Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

Menenangkan Orang Tua

Nggak lupa kok, kalau hari ini Jum'at

___Selamat Membaca___

“Yang lain masuk kamar. Papa mau bicara sama Reyhan dan Zafran,” titah Zeri tegas ketika keluarga Kafka sampai di kediaman.

Dua mobil yang mulai melaju di waktu berbeda meninggalkan area parkir N Resto sampai bersamaan di rumah utama keluarga Kafka.
Baru saja membuka pintu rumah dan melangkah masuk, Zeri sudah mengeluarkan perintah. Gelegar suara Zeri membuat yang mendengar menjadi keder.

Melly dan Tania mengangguk, tidak berani membantah apa yang sudah menjadi titah Zeri. Mereka tidak tahu duduk perkara, terlebih lagi, masalah sepertinya benar-benar serius. Ekspresi gahar Zeri sejak turun dari mobil masih bertahta.

“Rey, tidurkan Mayra di kamarnya dulu, Pa,” izin putra sulung dari keluarga Kafka.
Melly naik ke atas menuju kamarnya, sedangkan keluarga kecil Reyhan menuju kamar Mayra jika menginap di rumah kakek-neneknya.

“Mama juga ikut sidangnya,” putus Karin ketika mereka tinggal bertiga.

“Mama ikut masuk juga! Ini obrolan laki-laki!” Zeri tidak mengiyakan penolakan yang istrinya layangkan.

“Tapi mereka anak-anak Mama, yang akan kalian bicarakan juga cucu-cucu Mama, jadi Mama perlu terlibat juga,” ucap Karin yang tidak mau mengalah.

“Emosi dan kalimat Mama selalu spontan. Bukan menemukan solusi melainkan semakin menambah masalah.”

Karin melotot mendengar ucapan suaminya. Tidak jauh berbeda dengan reaksi yang Zeri berikan, sorot matanya seakan berbicara bahwa kali itu sebagai kepala keluarga ia tidak ingin dibantah.

Zeri sedang menjalankan perannya sebagai suami, bapak dan juga seorang kakek. Lelaki itu merasa bersalah dan turut andil karena tidak mampu membuat istrinya bersikap baik kepada Almira hingga begitu besar harga yang keluarganya bayar.

Kehilangan putra dengan pergi ke negeri orang untuk mengobati hatinya. Membuat anak perempuan orang harus berjuang mengandung, melahirkan da membesarkan cucunya seorang diri, serta keluarga besarnya tidak pernah tahu keberadaan si kembar.

Andai saja ia mampu mengatur istrinya lebih baik bersikap pada Almira ....

“Biarkan Mama ada di sini, Pa. Tetapi Mama janji untuk tidak selalu memojokkan Almira. Apapun yang nantinya akan kita bahas.” Ucapan Zafran menghentikan aksi kedua orang tuanya yang saling berebut dominasi.

Zeri menghela napasnya dan tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Melangkah melewati Zafran dan Karin menuju ruang di mana keluarganya senantiasa berkumpul. Mengempaskan tubuhnya pada sofa tunggal sembari mengangkat satu kaki untuk menumpu pada kaki yang lain.

Zafran dan Karin mengikuti apa yang dilakukan Zeri. Sama-sama duduk di ruang sofa ruang keluarga dengan sama-sama tidak ada yang membuka suara.

Keheningan itu dipecahkan olah derap langkah kaki yang memakai sandal rumahan. Efek dari waktu dini hari serta tidak ada perbincangan hingga suara kaki yang menggunakan alas kaki tipis suaranya terpantul dengan lantang.

“Kamu sudah tidak menganggap kami orang tua, Zaf?” berang Zeri ketika Reyhan telah duduk di samping adiknya.

Zafran hanya menunduk, tidak ada niatan membalas ucapan papanya. Lelaki itu sudah mengaku salah.

“Kamu juga Rey! Kenapa kamu juga ikutan membisu? Kenapa enggak ngasih tahu kami?” lanjut Zeri ketika tidak mendapat tanggapan dari putranya yang menduda.

“Pa, Rey pikir biar Zafran dan Almira menyelesaikan urusan mereka lebih dulu, setelah itu Rey yakin mereka akan membahasnya bersama kita.” Reyhan menjawab dengan begitu tenang.

“Buktinya apa? Almira tidak membahas apapun dengan ibunya, Zafran pun bersikap sama kepada kita,” cecar Zeri lagi.

“Mungkin Zafran dan Almira sudah memperkirakan waktu yang tepat,” sanggah Reyhan. “Zafran! Kamu ngomong sesuatu. Apa alasanmu untuk ini semua?” kali ini Reyhan mendesak adikknya untuk bersuara.

“Sudah-sudah.” Karin melerai agar pembicaraan yang menurutnya tidak perlu ini dihentikan. Menurut istri Zeri, ada cara paling mudah menyelesaikan ini semua, lantas kenapa menghabiskan waktu untuk beradu berdebat.

“Kalian enggak usah debat. Ini sudah malam. Mama juga capek pengin istirahat. Kita tinggal hubungi pengacara keluarga maka masalah ini selesai.” Begitu ringan Karin mengatakan pendapatnya yang membuat suami dan anak-anaknya melayangkan tatapan tidak percaya.

“Ma, kamu jangan bicara kalau semakin memperkeruh suasana!” Peringatan Zeri.
Karin hanya memutar bola mata jengah. Dia tidak habis pikir, kemunculan Almira selalu saja menghambat masa depan Zafran.

Tidak! Karin tidak mengatakan kehadiran si Kembar adalah penghambat, karena bagaimanapun anak-anak Zafran dan Almira adalah darah dagingnya juga. Hanya ibu dari cucu-cucunya yang selalu menghambat masa depan Zafran.

Oleh karena itu, Karin merasa ogah jika harus menyelesaikan perihal anak-anak Zafran secara kekeluargaan. Serahkan ke hukum saja, dia yakin keluarganya masih punya potensi besar untuk memenangkan hak asuh. Dan persoalan konsekuensi hubungannya dengan Mitha akan rusak tidak lebih menakutkan jika hubungan Karin dan keluarga Tita yang rusak.

Besan Karin yang kali ini adalah pengusaha dengan proyek pembangunan sarana prasarana besar. Mitranya kalangan pengusaha kakap dan pemerintahan. Jika dibandingkan dengan Mitha yang sebatas pengusaha dalam outsourcing dan ketenagakerjaan jelas tidak ada apa-apanya.

“Kalau masih ngomong sembarangan, kamu masuk!” lanjut Zeri lagi.

Bagaimana berangnya Zeri kali ini mampu membuat Karin bergeming, suasana pun menjadi hening.

“Zafran sudah akan membahas ini di minggu depan, Pa.” Akhirnya Zafran mengeluarkan suaranya.

“Apa kamu akan menuntut hak asuh anak-anakmu?”

“Awalnya Zafran berpikir demiki....”

“Jangan gila!” potong Zeri dengan cepat. Semua yang ada di ruang tamu itu merasa terlonjak karena intonasi tinggi Zeri.

“Pa, dengarin Zafran dulu,” tenang Rafly sebelum emosi Zeri semakin menanjak. Dari wajah sang Papa yang memerah, Reyhan mengerti jika kadar kemarahan Zeri begitu pekat.

“Zafran enggak akan segila itu, Pa. Zafran tidak turut andil membesarkan Iim-Aam. Almira juga sudah sangat baik mendidik anak-anak. Selain perkara umur, perihal sosok siapa yang bakal si kembar butuhin jawabannya pasti ibunya.”

Zafran memberi jeda dengan keberaniannya mengunci netra hitam milik Zeri. “Cuma saja, biar Zafran diizinkan bertanggung jawab serta sumbang peran mendidik anak-anak. Si kembar juga tahu bahwa di sini juga keluarga mereka.”

“Enggak bisa begi--,” protes Karin tertahan ketika dia menangkap delikan suami. “Oke, dirinya dilarang bersuara,” doktrin Karin dalam hati.

“Ma, hentikan niat Mama yang tidak realistis. Kekeluargaan itu lebih baik dari jalur hukum. Zafran masih ingin menjalin hubungan baik dengan Almira.”

“Mama tidak setuju,” tolak Karin yang ternyata sulit untuk menahan diri untuk menunjukkan sikap oposisi. Mendengar kalimat putranya menjalin hubungan baik artinya membuka potensi untuk rujuk kembali.

“Apa menurut Mama Zafran akan menang untuk hak asuh anak-anak? Hukum negara kita, Ma, anak seusia si kembar hak asuh akan jatuh ke ibunya.”

Kalimat Zafran membuat Karin merenung. Dipikirannya bagaimana cara membuat si kembar bisa bersama keluarganya. Tujuh tahun Almira sudah memonopoli, kini giliran hak keluarga Kafka.

***

“Abang, Almi, siapa di antara kalian yang akan menjelaskan? Kenapa tidak ada yang mau kasih tahu Ibu kalau Zafran adalah bapak dari si kembar?”

Semalam mereka terlalu lelah dan juga dalam emosi yang sama-sama tidak penat. Perlu menurunkan kadar kepekatan emosi dan ketegangan yang fisik rasakan. Setelah melewatkan malam, salat subuh bersama dan juga sarapan, anak-anak Mitha tidak bisa lepas dari sidang yang dilakukan ibunya.

Caca yang memang bukan tipe pembangkang serta tidak ada kuasa bagi Paramitha untuk memarahi sang menantu ia minta menjaga si Kembar selama proses sidang berlangsung.

Ruang keluarga yang berukuran luas kini terasa menyempit bagi Almira. Ia menyesal karena niat hati tidak mengungkapkan identitas Zafran sebelum bertemu pria itu untuk melindungi hatinya.

Ketika Zafran kembali dan Almira mengetahui ada ikatan interaksi keluarga besar Kafka dengan keluarganya mengharuskan Almira mempertimbangkan bagaimana cara memberitahu keluarga si kembar dari pihak ayah. 

“Ibu, maafkan kami,” Almira bangun dari kasurnya dan tersungkur tepat dibawah kaki ibunya. Dipeluk lutut Mitha, kepalanya pun diletakkan di atas kedua paha perempuan yang melahirkannya.

“Tidak usah seperti ini, Almira. Kalau ini kalian anggap harga yang harus Ibu bayar karena tidak membersamai kalian, oke! Ibu terima!”

Almira mencium punggung tangan Mitha berkali-kali. Air mata sudah membasahi tangan perempuan yang melahirkannya. Gumam Almira begitu lirih, “Ibu ....”

“Kamu dan Abang berpikir kalau Ibu tidak berhak tahu, kan?” ucap Mitha.

Meski namanya disebut, Rafly tetap bungkam. Dia melakukan kesalahan pada ibunya. Lidahnya menjadi kelu bersuara memberikan penenangan antara dua perempuan yang sama-sama ia sayangi.

“Bukan seperti itu, Bu.” Almira menolak pernyataan ibunya.

“Terus?”

“Maafin Almira, Bu. Maaf. Semenjak kami bercerai, Zafran pergi ke luar negeri. Jadi, menurut Almira akan memberitahu Ibu dan Alvindra jika kami bertemu lagi.” Almira mencoba menjelaskan terkait posisinya kepada sang ibu.

Menyaksikan bagaiamana posisi Almira yang berusaha mendapat maaf dari murka sang ibu, Rafly dan Alvindra belum bisa melakukan apa-apa. Sedari tadi, keduanya hanya dapat menyaksikan dan mendengar. Padahal, keinginan dua lelaki itu memeluk, merangkul, ikut menjawab dan memberikan perlindungan pada saudari mereka. Sayangnya, jika melakukan sama saja memancing amukan sang ibu kian menjadi.

“Semalam bukan pertemuan pertama kalinya, kan, bagi kamu dan Zafran setelah berpisah?” Almira menggeleng. “Terus, kenapa kamu tidak segera memberitahu Ibu, Almira?” tanya Mitha lagi  penekanan disertai desah frustasi.

“Almira sudah janji pada diri sendiri kalau akan memberitahu Ibu setelah Almira berbicara mengenai si kembar dengan Appa mereka. Sebelum-sebelumnya tidak sempat karena kami sama-sama sulit mencocokkan waktu.”

Almira kembali menyampaikan sebagian informasi dan menggunakan bahasa-bahasa multitafsir. Dia tidak siap membuka keseluruhan kondisi karena mempertimbangkan penilaian Mitha pada Zafran. Bagi Almira, tidak perlu mantan suaminya merasakan sebagaimana Karin bersikap kepadanya.

Selain itu, Mitha tidak perlu tahu juga kan bahwa hati Almira belum pernah dimasukin orang lain selain appa si kembar. Perasaan yang cukup Almira tahu, tidak perlu diumbar. Karena Zafran kembali dengan status tunangan orang.

Cepat sekali kamu move on, Zaf!

“Bukan seperti itu cara berpikir dan menyelesaikan masalah, Almi! Bagaimanapun, Ibu adalah orang tuamu. Kalau ada apa-apa bilang sama Ibu. Diskusi, minta pendapat orang yang lebih tua ini. Percaya, tidak ada orang tua yang akan menjerumuskan anak-anaknya.” Mitha menenangkan napasnya yang berburu.

“Kalau kejadian seperti kemarin, Ibu bingung sendiri dengan segala pokok masalahnya.  Tidak mungkin bila Ibu tidak berpihak pada kalian, kan? sayangnya, cara memihak kalian, wanita malang ini tidak tahu. Anak-anak ibu tidak ada yang mau memberi tahu.” Mitha menarik tangannya dari genggaman sang putri.

Tersadar dengan apa yang diucapkannya, Mitha melempar delikan tajam pada putra bungsunya. Bila anak-anaknya tidak ada yang memberitahu, artinya itu termasuk Alvindra, kan?

“Alvindra, kamu juga tahu kalau Zafran mantan iparmu?” Kembaran Almira mengangguk mendapat interogasi ibunya. “Kapan?” lanjut Mitha.

“Baru-baru ini. Setelah Zafran dan Tita balik ke Indonesia. Tepatnya saat kami akan meeting terkait acara pertunangan dan resepsi Zafran dan Tita,”

“Kenapa kamu juga turut andil tidak memberitahu Ibu?” cecar Mitha.

“Alvindra tidak punya wewenang, Bu. Pikir Alvindra, Abang atau Almira yang mengatakannya ke Ibu.”

Mitha pun menghela napas. Perempuan paruh baya itu memijat sisi kepalanya dengan telunjuk yang tiba-tiba merasa pening dengan pikir serta sikap anak-anaknya.

“Sebentar, apa katamu? Zafran dan Tita bertunangan?” Tiba-tiba merasa tersentak dengan jawaban putra bungsunya.

Jawaban iya yang dilontarkan Alvindra membuat Paramitha mengantongi beberapa hipotesa terkait sikap, keputusan serta tindakan putrinya.

Benang merah seakan bisa ibu tiga anak itu simpulkan. Iya, kemungkinan Almira tidak kunjung memberitahu ada hubungan dengan pertunangan Zafran maupun sikap teman sosialitanya, Karin.

Sesak Mitha rasakan ketika memaksa mencari kemungkinan-kemungkinan jawaban atas sikap keluarganya yang tidak terbuka perihal identitas keluarga si kembar. Perasaan marah, kecewa dan nelangsa semakin mendominasi. Sadar bahwa yang kondisi tersebut tidak baik dibiarkan, Mitha mengatur napas guna menurunkan kadar emosi negatif.

Bertanya tentang kenapa, sepertinya akan membuka luka-luka hati Mitha karena pendeknya cara berpikir-berperilaku ketiga buah hatinya. Memikirkan kemungkinan-kemungkinan tentang kenapa itu juga tidak memberikan kebaikan, mungkin Mitha bisa merasa lebih baik jika berpusat tentang bagaimana menjalankan perannya sekarang terhadap masalah yang dihadapi putri satu-satunya.

Tangan Mitha pun terulur untuk menyentuh surai putrinya yang betah berada dalam pangkuannya. “Almira, sebagai ibumu, sebagai sesama perempuan, apa Almira percaya bahwa Ibu sangat sayang sama kamu?” Almira mengangguk dengan kepala yang masih menempel pada paha Mitha.

“Apa akan percaya juga bila Ibu bilang akan sangat mengerti dan memahami Almira jika seandainya kamu bersedia terbuka?” Almira kembali mengangguk.

“Sekarang jawab jujur pertanyaan, Ibu,” lanjut Mitha.

Almira pun mengangkat kepala untuk berani menatap manik mata ibunya. Dalam keheningan aksi saling pandang, Almira benar-benar menunggu apa yang akan Mitha tanyakan.

“Apa yang menyebabkan kamu dan Zafran bercerai?”

“Mungkin Zafran bukan jodohnya Almira, Bu,” jawab cepat Almira. Jawaban paling ringan dan yang ia hapal. Saking sering juga jawaban tersebut ia berikan sebagai jawaban untuk siapapun yang bertanya perihal perceraiannya dengan Zafran.

“Almi ....” Mitha memberikan tatapan tajam pada putrinya yang enggan berbagi kisah hidup tanpa dirinya.

“Setelah lima tahun menikah kami cekcok, tidak sependapat. Salah satunya karena Almira yang baru lulus kuliah pengin kerja. Mungkin jiwa muda yang menguasai kami begitu kuat, Almira meminta cerai dan Zafran mengamini.”

Hanya itu yang bisa Almira ceritakan. Sebuah alasan yang sebenarnya sudah menemukan kompromi, Almira akan memilih mengalah. Namun, bagaimana sikap Karin kepadanya yang memicu pertengkaran hebat dirinya dengan sang mantan serta perihal perkataan Zafran yang merendahkan ibunya masih terpatri di benak. Almira memejamkan mata untuk mencoba mengurai perasaan sakit jika mengingat itu semua.

Mitha kembali merenung. Bagaimana mungkin apa yang dulu menimpanya kini terulang lagi pada kisah rumah tangga putrinya. Mungkin ini pengaruh bebet yang ia turunkan? Hingga bagaimana cara pengambilan keputusan Almira sama seperti yang ia ambil? Atau ini karma?

Mitha menggelang dengan hipotesa absurdnya. “Terus kenapa Karin sepertinya sangat membencimu?” Mitha memilih menggulir pada pertanyaan untuk memperjelas yang kondisi putrinya yang selainnya.

Rafly menggelengkan kepala terhadap bagaimana ikatan ibu dan anak. Meski Mitha tidak pernah mendampingi Almira ketika bersama Zafran, nyatanya ia mempunyai kepekaan sekiranya apa yang menjadi musababnya.

Rafly pun tersadar bahwa kemampuan yang dimiliki terkait bahasa tubuh dan potensi orang adalah turunan dari kemampuan Mitha sebagai rekrutmen SDM. Sehingga, kemampuan tersebut mendukung untuk menganalisa masalah yang menimpa adiknya.

Nama Karin disebut, Alvindra mengingat sepenggal curhatan Zafran bahwa Karin tidak menyukai istrinya dan .... Alvindra mengepalkan tangan untuk tidak menyampaikan fakta dan memperkeruh kondisi yang sudah beriak.

Sedangkan si Tokoh Utama yang mendapat pertanyaan hanya memainkan jemari, Almira takut  ibunya melihat fakta dalam pancaran mata yang sedang ia sembunyikan. “Keluarga Zafran baik, kok, Bu. Mungkin di balik sikap Tante Karin karena berpikir Almira meninggalkan anaknya dan menjauhkannya dengan Tante Karin setelah perceraian kami.” Dengan dada berdebar Almira mengatakannya.

Setelah adrenalin Almira sudah perempuan itu kuasai, Ia pun memberanikan diri mengangkat kepala, melanjutkan ucapannya. “Ibu sendiri kan yang bilang bahwa seorang ibu ingin yang terbaik untuk anaknya, mungkin itu cara Tante Karin untuk Zafran.”

Air mata Paramitha kemudian mengucur. Untuk menghibur hatinya yang telah berat berperang batin menenangkan diri dengan mendoktrin bahwa ini mungkin jalan hidup yang perlu putrinya jalani.

“Bangun, Nak. Duduk di samping Ibu.” Almira mengikuti perintah ibunya. Ibu si kembar tersebut duduk, bergelung di lengan Mitha dan meletakkan kepalanya di bahu perempuan yang rahimnya pernah Almira huni.

Mitha membalas dengan satu tangannya yang merangkum wajah Almira. Jemari Mitha bergerak membelai. “Almira, jawab Ibu! Apa kamu masih mencintai Zafran?”

Almira menarik sedikit tubuhnya untuk melihat ibunya. Ditatap lama pekat bola di mata Mitha, Almira meneguhkan diri perihal jawabannya. “Apa di usia sekarang ini, Almira akan naif karena cinta, Bu?”

Mendengar jawaban diplomasi Almira, Mitha pun mengerti perihal perasaan dan sikap yang akan putrinya ambil. Sebagai perempuan dewasa dan sudah menjadi ibu, Mitha tahu bahwa Almira tidak akan mengambil langkah yang keliru hanya bermodal atas nama cinta.

“Baik ibu mengerti. Tapi, Al, Ibu mau si Kembar tetap bersamamu. Jangan pernah rasakan lagi Nak, apa yang Ibu rasakan saat tidak bersamamu dan Abang,” pinta Mitha.

Almira mengangguk. “Almira akan membicarakan dengan Zafran dan anak-anak akan selalu bersama kita, Bu.”

Setidaknya Hati Mitha sebagai seorang ibu merasa lega perihal hak asuh cucunya akan Almira pertahankan. Tangan Mitha merentang melewati sisi belakang tubuh putrinya kemudian menarik untuk ia lekap. Lewat pelukan seorang ibu, Paramitha hendak menyampaikan bahwa kini Almira tidak sendiri, ada dirinya yang kan membersamai, mendukung, dan siap pasang badan atas segala hal yang Almira hadapi.

Rafly dan Alvindra yang sedikit kali bersuara, ketika pembicaraan sudah menemukan titik temu dan kehangatan ibunya sudah kembali kini berpindah duduk. Dua lelaki saudara kandung Almira tersebut duduk di pinggiran sofa dan melekap Almira dan Mitha.

Baik di hati Almira, Mitha, Alvindra, dan Rafly sama-sama berusaha mematri pelukan hangat itu dalam kalbu mereka. Dekap yang dulu mereka mimpi bisa rasakan, kini nyata. Meski kurang almarhum Hendy Nugroho, hanya doa yang bisa disematkan, semoga suami Mitha itu juga turut senang berkumpulnya keluarga tersebut. Rukun, saling mendukung.

Jum'at, 3 Desember 2021

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro