Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

4. The Mission

Jemari Sena memijat pelipis, kini penat mulai menggerayangi wanita itu. Dalam satu tegukan besar, ia mengosongkan isi gelas kaca di depannya. Jam dinding sudah menunjukkan lewat tengah malam dan Sena sedang menikmati minuman sinting seharga ratusan juta hadiah dari Rio, sebagai perayaan rumah baru.

Mungkin harus berterima kasih pada paman tuanya yang sigap menyiapkan tempat tinggal untuk Sena dan Siera setelah kediaman lama mereka dimasuki penyusup. Beruntung penjaga rumah tak lalai berpatroli dan menemukan kejanggalan sehingga Siera tetap aman.

Dan menariknya, rumah sederhana mereka tersedia bar mini tersembunyi yang berada tepat di bawah kamar Sena. Layaknya bankar rahasia dengan banyak akses pintu keluar tak terduga yang dapat berguna dalam keadaan mendesak.

"Kelemahan Jo adalah ketiga anaknya." Penjelasan Adam—asisten pribadi Rio siang tadi kembali terngiang. "Privasi mereka sangat dijaga ketat dan sedikit yang tau kalau itu adalah anak Jonathan. Mereka mengenal Jo sebagai pria single, paman dari tiga keponakkan."

Sena memandang selembar foto di sela jarinya. Seorang anak lelaki berdiri kaku di samping dua bayi di dalam troli.

Berdasarkan info, itu adalah anak pertama Jonathan dan si kembar malang yang ditinggal sang ibu ke surga sehabis melahirkan. Foto salinan itu aslinya diambil 3 tahun yang lalu dan artinya kemungkinan anak kembar Jonathan telah berusia kurang lebih 3 tahun.

Kini Jonathan berstatus sebagai duda dengan tiga orang anak.

Tidak! Tapi duda panas pencipta anak-anak lucu.

Kepala cantik Sena menggeleng. Mungkin ia sudah setengah teler sekarang, bisa-bisanya pikiran wanita itu melayang mengingat malam gilanya bersama Jonathan.

"Lalu? Jangan bilang aku ditugaskan menculik anaknya?"

"Tidak. Justru kau harus menjaga mereka."

"Menjadi bodyguard?"

Ujung jari Sena menyentuh lambang rusa jantan bertanduk kokoh sebelum menuangkan cairan dari botol kaca bertuliskan 'The Dalmore 62' itu ke dalam gelasnya lagi.

"Jadilah pengasuh mereka."

"Adam, kau gila?!"

Kepala wanita itu ambruk menghantam meja bar. Sena menghela napas panjang.

Dulu sewaktu mengadopsi Siera yang masih berusia 2 tahun, Sena sering ikut menjaganya dan berujung kewalahan. Entah apa yang akan terjadi nanti, ketika ia harus mengurus anak kembar di usia 3 tahun. Dimana umur tersebut merupakan golden age atau masa paling aktif dari anak-anak.

"Pasti merepotkan!"

Demi bh kerang mermaid man di kartun Spongebob yang sering Sena tonton. Ia pernah menyamar lebih gila dari sekerdar seorang pengasuh balita. Namun dari semua rencana, tak sekalipun melibatkan anak-anak. Sebab Sena tau kekurangannya, hati kecil wanita itu akan tersentil dan iba. Membunuh bandot tua hidung belang jauh lebih mudah dibanding melayangkan nyawa bocah kecil tak berdosa.

"Apa aku harus mencelakai mereka agar Jonathan patuh?" monolog Sena. "Tidak! Tidak! Kau hanya ditugaskan mengasuh dan menjaga!"

Bibir tebal Sena menyesap minumannya. Perpaduan rasa pahit, manis dan sensasi terbakar di dalam tenggorokan membuat candu.

"Tapi bagaimana jika si tua bangka Rio itu menyuruhku untuk—"

Kepala Sena kembali ambruk di atas meja bar. "Aku hanya ingin bertobat dan hidup normal bersama Siera."

🌶🌶🌶

"Semua berkasmu telah dipersiapkan. Bertingkahlah seperti wanita normal pada umumnya yang membutuhkan pekerjaan dan bertahan selama mungkin."

"Hm."

"Kau bisa bernapas lega ketika interview dengan pihak Jo, karena lelaki itu tak turun langsung mengkoreksi pelamar. Ada tangan kanan kepercayaannya."

Gumaman malas kembali keluar dari arah Sena.

Ia berdecak malas menatap map coklat di depannya. Isi yang sudah dibaca semalam dan kini Sena tengah bersiap menuju tempat pelamaran kerja sebagai kandidat pengasuh anak kembar Jonathan yang baru.

Entah apa masalah lelaki itu, kurang dari sebulan pasti Jonathan akan meminta dicarikan orang baru. Padahal mereka tak punya masalah apapun. Namun, tiba-tiba saja pengusaha kaya itu memecat.

"Mr. Adam Lee! Haruskah aku memakai seragam menjijikkan ini?" Sena menatap tak suka kemeja putih kebesaran dan celana bahan cupu yang menyembunyikan lekuk tubuh seksinya.

Tangan kanan Rio itu menggeleng pasrah. Dalam hati ia cukup kagum bagaimana bosnya tahan menyikapi kelakuan brutal Sena.

"Pergilah. Jangan sampai terlambat."

Tangan Sena mengadah meminta sesuatu.

"Tidak ada pelamar miskin yang naik lamborgini ke tempat kerja, Arsena!"

Wanita itu mendengus malas. "Aku meminta uang recehan untuk naik angkutan umum, Adam! Kau tau sendiri di dompetku hanya ada black card dan uang cash berwarna merah!"

Sena wajib mendalami perannya. Seperti sekarang, ia menjadi wanita muda yatim piatu pendiam yang hanya tinggal berdua bersama adiknya. Terdaftar sebagai Nanny premium hasil didikan perusahaan Nanny Consultant & Management yang memasok pengasuh anak di seluruh Indonesia. Identitas Sena juga terstruktur secara ciamik. Hanya saja, satu hal yang mengganjal dibenaknya. Ini kali pertama ia menggunakan nama asli dalam penyamaran. Sena.

Mata indah Sena melirik arloji sederhana di pergelangan tangan. Setelah setengah jam berdesakkan di angkutan umum dan berjalan cukup jauh memasuki komplek elit tempat tinggal Jonathan, sekarang wanita itu sampai di depan gerbang tinggi di hadapannya.

"Nomor 127." Sena kembali mengecek secarik kertas dari dalam kantong celana.

Adam melarang Sena memesan ojek online demi mendalami tokoh wanita dengan ekonomi pas-pasan.

Masih ada setengah jam sebelum interview dimulai, tetapi ruang tamu milik keluarga Atmadja telah terisi dua pelamar lain. Ditambah Sena, mereka menjadi tiga besar orang yang terpilih sebagai calon pengasuh baru.

Kedua wanita muda lain spontan duduk merapat dan berbisik. Meski kecil, pendengaran tajam Sena masih mampu menangkap hinaan yang terlontar.

Sena bukan manusia yang suka beramah tamah. Malas ambil pusing, dengan ekspresi datarnya ia duduk setelah dipersilakan ART yang bertugas.

"Jadi ini yang pakai orang dalam?" Salah satu dari pelamar mulai bersuara. "Gak pernah ikut pelatihan, tau-tau masuk 3 besar."

Mereka menatap sinis ke arah Sena. Namun, wanita itu justru lebih tertarik dengan ikan hias di aquarium yang tak jauh darinya. Sena berjalan mendekat melihat kotak kaca besar berisi ikan hias mahal di dalam sana. Melihat ikan berenang selalu berhasil menenangkan.

Entah apa lagi celotehan dua wanita dibelakangnya, Sena enggan menguping lebih lanjut yang tak jauh-jauh dari topik calon majikan mereka—Jonathan, paman dari anak yang akan diasuh.

"Ck! Pembohongan publik!" gumam Sena kesal.

Belum apa-apa, Jonathan sudah terlihat brengsek di mata Sena. Bagaimana bisa seorang ayah tidak mengakui anak sendiri.

Pintu kayu di tengah ruangan terbuka, menampilkan ART lain untuk memanggil satu persatu calon Nanny. Terakhir adalah giliran Sena.

Wanita itu tak berpikir banyak setelah melihat dua orang pelamar sebelumnya keluar ruangan dengan derai air mata. Ia hanya membatin jika itu adalah kerjaan Adam yang memang sudah memuluskan jalannya.

Sampai fakta mengejutkan pagi itu nyaris membuat Sena ingin kabur ketika memasuki ruangan.

Jonathan dan ekspresi datarnya mempersilakan Sena duduk. Berbanding terbalik dengan Sena yang sempat melotot kaget, Jonathan justru tak bereaksi. Seolah mereka tak pernah melewati hal apapun bersama.

"Silakan, Nona Sena. Take your time. Introduce yourself."

"Aa—my name is Sena. I'm—"

"Twenty three years old?" Potong Jonathan yang diakhiri tawa kecil. "So young."

Lelaki berkemeja putih tersebut mendengus geli.

Jonathan selalu menghindari berurusan dengan wanita muda. Mereka semua merepotkan, tampak polos tapi handal dalam hal menggoda. Contoh seperti pelamar sebelumnya. Jonathan menolak secara mentah setelah ilfeel dengan gelagat genit mereka. Ia mencari pengasuh anak, bukan pelacur.

Tapi berbeda pada Sena, Jonathan terus memperhatikan lewat cctv di luar ruangan. Sejak awal masuk ke ruang tunggu, wanita itu tak banyak bicara dan malah tertarik pada aquarium. Terlebih, mereka punya pengalaman pribadi yang memuat Jonathan sendiri merasa cukup tertarik pada wanita muda di hadapannya.

Bukan seperti cinta pada pandangan pertama, melainkan sebagai misteri wanita dengan dress kuning neon yang ia temui dipemakaman William.

"Apa kabar kamu?"

"Sorry?"

"In bahasa, please."

Sena mengulum senyum tipis. Merutuki kebodohan fatal yang bisa saja mencoreng identitas palsunya.

"Maaf."

Curly lips seksi milik Jonathan menarik senyum. "Just relax, Miss."

"Nama say—"

"Saya sudah tau kamu." Tangan lekaki itu terangkat menggoyang-goyangkan lembaran kertas berisi biodata Sena.

"Kita buang saja semua formalitas ini." Jonathan menutup map dan berfokus menatap Sena yang mencoba tetap santai. "Just tell me, what are you feeling after our hot night?"

🌶🌶🌶

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro