Tiga
Hari ini pekerjaan ku begitu banyak, kurebahkan diriku di sofa mencoba menghilangkan rasa lelah. Bekerja di perusahaan besar itu memang menyenangkan saat mendapat gaji, tapi pekerjaannya pun begitu menyenangkan untuk kita bisa mengumpat. Besok adalah penyambutan CEO baru, dan ku yakin akan sangat membosankan. Sepertinya besok akan menyenangkan untuk cuti, tapi bagaimana mungkin aku bisa cuti mendadak?
Keesokan harinya..
Ku ambil ponselku dan segera ku telpon bu Calysta manager accounting.
"Selamat pagi bu," salamku padanya.
"Iya selamat pagi sya" jawab bu Calysta dari seberang telpon sana.
"Emmm ... begini bu saya izin tidak masuk hari ini."
"Loh..sekarang kan penyambutan CEO baru..kamu gimana sih? Lagi pula gak bisa kan cuti mendadak" ujar bu Calysta seperti yang aku duga.
"Baiklah bu saya akan masuk tapi, saya hanya takut kalau saya mengacaukan acara itu nantinya" jawabku dengan nada memelas.
"Memangnya kamu kenapa?" tanya bu Calysta dengan nada khawatir.
"Saya sakit bu," bohongku.
"Hemmm ... Baiklah saya izinkan, jangan lupa ke dokter ya hari ini." Titahnya.
"Tentu saja bu. Terima kasih banyak. Selamat pagi bu," ucapku senang tapi aku menahan rasa senang ini supaya bu Calysta tidak menyadarinya.
"Selamat pagi," ucap bu Calysta mengakhiri panggilan.
Yeay! Akhirnya rencana ku berhasil. Maafkan aku bu Calysta karena telah berbohong. Beliau adalah manager terbaik yang aku kenal, dan diriku telah dianggap putrinya sendiri. Bukan hal yang mudah untuk mangkir dari pekerjaan di perusahaan itu, tapi syukurlah menjadi dekat dengan manager membawa keberuntungan tersendiri.
Sebaiknya aku segera mandi dan bersiap untuk pergi ke Mall. Menyenangkan sekali akhirnya aku bisa ke Mall. Mungkin inilah salah satu alasan aku bisa menabung dan membeli sebuah rumah sederhana di ibukota, karena uang hasil kerja ku tak pernah aku pakai untuk foya-foya. Jangankan foya-foya untuk me time saja sangat sulit karena banyaknya pekerjaan. Good bye penyambutan CEO baru yang membosankan.
Sementara itu dilain tempat Dane tengah mempersiapkan dirinya untuk menjabat sebagai CEO di perusahaan ayahnya.
Hari ini adalah pelantikan ku menjadi CEO di perusahaan ayah. Cukup membosankan. Walaupun selama ini aku telah banyak membantu ayahku, tapi tetap saja formalitas seperti ini sangat membosankan.
Mobil ku telah berhenti tepat di depan lobby perusahaan, dari sini aku dapat melihat para karyawan yang berjajar dengan rapi untuk menyambut ku.
Aku pun memasuki kantor dengan penuh wibawa, tapi mata ku tak lepas untuk menatap mereka. Tunggu-tunggu bukan aku menatap mereka, tapi lebih tepatnya aku mencari-cari seseorang. Kemana dia?
Satu jam telah berlalu, dan perbincangan ini sungguh membosankan. Yang dibicarakan terus saja progress perusahaan, bagaimana visi misiku, dan planning ku untuk kemajuan perusahaan. Bukankah mereka tahu bahwa selama ini aku telah banyak membantu ayah? Lalu mengapa mereka terus saja memperlakukan ku seperti anak baru yang baru mengenal perusahaan?
Sepertinya aku harus mencari cara untuk keluar dari sini.
"Baiklah, sebaiknya kita makan siang saja sekarang." Suara ayahku mengintrupsi.
Oh shit! Umpatku dalam hati.
Bahkan ini baru pukul setengah 11 kenapa harus makan siang? Tapi sepertinya ini bukan ide yang terlalu buruk. Dari pada terus bergelut dengan pembicaraan membosankan ini, lebih baik kita keluar saja dan tentu aku akan mencari cara untuk memisahkan diri dengan mereka nantinya.
Para petinggi perusahaan itu keluar dari mobil dan berjalan ke sebuah restaurant tradisional Jepang. Letak restaurant ini berada di komplek mall terbesar di Jakarta.
Dane tampak bosan dengan semua pembicaraan yang mereka bincangkan di tengah makan. Pembicaraannya tidak jauh membahas seputar bisnis dan juga saham. Hingga makanan pun dihidangkan dan itu menghentikan pembicaraan mereka.
Setelah acara makan selesai, Dane kira mereka akan mengakhirinya tapi ternyata masih saja berbincang. Tuhan ingatkan Dane untuk tidak mengumpat, dia berpikir kenapa para petinggi ini senang sekali mengobrol layaknya para bunda sosialita?
Setelah hampir 40 menit terjebak disana, akhirnya Dane pun memberanikan diri untuk meloloskan diri dari sana.
"Ekhem ..." dehem Dane dan membuat beberapa orang memperhatikannya.
"Saya sangat berterimakasih atas partisipasi dari rekan-rekan sekalian hari ini. Namun saya mohon maaf pamit terlebih dahulu. Saya rasa saya harus kembali ke kantor dan mulai mempelajari banyak hal." Alibi Dane.
"Hahaha ... sepertinya pak Dane ini sudah tidak sabar untuk menempati ruangan barunya," ucap seorang Direktur di anak perusahaan Balla Company dengan nada bergurau.
"Tentu saja itu pun salah satu alasannya," jawab Dane sambil tersenyum simpul.
"Baiklah kalau begitu, hati-hati di jalan Dane," ucap ayahnya dan Dane pun mengangguk sebagai balasan.
Setelah bersalaman dan berpamitan dengan semua orang Dane pun keluar dari restaurant tersebut. Tapi saat dirinya tengah berjalan menuju tempat parkir, matanya tak sengaja melirik seorang wanita yang tengah berjalan memasuki mall yang tak jauh dari tempatnya berdiri.
Gadis itu ...
Tinggalkan jejak ya..
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro