kepada Zafran, hal tersebut karena dia tinggal di pemukiman orang yang guyup. Seperti yang dipesankan Alvindra, dia janda akan rentan gosip apabila ada lelaki yang sering berkunjung.

Sesuai dengan perkiraan Almira, sepuluh menit selepas azan Isya Zafran tiba di rumah Almira. Duda dengan dua anak itu berjalan dengan langkah lebarnya menuju pintu rumah yang terbuka.

Netra Zafran menangkap pemandangan Almira yang menemani si Kembar belajar. Tanpa di sadari sudut bibirnya melengkung ke atas, harinya bungah melihat pemandangan seperti Zafran memang sedang pulang dari lelahnya bekerja.

Zafran mengetok pintu dan mengucap salam yang langsung dijawab keras oleh Aam sedangkan Iim hanya menjawab lirih. Tetapi, dua anak kembar itu bangun dari duduk lesehan untuk menyambut Zafran dan salim pada punggung tangan apanya.

Almira pun juga bangun menghampiri Zafran dan bersiap-siap untuk meninggalkan ruang tamu. "Waalaikumsalam. Zaf, titip anak-anak ya, kalau ada apa-apa aku ada di sebelah."

Setiap Zafran ada di rumahnya, Almira selalu saja mengungsi ke rumah sebelah. Di rumah Rafli yang terhubung dengan rumahnya lewat taman belakang.

Sejak pertama kali Zafran berkunjung dan menemani aktivitas si Kembar ketika bermain kerumahnya, Almira selalu menghabiskan waktu bersama sahabat dan kakaknya di rumah sebelah. Almira adalah sosok yang sangat berhati-hati ketika bertindak. Dia tidak ingin menyuburkan perasaannya yang tidak ingin usai dan juga gosip yang akan merebak jika dia dan Zafran berada di bawah atap yang sama.

Di rumah Rafli, sesuai rencananya dan Caca yang akan melakukan panggilan video dengan Ghea dan Rere yang baru saja melahirkan membuat Almira langsung mendekati bumil dengan perut yang besar karena HPL-nya sudah dekat.

"Kamu selalu mengambil waktu berduaan kami, Al," protes Rafli yang mulai jenuh karena keberadaan Almira menjadikan rumahnya sebagai tempat singgah mengurangi waktu berduaan dengan Caca.

"Cuma sementara, Bang. Zafran kalau sudah nikah dia enggak akan setiap hari ini ke sini," balas Almira dengan santainya. Dia pun berfokus pada panggilan video di grup whatsapp agar anggotanya yang cuma berempat segera menampakkan wajah.

"Zafran nikah, Abangmu dan Caca pasti sudah enggak berdua lagi. Keponakanmu pasti sudah lahir," balas Rafli yang tidak sepenuhnya protes.

Lelaki itu tentunya akan lebih merasa tenang dan aman jika Almira ada di rumahnya dibanding di rumah yang ada Zafran. Jika ada gosip atau sesuatu yang tidak diinginkan terjadi pada hidup ibu si Kembar tentunya dia sebagai saudara tertua yang akan menyelesaikannya.

Ucapan bahwa Almira menganggu waktu berduaan Rafli dengan istrinya sebagai bentuk sindiran halus agar Almira mengerti untuk segera mengambil sikap kepada Zafran yang apabila bertemu dengan hal yang membuatnya bahagia tidak menggunakan rasio untuk memikirkan yang lainnya.

"Bang, biarin Almira di sini. Jangan nganggu kita, Caca sama Almira mau vcall Rere-Ghea sekalian sama lihatin princess-nya Rere," kali ini Caca yang menjawab protes sang suami karena panggilan video Almira sudah terhubung dengan Ghea maupun Rere.

Rere baru saja melahirkan anak perempuan yang menjadi daya tarik kenapa mereka melakukan komunikasi virtual pada malam itu. Rasanya baru saja mendapatkan bayi perempuan yang cantik tidak kuasa membuat Almira dan sahabatnya ingin mencubit gemas pipi bayi yang masih merah tersebut.

"Duh, Re. Anak lo gemes banget deh. Masih jadi yang paling cantik ini di antara saudara-saudaranya," kata Caca.

"Aku justru penasaran dengan sifat anak lo pas gedenya, Ca. Secara lo itu kalem banget dan Bang Rafli bijaksana sekali. Pasti keponakanku yang satu itu jadi Good boy yang pesonanya cakepp," timpal Ghea yang beneran penasaran dengan sifat anak sahabatnya bersama abangnya Almira.

"Dan kamu, Ghe. Biar keponakanku bisa jadi good boy or girl, cari calon yang kalem, ya," goda Almira karena Ghea yang saat ini sendiri akibat terlalu defensif dan juga cukup galak terhadap laki-laki. Godaan tersebut sontak saja membuat mereka semua tertawa.

Jika para perempuan sudah berkumpul meski lewat daring, tidak terasa hampir dua jam Almira dan para sahabatnya melakukan panggilan video. Rafli yang mememilih menyibukkan diri dengan membaca buku sambil sesekali melayani istrinya yang minta diambilin cemilan dan minum.

Ketukan pintu menginterusi aktivitas Rafli, Caca dan Almira. Mereka menoleh ke sumber suara di sana ada Zafran yang berdiri seperti biasa mengabari jika akan pulang.

"Mau langsung pulang, Zaf," tanya Rafli.

"Iya, Bang. Anak-anak sudah tidur. Zafran pulang dulu, ya," pamit Zafran yang sekarang sudah ahli menemani anak-anaknya tidur. Si kembar pun bukan tipe anak yang rewel, kemandirian mereka sudah Almira latih sejak dini. Sehingga Zafran hanya menemani anak-anaknya sikat gigi dan berwudu sebelum tidur. Tidak lupa, mengganti lampu yang temaram dan juga difuser.

"Zaf, tunggu," panggil Almira yang mencegah mantan suaminya untuk pulang. Almira segera menyudahi melakukan dadah ke layar yang masih menampilkan wajah para sahabatnya dan juga putra Rere. "Daahh, nanti sambung lagi vcall-nya." Kali ini ucapan Almira ditujukan di layar.

Tidak menunggu respon para sahabatnya karena Almira menangkap mimik wajah Ghea dan Renata yang sudah masam, Almira segera memakai sandal rumahan dan lari keluar rumah untuk menemui Zafran.

"Bisa bicara sebentar? Kita bicara di kursi depan teras rumah, ya," pinta Almira yang kemudian berjalan lebih dulu ke teras depan rumahnya.

Zafran mengekori dengan tanda tanya besar. Tidak biasanya wanita yang melahirkan anak-anaknya tersebut mengajaknya berbicara kecuali sapaan dan basa-basi saat dirinya datang atau pulang. Almira sangat menjaga jarak dengannya dan membatasi interaksi selama ini. Dan itu lebih baik bagi Zafran yang masih melekatkan perasaan cinta pada Almira.

Almira dan Zafran duduk di kursi kayu yang besisian dengan pembatas meja kayu yang ada di tengah. Untuk memudahkan komunikasi, Almira sedikit memiringkan tubuhnya yang berbicara ketika akan memulai pembicaraan. "Apa kamu sudah tidak pernah salat, Zaf?"

Zafran menatap tajam pertanyaan Almira. Ia pun menegaskan bahwa salat atau tidaknya dia bukanlah urusan Almira.

"Jelas itu urusanku, Zaf?"

"Apa urusanmu? Kamu harus sadar, Al, kita bukan pasangan suami-istri yang boleh ikut campur urusan masing-masing. Kita sepakat bahwa untuk tidak saling membenci untuk bisa mendidik si kembar bersama-sama."

"Karena kita mendidik anak-anak bersama, aku perlu tahu apakah kita punya pemikiran yang sama dalam mendidiknya. Jangan sampai aku membangun, kamu mencontohkan yang lain. Atau sebaliknya. Di sini aku mendidik mereka untuk menjadi taat, tapi kerena aku belum pernah melihatmu salat, mereka mempunyai kesimpulan yang lain. Aku takut kamu mencontohkan yang lain pada Iim dan Aam."

"Aku salat," jawab Zafran yang sepenuhnya bohong. Mantan Almira tersebut membuang pandang tidak berani menatap mantan istrinya.

Almira yang mengenal baik siapa Zafran tentu ia tahu bahwa mantannya tersebut berkata tidak sebenarnya. "Alhamdulillah. Sepulang dari sini langsung salat Isya' ya. Perjalanan dari kantormu ke sini membutuhkan waktu setengah jam, dan kamu datang 10 menit selepas Azan Isya'." Zafran langsung menoleh dengan tatapan tidak terima dirinya dipojokkan. Tapi lidahnya kelu untuk membantah saat dirinya sudah ketahuan berbohong.

Suasana menjadi hening karena kedua manusia yang dulunya sepasang suami istri itu saling membisu. "Kalau enggak ada lagi yang mau dibicarakan, aku akan pulang," kata Zafran yang akan beranjak dari duduknya.

"Sebentar, ada satu lagi," cegah Almira. Zafran yang akan berdiri pun menjadi urung dan duduk kembali.

"Zaf, tolong kamu jangan sering ke sini. Dan juga mari membuat jadwal untuk menjemput si kembar."

Peraaan tersinggung Zafran yang sebelumnya belum reda kini ia dikuasai ketidaksukaannya kembali. Zafran melotot dengan tajam kepada mantan istrinya. "Kamu ingin membatasi waktu bertemu anak-anak? Kamu ingin kuasai mereka sendiri buat kamu? Kamu egois sekali Almira!" ucap Zafran penuh penekanan karena menahan geram.

"Maksud aku itu kehidupanmu bukan hanya tentang si Kembar. Kamu punya keluarga, kamu punya sahabat, kamu punya tunangan. Kalau setiap harinya kamu sama Iim dan Aam, kapan kamu memberikan waktumu untuk orang lain yang perlu kamu."

"Mereka mengerti posisi aku, tidak seperti kamu!"

Almira menghirup napas dalam, mengontrol emosi agar tidak terpancing dengan ucapan Zafran. Terakhir ia bertengkar dengan Zafran berakhir fatal yaitu perceraian mereka. "Zaf, boleh aku minta kalau kamu bertemu dengan si Kembar kamu ajak tunanganmu?" ucap Almira yang langsung ke pokok pembicaraan kedua dengan si Kembar.

"Untuk apa?" tanya Zafran sambil menaikkan alis sebellah.

"Dia tunanganmu. Aku tidak ingin dia berpikir macam-macam terlebih tentangku kalau kamu bertemu si kembar tanpa dia!"

"Tita tidak masalah aku ke sini bertemu aak-anak."

"Tapi aku tetap ingin, kalau kamu mau bertemu dengan anak-anak harus bersama tunanganmu"

Zafran menatap tajam Almira yang dibalas mantannya serupa. Kemudian lelaki itu mendengus karena perempuan yang melahirkan anak-anaknya tidak ada tanda-tanda akan mengalah.

"Kalau kamu mau aku ke sini bareng Tita, Oke, aku akan ajak Tita bertemu kamu dan anak-anak. Aku akan tunjukkan ke kamu kalau Tita tidak apa-apa tentang kedekatanku dengan kembar dan dia bisa jadi calon ibu yang baik."

"Kalau begitu, ajak Tita juga ke sini. Kenalkan calon istrimu dengan si Kembar. Nantinya tunanganmu itu akan menjadi ibu sambung si kembar, bukan?"

Zafran tidak mengatakan apa-apa. Hanya menatap sebal pada perempuan yang menjadi ibu anak-anaknya. Tanpa pamit, Zafran meninggalkan kediaman Almira. 


Jum'at, 23 Desember 2022

Doakan semangatku terjaga yaa. Cerita ini harusnya -/+ 15 part bisa tamat.


Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro