6. As a Nanny
Langit malam ini cukup cerah. Sena terdiam di atas tangga dekat kamar si kembar, menghadap kaca besar yang langsung menguyuhkan pemandangan elok dari taman bunga mini di samping rumah.
Tolehan kepalanya tergerak ketika mendengar sayup langkah seseorang.
"Belum tidur?" Ada Jonathan yang berjalan mendekat.
Iris cokelat Sena sempat terpaku beberapa saat mengamati sosok di depannya. Jonathan dengan mata sayu dan kemeja kusut dengan lengan yang ditarik sesiku itu cukup menguras akal sehat Sena.
Ah—belum lagi dasi sialan itu. Apakah tidak bisa Jonathan melilitkannya dengan benar.
"Sebentar lagi."
Jonathan melirik arlojinya, sudah lewat tengah malam dan Sena terlihat kelelahan.
Bukan. Jelas bukan karena mengurus si kembar. Jonathan tidak tau saja jika Sena lelah menghabiskan waktu yang membosankan di hari-hari kerjanya. Segala cara sudah dicoba, mulai dari bermain gadget sampai ponsel panas dan batre habis, berkeliling rumah hingga kakinya berasa mau patah dan menonton tv di ruang bermain. Namun, nihil. Sena tak bisa membunuh waktu semudah melayangkan nyawa para korbannya terdahulu. Ujungnya Sena hanya bisa mondar-mandir seperti setrikaan laundry, mengawasi Nina dan Nino di kamar masing-masing sebelum kedua bocah itu memasuki jam tidur.
"Apa mereka menyulitkanmu sampai pukul segini pun masih terjaga?"
"Tidak, Tuan. Tapi mungkin mereka butuh waktu untuk menyesuaikan diri dengan pengasuh baru," ucap Sena.
Kepala tampan Jonathan mengangguk kecil. "Sekarang pergilah tidur. Aku tidak ingin kau makan gaji buta karena tidur di jam kerja."
Lelaki jangkung itu melanjutkan langkah menuju kamar si kembar. Membuat Sena yang dilewati tak tahan memasang wajah kesal. Setidaknya ia telah berusaha menjadi pengasuh sungguhan meski gagal total. Belum lagi wanita itu merubah ekspresinya, Jonathan sudah lebih dulu berbalik.
"Ah... Jonathan atau Jo saja. Itu lebih baik dibanding kata Tuan."
"Ya?"
"Panggil saja aku Jo."
"O—oh. Baik Tu— maksud saya.... Jo."
"Sounds better. Walau sebenarnya panggilan Daddy seperti malam itu terdengar lebih menyenangkan." Seringai Jonathan tercetak jelas sebelum berlalu meninggalkan Sena.
Decihan sebal keluar dari bibir tebal Sena ketika punggung lebar majikannya lenyap di balik pintu. Wanita itu baru hendak menuruni tangga ketika berpas-pasan dengan anak lelaki berseragam SMA. Berperawakan tinggi dengan kulit kecokelatan. Lewat sorot tajam matanya, Sena mudah menerka jika sosok itu adalah Raksa Atmadja, anak pertama Jonathan yang juga hanya diakui sebagai keponakan.
Raksa menghentikan langkah, memindai Sena dari ujung kepala hingga mata kaki dan kembali ke atas, lalu berhenti tepat pada bagian dada. Tindakan yang cukup membuat Sena berhak menampar Raksa kalau saja lupa sedang dalam sebuah misi.
"Pengasuh baru?"
Sena bergumam malas, air mukanya jelas menunjukan raut kurang bersahabat.
Dalam hati wanita itu membatin, mempertanyakan mengapa sikap menyebalkan Jonathan ikut diwariskan pada anak-anaknya.
Mendapat jawaban singkat, Raksa hanya mendecih bersama senyum kecut.
"Tumben pilih daun muda bohay. Biasa yang udah agak berumur. Kenal di club mana? Pasti service lo memuaskan, ya?"
"Maksud?"
"Gue jadi penasaran." Salah satu sudut bibir Raksa terangkat naik. "Wanna play with me?"
🌶🌶🌶
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Update setiap malam minggu. Kalau terlanjur penasaran kalian bisa baca versi panjangnya di karyakarsa (kumbangmerah) 👋
https://karyakarsa.com/kumbangmerah/call-me-baby-vol-6
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro