Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

🤍18 : Coklat.

سْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
{اَللهم صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ}

"Allahumma sholli ala sayyidina Muhammad wa ala ali sayyidina Muhammad."

Sebelum memulai membaca cerita ini mari kita kita awali dengan membaca sholawat bersama🥰

.

.

.

.

.


S

uasana rumah kediaman keluarga Almert kembali seperti biasa, semua orang melakukan rutinitas mereka masing-masing. Aiden menghela napas dari lantai atas dia memperhatikan lantai bawah sebentar. Di tempat itu acara ulang tahun spesial diadakan, dan dia turut serta dalam mendekor pesta itu.

Siapa yang sangka jika pada akhirnya pesta yang harusnya mengundang canda dan tawa itu berubah menjadi tangisan dan kesedihan. Keenan yang harusnya berbahagia di hari spesialnya malah menangis dan berteriak dengan sangat keras.

Berjalan pergi, Aiden mengetuk pintu kamar. Sejak kemarin Keenan tidak mau keluar kamar bahkan untuk makan pun sangat sulit sekali. Tampaknya dia begitu terpukul dengan kejadian tadi malam.

"Pangeran, mau ikut paman jalan-jalan?" tanya Aiden.

Tidak ada jawaban, Keenan hanya duduk di sisi kasur seraya memeluk erat bantal guling. Pandangannya terlihat kosong dengan buliran air mata yang terus keluar. Aiden mendekat namun dia tidak merespon.

Menepuk pelan pundak Keenan, Aiden mengulas senyuman, "Pangeran suka coklat kan? Ayok jalan sama paman, kita beli coklat yang banyak," tawar Aiden.

Menoleh, dia menggelengkan kepala. Menarik bantal dan menenggelamkan wajah di antara bantal seolah tidak ingin mendengarkan tawaran Aiden.

"Pangeran, sekali aja yah, paman mohon ayok keluar kita beli coklat. Paman janji, kita tidak akan melewati taman itu. Kita lewat jalan lain yah, di belakang ada warung Bu Wati, orang-orang itu tidak akan menemukan Pangeran di sana," bujuk Aiden.

Dia tahu mengapa Keenan tidak ingin keluar, dia merasa takut dengan para tetangga yang selalu saja melemparkan kebencian dan cacian.

Mulai luluh, Keenan mengangkat kepalanya perlahan. Manik mata mungil itu melihat Aiden lama lalu mengangguk pelan.

Berjalan keluar rumah, kehadiran Keenan yang telah keluar kamar setelah sekian lama itu menarik perhatian para pelayan dan juga penjaga. Mereka tampak gembira mengucapkan syukur kepada sang pencipta.

Pintu gerbang raksasa di buka dengan semangat oleh seorang penjaga, dia tersenyum seraya menunduk hormat begitu gembira melihat kehadiran Keenan.

Sepanjang jalan tak ada seorangpun yang mereka temui, Aiden menghela napas lega Pangerannya tidak akan merasa takut karena para lalat penganggu itu tidak ada.

Warung bu Wati terletak di ujung komplek, Aiden membawa Keenan ke sana untuk membeli beberapa jajanan. Langkah mereka terhenti, Keenan terdiam mulai melangkah mundur. Jantungnya berdetak kencang kala melihat beberapa pria sedang duduk di bangku kayu depan warung kelontong bu Wati.

Menyadari kehadiran Keenan, mereka saling tatapan dan mulai berbisik. Tawa menyebalkan itu mengema seolah tengah menertawannya, badan Keenan membeku nyaris tidak bisa di gerakan.

Melirik ke arah Keenan dan Aiden yang berdiri di sebrang jalan mereka saling pandang.

"Eh lihat itu, bukankah si pembawa sial?"

"Untuk apa dia ke sini?" tanya seorang pria setengah baya yang sedang menikmati kopi hitamnya.

Mengidikan bahu, "Entahlah, biarkan saja jangan ikut campur urusan orang."

Menoleh, dia merasa aneh dengan Keenan yang mendadak berhenti.

"Ada apa Pangeran?" tanya Aiden.

Menggelengkan kepala, dia menghela napas pelan. Mendongak, menatap wajah Aiden Keenan mengulas senyuman tipis seolah berkata jika dia tidak kenapa-napa.

Berjalan bersama menuju toko kelontong milik bu Wati, Aiden menyapa sang pemilik warung yang sedang menyajikan kopi hitam pada sekumpulan bapak-bapak yang duduk di depan warung.

Wanita itu hanya menoleh lalu berjalan masuk tampa mengatakan sepatah katapun. Aiden merasakan ada yang aneh, tidak seharusnya saat disapa seseorang tidak merespon sama sekali. Apa mungkin wanita ini sedang ada masalah? Siapa yang tahu kehidupan rumah tangga orang kan.

Mencoba untuk acuh atas perilaku aneh bu Wati, Aiden mengajak Keenan untuk memilih beberapa jajanan yang ada di sana. Seluruh pasang mata terus mengawasi pergerakan mereka, Keenan menyadari mereka yang terus mengawasinya. Anak laki-laki mungil itu menoleh kebelakang dan benar saja seluruh pria yang ada di sana menatap ke arahnya.

"Itu tidak dijual!" tegur bu Wati, kala melihat Aiden yang hendak mengambil salah satu jajanan di depan toko.

Mengerutkan kening, Aiden melepaskan kembali bungkus jajanan itu. Menoleh ke arah Keenan, anak asuhnya itu tampak hanya diam. Kepalanya tertunduk, mengenggam erat ujung pakaian Aiden.

Mengelus lembut puncak kepala Keenan, "Pangeran, mungkin ini sudah ada yang beli. Kita pilih jajanan lain yuk," ajak Aiden.

Berjalan ke rak coklat, Aiden memperlihatkan beberapa coklat pada Keenan, "Pangeran mau ini?" tanya Aiden.

Tidak menjawab, Keenan hanya diam dan menundukan wajah, kepalanya sama sekali tidak menoleh. Badanya gemetaran, merasakan tidak seorang pun yang suka keberadaannya.

"Jadi Pangeran mau yang mana?" tanya Aiden.

Hening, tidak ada jawaban sama sekali. Dia mulai nyerah untuk menanyakan kepada Keenan, mengambil beberapa coklat Aiden berjalan ke meja kasir hendak membayar.

Bu Wati duduk di kursi kayunya, sedang membaca majalah. Seolah tidak melihat adanya pelanggan yang hendak bayar, dia sama sekali tidak menoleh ke arah Aiden.

15 menit telah berlalu suasana warung sangat hening hanya ada suara detak jarum jam yang terus berputar. Menghela napas Aiden sudah kehabisan kesabaran, dia pelanggan bukan orang yang hendak berhutang. Badanya cukup tinggi bagaimana mungkin bu Wati tidak melihat.

"Bu, ini berapa totalnya?" tanya Aiden.

Hening, bu Wati hanya membalik halaman majalannya, tidak berniat untuk melayani Aiden.

"Pergi sana, belanja di tempat lain saja. Coklat itu tidak dijual," ucap bu Wati.

Keenan menarik ujung jas Aiden, memberikan isyarat untuk pergi saja dari tempat itu. Aiden menarik Keenan untuk lebih mendekat ke badannya, wanita ini benar-benar keterlaluan dia sudah cukup sabar menghadapi orang-orang yang terus menghina Keenan. Kali ini dia akan memperlihatkan siapa yang berani menghina Keenan lagi.

"Bu,untuk apa ibu memajang coklat dan jajanan kalau memang ibu tidak berniat menjualnya?" tanya Aiden.

Menghela napas, bu Wati merasa sangat terganggu dengan kehadiran Aiden yang anak pembawa sial itu. Dia menutup majalah dan membantingnya dengan keras, mengambil coklat yang ada di atas meja dengan cepat memasukannya ke dalam kantong plastik.

Melemparkan kantong plastik ke wajah Keenan, "100.000," ucapnya ketus.

Kantong plastik berisi coklat menghantam wajah mungilnya, Keenan berkedip memeluk kantong berisi coklat dan mengelus lembut wajahnya. Rasanya perih sekali, ujung kantong itu mengenai matanya.

Melihat perlaku tidak sopan terhadap Pangeranya, Aiden lantas menatap tajam bu Wati. Coklat itu harganya tidak seberapa namun wanita ini dengan tidak tahu malunya memberikan harga begitu mahal.

"Bu! Anda sudah dewasa apakah begini cara anda berjualan? Saya tidak masalah ibu meninggikan harga tapi tolong yang sopan pada Pangeran, dia masih kecil," ucap Aiden.

Melundah ke arah Keenan dia tersenyum sinis, "Cuih, anak pembawa sial begini jangan harap mendapat perilaku baik," ucapnya.

Lagi-lagi wajah mungil itu harus mendapat penghinaan, benda cair yang sangat menjijikan jatuh tepat di atas pipinya. Keenan mengelus lembut air liur bu Wati dengan tangan mungilnya, hatinya berdenyut sakit. Entah apa salahnya hingga diperlakukan begitu hina seperti ini.

Menarik ujung pakaian Aiden dia mendongak, matanya tampak begitu merah menahan tangisan.

Selesai membayar Aiden mengendong tubuh Keenan membawa Pangerannya untuk pulang sesegera mungkin.

🤍🤍🤍🤍🤍

Di dalam kamar, Keenan duduk di pinggiran kasur memandangi beberapa coklat yang sudah hancur. Bu Wati selain melempar juga meremas coklat yang dibeli Aiden untuknya. Tanganya gemetaran mengambil satu coklat dan membuka bungkusnya.

Bibirnya bergetar cairan bening menetes, rasanya sulit sekali untuknya mengunyah coklat itu. Mencoba menelan, dia tidak dapat merasakan rasa manis dari coklat itu. Apakah mungkin suasana hati dapat mempengaruhi rasa makanan, dia tidak mengerti.

Sekarang sudah waktunya makan siang, lagi-lagi Keenan tidak ikut makan bersama di meja makan. Aiden berjalan membawakan sepiring makan siang untuk Keenan. Mengetuk pintu tidak ada sahutan dari dalam, merasa aneh Aiden mendorong pintu.

Langkahnya terhenti manik matanya terpaku kala melihat suasana kamar yang begitu gelap, seluruh tirai tertutup, dan lampu mati. Hanya bermodalkan secercah cahaya mentari yang menyusup lewat tirai putih tebal, Aiden dalam melihat sosok Keenan yang duduk di sisi tempat tidur, anak itu sedang memakan coklat yang dia belikan.

Hatinya teriris sakit sekali, melihat Keenan yang memakan pemberian dengan tangan gemetar. Berjalan pelan dia mendekat ke arah Keenan.

"Pangeran," panggilnya dengan suara pelan.

Tidak ada sahutan Keenan sama sekali tidak merespon panggilannya. Berjalan mendekat Aiden meletakan piring berisi makan siang di atas meja nakas, merebut bungkus coklat yang telah hancur dari tangan Keenan dan menatap wajah Pangeranya.

"Pangeran, sudah yah jangan di makan lagi. Coklat ini sudah tidak layak untuk Pangeran makan, ini paman bawain makan siang untuk Pangeran. Lihat ada ayam goreng, Pangeran suka ayah goreng kan?" tanya Aiden, mencoba membujuk Keenan untuk makan.

Melirik piring berisi ayam goreng kesukaannya, Keenan hanya menggelengkan kepalanya kembali merebut bungkus coklat yang ada di tangan Aiden.

"Ceen, tijak mau makan," jawabnya lalu kembali menyuap coklat yang sudah hancur.

Menarik napas pelan, Aiden kembali berusaha membujuk Keenan untuk makan.

"Pangeran, makan yah. Sedikit saja," bujuknya seraya mengarahkan sendok ke mulut Keenan.

Menggelengkan kepala, Keenan mendorong pelan sendok yang disodorkan Aiden.

Mendapat penolakan, Aiden tidak akan menyerah. Keenan sudah tidak malam sejak tadi pagi kalau terus begini dia khawatir akan terjadi sesuatu pada Pangerannya.

"Pangeran, awas pesawat lewat," ucap Aiden.

Sama sekali tidak merespon, Keenan kembali memasukan coklat ke dalam mulut dan menelannya perlahan. Buliran air mata kembali mengalir, melihat sang pengasuh yang tidak menyerah untuk memberikan makan dia meletakan bungkus coklat ke atas nakas dan mencubit sedikit ayam goreng.

Memasukan secubit kecil ayam goreng, Keenan tersenyum, "Bawa keluar yah," ucapnya.

Terdiam, melihat senyuman tipis Keenan rasanya sangat menyakitkan. Dengan terpaska Aiden harus patuh dia berdiri membawa kembali piring berisi makan siang.

"Pangeran, paman bawa kembali makanannya yah, nanti kalau Pangeran ingin makan bilang sama paman," ucap Aiden.

Keluar dari dalam kamar, dia menoleh ke arah pintu kamar sebentar. Bi Surti berjalan ke arahnya, melihat makanan yang masih utuh tak tersentuh di tangan Aiden, dia menghela napas pelan.

"Pangeran tidak mau makan lagi yah?" tanyanya yang di balas anggukan oleh Aiden.

🤍🤍🤍🤍🤍

Hay-hay bagaimana kabarnya hari ini? Saya harap kalian sehat selalu🙏🥰

Bagaimana tanggapan kalian pada bab ini?

Sampai jumpa di bab selanjutnya, salam sehat semuanya🙏🥰

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro