19. Cerita gadis hujan
Razavi mendongak saat mendengar suara seorang gadis yang akhir-akhir ini selalu singgah di kepala. Gadis itu dengan santai duduk di samping Razavi tanpa izin. Senyum ceria disudut bibir gadis selalu saja terlukis.
"Sebentar lagi hujan, kenapa masih di sini?" Aulia mengangkat sebelah alis, menatap penuh ingin tahu pada laki-laki itu.
"Kenapa emang?" Razavi malah balik bertanya sembari membuang tatapan ke arah depan. Melihat jalanan terlihat lenggang di depan mata.
Aulia bergeming. Tak membalas ucapan itu, menimang kalimat selanjutnya yang terucap dari mulut. Ia takut kalau kalimat itu malah menyinggung Razavi atau malah seperti ikut campur dengan masalah hidup laki-laki itu.
Sorot mata Razavi menengadah ke langit. Awan kelabu menggumpal di langit sana, angin khas akan turunnya hujan membelai pipi Razavi. Tanpa hitungan per menit, perlahan gerimis mulai berjatuhan. Tak membutuhkan waktu lama, gerimis tersebut berubah menjadi hujan deras.
Alis Razavi mengerut melihat Aulia terlihat senang mengulurkan tangan merasakan guyuran hujan. Sementara Razavi, terlihat kedinginan.
"Lo enggak kedinginan?" Razavi bertanya, menatap ingin tahu pada Aulia.
Aulia berbalik, berjalan menghampiri. Lalu kembali duduk di samping Razavi. Keheningan menyelimuti, hanya terdengar suara gemericik hujan memukul-mukul genteng halte bus itu.
"Lo pernah berdiri di bawah guyuran hujan dengan waktu yang lama?"
Lama tak ada jawaban, Aulia malah berbalik bertanya mengalihkan topik pembicaraan. Razavi hanya menoleh dengan kerutan di dahi. Terkadang gadis itu bersikap seperti gadis misterius, kadang juga malah seperti gadis ceria.
"Dari cara lo natap gue, kayaknya lo belum ngerasain berdiri di bawah guyuran hujan." Aulia mengembuskan napas kasar setelahnya, bersandar di kursi halte bus itu. Tatapan tertuju ke depan, terlihat kosong.
"Kalo wajah lo enggak kayak gitu, mungkin gue udah narik lo buat ngerasain mandi hujan bareng," lanjut Aulia.
"Emang lo pernah ngerasain? Dan bagaimana suasana hati lo saat ada di bawah guyuran hujan itu?"
Rasa penasaran dalam diri, membuat Razavi berani bertanya mengenai kalimat itu. Ia memiringkan kepala sedikit melihat senyum tipis di wajah Aulia. Ia tak yakin jika sudut bibir itu tertarik membentuk senyuman kecil. Melihat binar mata dari Aulia, entah mengapa mengingatkan Razavi pada sang kakak di rumah.
"Yang gue rasain?" Aulia mengulas senyum kecil menatap Razavi dari samping. "gue ngerasa tenang dan nyaman. Seolah-olah semesta lagi meluk gue tepat di saat suasana hati gue lagi enggak baik-baik aja. Dan di bawah guyuran hujan itu, gue bisa menangis tanpa diketahui oleh orang lain."
Poin kedua entah mengapa membuat Razavi kian penasaran saja. Terlebih lagi kini sorot mata Razavi tertuju pada pergelangan tangan Aulia. Dari cara gadis itu berucap, ia mendapat satu kesimpulan; hati gadis itu pernah terluka, duka pertama yang didapat ialah dari keluarga. Kira-kira seperti itu kalimat yang dapat dirangkai di kepala.
"Soal ... pergelangan tangan lo?" Sejujurnya Razavi ragu menanyakan kalimat itu. Takut kalau gadis itu merasa terganggu.
Aulia menunjukkan pergelangan tangan terdapat luka gores. Ia tertawa pelan, luka yang didapat kala ia tidak bisa melampiaskan emosi kepada orang lain. Hanya diri sendiri yang bisa ia lampiaskan dengan cara menyakiti diri, seperti menggores pergelangan tangannya dengan cutter.
"Baru kali ini gue ketemu sama orang yang bener-bener penasaran soal luka yang ada di pergelangan tangan gue. Ya, walaupun ada beberapa yang pernah tanya, tapi mereka cuma sekadar tanya tanpa ingin tahu yang sebenarnya. Beda sama lo," ucap Aulia kembali menatap penuh arti pada Razavi.
"Lo self harm 'kan?" Empat kata itu mampu terucap dari mulut Razavi. Rasa penasarannya kini akan segera terjawab.
"Kalo gue jawab 'iya', terus kenapa?"
"Enggak baik nyakitin diri lo sendiri," balas Razavi.
Aulia mengulas senyum tipis, tanpa sadar Razavi pun sama saja. Hanya saja cara mereka mendapatkan luka di sekujur tubuh yang berbeda.
"Tanpa lo sadari juga, lo pun sama kayak gue. Enggak baik nyakitin diri sendiri. Setiap kali lo datang ke sekolah, lo selalu ninggalin bekas luka di wajah. Itu luka tonjok sehabis berantem, 'kan?" Aulia mengangkat satu alis, menunggu balasan dari Razavi.
Sudut bibir tertarik membentuk bulan sabit. Sementara mata terlihat mendung, siap menumpahkan tetesan demi tetesan dari pelupuk mata. Namun, dengan sekuat mungkin Razavi menahan hingga tak terjatuh.
"Gue enggak apa-apa. Sementara lo kenapa-napa, seharusnya lo kudu bisa mencintai diri lo sendiri. Bukan malah nyakitin demi menuntaskan hasrat ingin menyakiti di diri lo."
"Gimana caranya? Gue enggak bisa ngendaliin semuanya. Enggak mudah bagi gue. Lo pernah ngerasain gimana sakitnya berada di tengah-tengah keluarga yang rusak?" Binar sendu dan penuh kesakitan terpatri di balik manik hitam dari gadis itu.
Bibir mungilnya tertarik membentuk senyuman kecut. Membuat jantung Razavi seketika berdetak dengan cepat. Ia terlalu sensitif bila menyangkut keluarga yang rusak a.k.a Broken Home. Paling membuat ia muak dan tak ingin mendengar kisah kelam dari orang lain. Mengingat kisah sendirinya pun masih terlihat sangat kelam.
"Kalo gue ada di posisi itu, gue enggak bisa ngelakuin apa pun selain pasrah."
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro