Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

3. Rubah Tua

Sena terbangun dengan kepala berputar. Matanya mengerjap beberapa kali mengenali keadaan sekitar.

Dinding kuning pastel berpadu warna putih gading, bed cover bermotif bunga matahari, lukisan besar bunga matahari, vas yang juga berisi bunga matahari. Bunga kesukaan Vivian yang menular ke Sena. Semua pemandangan itu terasa familiar untuknya.

Pintu kamar berderit kecil, memuculkan sosok yang belakangan ini Sena rindukan. Senyum manis gadis muda itu lebih dulu menyapa sembari membawa nampan berisi makan siang.

"Bagaimana tidurmu, Kak? Masih pusingkah?"

Siera mengambil tempat di pinggir kasur sembari menatap khawatir kakaknya yang kelihatan linglung.

"Aku di mana?"

"Di neraka."

"Oh... sudah mati."

Tawa kecil Siera terdengar. "Tentu saja di kamarmu, Kak. Memangnya siapa lagi yang maniak bunga matahari selain kau dan Mama?"

Kening Sena berkerut. Seingatnya malam itu dia bersama—

"Kakak mabuk. Pagi tadi orang kiriman paman membawamu pulang dengan keadaan— engg... agak kacau. Tidak! Tapi sangat kacau!"

Sena lantas menunjuk diri sendiri.

Ia baru sadar saat ini tidak lagi menggunakan dress kuning neon-nya seperti terakhir kali, melainkan sebuah kaos kebesaran tanpa bawahan apapun. Sena mengendus bajunya, tercium perpaduan aroma alkohol dengan parfum berbau maskulin.

Sena berpikir keras memutar memori beberapa jam lalu. Minuman gila itu sukses membuatnya melupakan semua. Di sisa ingatan, hanya bayangan lelaki jangkung bertubuh tegap yang mendekat lalu mereka sempat terlibat situasi panas dan blank. Sena buntu. Bahkan entah dengan siapa ia menghabiskan malam, Sena belum menemukan jawaban.

"Sepertinya ada yang habis bersenang-senang. Aku bawakan makan siang, makanlah, lalu istirahat."

Siera menatap dalam kakaknya.

Ada rasa sedih ketika melihat hidup Sena menjadi tak teratur. Padahal saat orang tua mereka masih ada, Sena adalah anak penurut dengan kehidupan yang tak neko-neko. Tapi sekarang wanita itu menjadi bebas dan sesuka hati.

Merasa risih diperhatikan. Sena bertanya, "apa? Ada yang ingin dibicarakan?"

"Boleh aku bertanya?"

"Hmm... apapun. Asal jangan tanya kapan waktu kematianku, karena aku juga tidak tau."

Gadis itu bangkit mengambil map cokelat di laci meja rias. "Maaf lancang, tapi asisten paman menyuruh membukanya dan menginfokan padamu."

Kunyahan Sena melambat. Ia bahkan lupa dengan map sialan itu.

"Targetmu selanjutnya, Kak?"

Sena berkedip gusar.

"Bukannya Kakak berjanji akan berhenti?"

Suara lirih Siera mendadak membuat kerongkongan Sena seperti gurun pasir.

"I—itu." Sena menghela napas panjang sebelum melanjutkan, "ini yang terakhir. Rubah tua itu mengatakan begitu."

Sena meringis dalam hati kala melihat jelas sorot kesedihan pada mata adiknya.

Alasan mengapa ia hendak berhenti adalah karena Sena ingin menjadi seseorang dengan kehidupan normal bersama Siera. Meski rasanya egois berharap bahagia setelah dosa besar yang diperbuatnya.

"Membunuh lagi?"

Sena hanya membalas dengan gumaman samar. Matanya tak punya nyali membalas tatapan Siera.

Gadis muda berdress biru langit itu menghela napas lirih. "Mengapa menjadi orang dewasa sangat merepotkan? Dan kenapa Paman harus menjadikanmu—"

"Kau malu punya Kakak seorang pembunuh?"

Kepala cantik Siera menggeleng tegas.

"Tidak pernah sekalipun. Kakak yang terbaik. Sampai detik ini dan seterusnya, aku sangat berterimakasih pada Tuhan karena telah mengirimkan malaikat sepertimu. Aku hanya—"

Ucapan Siera terhenti begitu Sena menariknya dalam pelukkan.

"Nyawamu hanya satu, Kak." Suara gadis itu bergetar. Sena yakin Siera tengah menangis sekarang.

Pelukan Siera kian menggerat. Ia tau siapa Jonathan Atmadja, lelaki itu sering seliweran di televisi dengan berbagai berita. Mulai dari bisnis keluarganya yang tak main-main serta pengawalan pribadi yang teramat ketat. Terakhir kali seorang penembak bayaran yang mencoba melukai Jo, justru ditemukan tak bernyawa dan menjadi berita viral. Siera takut kalau sampai hal serupa menimpa Sena. Ia hanya punya Sena di dunia ini. Bertemu Sena bagai merasakan surga dunia. Dari lahir Siera telah dibuang ke panti asuhan, masa kecilnya suram. Meski masih berusia 2 tahun, pukulan dan cubitan sudah biasa ia rasakan dari ibu panti. Beruntung keluarga Ginevra mengadopsinya kala itu, hingga Siera terbebas dari rasa sakit yang pernah menjadi temannya.

"Kumohon berhentilah. Demi aku."

Sena mengusap lembut punggung Siera. Menjadi anjing pesuruh Rio juga dilakukan demi Siera. Ia tak mau Rio menyentuh adiknya barang seujung kuku pun.

"Teletubbies yang lucu."

Kedua kakak beradik itu spontan melerai pelukan. Ada kepala yang menyembul masuk tanpa izin.

Sorot lembut Sena berubah tajam. Rio terkekeh menikmati perubahan air muka Sena. Hatinya bersorak tiap kali menyadari letak ketidakberdayaan wanita itu.

Siera adalah kelemahan terbesar Sena.

"Archierra Ginevra. Haruskah aku memanggilmu seperti itu?" Lelaki itu mendekat perlahan. Mengintimidasi Seira yang tampak takut. "Aku sudah berbaik hati menjaga dan membesarkanmu, tapi kau malah mempengaruhi keponakkanku."

"Apa tanganmu sudah kehilangan fungsi? Ada pintu di sana, mengapa tidak mengetuk lebih dulu?!"

Rio tertawa.

Sarkas, ketus dan tidak sopan adalah hal yang melekat erat pada kepribadian Sena jika bertemu dengannya. Namun, menjadi lembut dan keibuan seperti Vivian, hanya bisa dilihat ketika Sena bersama Siera.

Sena meminta Siera keluar.

Ia tak ingin adik kecilnya kembali mengalami serangan panik saat bertemu Rio. Manusia brengsek itu sudah menorehkan trauma untuk Siera. Kepala gadis malang tersebut pernah ditodongkan pistol setelah melihat pembunuhan yang dilakukan Rio di depan matanya ketika masih berusia 7 tahun. Mental Siera yang tak sekuat Sena, menghantarkannya dalam perawatan psikolog selama bertahun-tahun. Beruntung lambat laun Siera membaik. Meski sudah di umur 16 tahun pun saat bertemu dengan Rio, adiknya akan menjadi gelisah.

"Puas tidur dengannya? Apa gaya favorit kalian?" Rio berdecih, langkahnya mendekati jendela dan bersandar di sana.

"Bicara yang jelas, Paman!"

Rio batal mematik api setelah rokok itu  remuk dalam genggamannya barusan.

"Jonathan Atmadja! Kau pasti belum membuka map yang ku berikan!"

Sena terdiam sejenak. "Aku akan segera mengirim nyawanya ke neraka."

"Nyawamu yang akan ke neraka!" Rio merampas ponsel di atas nakas. "Aku membelikan barang mahal ini bukan untuk jadi pajangan! Lihat dan dengar!"

Lelaki itu memutar berita lewat Youtube, menunjukkan info mengenai Jonathan dan kematian seseorang.

"Penembak jitu bayaran itu jauh lebih berpengalaman darimu! Tapi rencananya terbongkar dan mati!"

Sena mendengus remeh. "Lalu?"

Bolehkan Rio berlaku kasar pada wanita muda ini. Kesabarannya akan segera habis jika Sena selalu bertindak sesukanya.

Namun, Rio hanya bisa marah pada diri sendiri. Tiap kali melihat manik mata kecoklatan Sena, ia selalu teringat bagaimana Vivian pernah menatapnya lembut dengan mata serupa.

"Arsena Ginevra. Berhenti memancing emosiku, sebelum kepala adikmu benar-benar ku bolongi. Semakin lama kau hidup, mengapa etikamu kian tidak ada?!"

Sena mengusap hidung yang tidak gatal. "Berhentilah marah-marah dan beritahu aku harus apa, Paman. Lihat! Keriputmu bertambah," kekehnya diakhir kalimat.

Kepalan tangan Rio terbuka. Lelaki itu menghela napas sabar untuk kesekian kali.

Sebelumnya Rio sudah merencakan apa yang harus Sena lakukan. Tapi semua kacau, Jonathan pasti mengenali siapa wanita yang sudah ditidurinya semalam. Dan bodohnya Sena tak mengingat apapun. Terlihat dari gelagat santai wanita itu ketika memandangi wajah Jonathan di layar ponsel.

"Dia tampan."

"Tentu. Sampai kau rela melebarkan kakimu untuknya!" geram Rio. "Dia lelaki yang tidur denganmu, stupid!"

Mata Sena mengerjap bingung.

Isi kepalanya tengah bekerja keras mengingat sampai berakhir Sena mengerang kesal.

"Sudah sadar betapa cerobohnya dirimu?! Jika ingin jalan pintas, kau bisa langsung membunuhnya semalam."

"Tidak juga. Jika pun aku tau itu Jonathan, aku belum berniat membunuhnya."

"Apa?!"

Sena mengerling nakal. Sedikit demi sedikit gambaran malam bersama Jonathan berputar samar. "Dia benar-benar panas."

Sementara di sudut sana Rio sudah menyumpah serapahi Sena dengan bahasa yang sama sekali tak dimengerti wanita itu.

"Sudahlah Paman, banyak jalan menuju Roma. Tidak ada yang tau siapa aku."

"Bisa jamin tidak meracau apapun?! Kau mabuk!"

Sena bergumam yakin. "Dia membungkam mulutku dengan bibir seksinya semalaman. Lihat!"

Wanita itu menunjuk bibir bengkaknya yang terluka. Pasti telah terjadi perang sengit di sana.

"Terserah," pasrah Rio. Tengkuknya menegang menahan emosi. "Tanyakan saja detailnya pada Adam. Namun, inti dari semuanya adalah dapatkan kepercayaan Jonathan dan aset perusahaannya. Lalu habisi dia."

Ekspresi Sena berubah malas. "Kau tau aku bodoh. Jadi jangan buat aku memecahkan teka-tekimu."

"Tidak ada orang bodoh yang mengaku dirinya bodoh. Mereka hanya malas berpikir."

Rio selesai mengintip arloji, waktu keberangkatannya hampir tiba. Lelaki itu maju mengikis jarak. Mengecup sayang pucuk kepala keponakkannya.

"Aku harus ke Dubai hari ini dan tak tau kapan akan pulang. Kemasi barangmu karena kalian harus pindah."

"Maksudmu?"

Rio tak menjawab. Ia hanya mengusak lembut pucuk kepala Sena.

"Jaga nyawamu baik-baik. Aku tak sudi mengurus anak punggut itu. I'm watching you, Sweetheart."

🌶🌶🌶

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro