Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

5. New Day

Sena termenung memerhatikan sepetak ruang sederhana yang nanti akan menjadi tempat tidurnya setelah selesai bekerja. Ia wajib stand by 24 jam dikediaman keluarga Atmadja sebagai pengasuh anak dan hanya boleh pulang setiap hari Minggu.

Tak banyak perbincangan, Jonathan begitu saja menerimanya. Entah karena latar belakang Sena terlihat menyakinkan atau karena ia pernah memuaskan lelaki itu makanya Jonathan tak repot pikir panjang.

"Ini aneh," gumam Sena. "Pasti ada yang salah."

Tubuh Sena tersentak kecil ketika seorang wanita paruh baya membuka pintu kamarnya.

"Maaf, Nona. Saya sudah ketuk, tapi tidak ada jawaban."

Kepala Sena hanya mengangguk singkat.

"Jadi bagaimana kamarnya? Apa Nona suka? Tuan Jonathan meminta Anda untuk kembali besok bersama barang-barang yang diperlukan."

"Ya. Aku akan menyiapkannya malam ini. Terima kasih, engg...." ucapan Sena menggantung bingung.

"Panggil saja Bi Asih."

Kepala pelayan ber-nametag 'Asih' itu tersenyum hangat sembari mengantar Sena ke pintu depan.

Seperjalanan pulang, insting Sena terus mengatakan ada yang membuntutinya. Ia tau itu ulah Jonathan, sebab tak akan mungkin lelaki itu begitu mudah mempercayai orang asing begitu saja. Sena bersikap cuek, seolah-olah tak mengetahui apapun.

Dari balik tirai jendela rumah, Sena mengintip sebal.

"Harusnya Jo mengirimkan mata-mata yang handal," decihnya ketika melihat bagian depan sebuah mobil yang bersembunyi di balik pohon dekat rumahnya.

"Ini terlalu amatiran."

🌶🌶🌶

"Jika tau ada yang janggal, mengapa Tuan tetap mempekerjakannya?"

Kursi kerja Jonathan terputar menghadap Fabian—sang tangan kanan.

"Bagaimana jika Nona Sena berbahaya, Tuan?"

"Tidak. Aku yakin bukan si kembar yang menjadi tujuannya," balas Jonathan yakin meski tak ada fakta yang dapat memperkuat ucapannya barusan selain firasat.

"Tapi Tuan—"

"Sudahlah, lagi pula aku masih penasaran siapa dia."

Bermula dari pemakaman William dan berakhir menidurinya, Jonathan ingin mengetahui hal lain dari sosok Sena. Wanita itu terkesan dingin dan tertutup, seolah menyimpan banyak hal yang Jonathan butuhkan.

Baiklah, Jonathan tidak akan menampik fakta tentang kelihaian Sena dalam memuaskannya.

Wanita muda memang wajib diwaspadai.

"Tuan benar-benar sudah yakin?"

Lelaki itu meletakkan berkas biodata Sena ke atas meja, lalu menyandarkan punggung lebarnya pada kursi kerja. Jonathan telah memikirkan semua konsekuensi dan ia berpendapat jika Sena memang bukan orang biasa. Maka itu butuh informasi lebih lanjut dengan cara memantau Sena dari dekat, barangkali ada fakta baru yang bisa ditemukan.

"Tenanglah, Fabian. Apa gunanya aku membayar bodyguard yang berdandan seperti pelayan rumah?"

Bawahan setia Jonathan itu menunduk bersalah karena mempertanyakan keputusan sang atasan.

"Bagaimana dengan perkembangan informasi keluarga Ginevra? Sudah menemukan di mana anak-anak William?"

Lelaki muda di hadapan Jonathan menunduk semakin dalam. "Maaf, Tuan. Kabar terakhir yang kami terima hanya kepergian Mario Ginevra ke Dubai sampai waktu yang tidak ditentukan untuk mengurus bisnis."

"Bedebah itu!" Rahang Jonathan spontan mengeras.

Dadanya memanas tiap kali mendengar nama lelaki dari keluarga Ginevra yang masih tersisa. Bukannya Jonathan tak tau jika Alfa Ginevra, ayah William mati karena ulah anak keduanya yang tak lain adalah Rio. Lalu disusul oleh William dan Vivian, agar seluruh harta keluarga Ginevra jatuh pada Rio setelah menyingkirkan sanak saudara yang lain tanpa ampun.

Sudah lebih dari 10 tahun Jonathan mencoba mencari keberadaan anak-anak dari William dan Vivian. Namun, nihil.

Semenjak peristiwa kecelakaan yang merenggut nyawa senior bisnis sekaligus teman dekatnya itu, anak-anak William dan Vivian juga hilang bagai ditelan bumi. Jangankan tau rupa, siapa nama dari kedua putri keluarga Ginevra itu saja Jonathan buta arah. Waktu itu William hanya menyebutkan panggilan untuk kedua putrinya sebagai 'baby girl 1 dan 2' dan belum sempat bertemu.

"Upayakan terus mencari dan awasi Sena dengan benar."

🌶🌶🌶

Sena mengamati seragam berwarna soft lilac khas pengasuh anak yang membalut tubuhnya.

Tak ada masalah menggunakan sepotong pakaian dengan bawahan rok span. Namun mengingat akan menjaga anak usia 3 tahun yang merepotkan, akhirnya Sena minta ganti bawahan menjadi celana panjang yang baru datang lusa.

"Apa ukurannya pas?" Asih ikut mengamati penampilan Sena yang tengah berkaca.

Jujur ini agak terasa sedikit ketat. Hanya saja Sena masih tau diri untuk tidak terlalu banyak protes di awal masuk kerja.

"Bisa aku bertemu mereka sekarang, Bi?"

Kepala pelayan itu tersenyum. "Tentu, Nona."

"Tolong, panggil saja aku Sena."

Ia harus menjadi pribadi yang lain ketika berperan menjadi pengasuh. Terkutuklah Rio yang sudah membuat latar belakang dirinya sebagai sosok ramah, lemah lembut dan penyayang.

Asih memandu Sena menaiki tangga ke lantai 2 dan berhenti di depan sebuah pintu bercat putih besar. Di dalam ada dua orang pelayan yang terburu membungkuk pada Asih.

Jauh dari perkiraan Sena. Ruang luas yang didominasi warna merah muda dan biru pastel itu tertata rapi dan cukup senyap. Hanya suara dari nyala tv tanpa penonton yang membuat keributan sendiri. Tak ada mainan berserakan, apalagi teriak bising anak-anak yang memekakan gendang telinga.

"Kenalkan. Itu namanya Vanina, biasa dipanggil Nina dan yang sana adalah Danino, biasa dipanggil Nino."

Asih menunjuk anak kecil berkuncir kuda dipojok yang tengah bermain dengan puzzle, lalu beralih pada bocah laki-laki di sudut lain yang terlihat serius menggoreskan krayon warna-warni di atas buku gambarnya.

"Apa mereka sedang bertengkar?" tanya Sena kebingungan.

Sekalem-kalemnya Siera setelah tumbuh besar, tetap saja ketika masa kanak-kanaknya sangat rewel dan menyebalkan.

"Tidak. Tapi memang begitu," jelas Asih. "Pendiam dan hanya bereaksi pada orang terdekat yang berhasil membuat mereka nyaman."

"Seperti?"

"Saat bertemu Tuan Jonathan atau ketika diusili Tuan Raksa."

Ah—satu nama lagi. Raksa Atmadja, anak tertua Jonathan yang belum kelihatan sejak tadi pagi.

"Biasanya Tuan Raksa akan berangkat sangat pagi sebelum Tuan Jo bangun. Tapi lebih sering jarang pulang. Tuan lebih suka menginap di rumah teman," ujar Asih seolah paham dengan raut tanya di wajah Sena. "Jangan tanya kenapa, urusan paman dengan keponakan itu memang sulit dijelaskan."

Sena hanya mendengus lirih. Ternyata Jonathan benar-benar menyembunyikan fakta status ketiga anaknya.

Paman dan keponakan. Jonathan terlalu kejam sebagai seorang ayah.

"Baiklah. Aku akan mulai kerja sekarang."

Asih beranjak pergi bersama dua pelayan lain yang siaga menunggu di luar ruangan. Tanpa sepengetahuan Sena tentunya, serta ada cctv tersembunyi yang telah dipasang untuk menonton gerak-gerik sang pengasuh.

Lembaran kertas yang berisi rangkuman data diri lengkap Nina dan Nino dibaca teliti oleh Sena.

"Vanina Atmadja. Alergi kacang?" Sena menoleh pada bocah perempuan yang merengut menatapnya. "Dan kau, Danino Atmadja. Alergi kacang juga?"

Tak ada tanggapan. Kedua anak di bawah umur itu masih asik dengan dunianya sendiri membiarkan ocehan Sena menguap tanpa balasan.

"Noted. Kemungkinan Jo juga memiliki alergi yang sama bukan?" gumamnya seraya tersenyum licik.

Wanita itu mengambil tempat bersandar di kursi santai, menatap bergantian pada dua bocah di sisi kanan-kirinya. Ini sangat membosankan juga merasa jengkel karena Sena benci diabaikan.

"Apa kalian akan terus begitu sampai malam? Kenapa tidak ada keributan selain suara tv ini?!"

Hening. Lagi, hanya sorot mata malas yang Sena terima. Nino dan Nina memilih tutup mulut dan hanya sesekali menoleh tanpa minat.

"Apa ada yang ingin bermain diluar? Setidaknya bantu aku agar terlihat sepenuh hati merawat kalian."

Nino mengangkat pandangan dengan raut sebal. "Bibi diamlah. Kau terlalu berisik."

Bocah lelaki itu membereskan peralatan menggambar dan membawa masuk ke kamar bercat biru pastel.

Sena menganga mendengar suara baru itu. Ketus dan tak bersahabat.

"Ap—apa?!"

"Duduk saja dan pergi seperti yang lain."

Mulut Sena semakin terbuka lebar.

Tadi Nino dan sekarang Nina.

Gadis kecil itu juga masuk ke dalam kamar bercat merah muda pastel. Membiarkan Sena terpaku dengan pikirannya sendiri di ruang bermain.

"Bi—bibi? Kau?" bata Sena tak percaya. "Haishh! Sepertinya aku harus membuka kelas etika untuk mereka!"

🌶🌶🌶

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro