Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

5


"Him, menurut lo, salah nggak sih, kalau gue selalu jadi pemeran pendukung di film layar lebar atau FTV?" Claudia bertanya kepada Ahimsa saat menemani cowok itu makan malam di rumah makan Padang seberang kantor H2O Studio.

"Nggak salah, sih," sahut Ahimsa sambil menikmati nasi Padangnya. Meski kelaparan sampai perutnya berkerucuk-kerucuk, cowok itu bisa-bisanya makan dengan manner dan terlihat keren. Tidak grasah-grusuh, apalagi sampai berdecap-decap. "Tapi, emangnya lo nggak mau jadi pemeran utama?"

"Siapa sih, yang nggak mau jadi pemeran utama?" desah Claudia. "Sayangnya, hidup nggak selalu ngasih semua yang kita mau."

Ahimsa menenggak air mineral di gelasnya lalu berkata, "Asalkan kita mau terus berusaha, hidup bakal ngasih kita jalan keluarnya."

"Entahlah. Sejak kita ketemu di toko buku tempo hari, gue jadi kepikiran masalah ini terus. Ya, lo bener soal film-film gue sebelumnya, soal gue yang harus lebih selektif dalam memilih tawaran film, dan soal betapa pentingnya mempertahankan eksistensi dengan branding yang bener. Tapi ternyata, Om Hengki nggak punya visi yang sama. Waktu gue ngebahas masalah ini, dia malah nge-judge gue nggak bersyukur dan nggak menghargai usahanya selama ini. Seakan-akan gue nggak berhak punya cita-cita yang lebih besar."

"Basic om lo itu manajer profesional atau sekadar punya kemampuan manajerial otodidak?" tanya Ahimsa yang pada malam itu mengenakan kaus putih polos.

"Dulu, dia pernah kerja di perusahaan agensi artis sebagai driver. Orangnya lumayan supel, jadi punya banyak kenalan dari berbagai circle. Terus dia iseng-iseng ngedaftarin gue casting iklan, dan puji Tuhan keterima. Sejak itu dia resign dan mulai ngemanajerin gue sampai sekarang."

"I see." Ahimsa mengangguk-angguk. Rambutnya yang disisir belah samping bergerak-gerak. "Lo mulai terjun ke dunia entertainment ini sejak kapan?"

"Sejak kelas satu SMA," jawab Claudia. "Bokap gue meninggal waktu gue kelas tiga SMP. Sejak itu hidup gue mulai di ujung tanduk. Gue bahkan nggak yakin bisa lanjut ke SMA. Jadi, setelah akhirnya gue bisa masuk SMA, gue mulai mikir buat kerja paruh waktu. Nggak disangka-sangka, ternyata kerjaan paruh waktu gue jadi bintang iklan dan aktris. Dan kalau sebelumnya gue pikir jadi bintang iklan dan aktris itu cuma keren-kerenan aja, ternyata setelah ngejalaninnya, gue ngerasa kerjaan ini capeknya luar biasa."

"Tapi lo happy kan, ngejalaninnya?" Ahimsa bertanya, sementara Claudia menyesap es teh manisnya.

"Ya, gue happy. Dengan begitu, gue bisa menghidupi diri gue sendiri dan ngebantu nyokap ngebesarin adek-adek gue."

"Bukan. Maksud gue, di luar fakta bahwa lo bisa menjadi tulang punggung keluarga, apa lo sendiri happy dengan segala kegiatan dan kesibukan yang lo lakukan itu? Apa lo sendiri happy waktu dapet peran tertentu, berada di depan kamera, dan kemudian ngeliat diri lo sendiri ada di TV atau di bioskop? Apa lo sendiri happy menjadi seorang aktris?"

Pertanyaan itu membuat hatinya tersentuh. Claudia baru sadar, selama ini tak pernah ada seorang pun yang menanyakan hal itu kepadanya. Tidak omnya, tidak juga ibunya. Bahkan dirinya sendiri pun tak pernah memikirkannya. Kebahagiaannya menjadi prioritas kesekian setelah dia memastikan bahwa keluarganya bisa makan dan melanjutkan hidup dengan nyaman. Ahimsa adalah orang pertama yang menanyakannya. Orang pertama yang mengingatkannya untuk membahagiakan diri sendiri sebelum berbagi kebahagiaan dengan orang lain. Orang pertama yang memikirkan kebahagiaan Claudia.

"Ya, gue happy jadi seorang aktris," jawab Claudia pada akhirnya. Meskipun sebenarnya dia tidak begitu yakin akan hal itu. "Gue seneng bisa memerankan karakter yang berbeda-beda di setiap film yang gue bintangi, walaupun itu masih peran pendukung."

"Lo berhak bahagia dan bangga sama diri lo sekarang, Di," ujar Ahimsa sambil menatap Claudia yang duduk di hadapannya dengan sungguh-sunggh. Tatapannya tajam sekaligus teduh. "Peran lo di film Cinta Akhir Pekan jadi titik balik lo, sekaligus batu loncatan lo menuju karier yang lebih baik dan bersinar. Dan kalaupun setelah ini lo masih harus menjadi pemeran pendukung, gue yakin itu akan berada di jalur yang lebih baik. Paling nggak, produser sekelas Pak Karan pasti bakal calling lo lagi buat next project dia."

Kata-kata itu melengkungkan senyuman di wajah Claudia. Terdengar seperti lagu yang mengalun lembut tetapi penuh harapan dan kekuatan. Semakin membuat hatinya tersentuh. Dan dilingkupi rasa hangat yang utuh.

"Trust me!" Ahimsa meyakinkannya dengan anggukan.

Claudia merasa terharu, tetapi berusaha untuk tidak terbawa suasana yang bisa saja membuatnya meneteskan air mata. "Gue baru bisa bahagia dan bangga kalau udah main di filmnya Joko Anwar idola lo itu."

Serta-merta Ahimsa tertawa. "Serius, Di. Lo harus banget main di filmnya Joko Anwar."

"Iya, iya. Gue juga serius, kok. Kalau misalnya Om Hengki nggak bisa usahain, gue sendiri yang bakal berjuang buat ikut casting di film barunya Joko Anwar. Puas, Anda?" Claudia ikut tertawa juga.

"Eh, by the way, om lo belum bales chat?" Ahimsa mengingatkan Claudia. Tadi, sebelum mereka pergi ke rumah makan Padang itu, Claudia bilang kalau dia sedang menunggu jemputan Om Hengki setelah syuting untuk konten di kanal YouTube H2O Studio bersama Zefanya dan yang lainnya, namun Om Hengki tak juga membalas pesannya. "Coba lo telpon sekali lagi."

"Chat gue belum dibales, dan kayaknya HP dia mati," jawab Claudia setelah berusaha menelepon Om Hengki namun tak juga tersambung.

"Lo masih mau nunggu dia?"

"Nggak tau, nih. Udah hampir sejam belum ada balesan." Claudia mulai khawatir. "Nggak biasanya Om Hengki kayak gini."

"Coba tanya tante atau sepupu lo," saran Ahimsa.

"Udah gue chat tante gue. Dia bilang, Om Hengki belum balik lagi sejak nganterin gue pergi siang tadi. Dan, FYI, Om Hengki nggak punya anak."

Setelah setengah jam berikutnya mereka menunggu dan Om Hengki tak juga memberi jawaban, Ahimsa pun berinisiatif mengantar Claudia pulang dengan sepeda motornya.

"Dari tadi gue mulu yang cerita. Gantian dong, elo yang cerita!" ujar Claudia, setengah berteriak kepada Ahimsa dalam perjalanan pulang. "Lo tadi abis syuting apaan di H2O Studio?"

"Konten buat menyambut Oscar 2020," sahut Ahimsa. "Gue gantiin Bang Gilang yang berhalangan. Perwakilan dari komunitas Cinemagz."

"Ooh. Tayangnya kapan? Nanti gue nonton, ah."

"Kayaknya sih, besok. Dih, kayak yang punya waktu aja buat nonton. Anda kan lagi sibuk promo, Mbak Claudia. Yang ada juga gue yang bakal nonton konten YouTube promosi film lo yang disyuting tadi."

"Promo kan nggak sampe 24 jam, Dek Ahimsa. Ada waktu-waktu kosong yang bisa gue pake buat baca novel atau nonton YouTube. Eh, beneran lo masih mau nontonin konten promosi film gue? Buat apaan?"

"Sebagai fans nomor satunya Claudia Amanda, gue wajib nonton semua tayangan yang ada Claudia Amanda-nya, dong!"

"Alah... mulai lebay deh, lo!"

"Eh, apa sih nama fanbase lo?" tanya Ahimsa.

"Fanbase apaan? Emangnya gue Zefanya Putri yang punya jutaan fans?"

"Ya udah, mulai sekarang kita resmikan Claudia Lovers. Gimana?" desak Ahimsa yang ternyata keras kepala.

"Idih, enggak, ah. Norak!" Claudia tertawa. "Lagian, siapa juga yang mau nge-fans sama gue?!"

"Lah, gue kagak dianggep?"

"Emang lo beneran nge-fans sama gue?"

"Perlu berapa kali lagi gue bilang kalau gue nge-fans sama lo biar lo percaya?"

"Sekali lagi aja cukup," jawab Claudia sambil tersenyum jail. "Tapi harus sambil teriak."

Selama beberapa saat Ahimsa terdiam. Claudia yakin, cowok se-cool Ahimsa tidak akan mungkin mau melakukannya. Lagi pula, Claudia hanya bercanda.

"GUE NGE-FANS SAMA CLAUDIA AMANDA!"

Claudia terkejut mendengar teriakan Ahimsa. Mungkin sama terkejutnya dengan para pengendara motor di sekitar yang sempat menoleh ke arah mereka berdua. Namun, alih-alih malu, Claudia justru merasa bahagia.

*

Ahimsa baru selesai lari pagi keliling kompleks saat seorang gadis berseragam putih abu terlihat sedang berdiri di depan pagar rumahnya sambil berteriak, "Arunaaa! Aruuunaaa!"

"Masuk aja, Ta," kata Ahimsa. "Mungkin dia nggak denger teriakan lo."

"Eh? Kak Him?" Gadis berponi itu tampak terkejut. Pipinya bersemu merah muda, senada dengan warna ranselnya. Namanya Leta, anak tetangga seberang rumah yang satu sekolah dengan Aruna.

"Ayo." Ahimsa membukakan pintu pagar besi itu, mempersilakan Leta masuk duluan. "Dia pasti masih sarapan di meja makan."

"M-m-makasih, Kak," ujar Leta terbata-bata sebelum masuk dan berjalan cepat sambil menunduk.

Ahimsa tersenyum melihat tingkah gadis yang tiga tahun lebih muda darinya itu. Tinggi dan bobot badannya terlihat hampir sama dengan Aruna. Hanya saja Leta berambut ikal pendek seleher dan tidak berkacamata. Ahimsa serasa memiliki dua orang adik perempuan setiap kali melihat mereka bermain dan belajar bersama di rumah ini.

"Makannya cepet abisin. Tuh, si Leta udah nungguin di teras depan." Ahimsa memberi tahu adiknya yang masih anteng sarapan sambil menonton TV seorang diri. Ibunya sedang sibuk di dapur, sementara ayahnya sedang memanaskan mobil di garasi.

"Suruh masuk aja, Bang! Tungguin gue di sini, gitu."

"Udah gue suruh masuk, tapi dia nggak mau," jawab Ahimsa setelah menenggak segelas air mineral.

"Dia malu sama Abang."

"Malu kenapa?"

"Tau. Tanya aja ndiri!"

Ahimsa geleng-geleng kepala melihat adiknya yang masih santai menyantap nasi goreng sambil menonton acara infotainment di TV. Dia lantas meraih remote dan berniat mematikan TV demi melindungi adik semata wayangnya dari pengaruh gosip-gosip artis yang tidak berguna itu.

"Ih, Abaaang! Jangan dimatiin!"

Namun, sesaat sebelum Ahimsa menekan tombol power, jempolnya tertahan di permukaan. Sebuah highlight berita menarik perhatiannya. "AKTOR SENIOR JIMMY PRAWINTO TERJERAT KASUS NARKOBA BERSAMA MANAJER AKRTIS CLAUDIA AMANDA."

*

"Lo kenapa, Him?" tanya Andra, di tengah mata kuliah Studio DKV 3 yang durasinya paling panjang di antara mata kuliah lainnya dalam semester empat itu. "Dari tadi gue perhatiin, lo kayak yang gelisah gitu. Atau, lo lagi nggak enak badan?"

Menatap sahabatnya, Ahimsa hanya menggeleng, lalu kembali fokus ke monitor. Dia mengganti warna huruf pada desain poster film yang sedang dirancangnya dalam Adobe Illustrator.

"Tumben lo buka-buka berita seleb," komentar Andra saat melihat layar ponsel Ahimsa yang masih menyala di meja. "Apaan tuh? Kasus narkoba?"

"Bukan apa-apa." Ahimsa segera memasukkan ponsel ke saku kemejanya.

Seharian ini Ahimsa mendadak getol membuka media sosial hanya untuk mengecek perkembangan kasus Jimmy Prawinto dan Om Hengki, manajer Claudia. Mulai dari akun media massa konvensional hingga akun gosip lambe-lambean. Semua berita bernada sama. Aktor senior tersebut ditangkap di apartemennya di kawasan Jakarta Utara pada Minggu sore kemarin bersama dua orang lainnya; seorang manajer aktris dan seorang pengedar narkoba. Dalam penangkapan tersebut, polisi mengamankan lima butir pil ekstasi dan sepuluh gram sabu-sabu beserta alat isapnya. Hasil tes urine menyatakan mereka positif mengonsumsi obat-obatan terlarang itu.

Ahimsa memastikan tidak ada media yang menyinggung atau menyudutkan Claudia. Dia juga mengecek akun Instagram Claudia hingga ke kolom komentarnya. Hatinya sedikit lega karena dia tidak menemukan komentar buruk untuk Claudia. Dia hanya resah karena Claudia belum juga membalas DM Instagram-nya.

Sejak mengetahui kabar tersebut dari TV tadi pagi, Ahimsa langsung mengirimkan pesan kepada Claudia. Menanyakan kabar Claudia dan sejauh apa kasus yang menimpa Om Hengki berpengaruh terhadapnya. Dia khawatir Claudia kenapa-kenapa, namanya disangkut-pautkan, atau mungkin turut diperiksa juga. Namun, hingga sore ini, ponselnya bergeming. Tak ada notifikasi dari Claudia. Tak ada pula pembaruan di Instastory gadis itu. Hampir sepuluh jam berdiam diri dalam perasaan tak keruan, membuat Ahimsa serasa ingin meledak. Sesaat setelah berakhir mata kuliah Studio DKV 3 pada pukul 17.00, Ahimsa pun langsung berlari meninggalkan lab komputer.

Yang pertama kali terlintas di benaknya, dia harus segera menemui Claudia di rumahnya. Dia merasa harus menghibur atau menenangkan Claudia. Namun, di tengah perjalanan, dia baru terpikirkan kemungkinan Claudia masih melakukan promosi film ke stasiun radio, media-media, dan kunjungan ke bioskop. Menepikan sepeda motornya, Ahimsa mengecek akun Instagram film Cinta Akhir Pekan, berharap bisa menemukan informasi dan petunjuk keberadaan Claudia. Oh, ternyata Claudia sedang berada di Epicentrum XXI. Tanpa menunda-nunda, Ahimsa segera meluncur ke sana.

Sekitar setengah jam kemudian, Ahimsa tiba di lokasi. Hampir kehabisan napas akibat berlari non-stop dari parkiran, dia tetap berusaha mencari-cari keberadaan Claudia di antara para pengunjung bioskop dan tim dari film Cinta Akhir Pekan. Setelah hampir lima menit menunggu, bertanya, dan mencari ke sana kemari, akhirnya Ahimsa melihat Claudia yang baru keluar dari salah satu studio. Untuk sesaat, hatinya merasa lega karena Claudia tidak tampak murung atau bersedih. Namun, saat dia hendak berlari ke arah Claudia, mendadak pandangannya mengabur dan bumi serasa berputar hebat. Dia sempat melihat Claudia menoleh kepadanya, sesaat sebelum semuanya menjadi gelap.

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro