Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

Sembilan


"Maaf Pak, sepertinya Bapak salah bicara. Saya harus segera kembali, dan mengerjakan tugas saya," ucap Kia sambil bangun dari duduknya.

Aku hendak mencegahnya, tapi aku mengurungkan niat ku. Bagaimana pun aku tak boleh terlalu membuatnya diatas awan. Yang aku katakan tadi memang benar, dia adalah calon tunanganku. Ini semua karena Ibu! Ia terus mengatakan bahwa aku adalah pacar nya Kia, dan lebih parahnya, ternyata ibu telah menyimpan nomor Ummi nya Kia, dan memberikan nomor ku pada beliau.

FLASHBACK

Drttt ... Drtt... Drtt ...

Ponsel ku bergetar, dan kulihat ada nomor yang tak dikenal menelpon ku. Aku pun mengangkatnya.

"Hallo," ucapku

"Assalamualaikum," salam seorang wanita di seberang sana.

"Waalaikumsalam" jawabku.

"Ini dengan nak Dane?"

"Benar. Dengan siapa ya saya bicara?" tanyaku karena suaranya terdengar asing.

"Saya Aisyah, Ummi nya Syaqira," Deg! Perasaanku tidak enak. Aku langsung berpikir ini ada kaitannya dengan Ibu.

"Oh ... ummi nya Syaqira. Ada apa ya Bu?" tanya ku sambil menetralkan suasana hatiku yang mulai tak karuan.

"Emm ... begini, saya sudah tahu semuanya dari Ibu mu. Walaupun saya belum bertemu langsung dengan nak Dane, tapi ketika ibumu yang langsung menghubungi saya, saya pun merasa Syaqira menemukan orang yang tepat untuk hidupnya." tuturnya membuatku tidak enak.

"Begini bu, itu hanyalah-" Aku berniat menjelaskan tapi omonganku langsung di potong oleh beliau.

"Saya mengerti, ini mungkin terlalu cepat untuk kalian berdua. Tapi nanti biar saya saja yang bicara pada Syaqira. Assalamualaikum," tutupnya seperti terburu-buru dan itu membuatku kehilangan kesempatan untuk meluruskan permasalahan ini.

"Waalaikumsalam," jawabku dengan lemah.

Aku menghela napas, dan tak tahu bagaimana cara menyelesaikan masalah ini. Mudah bagiku untuk menyelesaikan masalah dengan klien, tapi Ini menyangkut ibu, aku paling tidak bisa melukai ibu. Jika ibu mengetahui kebenarannya, mungkin ibu akan begitu kecewa untuk yang kedua kalinya karena aku.

Flashback End

Syaqira kembali ke ruangannya, dan melihat bahwa di mejanya telah bersih tidak ada kertas-kertas pekerjaan. Ia sudah tahu kemana perginya berkas-berkas itu.

Ia pun perlahan memijat kepalanya dan duduk di kursinya. Ia bingung bagaimana caranya untuk menjelaskan ini semua pada bu Calysta? Walaupun pekerjaannya memang tinggal sedikit lagi, tapi ini pasti merepotkan. Pekerjaan bu Calysta pun sudah banyak.

Syaqira pun bangkit dan berjalan menuju pintu dimana disana terdapat ruangan bu Calysta.

Tok ... Tok ... Tok ...

"Masuk." Suara bu Calysta dari dalam.

Syaqira pun masuk ke dalam ruangan itu dan tersenyum kikuk.

"Duduk Sya," ucap bu Calysta dengan tersenyum ramah. Syaqira pun duduk di kursi depan meja beliau.

"Apa kamu sakit lagi Sya? Tadi pak Dane bilang kamu gak enak badan," ujar bu Calysta sambil memandang Syaqira khawatir.

"I ... iya bu saya memang sedikit tidak enak badan," Syaqira berbohong, tapi itu tidak sepenuhnya berbohong, karena memang setiap hari ia selalu sakit.

"Harusnya kamu itu resign aja deh Sya, lagipula orang tua kamu pun orang berada kan. Dengar-dengar Abi kamu akan menyalonkan diri menjadi anggota dewan." Cerocos bu Calysta. Syaqira tahu, biang gossip dari ini semua pasti Livia, yah hanya dia yang tahu tentang keluarganya.

"Emm, saya bosan bu. Lebih baik saya bekerja, untuk melupakan hal itu," ucap Syaqira sedikit menghela napas berat.

"Kamu yang sabar aja Sya, kamu pasti bisa melewati ini. Tapi tadi pak Dane bilang kamu tidak enak badan, apa ia tahu bahwa kamu-"

"Tidak Bu, mungkin pak Dane hanya melihat wajah lelah saya, jadi ia berpikir bahwa saya sedang tidak enak badan," jawab Syaqira cepat.

"Ah iya, benar juga kamu Sya," ucap bu Calysta.

"Baiklah Bu, biar saya saja yang selesaikan pekerjaannya," ujar Syaqira.

"Tidak, kamu pulang saja dan istirahat, biar ibu yang selesaikan ini," kata bu Calysta dengan tegas.

"Saya jadi tidak enak Bu," ucap Syaqira sambil memandang lekat wajah atasannya.

"Tidak apa-apa. Bukankah Ibu pernah bilang, bahwa kamu itu sudah seperti putri ibu sendiri. Lagipula kerjaannya sedikit lagi kok, Ibu Cuma minta kamu kirim beberapa data yang kurang disini via email ya. Tadi ibu lupa tidak mengcopy semuanya dari komputer kamu," ucap bu Calysta sambil terkekeh pelan.

"Baiklah bu, saya memang tidak bisa melawan Ibu. Terima kasih banyak Bu. Saya permisi."

"Ok, sama-sama. Gak usah dipikirkan," jawabnya.

Syaqira merasa beruntung, ia hidup di perantauan dengan di kelilingi oleh orang-orang yang menyayanginya. Namun saat mengingat Dane, Syaqira bingung. Apakah pria itu akan membawa keberuntungan atau kesialan dalam hidupnya?

***

Jam menunjukkan pukul setengah 8 malam, aku baru saja selesai shalat isya dan merebahkan diriku di kasur. Akhir-akhir ini aku mudah lelah, memang aku punya penyakit, tapi aku selalu berusaha untuk melupakan sakit ku ini. Salah satunya adalah dengan bekerja. Hanya bu Calysta dan Livia yang tahu penyakit ku ini. Aku bahkan tidak pernah mengecek lagi penyakit ku pada dokter, aku terlalu takut untuk mengetahui kabar terburuk dari dokter. Sekarang yang kuinginkan hanyalah menikmati hidup, tapi sepertinya akhir-akhir ini hidup ku banyak terganggu karena kedatangan orang itu. Ah mengingatnya jadi membuatku mengingat Ummi. Kejadian tadi siang, banyak menguras otakku, bagaimana bila Ummi menganggap perkataan ibunya Khana itu serius?

Drtt ... Drtt ... Drtt ...

Aku memandang malas ke arah ponsel yang bergetar, tapi ketika kulihat siapa yang menelpon, aku sungguh kaget. Bagaimana ini? apa yang harus ku katakan pada Ummi jika beliau menanyakan tentang kejadian tadi siang? Dengan ragu aku mengangkat telepon.

"Assalamualaikum Ummi." salamku.

"Waalaikumsalam warrohmatullah. Bagaimana kabarmu sehat kan?" tanya ummi.

"Alhamdulilah Ummi, aku sehat." Aku meringis, bahkan ummi dan abi pun tidak tahu penyakit ku.

"Kamu itu gimana sih Sya tanpa kabar, eh tiba-tiba calon mertua mu langsung nelpon ke Ummi." Mati aku! Ternyata ummi hendak membahas itu.

"Nih Abi mu mau bicara padamu," lanjut ummi.

"Assalamualaikum Ayya ini abi, kamu sehat kan Yya?" ucap abi.

"Waalaikumsalam Bi, Alhamdulillah bi Ayya sehat." Abi memang memanggil aku Ayya semenjak kecil.

"Syukurlah nak. Kapan kamu pulang? Sekalian bawa calon mantu abi." Deg! bahkan abi pun tahu akan hal ini. Tentu saja ummi pasti selalu menceritakan semuanya pada abi.

"Eumm ... mungkin libur akhir tahun Ayya pulang Bi."

"Lah, kamu mau pulang sendiri? Kan tadi Abi bilang bawa sekalian sama calon mantu Abi."

Abi enak aja main bawa-bawa, memangnya dia itu barang? Kalau saja ia bisa di bawa kaya barang, mungkin udah dari dulu aku bawa dia terus masukin ke dalam keresek, tak ceburin ke sungai.

"Hallo! Sya kamu masih disitu? Ini Ummi, Abi ke depan ada tamu," ucap ummi membunyarkan lamunan ku.

"Iya ummi. Aku masih disini kok," jawab ku.

"Udah dulu ya Sya, Ummi ke depan mau temani Abi. Biasa sekarang lagi musimnya kampanye, jadi selalu banyak tamu ke rumah," ucap ummi.

"Baik Ummi, jangan lupa jaga kesehatan Ummi sama Abi ya. Assalamualaikum Ummi," salamku

"Waalaikumsalam warrohmatullah"

Aku melemparkan ponselku asal. Ini semua karena Khana. Kalau aja ia tidak membuat hukuman aneh seperti itu, pasti tidak akan ada kesalahpahaman antara ibunya dan ummi.

Drtt ...

Ku lihat notifikasi pesan di ponselku.

From : 082315222***

Jangan lupa besok hukumannya masih berlaku.

Khana.

Arrgghhh ... dari mana ia dapat nomorku? Rasanya aku ingin berubah jadi kanibal aja dan memakan dirinya saat ini.
















Hai.. aku balik lagi, kemarin break dulu nulisnya maklum lagi Uas :D

curhat dikitt,, yee..

Ok, Happy Reading and tinggalkan jejak yaa :)

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro