1. Senjata Rahasia
Tahu apa yang paling membuatnya kesal saat ini.
TAK!
Kaki jenjang yang terbalut boots kulit itu tak segan menendang meja di dekatnya. Ia belum sepenuhnya masuk, terlalu muak jika harus berbagi oksigen di ruangan yang sama dengan dua manusia tak tau malu di sebrang sana.
"Ohh... baby... faster, please!" Suara jahanam yang tak ingin didengar itu menggelitik telinga.
TAK! TAK!
Ia bisa menjamin, jika lima menit lagi tak ada respon untuknya. Meja malang ini bisa bolong akibat tendangannya.
Darahnya mendidih panas. Bukan karena ikut terangsang, tapi kesal kenapa ia tak punya nyali untuk melangkah pergi sekarang juga.
"Ohh Mister...." wanita pasrah dibawah lelaki itu menggeram nikmat.
"Sh*t! Bisakah katakan segera untuk apa aku kemari?!"
"Aarrghh... Arsena. Sabarlah sayang."
"Jangan sebut namaku, sialan!"
Arsena menggenggam knop pintu lebih kuat. Tiba-tiba merasa kotor karena Rio menyebutkan namanya disela aktivitas ilegalnya.
Mata tajam wanita muda itu berpencar menelusuri sepetak ruangan besar yang dulu adalah ruang kerja ayahnya. Tapi setelah orang tuanya meninggal, Rio, sang paman sekaligus walinya mengambil alih semua. Satu hal yang membuat Sena geram, tempat yang seharusnya dijadikan untuk berkutat bersama berkas penting justru berubah menjadi saksi bisu atas kegiatan penuh dosa Rio bersama banyak jalang bayaran.
Sadar sang keponakan masih membatu di tempat. Bibir tipis Rio kembali terbuka.
"Duduklah. Akan ku selesaikan ini," ucapnya santai tanpa beban.
Lelaki itu tersenyum penuh makna ketika melihat bokong sintal Sena yang menggiurkan ketika berjalan masuk menuju meja kerja. Hal yang kian memacu adrenalinnya untuk segera menemui kepuasan.
Lagi dan lagi. Ini bukan pertama kali Rio menyuruh datang ketika lelaki itu tengah membuat repot malaikat pencatat dosa. Namun tetap saja meski entah sudah berapa kali menonton permainan pamannya, Sena tetap tak terbiasa.
Andai bisa, ia pun tak sudi berada di sana. Mario Ginevra adalah manusia gila. Lelaki brainless itu tak akan segan membolongi kepala orang lain dengan peluru sebagai pelampiasan amarah jika Sena tak menurut.
Kedua telinga Sena sudah terpasang earpod, ia sengaja menaikkan volume penuh. Mendengarkan lagu jauh lebih baik daripada kicauan tak senonoh di sebelah sana.
Terhanyut dalam dunianya sendiri, Sena nyaris terjatuh dari kursi ketika seseorang memutar balik. Menghadapkan pemandangan indah bagi sebagian wanita diluar sana, tapi tidak untuk Sena. Perut kotak-kotak dan tubuh atletis penuh peluh Rio itu menjijikkan.
"Ini." Lelaki berumur kepala empat itu menyodorkan sebuah map coklat tebal. "Dia targetmu berikutnya," lanjut Rio.
Jemarinya santai menyelipkan rokok batangan sebelum dihisap. Berbanding terbalik dengan Sena, wajah cantiknya memerah menahan murka.
Wanita muda itu spontan berdiri, menggebrak meja. Tubuhnya mencondong pada Rio yang duduk tepat di depan.
"Paman bilang tidak akan mempekerjakanku seperti ini lagi!" pekik Sena. Dadanya kembang kempis menahan amarah.
Rio terkikik. Ia justru fokus dengan sesuatu yang jelas terlihat dari balik kerah baju V neck yang Sena kenakan.
"The last one. Aku janji," kata Rio bersungguh.
Ia pun terpaksa, sebab tak ada yang bisa Rio percaya selain keponakkannya sendiri dalam hal 'membereskan' rival di dunia bisnis. Permainan Sena amat sangat rapi, tak terendus sama sekali. Namun, tiba-tiba. Boom! Rivalnya lenyap tak bernyawa dengan alibi kematian yang tak terlihat seperti sehabis dibantai. Meskipun terkadang Sena lebih memilih melubangi jantung targetnya dari jauh ketika sedang malas menyusun strategi pendekatan.
Belum sempat Sena meluapkan protes. Rio lebih dulu berdiri, menarik kerah belakang Sena hingga bagian depan dadanya tak lagi terlihat. Bagaimana pun seksinya, Arsena adalah keponakkannya sendiri. Ada darah seseorang yang Rio cintai mengalir di dalam tubuh Sena.
"Paman itu pendusta! Terakhir kali juga berkata seperti ini!"
Kalau bukan karena terhutang budi karena telah membesarkan Sena dan adiknya secara berkecukupan. Wanita muda itu juga enggan membantu Rio. Sebab pun sudah terlanjur terperosok dalam lubang dosa, Sena sudah teramat biasa merenggut nyawa seseorang tanpa belas kasih. Tapi sungguh, kali ini ia ingin berhenti. Jalannya masih panjang dan ia ingin kehidupan normal seperti wanita muda lain di luar sana. Bersenang-senang bersama teman sepantaran, menggosip, berpacaran dengan sesama manusia. Bukannya bercinta dengan kumpulan senjata api kesayangannya.
"Tapi kali ini yang terakhir. Aku janji."
"Aku tid--"
"Lihatlah dulu siapa targetmu!" Rio mengerling pada map di bawah mereka. "Dia yang selalu ingin kau lenyapkan. Kini aku memberikan izin padamu untuk melakukannya."
Kemarahan Sena menguap.
Hanya ada satu nama yang selama ini sangat ingin ia binasakan dengan tangannya sendiri, yaitu kepala keluarga Atmadja yang telah membunuh kedua orangtuanya. Sayangnya tua bangka sialan itu sudah lebih dulu diminta Tuhan datang ke neraka beberapa hari lalu karena serangan jantung. Kini Sena tak tau lagi, siapa yang sangat ingin dibunuhnya.
"Jonathan Atmadja. Putra tunggal Drevan Atmadja sekaligus CEO Beauty Cosmetic yang sekarang," jelas Rio.
"Tapi dia tak ada sangkut pautnya dengan kematian orang tuaku."
"Siapa bilang?" Bibir tipis Rio kembali melukis senyum. Jari telunjuknya mengetuk permukan map. "Bacalah info yang sudah susah payah ku kumpulkan."
"Jelaskan saja. Aku bukan orang yang hobi membaca!"
Sena melempar diri ke atas kursi kerja yang empuk. Dalam hatinya puas ketika melihat Rio menghela napas sabar menyikapi tingkah lakunya saat ini.
"Kau persis seperti William, si menyebalkan." Rio mendesis sebal.
"Dia Ayahku. Tapi aku tetap cantik seperti ibuku kan?"
Kedua mata Rio berotasi malas.
Terkadang ia bingung mengapa wanita tersayangnya bisa melahirkan anak sebuas Sena. Vivian terlahir anggun dan lemah lembut, sayangnya hanya sifat brutal William yang tersangkut pada genetik Arsena. Meski tak menampik jika paras wanita muda itu begitu mirip dengan Vivian sewaktu belia, terlihat cantik dan tegas.
"Ayahmu itu seorang pebisnis yang sukses, tentu banyak yang iri dengannya. Termasuk--"
"Paman," potong Sena ditengah senyum palsunya.
Pupil mata Rio membesar. "Aku?" Tanyanya disela tawa kecil. "Maksudmu aku iri dengan kakak kandungku?"
Alis rapi Sena menyatu, pura-pura memasang wajah bingung.
"Siapa yang bilang begitu?" tanyanya balik. "Aku tidak mungkin menuduh Paman yang sudah berbaik hati meneruskan semua usaha Papa dan membesarkanku dengan baik."
"Lantas kenapa kau menyebutku?" ketus Rio. Ia was-was keponakan pintarnya ini mengetahui sesuatu.
Wanita itu tertawa. Ada yang sudah terpancing dalam jebakkan.
Sena mengubah mimik wajah menjadi lebih santai. "Aku menyebut Paman, karena ingin mengatakan tak perlu menjelaskan siapa Jonathan. Jaman sudah canggih, aku bisa mencarinya di internet nanti."
Wanita muda itu merampas sebal map cokelat di meja lalu berjalan santai menuju pintu keluar tanpa sepatah kata lagi. Tubuhnya berasa remuk setelah menghajar gerombolan gangster yang menggoda adiknya sepulang sekolah semalam. Terlebih ia belum sempat tidur karena diutus memata-matai target lain yang berpotensi merugikan perusahaan Rio.
"Aku tidak pernah mengajarimu menjadi tidak sopan, Arsena Ginevra."
Langkah lunglai Sena terhenti. Dengan malas ia berbalik menatap tajam Rio yang terlihat kesal.
"Sadarlah Paman. Apa menurutmu membiarkanku melihatmu bercinta dengan banyak wanita di ruangan ini dari usiaku masih belia adalah cara mengajari tentang sopan santun? Kau terlalu sensitif seperti kakek bau tanah."
Kepalan tangan Rio tercipta jelas di atas meja. Ingatkan ia untuk suatu hari nanti menatar tingkah laku Sena.
"Ah... satu lagi." Tangannya teracung menganggkat map cokelat. "Jika Paman ingin aku mengurus ini, maka bebaskan tugas lain dariku."
"Haruskah ku mendengarkan ocehanmu?"
Bibir seksi Sena menarik senyum manis sealami mungkin. Lalu, sejurus ekspresinya berubah serius sebelum berkata, "harus! Jika tak ingin kepalamu yang selanjutnya menjadi sangkar peluruku."
🌶🌶🌶
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro