Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

27. Bukan ikut campur

Suasana dalam ruangan, tiba-tiba saja menjadi senyap. Rayhan memejamkan mata, menelan ludah sendiri beberapa kali guna menetralisir emosi dalam diri. Padahal ia sudah mengatur semuanya agar Razavi bisa mendapatkan gelar juara pertama, sebelum dirinya mengalami kecelakaan itu.

"Jangan kecewa kayak gitu. Juara tiga pun hasilnya lumayan, dia udah berusaha," ucap Rezky sembari memandang Rayhan dengan sinis.

Membuat Rayhan melirik sekilas kepada Rezky. Sorot matanya menyiratkan amarah tertahan, begitu juga dengan Rezky. Keduanya masih belum memaafkan satu sama lain, sehingga kemarahan dalam diri masih bertahta.

"Ini semua gara-gara kamu! Andaika—"

"Pa, ini semua bukan salah Kak Rezky. Kecelakaan dan juara tiga yang didapat sama Raza, bukan salah Kak Rezky," potong Razavi dengan cepat. Rasanya begitu canggung mengatakan hal tersebut di depan Aulia,

Rezky menatap kosong tubuh lemah Rayhan. Tangannya mengepal meredam amarah dalam diri. Ia tidak ingin ada keributan lagi di antara keluarga mereka. Sudah cukup ia dan Razavi menderita hanya karena tekanan dari sang papa.

"Soal pencalonan Papa di dunia politik udah dibatalkan," tutur Rezky mengulas senyum tipis.

Rayhan mendelik tajam pada Rezky. Tangan kekarnya menarik kerah kemeja laki-laki itu, sedangkan Razavi berusaha melerai dengan menarik sang papa kembali berbaring.

"Udah, Pa! Udah!"

Suasana mendadak berubah menjadi mencekam. Aulia menunduk dalam melihat ujung sepatu dengan perasaan canggung. Entah mengapa, ia jadi merasa menyesal ikut bersama kedua laki-laki itu.

"Enggak ada gunanya Papa melampiaskan amarah Papa. Lagian Papa juga enggak punya bakat di bidang politik, jangan memaksakan, Pa. Jalanin aja perusahaan Papa kayak dulu lagi," ujar Razavi menatap sang papa dengan sendu.

"Kenapa kamu jadi mengatur Papa?" Rayhan mendelik tajam kepada Razavi.

Razavi mengembuskan napas pelan. Kemarahan lelaki paruh baya itu begitu terasa. Walaupun sedang dalam keadaan terluka, tetapi dari cara bicara dan gerak tubuhnya. Lelaki paruh baya itu terlihat baik-baik saja.

"Seharusnya kau berkaca terlebih dulu, sebelum mengatakan itu," sahut Rezky apatis.

"Berani sekali kau berkata seperti itu? Tidakkah kau tahu alasanku ikut campur pada hidup kalian?"

Sungguh, Aulia merasa seperti patung berada di antara mereka. Ia pikir keluarga Razavi merupakan potret keluarga bahagia, tetapi ternyata malah sebaliknya.

"Karena melakukan yang terbaik buat kita?" Razavi menyahut sembari menaikkan satu alisnya.

Melihat anggukan dari Rayhan. Membuat Rezky memejamkan mata erat-erat. Jika saja bukan karena ucapan Razavi agar ia mau memaafkan sang papa, mungkin saja ia sudah melayangkan satu pukulan ke wajah yang terdapat luka itu.

"Itu tahu! Seharusnya kalian bisa mengerti," ujar Rayhan.

Razavi mengembuskan napas panjang. Menatap ke arah Rezky serta Aulia yang tengah berdiri mematung menautkan jemarinya. Gejolak rasa muak menyeruak dalam benak, napas memburu menahan amarah tertahan.

"Cukup, Pa! Kenapa Papa pengen banget kita ngertiin, sedangkan Papa sendiri enggak pernah mau ngertiin perasaan anak Papa sendiri. Raza sama Kak Rezky itu manusia, Pa, punya rasa capek, batas kesabaran, dan perasaan! Kalo Papa pengen didenger sama anak Papa sendiri, setidaknya dengerin dulu jeritan hati anak Papa sendiri!" Amarah yang sedari tadi tertahan kini meledak, napas memburu menandakan bahwa ia begitu kesal. Bibir bergetar efek dari rasa campur aduk dalam benak.

Baru kali ini keluhan dari dasar hati bisa terlampiaskan juga. Tangan mengepal, tatapan begitu datar tanpa ekspresi ke arah sang papa. Rezky dan Aulia cukup terkejut dengan nada meninggi dari mulut Razavi. Ruang rawat tersebut terasa pengap, sulit sekali untuk bernapas dengan pelan.

"Kalo Papa enggak terima dengan hasil olimpiade itu, lebih baik Papa aja yang ikutan! Raza udah capek Pa turutin semua apa yang Papa katakan. Selama ini Raza udah baik, sabar menghadapi Papa, dan tetep ngejalanin semua perintah Papa. Tapi Papa ... kayak yang enggak bisa ngehargain usaha Raza sampe Papa ngelampiasin rasa marah Papa ke Raza," lanjut Raza dengan binar sendu yang terpatri di mata.

Hati Rayhan bagaikan tertusuk benda tajam mendengar kalimat itu. Tatapan mata berubah menjadi kosong, menerawang merenung sikapnya selama ini. Hal itu tak luput dari perhatian Razavi.

Razavi menyeka buliran bening yang sempat jatuh setetes. Melihat Razavi yang mengeluarkan buliran bening membuat Aulia tak berkedip sama sekali. Gadis itu makin merasa tak enak berada di antara keluarga Rayhan, ingin pamit keluar rasanya tak memungkinkan. Melangkah mundur ke arah pintu, rasanya tak sopan.

"Raza sama Kak Rezky ngerasa tertekan, Pa. Kita juga pengen dingertiin, diperhatiin kayak dulu lagi. Ngerasain kehidupan katak ornag lain, yang bisa ambil keputusan sendiri tanpa campur tangan dari Papa. Semenjak Papa jalin bisnis sama perusahaan Sutama, sikap Papa malah kayak orang asing."

"Udah selesai bicaranya?" Rayhan menaikkan satu alisnya memandang Razavi. Berusaha bangun dari posisi telentang menjadi duduk, bersandar di punggung brankar dengan bantal.

Mendapatkan respons Rayhan seperti itu membuat Rezky hampir saja mengumpati kata-kata kasar.

"Maafkan saya, Pak. Apabila saya menyanggah atau kesannya ikut campur dalam masalah keluarga Bapak." Suara Aulia menggema dalam ruangan itu, mendahului ucapan Rayhan yang tertahan dalam mulut.

"Setidaknya Bapak memberikan kepercayaan pada anak Bapak untuk mengambil keputusan sendiri. Kalo hal-hal baik aja sampe dilarang sama Bapak, tanpa kejelasan yang nyata lagi. Takutnya di suatu hari atau lusa nanti, Bapak sudah tidak ada, mereka akan kesulitan menjalani hidup. Beri mereka kesempatan agar bisa menjadi pemimpin untuk diri mereka sendiri. Jangan patahkan semangat dan keinginannya untuk terbebas dalam segala tuntutan." Aulia berkata begitu bijak, menatap penuh arti pada Rayhan. Berharap kalau lelaki paruh baya itu masih mengenalinya.

Kalimat dari Aulia seakan-akan menampar Rayhan. Tiba-tiba saja rasa pening menghantam kepala, hingga meringis menahan sakit. Razavi dan Rezky terkejut, keduanya kompak membantu Rayhan kembali berbaring. Menyelimuti kembali, membiarkan Rayhan beristirahat.

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro