Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

9| Tak Saling Lupa

Dua tahun berlalu.

Pagi baru saja mengintip di celah-celah jendela. Sinarnya memaksa kelopak indah milik seorang perempuan terbuka. Dia mengeluarkan tangan dari selimut tebal untuk menggeliat. Sentuhan hangat di pipinya membuat dia menoleh ke samping.

"Happy anniversary ketiga." Suara Aji mengalun lembut tepat di telinga Ririn.

Perlahan Ririn menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya yang menerobos ke iris matanya. Merasa silau Ririn kembali menyelimuti seluruh wajahnya. Aji menarik kain tebal itu dari wajah Ririn dan tersenyum. Detakan kencang di jantung Ririn mulai melemah dan kembali normal. Reaksi itu selalu muncul ketika Ririn dalam keadaan separuh sadar seperti saat bangun tidur. Ririn tersenyum begitu mengingatkan diri bahwa orang itu hanya Aji.

"Happy anniversary," balas Ririn. Suaranya masih terdengar serak karena tidurnya yang cukup nyenyak tanpa mimpi tadi malam.

Ririn duduk. Aji pun duduk di dekatnya. Matanya tak lepas memandangi Ririn yang belum mandi, yang sangat kacau dengan kotoran mata, dan rambut seperti singa. Aji tak berhenti tersenyum menikmati pemandangan di depannya. Dalam keadaan apa pun Ririn terlihat menarik di mata Aji Bramantya.

"Kenapa?" Ririn tidak tahu apa yang dipikirkan Aji ketika menatap lama dirinya. Hal yang seharusnya membikin Ririn takut, tetapi tidak jika Aji yang melakukannya.

"Kau cantik sekali."

Ririn mengusap mata dan merasakan ada butiran kecil di sudut mata. "Terima kasih. Kenapa sudah rapi?" Jadwal Aji ke toko paling cepat itu pukul sembilan. Ini masih jam tujuh.

"Ada berita duka, Sayang. Kita akan melayat pagi ini."

"Siapa yang wafat?" Hampir saja Ririn menyebut 'mati' dan Aji pasti akan mengoreksinya.

"Bu Willa. Semalam Bu Willa meninggal sebelum tiba di rumah sakit. Dengar-dengar jantungnya kambuh."

"Dia memang sudah tua dan penyakitan." Bibir Ririn berucap tanpa berpikir seperti sebelumnya.

"Ririn."

"Kenapa Mas Aji menatapku begitu? Ada yang salah?" Ririn tidak tahu di mana letak kalimatnya yang salah hingga Aji menatapnya dengan pandangan tidak senang.

Aji menyentuh pipi Ririn. Kontak fisik seperti itu bisa dia toleransi selagi Ririn dalam kesadaran penuh. Jadi, perempuan itu membiarkan tangan Aji tetap mengelus di sana.

"Bukan seperti itu menanggapinya. Itu sedikit kasar, Ririn." Aji berkata lembut.

"Tidak ada yang dengar selain kamu."

Aji menggeleng. Dia mengacak rambut di puncak kepala Ririn. "Saya tunggu di meja makan. Sarapannya sudah siap."

"Mas Aji masak apa?"

"Nasi goreng udang. Segelas cokelat panas."

Aji mengedip. "Jangan lama-lama dandannya. Kau sudah cantik apa adanya."

"Aku tahu!"

Tepat saat itu, Ririn mendengar pintu kamar Dila terbuka. Ririn berlari mengejar Aji yang sudah keluar dari kamar.

"Morning touch mana?" pinta Ririn waktu Aji berada di depan pintu. Dari sudut mata, Ririn melihat Dila berdiri di pintu kamarnya. Dila menghindar agar tidak berpapasan dengan Ririn.

"Berdiri saja di sana dan lihat aku!" Ririn merasakan gelembung kesenangan ketika melihat wajah menderita putri tirinya.

Aji pun tersenyum lebar mendengar permintaan Ririn. Setelah mengusap pipi Ririn seperti tadi, dia mengecup kedua pipi Ririn bergantian. Terakhir melabuhkan ciuman singkat di ujung hidung Ririn. Tangan Ririn gemetar dan merambat ke seluruh pembuluh darahnya karena dikungkung oleh rasa takut. Namun, Ririn dapat menyembunyikannya dengan baik. Dia akan menahan ketakutan demi merasakan kebahagiaan di saat yang bersamaan. Jika dahulu dia tidak memiliki siapa pun yang akan duduk di sebelahnya, sekarang ada Aji yang akan senantiasa membelanya meski mengesampingkan putri kandungnya.

"Sudah, ya. Kembali ke kamarmu." Aji mendorong Ririn pelan.

Begitu Aji pergi, kaki Ririn tertekuk. Dia terduduk di lantai, bersandar pada daun pintu bagian dalam. Secepatnya Ririn menghapus jejak Aji di wajahnya.

Dila pastinya akan berasumsi tentang hubungan ayahnya dengan Ririn. Ririn telah berhasil menduduki posisi penting ibu Dila di rumah dan di hati ayahnya. Padahal, bukan seperti itu kejadian sebenarnya.

Namun, sebentar lagi asumsi Dila mungkin akan terjadi. Ini adalah tahun yang ditunggu-tunggu oleh Aji. Perjanjian yang disepakati bahwa ketika usia Ririn akan habis delapan belas tahun, Ririn akan menjadi istri yang sebenarnya. Ririn mesti menjalankan kewajiban sebagai pasangan ketika menginjak sembilan tahun. Dua tahun berlalu, Ririn belajar untuk menghilangkan rasa takut terhadap sentuhannya. Lumayan bisa meski Ririn tidak menyukai sedikit pun dicium oleh Aji Bramantya. Ririn pun tidak mengizinkan Aji tidur di sebelahnya. Mereka di kamar masing-masing. Aji sangat memaklumi karena rasa sayangnya kepada sang istri.

***

Willa adalah ibu Kafka Reynanda. Dalam perjalanan ke rumah duka, Ririn memikirkan apakah Reynanda akan pulang di saat terakhir mamanya. Ririn segera mendapatkan jawabannya begitu menginjak halaman rumah bibi penjual gado-gado itu. Dari jauh Ririn sudah mengenali laki-laki tinggi yang memakai kemeja pendek hitam tersebut sebagai Kafka Reynanda. Dahulu Rey tidak setinggi itu, tapi Ririn juga tidak setinggi sekarang. Melihat Rey bertumbuh sebegitu banyak, Ririn tidak heran karena Ririn pun tak kalah tinggi dari anak laki-laki yang pernah ingin ia bunuh itu.

Reynanda menunduk di sebelah pembaringan ibunya setelah selesai bicara dengan seorang wanita paruh baya. Di balik kacamata hitam ini, Ririn dapat melihat ekspresi Rey dengan bebas. Dia banyak menangis sampai wajahnya memerah dan matanya membengkak. Rey tak pernah pulang sejak kepindahannya. Setahu Ririn begitu. Mungkin dia menyesal karena sekarang yang dia temui hanyalah mayat ibunya yang kaku siap dikuburkan.

Ririn duduk sendirian di bangku plastik itu karena Aji memisahkan diri ke rombongan pria. Seseorang yang ditunggu-tunggu akhirnya datang. Ririn memberikan kode agar orang itu mendekat. Wanita yang dipanggil membenahi selendang ke pundaknya dan berjalan ke sebelah bangku Ririn. Ririn akhirnya punya teman bicara.

"Nyonya memang berbeda dari yang lain," katanya begitu mendudukkan tubuhnya yang lebih berisi di bangku. Melirik Ririn dengan sebelah sudut bibir yang naik.

"Bibi juga nyonya. Tapi apa yang beda denganku?"

Bibi Lilis menatap enggan ke arah Ririn dari balik kacamata cembung. "Kau berpenampilan terlalu berlebihan. Siapa yang ingin kau buat terkesan? Padahal ini acara duka. Kau datang dengan glamor. Memangnya ini pesta?"

Ririn menilai diri sendiri yang dibilang berlebihan. Kepala Ririn hanya ditutup selendang tipis hitam. Blouse yang Ririn kenakan sangat simple dari bahan shiffon dan rok jeans semata kaki. Barangkali heels merah menyala ini yang dimaksud bibinya berlebihan? Atau bibir merah? Lagipula Ririn memakai kacamata hitam. Wajahnya tidak begitu jelas ditambah dengan adanya selendang.

"Tak ada yang aneh." Kecuali, berbeda. Orang-orang hanya berdaster atau gamis serta sandal jepit. Ririn satu-satunya yang pakai tumit sepatu runcing dan merah menyala.

Ririn mengeluarkan kotak kecil dari tas. "Ini cocok sekali untuk Bibi. Pertama lihat aku langsung suka."

Bibi Lilis membuka kotak biru tersebut dan melotot, "Apa lagi ini?"

"Hanya gelang. Bawa ke mari aku pakaikan."

"Bisa kau hentikan memberiku barang-barang seperti ini? Aku tidak memerlukan semua itu."

Bibi Lilis berusaha tidak berteriak di tempat ramai. Dia gagal menghalangi Ririn sewaktu memasangkan perhiasan emas itu ke pergelangan tangan kirinya.

"Cantik," puji Ririn tidak dibuat-buat.

Hanya ada gelang itu di tubuh Bibi Lilis. Dia tidak memakai cincin atau kalung. Entah ke mana seluruh perhiasan yang Ririn berikan. Mungkin bibinya lebih suka menyimpan seluruh barang dari Ririn sebagai tabungan masa tua dibandingkan memakainya sebagai hiasan.

"Di mobil aku membawa satu setel pakaian baru. Pulang nanti Bibi ikut aku ke mobil."

"Suamimu memang sudah gila mengizinkan kau melakukan ini, sama gilanya dengan kau."

"Tugas dia adalah mencari uang yang banyak untukku. Dan tugasku adalah memberikan yang aku punya untuk Bibi. Sudahlah, Bibi jangan menolak setiap kubelikan barang-barang. Tidak sering-sering, kok. Bagaimana, Bibi suka tidak?"

Bibi Lilis melihat ke gelangnya.

"Bagus, kan?" kejar Ririn.

Bibi Lilis tidak menjawab. Pandangannya menyapu ke halaman rumah duka, ingin melihat apakah Aji memperhatikan interaksi mereka. Aji sedang mengobrol dengan bapak-bapak yang lebih tua darinya. Aji tidak memperhatikan setiap gerak-gerik Ririn seperti dulu. Lebih-lebih ini tempat ramai. Takkan ada yang bisa berbuat macam-macam kepada Ririn. Jadi, Ririn bebas berbicara dengan siapa saja, apalagi bibinya.

"Kau tidur dengannya?"

Cepat-cepat Ririn menatap Bibi tak percaya. "Tidak! Aku tidak mau."

Bibi Lilis menaikkan sebelah sudut bibirnya. "Dengan apa kau bahagiakan dia? Dia melakukan semuanya untukmu."

"Sudah kewajiban dia." Ririn menjawab enteng.

"Dan kau lupa kewajibanmu sebagai seorang istri?"

Ririn membuang arah pandangan. "Aku tidak akan pernah melakukannya. Lebih baik aku melompat ke sungai daripada membuka bajuku di depan orang lain."

Bibi Lilis tertawa kecil dan berkata di sela tawanya, "Aku tidak percaya dia bisa tahan tidak menyentuhmu padahal kau sangat kurang ajar."

"Karena dia binatang jinak."

Bibi Lilis mengangguk setuju. "Semoga kau selamat."

Ririn tersenyum kecil. Doa itu ia aminkan.

"Nanti Bibi ikut aku saja. Tidak perlu memasak, kita makan di luar."

Saat itulah Ririn menyadari sepasang mata sedang menatapnya. Tengkuknya terasa merinding. Telah lama Ririn tidak menghiraukan hal-hal yang hanya dapat ia lihat dan tak bisa orang lain lihat. Namun, mereka biasanya tidak menyebabkan efek seperti yang Ririn rasakan sekarang. Ririn menelan ludah membayangkan bahwa sepasang mata itu adalah milik Paman Darma. Ririn meremas punggung tangan Bibi Lilis.

"Kau kenapa lagi?" decak Bibi Lilis.

"Apa dia ada di sini, Bibi?" bisik Ririn menunduk.

Lama tak terdengar jawaban Bibi Lilis.

"Aku merasa diperhatikan."

"Sudah kubilang sejak tadi. Kau terlalu berlebihan. Tentu saja orang lain memperhatikanmu."

Ririn menarik napas. Ternyata hanya orang-orang yang suka bergosip, seperti biasa.

"Anaknya Willa sejak tadi melihat ke sini. Dia tidak mengenalimu lagi?"

Ririn mengarahkan pandangannya ke tempat Reynanda.

"Kalau jadi dia, aku tidak mungkin melupakan orang yang membuatku trauma." Bibi Lilis menjawab sendiri pertanyaannya.

"Dia pasti lupa. Aku bukan Ririn yang dulu," ucap Ririn tetap melihat Rey dari balik kacamata.

Mata Reynanda dipenuhi oleh rasa penasaran yang membuat Ririn yakin bahwa Rey tidak mengenalinya. Ririn melemparkan seulas senyuman. Reynanda pun berhenti melihat ke arah Ririn.

"Reynanda. Aku tidak melupakanmu."

***

Rey memperhatikan tempat duduk di bawah tarup bagian depan. Di antara tamu yang hadir, hanya satu perempuan yang paling menonjol. Ia memakai kacamata dan selendang hitam dengan bibir berpulas merah. Bibir yang sangat indah. Rambut ikal hitam dan panjang mengintip dari balik selendangnya. Sebuah cincin bermata berlian terpasang di jari manis kanan. Kaki kanan disilangkan di atas kaki kirinya.

"Siapa dia?" tanya hatinya. Perempuan itu terlihat berada di tempat yang salah.

Telah bertahun-tahun Rey tidak pulang ke kampung. Dia tidak mengenal para warga. Mungkin saja perempuan itu penduduk baru. Bisa jadi dia anak dari tetangga yang biasanya tinggal di kota, melihat betapa modis penampilannya dari yang lain. Wanita itu sedang berbincang dengan Bibi Lilis. Reynanda berusaha menghapus ingatannya ketika mengetahui siapa wanita paruh baya itu.

Perempuan yang Rey perhatikan itu juga melihat ke arahnya. Dan Rey tidak dapat melihat matanya yang tersembunyi di balik kacamata. Namun, bibirnya tersenyum kepada Rey. Setelah itu, perempuan bergincu merah pergi menemui seorang pria dewasa yang Rey kenali sebagai Aji Bramantya, seorang pedagang barang elektronik yang sangat lengkap di desa. Ia hidup bersama anak semata wayang di kampung sebelah. Melihat perempuan itu saling menggenggam tangan dengan Aji, Rey menyimpulkan bahwa sang perempuan pastilah putrinya.

Rey tidak lagi mengingat putri Aji Bramantya ketika proses pemakaman berlangsung. Hingga malamnya ia duduk di teras memikirkan segala hal tentang kehidupannya ke depan. Sudah jelas ia belum mampu membalas semua jasa Mama dan takkan pernah bisa. Rey juga belum sempat menunaikan janjinya untuk membelikan Willa perhiasan. Jangankan membantu, Rey bahkan tidak bertemu dengan Willa sampai akhir hayatnya.

Attar menepuk bahu Rey untuk menyalurkan dukungan atas kemalangan sahabat kecilnya.

"Kau pasti tidak akan pernah kembali ke sini. Paling iya ke makam untuk berdoa. Betul?"

"Tidak ... tidak salah lagi." Lelaki akhir delapan belas itu masih terlihat letih. "Terima kasih."

Setelah ini, Attar tidak akan memiliki pekerjaan tambahan lagi. Kesibukannya antar-jemput Willa ke pasar di pagi hari otomatis terhenti.

"Terima kasih banyak selama ini." Pria tidak boleh menangis. Pria dilarang meneteskan air mata. Namun, Rey tak mampu membendung cairan bening yang luruh melewati kelopak matanya.

Melihat Rey bersedih, Attar ingin membicarakan hal lain. "Kau tadi melihatnya?" Attar merasa pertanyaan itu kurang menarik karena Rey hanya terdiam. Attar menambahkan, "Si pendiam yang ingin membunuh Kafka Reynanda. Tadi dia datang berbela sungkawa."

"Oh, ya, dia tadi ke sini? Fuck! Kenapa aku tidak melihatnya?" Rey mulai emosi ketika Attar menyebut orang itu.

"Rindu, Mas Kafka?"

"Aku hanya ingin menyapa. Penasaran apakah jerawat di pipinya bertambah banyak, mukanya masih berminyak, atau dadanya sudah ber—"

"Dia menikah."

"Menikah?" ulang Rey. Dia rasa telinganya masih normal. Tapi, apa kata Attar barusan?

"Ririn sudah menikah. Dia menjadi nyonya dengan seorang anak perempuan cantik. Dan dia bukan Ririn yang kita kenal dulu. Kau ingat dulu pernah mengatakan dia jorok, sekarang tidak lagi. Kau bahkan takkan mengenali dirinya waktu bertemu di jalan. Aji telah mengeluarkan Ririn dari cangkahg dan memang semuanya yang ada pada Ririn adalah milik Aji Bramantya."

Rey sangat terkejut dengan berita dari Attar. "Yang bersama Pak Aji tadi?" tanya Rey berharap jawabannya 'bukan'.

"Ya! Kau melihatnya? Dan kau tidak mengenalinya!" Attar nyaris bertepuk tangan.

Jadi, wanita yang dia lihat itu adalah Ririn? Ririn yang dulunya dekil dan bau kotak sampah.

"Aku tidak melupakan bagaimana dia membuatku bagai orang bodoh. Lari terbirit-birit saat tangan dekilnya mencekik leherku. Dia pasti bisa menikahi seorang Bramantya dengan ilmu hitam. Suatu hari dia harus mendapatkan ganjaran."

Rey menyesal mengingat dulu dia sangat pengecut. Dia sangat takut terhadap si dekil itu hingga memutuskan pindah sekolah. Ia malu dengan dirinya yang dulu. Kalau saja kejadiannya bisa diulang, dia akan mencekik balik leher perempuan buruk rupa itu.

"Kau masih belum memaafkannya? Jadi ini cerita tentang dendam, bukan cinta terpendam?" Ada kilat penasaran pada sepasang bola mata penjaga Ririn itu.

"Tutup mulutmu!" Rey marah.

Sementara bibir Attar berkedut sebelah. "Baiklah. Aku akan pegang kata-katamu."

"Aku tidak akan memaafkan gadis terkutuk itu," tambah Reynanda meyakinkan.

"Kurasa kau tidak boleh terlalu membenci seseorang." Attar mengingatkan, sambil memutar otak agar Reynanda lebih baik melupakan kemarahannya. "Aku punya info satu lagi untukmu."

Rey jelas tertarik. Melihat kilatan jahil di mata Attar sudah pasti ini akan menjadi informasi yang pantas ia dengar.
"Kau tahu anak dari Aji Bramantya? Anak tiri Ririn. Dia hanya dua tahun di bawah kita. Sekarang kelas satu SMA. Dan dia ... tidak kalah cantik dari Ririn. Jika Ririn lebih terlihat seksi, kalau Dila menggemaskan."

Rey menegakkan punggung dari posisi bersandar. "Bagaimana denganmu? Apa kau tidak tertarik pada anak tiri perempuan aneh itu? Bukankah sejak tadi kau banyak membahas dirinya dan sayang sekali si dekil sudah ada rantainya."

Attar hanya tersenyum tipis. "Aku tidak suka tipe seperti itu. Dila seperti adik kecil. Dia sering membeli gado-gado di sini. Dan ... dia dekat dengan Tante Willa," kenang Attar. "Kau pasti ingin tahu kenapa kalau dia kenal mamamu, tapi dia tidak datang tadi? Entahlah, aku agak ragu soal ini. Kurasa dia dan Ririn tidak berbaikan. Seperti dua orang wanita yang memperebutkan seorang pria."

"Kau bicara tidak jelas." Rey gusar. "Memangnya dari mana kau tahu dia tidak berbaikan dengan Ri–maksudku gadis sialan itu?" Reynanda sangat jijik hanya menyebut namanya saja. "Dari mana kau tahu mereka merebutkan pria? Gadis itu menikah dengan ayahnya. Lalu siapa pria yang mereka perebutkan?"

"Aji. Siapa lagi? Ririn ingin merebut semua perhatian Aji. Semua orang di desa ini juga tahu bagaimana Ririn akhir-akhir ini. Dia seperti nyonya tidak tahu diri. Sombong sekali."

Rey tertawa. "Jangan bilang kau masuk dalam perkumpulan tukang gosip kampung ini! Sepertinya kau mengetahui semua hal tentang penduduk yang tinggal di lingkungan kita sampai ke kampung sebelah juga."

"Jadi, setelah ini kau ingin kuliah di mana?" tanya Attar mengganti topik.

Mereka akhirnya membahas hal lain. Selesai dengan obrolan yang satu, mereka bicarakan yang lainnya.

Attar menyimpan rahasia hanya untuk dirinya sendiri. Dia tidak rela berbagi tentang apa yang dia lakukan selama ini. Perasaan itu muncul saat pertama kali dia menyapa Ririn. Well, betul-betul menyapa saat perpisahan kelas sembilan. Dahulunya, saat mereka sekelas, tidak sekali pun Attar menegur Ririn. Sekali sapa dan melihat reaksi Ririn, Attar jadi sering memikirkan Ririn. Dia mengamati Ririn. Bisa dikatakan dia penganut cinta dalam diam. Attar ingin memukul saja kepalanya agar segera waras. Akan tetapi, merasakan suka tak berbalas kepada wanita yang dahulu tak pernah dia bayangkan terasa menyenangkan. Wanita yang mustahil dia dapatkan. Wanita yang telah sah menjadi milik pria lain. Attar merasakan menjadi orang yang tidak egois. Tidak kepada orang lain dan tidak kepada diri sendiri. Mencintai Ririn adalah pelajaran yang menyadarkan Attar menjadi manusia tulus. Melindungi orang tersayang tanpa ada yang mengetahui. Kini Attar sedang mengumpankan Dila kepada Rey karena benci menjadi cinta terasa tidak mustahil dalam dunia ini.
*** 

Tbc

26 September 2023

2550 kata! Dan draft lama yang menyimpan komentar terdahulu pun habis di part kemaren. 

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro