6. Butuh Teman?
"Lo dapet luka ini dari mana, sih? Kayaknya ini bukan yang pertama gue liat di muka lo."
Razavi mengatupkan mulut mendengar pertanyaan seorang gadis yang ada di sampingnya. Berkat bujukan maut Bu Harisa selaku wali kelas dari MIPA 1, Razavi mengiakan diantar ke UKS untuk diperiksa. Ia tidak sendiri, Aulia yang merupakan mantan ketua PMR, menemani sembari membantu mengobati luka yang ada di wajah Razavi.
Pikiran Razavi menerawang. Ia merasa bingung, sejak kapan anak-anak kelas menjadi peduli padanya. Apalagi sebelum ia mengiakan ajakan ke ruang UKS, ia sempat menolak mati-matian. Akan tetapi, Niko malah mengadu pada Bu Harisa. Alhasil, kini ia sedang diobati begitu telaten oleh Aulia.
"Lo diem-diem berantem, ya, di luar sekolah?" Aulia memicing dengan curiga pada Razavi.
Razavi memundurkan tubuhnya ke belakang saat wajah Aulia begitu dekat dengan wajahnya. Gadis itu begitu berani dan juga cerewet, membuat Razavi merasa risi sekaligus bosan. Ia mengembuskan napas kasar, merenggangkan otot-otot tubuhnya. Lalu merebahkan diri di atas brankar.
Tatapan Razavi tertuju pada langit-langit ruang UKS, sedangkan Aulia menggeleng pelan melihat laki-laki itu terlentang di atas brankar. Gadis itu lebih memilih merapikan kotak obat yang tadi dipakai untuk mengobati luka Razavi.
"Lo punya temen yang bener-bener deket sama lo enggak?"
Sontak saja tangan Aulia terhenti dari aktivitas merapikan berbagai obat-obatan di kotak obat tersebut. Ia menoleh pada Razavi yang masih terlentang dengan pandangan tertuju ke langit-langit ruang UKS. Aulia mendekat, menduduki bokongnya di kursi samping brankar.
"Lo butuh temen?" Aulia tak menjawab, ia malah mengajukan satu pertanyaan yang membuat Razavi menoleh padanya.
Razavi beranjak bangun dari posisi terlentang menjadi duduk. Ia tidak tahu pasti, apakah ia membutuhkan seorang teman atau tidak. Sejak SD sampai sekarang, ia tidak memiliki satu teman pun. Terlalu menutupi diri sekaligus menepi agar bisa jadi anak yang sempurna di mata sang papa.
"Lo kesepian?" Aulia menaikkan satu alisnya memastikan.
"Gue enggak kesepian," ujar Razavi sembari mengembuskan napas kasar.
"Gue ngerasa aneh aja, anak-anak kelas mendadak peduli. Terutama Niko sama Robi," lanjut Razavi mengutarakan kalimat yang masih menjadi tanda tanya dalam hatinya.
Aulia tertawa pelan. Ia pikir Razavi merasa kesepian, karena sejak kelas X sampai XII laki-laki itu selalu terlihat sendiri. Bahkan saat ada yang ingin berteman dengan laki-laki itu, Razavi selalu menghindar. Sampai mereka menganggap bahwa Razavi itu sombong.
"Lo dari tadi ngelamun cuma mikirin hal itu?"
Razavi bergeming menatap Aulia begitu lekat. Mungkinkah Niko dan yang lainnya sudah menganggap Razavi teman? Ia ingat betul apa yang diucapkan oleh Niko dan Robi setelah selesai latihan futsal kemarin. Akan tetapi, apabila mereka hanya ingin tahu mengenai kehidupannya, Razavi enggan untuk berteman dengan mereka.
"Lo itu enggak peka atau emang bodo amatan, Za? Lo emang enggak tau, ya?" Lama saling berdiam, Aulia kembali bertanya pada Razavi.
"Tau apaan?" Razavi mengerutkan dahi dengan bingung. Selama ini ia memang tidak terlalu peduli dengan keadaannya sekitar. Ia hanya memedulikan dirinya sendiri, itu pun demi mendapatkan kelangsungan hidup tenang.
"Niko, Robi, sama Fadli dari kelas sepuluh emang penasaran sama lo. Lo enggak inget sama Robi? Dulu, dia yang beraniin diri buat temenan sama lo, sedangkan lo malah masa bodo dan enggak peduli." Aulia ingat betul peristiwa tersebut berlangsung, tepat saat sedang ada tugas belajar di luar kelas. Ia menjadi saksi atas permintaan teman dari Robi pada Razavi.
Razavi bergeming sejenak. Jujur saja, ia tidak ingat tentang kejadian tersebut. Akan tetapi, ia memang merasa ada seseorang yang menawarkan diri menjadi temannya. Bahkan Razavi merasa bahwa ada dari mereka yang membela saat dirundung oleh kakak kelas, dulu.
"Dari muka lo, kayaknya lo enggak inget, deh. Tapi kalo emang lo pengen ngerasain punya temen, ya coba aja temenan sama mereka. Lagian mereka anak baik-baik, kok. Inget, lo kudu bisa manfaatin waktu semasa SMA lo, biar berkesan gitu," papar Aulia sembari menepuk pelan bahu Razavi.
Razavi melihat tangan gadis itu yang bertengger di pundak. Sorot matanya memicing melihat goresan merah dipergelangan tangan Aulia. Ingin bertanya rasanya sungkan karena tak dekat. Ia hanya diam sembari menatap lekat pergelangan tangan itu.
"Mending lo istirahat dulu di sini. Gue mau balik ke kelas, ya," ujar Aulia yang sudah melangkah ke arah pintu dan meninggalkan Razavi sendiri di ruang UKS.
"Dia pernah self harm?" batin Razavi bertanya-tanya perihal goresan yang dilihat di pergelangan tangan Aulia.
***
Razavi berjalan menelusuri koridor sekolah dengan malas. Menjadi yang terakhir keluar dari kelas. Ia merasa tak nyaman bila berada di tempat ramai. Langkah Razavi terhenti saat anak dari kelas sebelah menghalangi jalannya.
Dari wajahnya, Razavi merasa asing, tetapi ia seperti baru melihat wajah itu beberapa jam yang lalu. Kerutan di alis memudar mengingat wajah itu, seorang anak berandal yang tadi terlambat ke sekolah.
"Enak, ya, jadi orang kaya. Telat ke sekolah, bukannya dihukum malah diperbolehkan masuk. Pasti guru-guru di sini di suap sama keluarganya," ucap salah satu dari mereka dengan nada mengejek.
"Jangan ngomong gitu Yadi, ntar kalo nih bocah ngadu ke bokapnya gimana? Lo mau kena tendang dari sekolah ini?" sahut laki-laki berambut hitam cepat sembari terkekeh mengejek.
"Mau lo apa?" tanya Razavi mendelik tajam pada ketiga laki-laki itu.
Laki-laki bertubuh agak tambun melangkah mendekat pada Razavi. Senyum miring terbingkai di wajah laki-laki itu. Sungguh, Razavi tidak ingin mencari masalah. Apalagi sampai bertengkar. Ia hanya menuruti apa kata sang papa tadi, ia sempat menolak diantarkan sampai dalam. Akan tetapi, wajah marah sang papa tak mampu membuat Razavi menolak.
"Lo anak orkay, kan? Duit bekel lo pasti masih ada. Bagi sisa duit lo ke kita," ujar laki-laki itu sembari menepuk pelan pipi Razavi.
"Lo mau duit? Kalo lo mau duit, ya kerja. Lo pikir gue bank?" Razavi menepis lengan laki-laki tambun itu dengan kasar.
"Weh, anak manja kayak lo enggak pantes ngelawan," ujar laki-laki yang bernama Yadi. Melayangkan satu pukulan ke wajah Razavi, hingga membuat Razavi tersungkur ke lantai.
Razavi meringis dengan perasaan kesal. Ia mengusap basah di bibir, tangan kirinya mengepal dengan kuat. Ia ingin membalas, tetapi bayangan wajah sang papa terlintas membuat ia mengurungkan niatnya.
"Hei, Yadi, Frenky, Cecep! Enggak bosen kamu bikin masalah?"
Teriakan guru BP menggelar di penjuru koridor sekolah. Membuat ketiga laki-laki itu kabur menghindari amukan Pak Eka selaku ketua dari BP.
"Jangan kabur kalian! Dasar berandal!" Lelaki paruh baya berkacamata itu mengejar anak-anak berandal yang selalu menjadi langganan BP.
Sementara Razavi dibantu berdiri oleh Niko. Ia sempat terkejut melihat Niko, Robi, dan Fadli masih ada di sekolah. Seingatnya, mereka sudah keluar terlebih dulu.
"Lo enggak apa-apa, Za?"
Razavi menggeleng pelan. Bersyukur karena masih ada orang yang mau menolongnya, hingga ia bisa menghindari amarah yang sempat berkobar dalam benak.
"Makasih. Gue balik," kata Razavi yang menolak diantarkan oleh mereka.
TBC:
Open waiting list, hehehe.
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro