2. Terlambat
Bel pulang sekolah berbunyi, membuat siswa-siswi SMA Negeri 4 Nusa mulai berhamburan keluar dari kelas masing-masing. Berjalan menuju gerbang sekolah untuk mendapatkan tumpangan sampai rumah. Berbeda dengan Razavi yang masih setia duduk di bangkunya sendiri. Enggan pulang, masih memikirkan permintaan Bu Harisa yang meminta untuk mengikuti lomba tersebut.
Tepukan di bahu membuat Razavi sedikit terkejut. Ia menoleh ke samping kanan, di mana Niko si ketua kelas tengah berdiri menatap dirinya.
"Apa?" tanya Razavi menatap heran pada Niko. Tumben sekali laki-laki itu menghampiri dirinya.
Jujur saja sewaktu di kelas, Razavi tidak terlalu akrab dengan anak-anak lain. Bahkan, ia sama sekali tidak memiliki teman. Kalaupun ada, itu cuma sebagai formalitas saja. Seperti 'ada' di saat maunya, hingga menghilang saat sudah tak membutuhkan. Terkadang, ia juga sering dianggap tidak ada dan dianggap sebagai si pintar di kelas, karena sering kali menyendiri sembari membaca buku.
Walaupun ada yang mengajak berteman atau jajan di kantin, Razavi sering menolak. Ia lebih menyukai membaca, ketimbang harus ke kantin. Hal tersebut sudah menjadi kebiasaan saat masih duduk di bangku putih biru. Membuat ia dijuluki si kutu buku oleh teman-temannya.
"Mau gabung sama tim futsal kelas kita enggak? Soalnya kekurangan satu pemain," ucap Niko mengutarakan maksudnya saat menghampiri Razavi.
Razavi bergeming. Menimang ajakan tersebut. Ia melirik ke arah teman-teman yang lain, juga tengah menunggu keputusannya. Tim futsal kelas sengaja dibentuk untuk keperluan perlombaan antar kelas dua bulan yang akan datang.
"Bukannya udah pas, ya? Emang Ajun ke mana?" tanya Razavi menatap Niko sekilas. Tangannya sibuk membereskan buku-buku yang tergeletak di atas meja, memasukkan ke tas.
"Kaki Ajun patah, mungkin dia juga bakalan pindah sekolah," ujar Fadli, laki-laki berambut hitam cepak yang berdiri di samping Niko.
Pergerakan Razavi memasukkan buku terhenti. Ia baru mendengar kabar tersebut. Tidak tahu menahu mengenai apa yang terjadi di kelas, selain pembelajaran yang disampaikan oleh guru.
"Pasti lo baru tau, ya, Za? Minggu lalu kita tanding sama anak IPS. Enggak tau gimana ceritanya, kaki Ajun tiba-tiba keram gitu. Ternyata pas diperiksa, dia mengalami patah tulang," sahut Robi yang duduk di bangku depan Razavi.
"Cuma lo satu-satunya cowok harapan kita, Za. Kalo lo enggak mau, masa kita cari anak kelas lain buat join di tim futsal kita," papar Niko.
"Gue enggak bisa main bola," kata Razavi berbohong sembari memasukkan buku terakhir ke tasnya.
Robi dan Fadli sedikit terkejut dengan perkataan Razavi, yang benar saja seorang laki-laki tidak bisa bermain bola. Namun, Robi memaklumi, toh sebagian hidup Razavi selalu dipenuhi oleh buku. Pasti teman sekelasnya itu awam tentang pelajaran olahraga.
"Kalo soal itu gampang, Za. Kita bakalan ngajarin lo. Tenang, kita enggak akan ngejek lo. Karena kita emang bener-bener lagi butuh lo." Niko merangkul bahu Razavi seolah-olah Razavi sudah mengiakan tawaran tersebut.
"Gue enggak bisa!" sentak Razavi sembari melepaskan rangkulan Niko. Kemudian, beranjak dari bangkunya.
Sementara Robi yang berada di depannya, berlutut sembari menautkan kedua tangan di depan dada. Seakan-akan tengah memohon pada Razavi.
"Please, ayo, dong, Za. Terima tawaran ini, kalo lo terima mungkin nanti lo bisa jadi atlet futsal profesional," kata Robi dengan dramatis.
Razavi membuang tatapan ke arah lain dengan malas. Mengeratkan pegangan di tali tas gendong. Dengan terpaksa ia mengangguk mengiakan, setidaknya futsal tidak sesulit basket. Tidak ada salahnya, ia membantu teman sekelas sendiri. Ditawarkan seperti itu, membuat Razavi senang dan bersyukur, karena mereka masih menganggap ia 'ada'.
***
Langkah Razavi terhenti di depan pintu rumah besar. Bangunan yang memiliki cat berwarna putih dan biru serta bertingkat dua. Jantungnya berpacu dua kali lebih cepat. Napasnya memburu, rasa takut kembali datang merasuk dalam benak dengan cepat. Ia melirik sekilas arloji yang melingkar di pergelangan tangan, yang menunjukkan pukul lima sore.
Ia terlambat pulang, bahkan melewatkan tiga les yang biasa dilakukan sepulang sekolah. Embusan napas panjang terdengar, ia memantapkan hati sembari mengepalkan tangan di udara. Bersiap mengetuk pintu, baru saja akan terketuk. Pintu di hadapannya terbuka dengan lebar.
Lelaki paruh baya dan wanita paruh baya berdiri di ambang pintu dengan tatapan tak biasa. Sang papa menatap penuh kesal dan tajam, sedangkan sang ibu menatap dengan kasihan.
"M--ma—"
"Dari mana saja kamu? Bukankah sekolahmu bubar pada jam satu siang? Mengapa baru pulang?" Rayhan bertanya dengan beruntun. Aura intimidasi dan tegas dari lelaki paruh baya itu begitu terasa menusuk dalam benak Razavi.
Razavi menelan ludahnya sendiri. Menunduk dalam menghindari kontak mata dengan sang papa. Ia sudah siap menerima apa konsekuensinya. Apabila sang papa marah.
Ia sedikit tersentak saat sang mama mengelus pelan bahunya. Mengulas senyum tipis guna menenangkan. Namun tetap saja, rasa takut dalam diri kian terasa.
"Ayo, masuk. Kami akan dengarkan alasanmu pulang terlambat," ucap Elita—mama dari Razavi—sembari menggandeng lengan anak laki-lakinya melangkah memasuki lebih dalam rumah tersebut.
Ruang keluarga yang ditempati terasa pengap. Bahkan penuh dengan tatapan menusuk, seakan-akan seperti tengah dikoyak. Tangan Razavi mengusap pelan ujung seragam yang sudah keluar dari celana, penampilan laki-laki itu begitu berantakan.
"Jelaskan!"
Razavi tersentak mendengar suara tegas milik sang papa menggelegar di ruang keluarga. Nada bicaranya pun seperti tak bersahabat. Semakin membuat Razavi senam jantung saja.
"F–futsal," kata Razavi dengan gagap.
Ck, Razavi merasa malu pada dirinya sendiri yang tidak mampu bersikap seperti anak laki-laki lain. Bahkan sekadar berbicara dengan benar saja ia tidak mampu.
"Futsal? Bukankah kamu memiliki jadwal les Matematika, bahasa Jepang, dan bermusik?" Rayhan mengembuskan napas kasar. Menatap penuh kesal pada Razavi.
Lelaki paruh baya itu berjalan cepat ke arah Razavi. Menarik tangan sang anak dengan kasar, hingga Razavi beranjak dari duduknya.
"Kamu tahu, 'kan, konsekuensi apa yang bakalan kamu dapat kalau tidak menurut?"
TBC:
Gila, sih, kalo ketemu modelan bapak kek gini, hahaha.
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro