24. Kepedulian Aulia
Dua hari Razavi tak masuk sekolah. Kabar mengenai kecelakaan tentang laki-laki itu dengan sang papa sudah menyebar luas di sekolah. Ia hanya mengembuskan napas kasar mendapatkan tatapan kasihan dan rasa ingin tahu dari anak satu sekolah. Apalagi sampai menjadi pusat perhatian setiap kali ia berjalan di koridor.
Melelahkan jika harus menjadi atensi dari orang lain. Ia lebih suka menjadi sosok pendiam tanpa harus dikenal oleh orang lain. Bel jam istirahat berbunyi, ia membereskan buku latihan MTK. Menyandarkan punggung di kursi sembari mendongak menatap langit-langit kelas. Tinggal tiga hari lagi waktu yang dipunya untuk mempersiapkan diri mengikuti olimpiade PPKN.
"Lo mau ke kantin?"
Sontak saja tubuh Razavi langsung menegak, menoleh ke samping kiri melihat Aulia berdiri sembari memegangi dua roti. Entah mengapa, sorot mata Razavi malah tertuju ke pergelangan tangan gadis itu.
"Gue enggak ngelukain diri gue lagi," ucap Aulia seolah-olah mengerti akan maksud tatapan dari Razavi.
Razavi mengangguk sekilas. Kembali membuka buku yang baru dikeluarkan dari tas. Membaca sederet kata yang tertera, meski pikirannya tak fokus pada bacaan itu. Risi rasanya ditatap sedemikian lekat oleh Aulia dari samping.
"Lo ngapain masih di sini?" Razavi menyentak, mengembuskan napas kasar menatap Aulia dengan bingung.
Kelas terlihat sepi, hanya tersisa ia dan gadis itu saja. Senyum di wajah Aulia membuat kerutan di dahi kian terpatri. Luka yang didapat dua hari yang lalu, sudah lumayan membaik, sehingga ia nekat membuka perban yang terbalut di kening.
"Gue boleh jujur satu hal sama lo, Za?" Aulia mengubah posisi duduk menjadi menghadap ke arah papan tulis. Roti dalam genggaman ditaruh di atas meja.
Mendapatkan pertanyaan itu membuat jantung Razavi berpacu dua kali lebih cepat. Bukan karena ada rasa, hanya ini pertama kali seseorang berkata seperti itu. Razavi yang dikenal tak pintar dalam hal bersosialisasi, kini Tuhan malah mengirimkan Aulia untuk menjadi temanya. Bukan hanya Aulia, Niko, Robi, dan Fadli pun termasuk. Mengingat nama itu, membuat ia merindukan mereka bertiga.
"Jujur apaan?"
Aulia memiringkan kepala menatap Razavi dengan lekat. Rasa penasaran kian memberontak meminta jawaban. Ia tidak tahu pasti bagaimana rasa penasaran tentang sosok Razavi menyelimuti benak. Mungkin saja karena luka gores yang dibuat diobati oleh laki-laki itu.
"Jujur gue penasaran sama lo. Tentang lo yang memilih sendiri, menepi, bahkan enggan menerima uluran pertemanan dari Niko. Bukan soal itu aja, gue penasaran di mana lo tinggal dan dari mana lo dapet luka bonyok di muka tanpa diobati." Aulia mengembuskan napas lega setelah semua kalimat yang terpendam terlontar juga.
Razavi bergeming cukup lama. Menimang antara membalas atau mengabaikannya. Lusa atau suatu hari nanti, ia juga pasti akan membutuhkan sosok teman. Namun, ketidakpercayaan dan takut memiliki teman selalu singgah. Terakhir kali ia memiliki teman, mereka hanya memanfaatkan harta serta dirinya saja.
"Dan kenapa lo self harm?" Bukannya menjawab, justru Razavi malah bertanya balik kepada Aulia.
"Gue udah pernah bilang, 'kan, sama lo? Kalo gue enggak bisa ngelampiaskan emosi ke orang lain, kecuali diri gue sendiri. Bagi gue rasa sakit yang gue dapet, enggak seberapa sama rasa sakit yang gue derita semasa kecil," ujar Aulia dengan melirih.
Razavi seakan-akan menyesal bertanya seperti itu. Binar sendu penuh luka itu terpatri di manik hitam gadis itu. Bibir ranumnya terlukis senyum tipis. Mampu membuat hati Razavi tergerak dan merasa kasihan kepada gadis itu.
"Lo tanya gini sama gue, dengan alasan apa? Gue enggak butuh rasa kasihan ataupun uluran tangan lo, Kalo seandainya gue kasih tau ke lo."
Aulia terkekeh. Pandangan kembali tertuju ke depan. Ternyata bertanya seperti itu, tidak membuat Razavi mengiakan memberitahu tentang bagaimana sosok dirinya.
"Gue cuma bersikap peduli sama lo. Setiap gue ngelihat lo sendirian dan enggak punya temen sama sekali, gue ngerasa kalo kita punya kesamaan. Dalam artian, kita sama-sama punya luka yang mendalam. Ya, walaupun lo bener, kadang gue kasihan sama lo."
Razavi menarik sudut bibir ke atas, membentuk senyuman kecil. Luka? Razavi tak tahu harus mendeskripsikannya bagaimana. Luka yang didapat apakah kelam dan penuh rasa kesakitan, atau hanya biasa saja dalam pandangan orang lain.
"Gue lebih kasihan sama lo, enggak punya temen cerita buat berbagi masalah lo. Sampe Lo ngelampiaskan ke diri lo?" Razavi menarik sebelah alisnya ke atas sembari terkekeh. Ia mengatakan itu, karena ia pernah bertemu dengan seseorang yang sama; melakukan self harm. Saat kembali berkonsultasi pada Riyan.
Hal tersebut membuat Aulia seketika menoleh. Menatap tidak mengerti pada Razavi. Tidak ada yang salah dari ucapan laki-laki itu. Ia memang tidak memiliki teman cerita, hanya teman formalitas di sekolah. Bisa dikatakan, ia kesepian.
"Lo mau denger apa dari gue?" Lama tak ada respons dari Aulia. Razavi kembali bersuara, tak memedulikan tatapan ingin tahu dari anak kelas.
"Kalo lo keberatan buat ceritain, mending enggak usah. Takutnya lo ngira gue orang yang kepo tentang kehidupan orang lain." Aulia mengulas senyum tipis. Merasa menyesal karena telah penasaran kepada Razavi.
"Gue enggak keberatan, lagian udah saatnya lo semua tahu tentang gue." Razavi mengulas senyum penuh arti, menatap Niko yang baru saja masuk dan kini duduk di bangku depan Razavi. "Lo juga penasaran sama gue, Nik?"
Ditanya seperti itu membuat Niko menoleh menatap Aulia dengan tatapan tanda tanya. Tak lupa juga sambil menyeruput es teejus yang dibeli. Kerutan di dahi Niko mengendur kala mengingat sesuatu, ia memang penasaran. Ditanya seperti itu secara mendadak, sontak saja membuat ia langsung mengangguk sebagai balasan.
"Gue enggak tahu mesti mulai dari mana. Dan gue cuma ceritain inti tentang diri gue sendiri. Luka yang gue dapet tanpa diobati itu luka tonjok dari bokap gue sendiri, soal kenapa gue memilih sendiri tanpa teman, ya ... gue ngerasa nyaman aja sendiri." Razavi menceritakan tanpa keseluruhan. Ia mengulas senyum tipis melihat wajah sedikit terkejut dari dua orang yang menaruh rasa penasaran tentang dirinya.
"M–maksud lo ... luka yang lo dapet bukan abis berantem? Tapi karena bokap lo gebukin lo?" Aulia bertanya dengan gagap. Tentu saja ia terkejut, Razavi yang dikenal pintar bahkan sempat beredar foto kedekatan laki-laki itu dengan papanya, mereka terlihat seperti keluarga harmonis. Akan tetapi, yang didengar sekarang ... seperti sebuah kebohongan publik.
"Gue udah ceritain apa yang bikin kalian penasaran. Kalo emang lo menyimpulkan gitu, ya, berarti gitu kenyataannya. Jangan bilang, kalo jadi gue itu enak. Punya bokap kaya, ketahuan dianter pake mobil mewah, bahkan guru-guru pada tunduk sama gue. Asalkan lo tahu aja, jadi gue tuh enggak enak. Syukuri aja hidup lo pada, terutama lo Aul."
Aulia tak berkedip sama sekali mendengar kalimat panjang dari Razavi. Begitu juga dengan Niko. Keduanya saling mengulas senyum hangat, senang mendapatkan respons baik dari Razavi. Apalagi laki-laki itu sudah mau terbuka, walaupun dengan paksaan dan sedikit.
"Enggak ada yang namanya hidup 'enak', ada kalanya susah, seneng, dan capek," sahut Aulia mengulas senyum kecil sembari menahan mata yang mendung, yang siap menjatuhkan gerimis di pipi.
***
Hei, terima kasih sudah mampir. Btw, cerita ini sudah dibukukan. Akan tetapi, aku gabut dan rindu dengan karakter Razavi, maka dari itu aku post ulang di sini😂
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro