Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

🤍5 : Liontin.

سْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
{اَللهم صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ}

"Allahumma sholli ala sayyidina Muhammad wa ala ali sayyidina Muhammad."

Sebelum memulai membaca cerita ini mari kita kita awali dengan membaca sholawat bersama🥰

.

.

.

.

.

Duduk di kursi balkon Helena memeluk erat liontin perak pemberian sang Ibu, di dalamnya terdapat sebuah foto kenangan masa kecil antara dia dan Ivana. Di foto itu dia masih sangat kecil dipaksa oleh sang Ayah untuk berfoto tepat di depan pintu bangunan bersejarah.

Fotonya memang tidak sejernih sekarang, namun untuk ukuran tahun segitu foto ini sudah yang terbaik dan berwarna. Ivana masih sangat muda waktu itu, dia sangat cantik dia adalah gadis tercantik di kampung yang terpaksa dinikahi oleh Tuan Gunawan yang jauh lebih tua darinya karena terlilit hutang.

Dia adalah anak ketiga, Kakanya Denny dan Dona adalah anak kembar lahir 2 tahun lebih dulu darinya. Denny dan Dona memiliki sifat yang sama dengan Tuan Gunawan keras kepala juga sangat angkuh, sedangkan dirinya sering sekali diisengi oleh kedua Kakak itu.

Walau begitu sifat mereka, Inava tidak pernah berani menegur karena Tuan Gunawan pasti akan membela kedua anak kembarnya. Dia memiliki wajah yang mirip dengan Ivana, juga sifat yang mirip dia selalu bersama dengan Ivana kemanapun.

"Mah, Lena rindu Mama, Mama baik-baik yah di sana," gumamnya pelan.

Dari arah berlawanan Surti berjalan masuk melihat sang majikan yang sudah dari 3 jam yang lalu duduk melamun di atas balkon. Dengan hati-hati dia berjalan mendekat niat hati untuk menghibur Helena agar tidak terlalu larut dalam kesedihan.

"Nyonya, udara hari ini lagi bagus. Apa Nyonya mau jalan-jalan ajak Pangeran untuk menghirup udara segar?" tanya Surti.

Menutup liontin dan memasangnya cepat, Helena menyeka air matanya tidak membiarkan Surti mengetahui jika dirinya habis menangis.

"Boleh, kamu panggilan Aiden yah. Tanyakan apakah Keen ku sudah dimandikan? Kalau sudah segera bawa ke sini, saya akan bersiap," ucap Helena.

Mengangguk, Surti berjalan mengikuti perintah sang majikan. Berjalan masuk Helena memilih satu gamis berwarna hijau lebut tampa motif, dia akan berdandan sederhana saja untuk menghirup udara segar yang penting nyaman.

Suasana sore hari yang tenang dengan aroma aspal basah yang begitu khas, udara setelah hujan memang begitu candu. Anak-anak kecil berlarian, bermain sepeda keliling komplek. Taman kecil di depan komplek terlihat sangat ramai ada penjual keliling juga beberapa warga yang sedang memomong anak mereka.

"Eh-eh bukankah itu Bu Lena?" tanya seorang wanita.

Menoleh ke samping Helena dan Surti berjalan mendekat membawa seorang bayi dalam gendongan. Bibirnya manyun menatap julit Ibu muda yang sedang berjalan mendekat. Sembari memegangi mangkuk nasi dan kuah sayur bening yang sudah tercampur aduk dia mendekat ke arah ibu-ibu.

"Eh Bu lihat deh itu, anaknya bukan sih?"

Mengangguk manik mata tajam itu bagaikan leser yang memeriksa cermat keadaan Keenan dalam gendongan.

"Ko kaya kecil gitu yah? Bukannya sudah berumur 9 bulan, seumuran anakmu kan Vira?" tanya seorang wanita pada lawan bicaranya.

"Iya seumuran, anakku bahkan sudah mulai bisa berdiri loh," jawab bu Vira.

Menggelengkan kepala, mereka menatap bayi mungil yang ada di dalam gendongan jijik, "Eh katanya itu anak pembawa sial loh."

Melirik sekitar suara mereka memelan dan semakin mendekat, "Ah masa sih kau tau dari mana?" tanya Vira.

"Suamiku kan kerja jadi Manajer keuangan di perusahaan tambang batu bara milik Tuan Gunawan. Kemarin pas acara haulan Tuan Herry Gunawan, Bu Lena ini diusir oleh Tuan Gunawan," ucapnya.

Mengerutkan kening menatap Helena yang sedang duduk di kursi taman, "Masa sih? Bukannya Bu Lena itu anak kesayangan Tuan Gunawan?"

Semakin mendekat dan berbisik pelan, "Iya benar, Bu Lena durhaka dan berteriak dengan Tuan Gunawan. Dia marah karena anaknya dibilang pembawa sial, padahal kan memang benar yah," ucapnya seraya berdecak pelan.

Menggeleng, "Benar-benar kurang ajar itu orang yah. Pantas saja anaknya sampai seperti itu, kurasa sih itu azab yah lihat aja itu anaknya yang lahir gimana. Apa mungkin dia bersekutu dengan Jin?"

Menepuk pelan badan wanita di dekatnya, "Heh sebarangan mana mungkin begitu. Tapi mungkin juga sih, kan mereka awalnya lama tuh ga punya anak. Ko tiba-tiba bisa hamil pasti ada campur tangan Jin itu makanya anaknya jadi begitu." bergidik ngeri dia enggan melihat Helena yang sedang duduk di sana.

"Anakku ga boleh dekat-dekat dengan anaknya bu Lena nih, takut kena tumbal." ucap Bu Vira.

"Iya siapa tahu anaknya itu setan lagi kan bahaya banget yah, kalau bisa sih kita jangan sampai dekat-dekat dengan itu anak."

Duduk di kursi taman menikmati udara sejuk, bunga-bunga indah bermekaran dengan aneka kupu-kupu berterbangan di atasnya. Indah sekali, sayup-sayup terdengar suara bisikan dari sekelompak Ibu-Ibu yang ada di sana. Helena menggelengkan kepalanya tidak mau ambil pusing dengan para perempuan itu.

"Sayang lihat itu ada kupu-kupu," ucap Helena mengajak bicara Keenan.

Di samping seorang wanita mendekat mencoba untuk menyapa dirinya ramah. Helena menangkat wajahnya perempuan bernama Vira itu tersenyum manis ke arahnya. Dia adalah teman sekelas Edward waktu SMA, katanya juga pernah menaruh hati dengan Edward karena memang Edward dahulu adalah seorang primadona sekolah.

"Eh bu Lena itu anaknya?" tanya Vira.

Mengangguk Helena berdiri menyambut ramah kehadiran tetangganya itu.

"Iya Bu, Alhamdulillah putraku sudah boleh dibawa pulang sekarang," jawab Helena.

Tersenyum dia mengelus lembut pipi Keenan, menatap bayi mungil itu seksana dia tersenyum julid. Benar yang dikatakan Ibu-Ibu anak ini sangat kecil dan kurus.

Meraih pergelangan tangan kanan Keenan, dia mengerutkan kening melihat sebuah selang yang tertaman di punggung tangan anak itu.

"Bu Lena ini apa? Sepertinya saya pernah lihat, bukankah ini yang biasa di infus itu?" tanya Bu Vira.

Benda kuning yang dilihat Bu Vira adalah stopper yang tersambung dengan selang di pembuluh darah vena Keenan. Gunanya untuk menjadi jalur penyuntikan obat secara Intravena karena Keenan memang membutuhkan banyak suntikan. Kasihan jika terus ditusuk, walau tidak semua obat disuntikan secara intravena tapi lumayan untuk mempermudah.

"Oh itu buat penyuntikan lewat vena Bu, putraku harus rutin disuntik obat setiap hari," jawab Helena.

Melepaskan kembali tangan Keenan Bu Vira menyelimuti anak itu dengan kain bedong. Dia menatap jijik bayi laki-laki yang ada di dalam gendongan.

"Oh gitu, kasihan ya Bu anaknya harus disiksa begitu," ucap bu Vira pelan.

Mengerutkan kening Helena menatap Bu Vira penuh tanda tanya. Walau kalimat itu diucapkan pelan namun masih bisa terdengar di telinganya.

"Maksudnya?" tanya Helena.

Terkejut Bu Vira menggelengkan kepalanya, " Eh engga Bu, yasudah saya ijin pamit ya Bu mau kasih makan anak saya," ucap bu Vira lalu berjalan pergi meninggalkan Helena yang masih mematung di tempat.

Menatap Keenan yang ada dalam gendongan Helena memeluk putranya erat. Apa yang dikatakan Bu Vira itu benar-benar menyakiti hatinya. Memangnya ada seorang Ibu yang tega melihat anaknya menangis kesakitan setiap kali mendapat suntikan?

Matanya memanas air mata menetes keluar, Helena berjalan pergi dari taman. Mungkin rumah lebih baik dari lingkungan berisik penuh orang-orang julit itu.

Melihat sang majikan yang pergi tampa mengatakan apapun, Surti lantas berjalan cepat mencoba untuk memanggil majikannya.

"Nyonya, tunggu," ucapnya.

Melangkah masuk kedalam rumah dengan tergesak-gesak, Helena menyerahkan Keenan pada Surti. Dengan langkah cepat tampa menoleh kebelakang dia berlari menaiki tangga, membuka ruangan baca dan mengunci pintunya dengan cepat.

Ruangan lembab penuh rak buku tampa pencahayaan. Hanya bermodalkan cahaya mentari yang menembus tirai putih di sudut ruangan. Helena menyapu seluruh buku yang ada di meja dengan tanganya. Buku-buku berserakan, matanya memerah air mata yang tertahan itu sudah membajiri wajahnya.

Mengambil kursi dan melemparkannya kesembarang arah, Helena terdiam seketika badanya melemas lantas terduduk di tempat.

Menekuk lutut dan menangis tampa suara, memperhatikan buku dan kursi yang berserakan. Hatinya hancur, omongan mereka sangat menyakitkan. Dia sudah bisa berdamai dengan diri sendiri waktu itu, namun sekarang hanya karena mulut pedas mereka seolah membuka luka lama yang terpendam di dadanya.

"Agrr! Kenapa? Kenapa ini terjadi kepadakku?" tanyanya.

"Ya Allah, kesalahan apa yang telah Saya lakukan sehingga engkau menghukumku seperti ini?" tanya Helena.

Menatap cahaya mentari yang bersinar melewati celah kecil jendela, dia terisak. Siang dan malam dia berdoa meminta seorang anak kepada sang pencipta, apakah ini bayaran dari doa itu?

"Kenapa? Apakah Lena tidak cukup bersabar dengan menunggu kehadiranya selama 5 tahun?" tanya Helena.

Dari arah berlawanan Edward baru pulang dari rumah sakit, melihat Surti pelayan wanita itu panik karena Helena mengunci pintu dari dalam. Edward tampa berganti pakaian langsung mendobrak pintu tempat Helena mengurung diri. Suara gaduh terdengar sampai keluar, entah apa yang dilakukan istrinya di dalam.

Brakk..., pintu ruangan terlepas. Edward berlari memeluk erat istrinya yang meringkuk di samping meja baca, mengabaikan lenganya yang berdenyut sakit akibat menghantam keras pintu.

"Lena sayang ada apa? Cerita yuk sama suamimu ini," ucap Edward pelan seraya mencium penuh cinta kening istrinya.

Menatap kedua manik mata sang istri dia menyeka air mata yang menetes di pipi manis istrinya.

Badanya gemetar menatap Edward sayu, "Pah, kenapa putra kita tidak tumbuh seperti anak-anak yang lain?" tanya Helena.

Tersenyum Edward menarik Helena kedalam pelukan, "Sabar ya Mah, anak kita akan tumbuh seperti anak lainnya nanti," jawab Edward.

"Kapan? Sampai kapan Lena harus menunggu?" tanya Helena dengan isakan.

"Papa akan berusaha, lihat ini Papa sudah mendapat laporan jika pembuatan obat untuk anak kita berjalan lancar. Dia akan sehat nanti sayang, Mama sabar yah," ucap Edward mencoba memberi penguatan dengan istrinya.

Menyeka air mata Helena menatap wajah Edward, "Benarkah? Lalu kenapa ya Pah kita di uji begini? Bukankan tidak adil, kita tidak pernah melakukan keburukan apapun, namun kenapa kita harus mendapakan nasip seperti ini?" tanya Helena.

Tersenyum Edward menarik istrinya lebih erat kedalam pelukan, mengelus lembut punggung Ibu kuat dengan dengan telapak tanganya.

"Sayang jangan berkata seperti itu, mungkin saja inilah cara Allah melihat seberapa serius kita untuk mengurus titipannya. Lihatlah, Ayah meninggalkan banyak harta untuk kita. Mungkin ini jalan untuk kita memanfaatkan harta yang ditinggalkan Ayah," ucap Edward.

Tidak ada sahutan Helena terdiam di pelukannya, Edward mengerutkan kening. Mengapa istrinya hening? Bukankah seharusnya dia crewet? Merasa ada yang tidak beres Edward hendak melepas pelukan hingga sebuah suara menggelitik perutnya.

"Krok...Krok...krok..."

Pantas saja diam, Helena tertidur dalam pelukan Edward. Tertawa pelan karena suara ngorok istrinya. Edward mengangkat tubuh Helena dengan hati-hati, membawanya pergi untuk ditidurkan ke kamar.

🤍🤍🤍🤍🤍

Hay-hay bagaimana kabarnya hari ini? Saya harap kalian sehat selalu🙏🥰

Akankah Keenan bisa tumbuh sehat seperti anak-anak lainnya?

Sampai jumpa di bab selanjutnya, salam sehatnya semuanya🙏🥰

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro