Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

7. The Twinnie

Berpikir adalah hal paling malas untuk Sena lakukan. Bukan karena dia bodoh, hanya saja berpikir itu melelahkan membuat Sena harus mengeluarkan banyak tenaga. Sena lebih rela disuruh berlari keliling monas, dibanding harus menggunakan kinerja otaknya.

Yah. Semalas itu Sena untuk berpikir, terutama untuk hal-hal berat seperti menyusun strategi pembunuhan.

Hh... berterimakasihlah pada Adam dan isi kepala seksi lelaki itu yang selalu cemerlang memberikan ide.

Namun Rio seperti sedang mengerjai Sena lewat misi terakhir. Di mana wanita itu dipaksa menggunakan otaknya untuk membuat taktik pendekatan pada anak kembar Jonathan.

Duduk Sena bergeser ketika melihat Nino berjalan menemui Nina yang sedang mengepang rambut boneka barbie. Bocah laki-laki itu menunjukkan sesuatu dari buku gambar yang Sena coba intip tapi tak berhasil melihat apapun.

"Itu apa?" Sena terlanjur penasaran saat anak kembar itu saling melempar tawa. "Boleh aku melihatnya?"

"Tidak!" ketus Nino menarik Nina agak mundur menjauh.

Sena hanya mendengus.

Wanita itu menoleh, memposisikan menghadap kedua bocah tersebut dan sengaja menutupi pandangan cctv di belakangnya.

"Kalian masih betah memusuhiku? Padahal aku ingin berbaik hati berbagi jajanan."

Tak ada jawaban. Hanya lirikan kilat Nina yang berhasil Sena dapatkan.

Menyerah bukanlah pilihan. Sena memajukan duduk, tak peduli si kembar ikut mundur demi menjaga jarak. Terus begitu, sampai akhirnya terpojok di sudut dinding.

"Bibi ini sedang apa?! Mundurlah!" Nino berkata tegas.

Kedua tangan Sena keluar dari saku celana, menangkup menyembunyikan sesuatu. Sudut bibir wanita itu tertarik ke atas membayangkan reaksi yang akan diterima. Raksa bilang Nina dan Nino adalah pecinta permen jelly kalau saja Jonathan tak bersikap terlalu keras. Jadi harusnya kali ini usaha Sena akan berbuah manis.

"Tebak apa yang aku punya?" Sena menggoyang-goyangkan tangan.

Nino berdecak sebal. "Tidak tau. Pergilah!"

Lain hal dengan Nina yang tampak penasaran. Ujung bungkus yang mencuat dari dalam tangkupan Sena tampaknya menarik perhatian bocah imut tersebut.

"Apa itu bungkus permen jelly?" suaranya lirih, mengerjap ingin tau.

Senyum Sena melebar puas, bersorak tertahan ketika memamerkan bungkusan  pada Nina yang ikut sumringah. Mata gadis itu berbinar mendapati makanan kesukaannya.

"Jelly?"

"Nina mau?"

Gadis kecil itu mendongak penuh harap. "Boleh?"

"No! Daddy bisa marah."

Mungkin jika tak ingat Nino hanyalah seorang bocah, pasti Sena sudah menjitak sampai benjol kepala anak itu sejak tadi.

Sena berbisik, "daddy kalian 'kan tidak tau. Lalu kenapa? Lagian gigi kalian tidak akan langsung rontok semua jika memakan sebungkus permen jelly," ucapnya pelan. Mengingat ada alat penyadap suara di ruangan itu.

"No! Daddy akan marah!" Tegas Nino menarik adiknya.

Helaan napas pasrah keluar dari mulut Sena. "Ya... ya terserahmu kalau tidak mau, setidaknya jangan pengaruhi Nina. Bagian daddy kalian, biar aku yang tanggung jawab."

Perlahan Sena menarik pergelangan tangan Nina. Anak kecil lucu itu tak menunjukan penolakan, justru pasrah mendekat.

"Nina!"

"Jangan dengarkan abangmu. Ayo sini, sehabis itu kita langsung sikat gigi, oke?"

Bagai setan penghasut profesional, Sena begitu lancar menggoyahkan pertahanan Nina.

Pandangan Nina tak lepas dari beruang menggemaskan dari balik kemasan. Bocah itu mengangguk patuh. Permen jelly benar-benar bisa menghipnotisnya.

"T—tapi Bibi!"

Nino mengapai ujung baju Sena saat hendak menggiring Nina ke kamar. Tempat yang hanya memiliki satu cctv menghadap tempat tidur. Lokasi yang ideal untuk digunakan melakukan pendekatan pada Nina.

"Kenapa?"

"Apa itu ada rasa strawberry?"

Lihat, siapa makhluk menggemaskan ini. Sena nyaris menyemburkan tawa begitu mendengar suara malu-malu Nino.

Wanita itu membungkuk bersama senyum penuh kemenangan. "Banyak. Aku juga punya permen cokelat. Apa Nino mau?"

Terlihat ragu. Namun Nino tetaplah hanya seorang anak kecil polos yang belum mengerti banyak hal. Perlahan kepala kecil itu mengangguk.

"Aku mau!"

Bersamaan dengan langkah mereka bertiga menuju kamar Nina, seseorang yang memantau dari layar cctv terkekeh kecil mengetahui rencana Sena.

“Apa dia bodoh? Itu sama saja cari mati.”

🌶🌶🌶
.
.
.
.
.
.
.
.
.

Update setiap malam minggu. Kalau terlanjur penasaran kalian bisa baca versi panjangnya di karyakarsa (kumbangmerah) 👋

https://karyakarsa.com/kumbangmerah/call-me-baby-vol7

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro