Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

Can I Be Happy ? { 3. Bimbang }

Aku meringkuk di bawah selimut tebal, mencoba mengabaikan dinginnya pagi yang mulai menyelinap. Tapi suara kicau burung yang merdu dan sinar matahari yang mulai menyapa wajahku tak bisa kuabaikan.

Dengan berat hati, aku membuka mata. Cahaya pagi yang masuk melalui jendela membuat pandanganku sedikit kabur. Aku menguap lebar, lalu meregangkan otot-otot yang masih terasa kaku. Setelah itu, kembali kututup mata sejenak, menikmati sisa-sisa kenyamanan di ranjang.

Pagi ini, entah kenapa, kepalaku terasa pening sekali. Mungkin karena pikiranku terus-menerus memikirkan selembaran yang diberikan Bu Yunita kemarin. Selembaran itu bisa jadi penentu apakah aku bisa melanjutkan sekolah di sekolah favorit tempat saat ini aku bersekolah, apalagi aku mendaftar melalui jalur prestasi.

Memikirkan keputusan yang harus kuambil membuat kepalaku semakin kacau. Aku harus segera mengisi formulir itu dan meminta izin kepada Ibu untuk melanjutkan kegiatan ekstrakurikuler di SMP kemarin. Aku tahu, Ibu sudah melarangku melanjutkan Pramuka yang sudah ku mulai sejak bangku SMP, supaya aku bisa fokus belajar. Namun bila tidak diteruskan, penerimaan aku di sekolah dapat di pertanyakan.

Kepalaku semakin pusing memikirkan ini semua. Apalagi, aku satu-satunya murid yang mendaftar melalui jalur prestasi tanpa harus melalui tes non-akademik.

Tok... tok... tok... Terdengar suara ketukan di pintu kamarku dari luar.

"Abang, kata Ibu abang disuruh beli santan kelapa di warung Uni!" teriak adikku, Adit, dari balik pintu.

"Iya, sebentar," jawabku, tersadar dari lamunanku. Aku pun beranjak dari kasur, meraih baju bersih yang kugantung di dekat pintu, dan mengenakannya.

"Bang, tolongin Ibu beli santan, bumbu dapur, garam, sama gula di warung Uni ya. Oh iya, jangan lupa daun salamnya sekalian. Minta aja ke Pak Nasir, tetangga seberang rumah," perintah Ibu sambil fokus mengupas bawang.

"Duitnya ada di atas kulkas. Ambil aja dua puluh ribu, takut uangnya kurang. Beli santan kelapa parut sama bumbu dapur ya, Bang. Garamnya juga jangan lupa!" tegas Ibu, berusaha mengingatkanku.

Sebelum keluar rumah, aku membasuh wajah dan menyikat gigi di kamar mandi, sesekali aku menguap karena masih ngantuk

Warung Uni Yen tak jauh dari rumahku, hanya dipisahkan oleh dua rumah. Pagi ini, ramai ibu-ibu yang berbelanja. Wajar saja, ini hari Minggu. Beberapa sudah rapi dengan kebaya lengkap dengan kain tenun, siap berangkat ke gereja, sementara yang lain datang dengan daster berwarna mencolok, membawa anak kecil. Tidak hanya belanja sembako, ada juga yang datang hanya untuk membeli jamu dari pedagang yang berjualan di dekat warung Uni Yen setiap pagi.

"Uni, mau beli santan kelapa sama bumbu dapur," kataku.

"Sebentar ya, Gas, Uni lagi sibuk. Uni layani yang pesan ibu ini dulu," jawab Uni Yen dengan aksen Padangnya yang kental. Tangannya yang bergelangkan emas besar tampak sibuk melayani pesanan.

"Beli apa, Gas?" tanya suami Uni Yen, yang akhirnya turut membantu karena banyaknya pembeli.

"Mau santan kelapa parut sama bumbu dapur, Da," jawabku. Dengan cekatan, ia menyiapkan pesananku dan pesanan lainnya.

"Udah, ini saja? Ada lagi nggak?" tanyanya lagi.

"Ini aja, Da. Terima kasih," ucapku sambil menyerahkan uang setelah ia menyebutkan nominal belanjaanku.

Semua yang Ibu minta sudah kubeli. Tinggal mampir sebentar ke rumah Pak Nasir untuk minta daun salam. Semoga orangnya ada di rumah, jadi aku nggak perlu diam-diam mengambil dari pohonnya seperti kemarin.

Setelah kembali ke rumah, aku letakkan belanjaan di dapur, berikut sisa kembalian. Sambil menunggu Ibu selesai memasak, aku dan Adit berinisiatif membereskan rumah.

Adit adalah adikku nomor dua setelah almarhum Malik. Saat ini, Adit baru saja duduk di kelas enam SD. Tubuhnya yang kurus tinggi sering kali membuat banyak orang mengira aku adiknya.

Kalian pasti bertanya-tanya, kenapa aku nggak minta tanda tangan pada Ayahku saja? Kenapa harus Ibu? Sebenarnya, aku ingin, tapi Ayah jarang sekali pulang. Ayah bekerja sebagai kepala koki di kapal perairan domestik dan hanya bisa pulang saat pasokan bahan makanan habis atau ketika kapalnya bersandar di pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta.

Jadi, sejak kecil, aku memang sudah terbiasa jauh dari sosok bernama Ayah. Terkadang, iri rasanya ketika melihat anak-anak lain yang Ayahnya selalu ada waktu untuk mereka. Dan tentunya sedih saat melihat anak lain didampingi kedua orang tua mereka di acara parenting sekolah, sementara aku hanya ditemani Ibu dan Adit.

Meski begitu sosok Ayah yang mengayomi dan bijaksana, dengan tutur kata tegas dan tanggung jawabnya yang besar, selalu kurindukan hadirnya di rumah.

"Ayo, ambil piring sama nasinya di rice cooker, kita makan sama-sama!" seru Ibu seraya membawa opor ayam buatannya yang sudah matang ke meja makan.

Rumah kami tidak besar, sederhana tapi nyaman untuk ditinggali. Walau terkadang ada cucian bersih yang tertumpuk di sudut ruangan menunggu disetrika, sedikit mengganggu memang, tapi membereskannya saja bisa menghabiskan waktu hampir sehari penuh.

Aku dan Adit yang sudah selesai membereskan rumah, melakukan apa yang Ibu suruh. Tak lupa, aku turut membantu mengambil peralatan makan yang dibutuhkan.

Sarapan pagi ini cukup istimewa karena adanya opor ayam dan sambal goreng buatan Ibu. Iya, opor ayam. Di keluarga kami, makanan apapun bisa dihidangkan kapan saja, tidak harus menunggu hari raya.

Pernah aku bertanya pada Ibu, kenapa dia sering memasak makanan yang biasanya hanya ditemukan saat hari raya saja ataupun dijual di rumah makan.

Jawabannya sederhana. "Biar kalian nggak jajan sembarangan dan nggak gampang sakit."

Sarapan kami pagi ini sangat nikmat dan tenang. Hanya terdengar dentingan sendok yang sesekali berbenturan dengan piring. Adit saja sampai nambah dan pastinya dia mengambil bagian paha ayam yang paling ia sukai.

"Omong-omong soal opor ayam, Bu, jadi inget dulu pas Ibu baru belajar masak pernah buat nastar keras banget," kataku sambil tertawa kecil.

"Masih inget aja!" Ibu tertawa terbahak-bahak. "Iya, itu Ibu malah masukin putih telur ke adonan, harusnya cuma kuning telur."

"Iya, saking kerasnya digigit, sampai diketuk-ketuk ke lantai sama si Ilham," kenangku, mengingat kejadian sepupuku yang tak bisa makan nastar buatan Ibu.

Mendengar ucapanku Adit sampai tersedak makanan, spontan ia pun meminum air yang terletak tak jauh darinya. Dan kami pun tertawa bersama.

Setelah suasana dirasa cukup santai, aku mencoba membicarakan perihal ekstrakurikuler yang ingin kulanjutkan di sekolah.

"Bu, Abang mau ngomong, tapi Ibu jangan marah ya," kataku. Seketika, suasana ruang makan menjadi serius.

"Abang kan daftar sekolah pakai jalur prestasi Pramuka, boleh nggak ekskul Pramukanya abang lanjutin lagi? Kalau Ibu nggak kasih izin juga nggak apa-apa, tapi takutnya nanti di sekolah dipermasalahin sama kepala sekolah," ucapku dengan tatapan penuh harap.

"Semua terserah Abang, mau ikut apa pun, Ibu izinin asal masih di jalan yang benar. Tapi satu yang harus Abang tahu, Ibu cuma bisa sekolahkan Abang sampai SMA aja. Biaya di luar itu, Abang yang tanggung sendiri."

Mendengar ucapan Ibu, aku hanya bisa terdiam dan mengangguk. Meski begitu Ibu tetap menandatangani formulir yang kuberikan, tapi keputusannya kembali padaku.

Jujur, aku masih ingin melanjutkan Pramuka karena banyak hal yang bisa kupelajari. Tapi mengingat aktivitas yang padat, biaya yang berangsur, dan waktu yang banyak tersita, mungkin itu akan mengganggu belajarku nantinya. Ditambah lagi, Ibu sudah tidak bisa memberikan uang saku banyak seperti dulu.

Arrgghhh... Bagaimana nanti saja. Aku yang gundah mengacak-acak rambut di depan pintu kamar. Tanpa sadar, pintu kamar kubanting cukup keras.

"Heii! Bisa pelan-pelan nggak tutup pintunya!"

~•~•~•~

Oh, Haii...

Ada yang kangen sama aku enggak hehehe, setelah sekian purnama akhirnya kita berjumpa lagi.

Mohon maaf, karena padatnya aktifitas mungkin aku tidak bisa update cerita sesering dan se-teratur teman-teman GWC batch 1 lainnya.

Eitsss... jangan sedih dulu, sebisa mungkin aku akan menyelesaikan project kali ini berikut part-part yang kayaknya masih ngegantung jadi jangan bosen-bosen nunggu notifikasi dari Bagaskara yaa😊

Bagaskara: Tau nih Kak Ads udah ditungguin dari kemarin juga anggak muncul-muncul *Bombasticsideeyes

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro