Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

6| Penyelamat

Ada yang masih ingat?


***


"Saya Aji Bramantya dan anak saya namanya Dila Cahyati."

Ririn malas mendengar suara laki-laki. Tapi pria itu masih terus bicara.

"Jika memerlukan sesuatu, panggil kami saja. Di rumah ini saya berdua dengan putri saya Dila. Di luar ada Pak Edy yang menjaga gerbang. Mbok Dimah ada di waktu pagi-pagi saja untuk masak dan bersih-bersih. Setelah selesai, dia pulang."

Kaki Ririn semakin meringkuk rapat dan wajah ia surukkan makin dalam ke pangkuan. Pria itu seharusnya mengerti bahwa orang di depannya tidak mau diajak mengobrol.

"Bisa ambilkan pakaian untuk kakak ini, Dila? Pakaian Mama mungkin pas di tubuhnya."

"Oke."

"Pakai handuk ini. Kau bisa sakit dengan baju basah itu," kata orang itu meletakkan sesuatu di atas kepala Ririn. "Dik?"

Lari!

Tangan Ririn ditahan sewaktu dia berdiri ingin keluar dan menjauh dari Aji. Pria adalah binatang. Larilah saat kau berdua saja dengan mereka. Kata-kata Bibi Lilis terngiang kembali. Semua ucapan bibinya benar. Tapi kaki Ririn bergetar sekadar melangkah. Apalagi dia merasakan hangat tangan Aji di lengannya.

Teriakan Ririn pun menggelegar di kamar besar itu. Anak perempuan tadi datang tergopoh-gopoh membawa setelan baju kaus. Aji Bramantya melepaskan tangannya dari Ririn. Anaknya bergantian memeluk Ririn. Dia tidak peduli kalau Ririn sedang basah.

"Kakak gemetaran. Tidak apa-apa. Kami tidak akan menyakiti Kakak." Tangannya menepuk-nepuk punggung Ririn. Tingginya hanya sedada Ririn.

"Keluar, Pa."

Ayahnya terusir. Ririn tersenyum melihat pria itu diperintah oleh gadis kecil.

"Mandilah. Ini baju gantinya. Aku Dila kelas delapan. Nama Kakak siapa?"

Ririn kembali ke dekat jendela dan duduk di sana. Cukup dengan air hujan. Dia tidak ingin disiram lagi dengan air dingin.

"Aku mengatur air hangat untuk mandi. Sirami badan supaya tidur Kakak lelap. Aku janji kami bukan orang jahat. Kakak bisa kunci kamar ini kalau aku sudah keluar."

Yang Ririn lakukan setelah Dila pergi adalah mengulang duduk di dekat jendela. Dia tak peduli jika air untuk mandi sudah dipanaskan. Ririn memang lebih suka tanpa mandi.

Tahu-tahu hari telah pagi waktu kepala Ririn mendongak ke jendela. Bajunya sudah kering sendiri. Udara terasa sedingin es. Kepala Ririn pusing sekarang. Ada suara ketukan terdengar dari balik pintu. Mungkin kesialannya sudah hilang disiram air hujan, makanya ada orang baik yang menolong dan menjauhkan Ririn dari Paman Darma. Pelan-pelan Ririn bangun menuju pintu.

"Selamat pagi!"

Dila Cahyati dengan kemeja putih dan rok biru panjang tersenyum lebar. Senyumannya berhenti waktu melihat penampilan Ririn.

"Kenapa baju gantinya tidak dipakai? Semalaman Kakak memakai baju yang basah?"

Dila menyentuh tangan Ririn. "Badan Kakak hangat." Ririn merasa kedinginan, kenapa Dila mengatakan sebaliknya? Ririn menganggap Dila anak aneh.

Dila menyentuh dahi Ririn. "Ya ampun! Papa!"

"Ada apa, Dila?" Satu orang lagi datang dengan wajah khawatir.

"Sepertinya si Kakak demam." Dila menunjuk dada Ririn dengan telunjuknya.

Kepala Ririn sekarang semakin sakit. Dia ingin tidur lagi. Lalu tubuh Ririn terasa enteng sekali dan kakinya bagai tak berfungsi. Ririn terjatuh lalu Dila Cahyati berteriak. Ririn pun tidak sadarkan diri.

Saat terbangun, Ririn sudah berpindah tempat. Ruangan tempatnya berbaring itu beraroma obat-obatan. Ririn melihat selang air dan tabung cairan bening di tiang. Selang itu menempel di tangan Ririn yang direkatkan dengan selotip warna kulit.

"Bagaimana perasaanmu?"

Ririn menoleh melihat pria yang barusan bertanya. Dalam posisi berbaring Ririn merasa sangat rapuh. Ini tidak aman. Ririn segera duduk sambil memekik dan melipat kaki bersandar ke tempat tidur.

Orang-orang berdatangan melihat ke tempat Ririn. Dia menunduk tidak ingin mereka mengenali muka Ririn Tapi Ririn merasa aman karena ada banyak orang dan tidak berduaan lagi dengan Aji Bramantya.

"Panasnya sudah turun." Perawat mengakhiri pengecekan dan berbicara dengan Aji Bramantya.

Aji kelihatan seperti wali Ririn. Wajah itu khawatir seakan Ririn adalah keluarganya. Tetap saja waktu hanya berdua, Ririn merasa tidak aman. Aji dapat berubah seganas Paman Darma karena semua laki-laki adalah binatang buas.

Malam berganti siang dan berganti malam lagi secara terus-menerus. Berulang-ulang. Semua itu Ririn saksikan dari balik kaca jendela rumah Aji Bramantya. Semenjak pulang dari rumah sakit itu, Aji dilarang Dila dekat-dekat dengan Ririn. Tanpa Ririn beritahu kalau Ririn ngeri di dekat ayahnya. Syukurlah gadis SMP itu langsung paham tanpa Ririn jelaskan. Dila-lah yang selalu masuk kamar Ririn untuk mengantarkan nasi. Pulang sekolah sampai waktu makan, kemudian kembali lagi sampai malam menemani Ririn di kamar. Dia tidak kapok bicara sendiri karena Ririn tidak menanggapi dirinya sama sekali.

"Aku tadi dihukum berdiri di depan kelas sampai pulang karena tidak membuat tugas matematika. Sebenarnya aku berniat untuk mengerjakan, tapi otakku tidak jalan saat disuruh berhitung. Kakak jangan bilang sama Papa, ya. Dari dulu aku lemah pada pelajaran yang satu itu. Papa sudah memanggil banyak guru les berhitung, tapi otakku lambat tak bisa mencerna pelajaran."

Dila mengeluarkan buku dari tasnya. "Lihat, berapa nilaiku. Papa sudah melakukan segalanya untuk mendongkrak nilai ini. Sampai sekarang tidak ada yang bisa membuatku paham perhitungan."

Ririn melirik ke buku tulis gadis itu. Sebuah lingkaran dan dua garis lurus yang ditarik dari titik O di tengah lingkaran. Ujung garis menyentuh sisi lingkaran dan diberi tanda sebagai titik P dan Q. Panjang garis O ke P adalah 28 dan panjang busur PQ adalah 17,6. Soalnya adalah menentukan luas juring POQ. Ririn menyukai matematika. Dia pun mengambil pensil dan mencoret-coret buku Dila dengan angka-angka. Tidak berapa lama Ririn menuliskan empat angka desimal dan membuat dua garis sejajar di bawahnya sebagai penanda bahwa angka itu merupakan jawaban. Ririn selalu bahagia jika berhasil menjawab soal matematika. Seakan-akan dia telah menyelesaikan sebuah persoalan hidup yang rumit. Ketika mengerjakannya, Ririn melupakan semua kejadian buruk yang telah menimpanya.

"Kakak hebat!" seru Dila. "Siapa nama Kakak? Kakak sekolah di mana? Kakak mau ikut sekolah denganku? Tapi Kakak sepertinya sudah tamat dari SMP."

Ririn menulis namanya sendiri pada buku tulis Dila.

"Ri-rin. Ririn? Nama Kakak ... Ririn? Kak Ririn." Dila tersenyum lebar. "Setelah satu bulan akhirnya aku tahu nama Kakak."

"Kenapa teriak-teriak, Dila?" tanya Aji dari pintu kamar.

"Namanya Ririn. Kak Ririn sangat pintar matematika. Aku mau dia jadi guru privatku."

Ririn menatap Dila.

"Ya, aku benar-benar menginginkan Kak Ririn mengajari aku berhitung!" seru Dila dengan senyumannya yang penuh semangat.

Aji Bramantya hanya mengangguk. Dia menutup pintu kamar dan pergi tanpa ingin masuk mendekati kedua wanita itu. Setelah Aji pergi, Ririn merasa aman.

Tatapan Aji sebetulnya selalu baik kepada Ririn, seperti ia melihat Dila. Sebulan tinggal di rumahnya, Aji benar-benar bukan ancaman bagi Ririn. Aji Bramantya adalah pria dewasa yang menyayangi putrinya. Tidak sekali pun Aji melihat Ririn layaknya yang Paman Darma lakukan.

Ririn menerima tawaran Dila untuk mengajarkan dia matematika. Dila sangat menderita setiap diberikan PR hitung-hitungan. Saat Ririn mengerjakan soal-soal itu untuknya, Dila kelihatan memperhatikan dengan sungguh-sungguh. Ririn semakin suka karena Dila sedikit demi sedikit mampu mengerjakan soal berikutnya. Ririn pun semakin menikmati peran sebagai pengajar les. Rasanya teramat bahagia mengotak-atik angka. Ketika sedang menyelesaikan sebuah soal, pikiran Ririn hanya tertuju kepada soal itu saja. Semua masalah hidup seolah terbang seperti kapas.

"Aku salah lagi? Tiga koma lima! Bukan min tiga koma lima, ya?" Dila berteriak sambil menepuk kening. Akibatnya, Ririn tersenyum. Dila lucu jika sedang mengomeli otaknya. "Ulang, Kak Ririn, ulang. Aku harus betul kali ini. Papa!"

Dila mengejar Aji Bramantya dan menunjukkan bukunya. "Aku hanya salah menulis minus. Papa lihat, aku makin pandai pelajaran matematika."

Aji mengusap dan mengecup kepala Dila. "Kau memang anak Papa yang paling pintar. Papa sudah bilang, matematika itu tidak sulit."

"Aku bisa karena Kak Ririn. Dia yang membantuku belajar selama di sini."

Ririn memalingkan wajah ketika Aji melihat ke arahnya.

"Kau harus memberikan hadiah untuk Ririn. Dan, Ririn, jangan mengajari anak ini secara cuma-cuma. Dia akan merepotkanmu nantinya kalau selalu kau memberikan apa maunya."

Hidup bersama ayah dan anak yang saling menyayangi membuat Ririn lupa jika ada masalah yang belum selesai. Selama Paman Darma masih bernapas, Ririn belum bisa hidup dengan tenang. Suatu sore, mereka kedatangan tamu spesial. Paman Darma berkunjung dan bersikap sebagai paman yang menyayangi keponakannya di hadapan Aji Bramantya. Ia bertingkah sangat sopan, sehingga Aji yang baik hati menyambut pria itu dengan ramah pula.

"Kami mencari Ririn ke mana-mana. Sekarang kita pulang," kata Paman Darma. "Bibimu mengkhawatirkanmu."

Mata Paman Darma menatap tajam, meski suaranya jelas-jelas dia usahakan lembut demi mengelabui tuan rumah. Ririn pun mundur dan berjongkok di bawah bangku sofa yang diduduki Aji. Kedua lutut ia lipat dan menyembunyikan kepala dalam lipatan itu.

"Kau kenapa? Tidak enak badan?" tanya Paman Darma meremas pundak Ririn. Ririn takut pamannya bakalan melakukan hal itu lagi sekarang. Sentuhannya membuat Ririn ngeri. Ririn semakin meringkuk di dekat bangku Aji Bramantya.

"Ririn tidak apa-apa." Terdengar suara Aji mendekati posisi Ririn dan ikut berjongkok.

"Tidak apa-apa bagaimana?" tuduh Paman Darma. "Aku akan membawa Ririn pulang. Di sini dia pasti hidup menderita."

Ririn mendengar pita suaranya bergetar sewaktu menjerit karena Paman Darma memaksa menggeret tangannya. Ririn tidak mau. Dia tak ingin pulang ke rumah Paman Darma. Bibi Lilis meminta Ririn jangan kembali lagi. Tanpa disuruh pun, Ririn sendiri juga tidak mau. Siapa yang suka dirinya diperlakukan seburuk itu oleh binatang berkaki dua? Ririn berharap teriakannya membuat Aji mau menolong sekali lagi. Dia baik, berbeda dengan Paman Darma yang bejad.

"Ayo, pulang dengan Paman," paksa Paman Darma terus menarik pergelangan tangan Ririn.

"Anda tidak boleh memaksanya!" cegah Aji.

Ririn merasa lega walaupun Paman Darma masih mencekal lengannya. Setidaknya, Aji tidak hanya diam melihat Paman Darma memperlakukan Ririn dengan buruk.

Dengan lantang Paman Darma mengingatkan bahwa ia wali Ririn. Dia berhak membawa Ririn pulang.

"Aku tidak mau! Dia jahat! Aku tidak mau pulang ke rumah itu!" jerit Ririn sambil menangis. Ririn melihat Aji Bramantya dengan tatapan memohon.

Aji kelihatan kaget dan mempertimbangkan. Belum pernah Ririn bicara di rumah ini, pastilah Aji terkejut ternyata Ririn tidak bisu.

Aji menarik Ririn dari cekalan Paman Darma. "Saya akan laporkan Anda sebagai tamu yang menyebabkan keributan di rumah ini," ancamnya.

Paman Darma tertawa dengan pongah. "Lapor saja! Aku pun akan melaporkan kau atas kasus penculikan. "

Aji Bramantya mengambil ponselnya. Sesaat kemudian, seorang lelaki kekar masuk dan atas perintah Aji menarik Paman Darma secara paksa.

"Aku walinya. Kau cuma orang asing yang sedang menyembunyikan dia. Akan kulaporkan kau karena menculik keponakanku! Kau akan menyesal, Berengsek!" teriak Paman Darma marah-marah. Tidak segan-segan dia meludahi lantai rumah Aji.

Ririn kembali meringkuk di lantai. Posisi ini membuatnya aman karena tubuh terasa mengecil.

"Aku tidak mau pulang. Aku mau mati. Aku ingin bertemu Umi. Bertemu Bapak. Aku tidak tahan lagi hidup. Aku takut bertemu Paman. Lebih baik aku mati saja."

***

Bersambung ....

22 September 2023

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro