5| Kebiadaban
5| Kebiadaban
Dua bulan berada di asrama memaksa Ririn untuk banyak berubah. Ririn tidak bisa hidup sesuka hati. Ia harus menghargai teman sekamar dengan mandi tiga kali sehari supaya wangi. teman sekamarnya menyukai ruangan yang rapi tanpa bau apa pun. Lima sekamar dan semuanya selalu menyemprot parfum. Dalam tas Ririn ternyata juga ada tiga botol parfum pemberian Bibi Lilis. Bibi Lilis melengkapi seluruh kebutuhan Ririn sebelum pergi. Baju yang Bibi beli tidak kalah indah dari milik teman-teman sekamar Ririn.
Satu per satu Ririn ingat yang dipesankan Bibi Lilis. Berbicara dengan perempuan. Hidup seperti orang lain hidup. Ririn mampu melakukan itu, walaupun rasanya tidak nyaman. Menyendiri lebih senang untuk dilakukan. Hanya bicara jika ada yang mengajak ia bicara. Ririn tidak mendekati orang lain untuk diajak mengobrol karena hal itu tidak menyenangkan. Tak masalah walau mereka mengatakan kalau senyuman Ririn ini mahal dan suara Ririn adalah emas. Mereka tetap menegur Ririn serta mengajak Ririn ke kantin waktu jam istirahat atau ke toko di luar asrama untuk membeli keperluan wanita.
Ririn telah mendapatkan haid pertama saat berada di asrama sebulan yang lalu. Mereka semua heran kenapa Ririn terlambat datang bulan. Melirik ke dada Ririn, para gadis muda di kamar asrama itu menggeleng-geleng. Ririn tidak mengerti kenapa mereka seheran itu. Mereka menjelaskan pada Ririn bagaimana cara menghadapi tamu bulanan pertamanya. Memberikan Ririn pembalut bersayap yang aman digunakan saat tidur dan berkegiatan.
Baru dua bulan hidup 'normal' di asrama, Ririn dapat melihat kulitnya nyaris berubah total. Ririn menjadi lebih putih dari Rey yang dahulu paling cerah di kelas. Dari lima teman sekamar, mereka bilang Ririnlah yang paling cantik. Mereka tersenyum tulus ketika mengatakannya, walaupun Ririn merasa tidak ada gunanya mendapatkan pujian. Menjadi Ririn yang baru adalah petaka. Kalimat Bibi Lilis yang itu selalu terngiang di dalam kepala Ririn. Dan satu lagi, cantik dapat mengancam nyawa. Ririn telah menelaah segalanya selama di asrama. Ternyata Ririn adalah korban perbuatan biadab paman sendiri karena dahulu memiliki wajah yang menarik.
"Ririn."
Ririn yang sedang duduk di depan meja belajar melihat Umi dan Bapak di dekat tempat tidur. Keduanya sedang tersenyum pada Ririn. Bagaimana Ririn mengabaikan kalau mereka adalah orang tuanya sendiri?
Suara lembut Umi terdengar, tetapi bibir Umi tidak bergerak sedikit pun. Umi hanya menatap Ririn dengan senyuman manis menemani suaranya yang bergema dalam kepala Ririn.
"Besok sudah lima tahun Umi dan Bapak menemani Ririn dalam diam. Tidak selamanya Umi bisa menjagamu. Kau harus bisa membentengi diri sendiri agar seluruh kejahatan di muka bumi menjauhi hidupmu. Umi dan Bibi sayang kepada Ririn dengan cara yang berbeda. Bibi sudah mengatakan agar Ririn hidup yang normal seperti mereka berempat. Menjauhlah dari laki-laki dan jangan pernah mencoba untuk mengakhiri hidupmu lagi. Jika semua sudah kau turuti, Umi akan pergi. Umi ikhlas meninggalkan Ririn kalau kau bisa menjaga diri dan hidup dengan baik. Bapak juga."
"Rin, ada yang lucu? Kau tertawa karena apa?" Destari yang ranjangnya berseberangan dengan Ririn bertanya.
Sejenak Ririn terpaku. Ririn berdeham membersihkan tenggorokannya sebelum beralih melihat ke arah Destari. "Besok aku izin."
"Oh iya. Peringatan lima tahun kedua orang tuamu? Jadi, kau pulang? Besok ada ulangan Matematika."
Ririn berjalan ke atas tempat tidur, lalu berbaring menghadap dinding.
"Kacang mahal," celetuk Intan mengejek Destari yang diabaikan oleh Ririn.
Destari berdecak. Mereka semua sudah tahu kalau Ririn itu malas bicara, tetapi masih suka sok akrab kepada gadis pendiam itu. Di antara mereka tidak ada yang kapok mengajak Ririn bicara.
***
Bibi Lilis sedikit kaget melihat Ririn tiba di depan pintu. Dia segera memakaikan lagi jaket ke tubuh Ririn yang baru dibuka saat di halaman tadi.
"Kau masih tidak mau pakai kutang? Kau ini gila!" Kemarahan Bibi Lilis hanya diucapkan dengan pelan. Dia mendorong Ririn ke kamar dan menyuruh Ririn memakai benda yang bagi Ririn membikin sesak itu.
"Ya Tuhan! Bagaimana cara menyelamatkan dirinya kalau dia saja tidak bisa menjaga dirinya sendiri."
Ririn ikut keluar bersama Bibi Lilis sesaat setelah Bibi menggerutu.
Bibi Lilis mengambil tas tangannya dan meninggalkan kamar bersama Paman Darma. Ririn belum sempat melirik Paman Darma saat tangannya diseret oleh Bibi Lilis dan tidak dilepaskan sampai duduk dalam travel. Ririn dekat jendela di sebelah Bibi Lilis.
Setiba di kompleks pemakaman, Ririn melihat Umi dan Bapak di depan Ririn saat ia berdoa. Ririn meminta maaf dalam hatinya. Bibi Lilis sendiri menangis sambil mengusap nisan orang tua Ririn. Hubungan seperti apa yang dimiliki Bibi Lilis dengan ibunya membuat Ririn malas berpikir. Semasa orang tua Ririn hidup, Bibi Lilis selalu bersikap tidak baik. Sama seperti yang dia lakukan kepada Ririn selama ini. Kalau melihat ke sebelahnya sekarang, Bibi Lilis kelihatan bersedih dan merindukan mereka.
Mereka bertiga berada di pemakaman hanya sebentar. Bibi Lilis tidak merasa perlu berkunjung ke lingkungan lama tempat dahulu mereka tinggal. Sesudah menaruh bunga, mereka pulang lagi dengan travel. Lagi dan lagi Ririn mengekori Bibi Lilis karena di samping bibinya, Ririn merasa dijagai.
Mereka tiba di rumah saat matahari sudah lelap di peraduan. Ririn langsung masuk kamar, begitu juga Bibi Lilis. Rumah berbeda dengan asrama. Ririn tidak perlu mandi. Jaketnya segera ia campakkan di kasur lalu berbaring dalam gelap. Tak lama kantuk pun terasa. Ririn tertidur lalu terbangun lagi ketika mendengar suara-suara.
"Kau semakin cantik setelah tinggal di asrama."
Mata Ririn masih mengantuk, tetapi tubuhnya sangat waspada. Ririn merasakan kehadiran orang lain. Perutnya seperti tengah diraba oleh permukaan benda yang kasar. Kesadaran Ririn kembali penuh. Seratus persen matanya terjaga. Paman Darma sudah berada di atas perut Ririn di kasur itu. Kamar yang tadinya gelap kini terang benderang. Ririn bisa melihat senyuman miring Paman Darma.
"Jangan berteriak. Biarkan bibimu beristirahat. Kau tidak kasihan melihat bibimu kelelahan karena perjalanan jauh seharian ini?" bisik Paman Darma di telinga Ririn yang begitu dekat. Udara dari napasnya berembus di cuping telinga Ririn.
"Ke-keluar," ucap Ririn dengan suara bergetar.
Situasi saat itu membuat tubuh Ririn mulai menggigil teringat perkataan Bibi Lilis. Ririn harus lari. Dia tidak boleh berada dalam satu tempat dengan laki-laki walaupun itu paman sendiri.
"Iya, aku keluar setelah bersenang-senang denganmu," ucap Paman Darma kemudian terkekeh. Ketawanya terdengar mengerikan, mengancam keselamatan Ririn.
Semua laki-laki adalah binatang. Perkataan Bibi Lilis kembali terngiang.
Wajah Paman Darma semakin dekat ketika mengusap wajah Ririn. "Kau sangat cantik. Aku tahu kau akan menjadi semenarik ini. Sudah lama aku menunggu kau keluar dari kepompongmu itu."
"Tolong!" Ririn berteriak. Dia tidak bisa lari. Tangan dan kakinya terjepit.
Sekali membuka suara, mulut Ririn langsung dibekap.
"Tidak ada yang mendengarmu, Bocah Pintar." Paman Darma menekan tangannya pada wajah Ririn.
Ririn meronta sekuat tenaga, menendang-nendang. Tubuh Ririn diimpit oleh kedua kaki pamannya. Ririn tidak dapat berkutik.
"Malam ini senangi aku, Bocah Cantik. Kapan lagi kau balas budi pada paman yang telah menampungmu setelah orang tuamu mati?"
Baju Ririn disobek, tetapi sayangnya tidak berhasil hanya sekali tarikan. Ririn menjerit lebih keras berharap semoga siapa saja yang mendengar akan menolongnya. Namun, Paman Darma langsung menampar pipi Ririn. Sakit itu masih bisa ditahan Ririn. Ririn kembali menjerit dan dibalas dengan tamparan bolak-balik berkali-kali di pipinya. Kulit wajah Ririn terasa remuk dikarenakan perlakuan yang tak berbelas kasih. Ririn tak tahu bagaimana bentuk wajahnya yang kemarin dipuji cantik oleh teman sekamarnya. Rasanya sekarang wajah Ririn telah babak belur.
Paman Darma menggulung baju Ririn hingga ke ketiak. Tubuh Ririn kini hanya terbalut oleh pakaian dalam saja. Bra tanpa busa yang tadi terpaksa Ririn pakai karena takut Bibi Lilis marah. Sergapan udara malam menyentuh langsung ke kulit perut Ririn yang terpapar. Mulutnya susah digerakkan. Tangan Paman Darma dengan bebas mengusap payudara Ririn hingga fokusnya kini hanya kepada dua benda itu.
Pria itu sangat asyik memainkan bagian yang kata Bibi Lilis tidak boleh disentuh siapa pun. Dengan begitu dia pun lengah. Ririn mencoba teriak sekali lagi dan bisa. Namun, teriakan Ririn berbanding lurus dengan rasa perih. Semakin kuat Ririn menjerit, semakin nyeri pula rahangnya. Paman Darma marah besar sebab kesenangannya terganggu. Pipi Ririn menjadi sasaran kemarahannya lagi. Panas sekali tamparan yang didapatkan Ririn. Matanya sampai berkunang-kunang.
Paman Darma semakin kesetanan dan dengan kasar menarik bra milik Ririn hingga terlepas. Matanya bagaikan iblis yang kalap melihat buah dada yang Ririn sendiri belum pernah melihatnya secara langsung. Perlakuan biadab pria itu membuat Ririn semakin nelangsa dalam ketakutan. Sampai kakinya tidak dapat digerakkan untuk menendang. Sementara itu, tangannya dicengkeram dengan kuat.
"Kalian tahu kenapa kita dikurung dalam asrama?" tanya Intan kepada Destari. "Asrama ini tempat paling aman agar kau tidak berkeliaran dan membuka pahamu kepada pacar-pacarmu."
Intan berdecih, mengejek Destari. "Untuk alasan itu, aku tidak peduli . Kalau aku mau, aku bisa mengajaknya masuk ke kamar ini. Kalian bisa bergantian ML dengan dia. Lebih menantang malah melakukannya bersama-sama. Aku hanya ingin mencoba menjadi anak yang baik sebelum mamaku dijemput Tuhan."
"Anak kurang ajar. Kau jangan mau seperti dia, Ririn. Tubuh gemas menggoda itu hanya milikmu sendiri. Tidak ada yang boleh memasukkan tongkat pusakanya ke milikmu sebelum menikahimu atas dasar cinta. Kita di asrama untuk memperbaiki akhlak. Bukan seperti dia, tidak punya akhlak," tunjuk Destari kepada Intan.
Intan tertawa, tidak tersinggung. Dia mungkin telah biasa dikata-katai seperti Ririn dulu. "Aku tahu kau tidak pernah memakai kutang," ucapnya kepada Ririn. "Kalau aku tidak mengenalmu yang aslinya sepolos ini, aku akan berpikir kau sama sepertiku yang selalu ingin dibelai."
Destari memukul Intan dengan mata mendelik kesal. "Ririn bukan wanita murahan. Dia tidak memakainya karena kesehatan. Rin, ingat ya, jangan sampai terpengaruh seperti Intan. Nama saja yang bagus, otaknya rusak. Jangan mau diajak tidur oleh laki-laki, ah, susah menjelaskan kepadamu. Kau tidak akan mengerti. Begini saja, jangan sampai ada laki-laki yang memegang kemaluanmu apalagi memasukkan penis mereka ke dalam vaginamu. Kau mengerti? Tubuhmu milikmu dan kau yang bisa menjaganya. Aku berkata begini sebagai kakakmu walau secara usia kau lebih tua."
"Polos sekali dia," sergah Intan. "Aku hanya mengatakan apa yang ada di otakku. Dilarang tersinggung, Rin. Hidup adalah pilihanmu. Mau seperti aku, silakan. Masa muda jangan dilewatkan. Sesekali buka paha untuk kekasih tak ada salahnya."
"Jangan dengarkan dia. Kesucian hanya kita miliki satu dan itu untuk suami kita nanti."
Ririn mendapatkan kenangan itu dalam ingatannya. Tidak ada yang diizinkan melihat dan menyentuh tubuhnya. Tapi sekarang Ririn tidak bertenaga. Tubuhnya kaku. Untuk berteriak saja dia tidak bisa. Ririn masih sadar saat tangan pamannya meraba bagian paha, lalu melebarkan kaki Ririn.
Jangan sampai ada laki-laki yang memegang kemaluanmu. Perkataan Destari semakin kuat berdenging di udara. Bayangan itu kembali. Berita yang Ririn baca di koran tersebar di seluruh atap-atap kamar. Tak peduli dengan sakit pada wajah, tulang pipi dan sudut bibir, suaranya pecah dan melengking di malam hari. Ririn menjerit dahsyat. Membuat telinganya sendiri sakit mendengarnya. Sungguh jika mati bisa membuat bahagia, Ririn akan mati dengan cara apa saja. Ririn tidak pernah menangis sampai ia lupa kalau dia juga punya saraf air mata. Ririn dapat merasakan pipinya basah karena air yang mengalir di sudut mata.
Tiba-tiba terdengar teriakan lain. Suara benturan benda keras. Ririn segera duduk dan menurunkan bajunya ke badan serta mengambil selimut. Ririn segera duduk beringsut ke ujung tempat tidur. Paman Darma dengan pinggang celana berada di paha tersungkur di lantai. Darah mengalir di lantai dari kepalanya yang pecah.
"Pakai bajumu! Keluar dari rumah ini!" teriak Bibi Lilis dengan penuh emosi.
Ririn menuju lemari mengambil pakaian yang biasanya membuat ia merasa aman. Ririn memakainya di luar baju dan celananya, berlapis-lapis.
"Jangan pernah kembali. Tinggallah di asrama selamanya. Jangan mati karena kau masih berutang banyak kepadaku!"
Kaki Ririn terseok keluar di malam yang hening. Rumah yang jarang dan malam yang pekat tidak membuat teriakan Ririn tadi mengundang para tetangga. Seakan sudah biasa hingga tak membuat mereka penasaran. Cuaca dingin menyambut kulit saat kaki gadis itu ketika melangkah satu per satu meninggalkan rumah Bibi Lilis. Ririn akan kembali ke asrama dan tinggal selamanya di sana.
Hujan menitik setetes demi setetes. Makin lama semakin lebat seperti air matanya yang luruh membuat isakan Ririn semakin menjadi-jadi. Ririn ingin mati saat itu juga. Namun, perkataan Bibi Lilis menghalanginya. Banyak yang harus Ririn bayar dengan hidupnya.
Suara dalam dirinya merayu. Hati kecil ingin Ririn menurutinya.
"Kau sudah tidak berharga lagi. Hidupmu nanti sulit. Dunia ini berbahaya untuk perempuan dengan rupa sepertimu. Orang sejenis Darma berserakan di mana-mana, mengancam hidupmu. Kau harus mati. Ayo, mati saja."
Ririn tidak goyah.
Hujan lebat mengguyur tubuh Ririn dalam perjalanan ke asrama. Masih jauh sekali sebelum Ririn menemukan mobil yang bisa membawanya ke sana. Ririn tidak ada keinginan untuk berteduh. Kakinya terus melangkah dalam lebatnya hujan. Ririn teringat perkataan Bibi Lilis, kesialan Ririn akan hilang dengan guyuran air.
"Tidak ada gunanya kau hidup. Lebih baik akhiri semua. Utangmu akan lunas setelah kau mati. Percayalah, hidup bagimu bukan pilihan. Ayo, ikut aku." Suara perempuan bergema dalam kepala Ririn. Terdengar lembut dan mengiba.
Ririn merasa bisikan itu ada benarnya. Untuk apa Ririn hidup? Dia tidak memiliki rasa kecuali sakit dan takut. Tidak ada keinginan dan impian. Sementara hari demi hari yang dilalui semakin berat. Muka, tubuh, dan seluruh raga hancur. Tidak berharga bahkan sejak kecil Ririn sudah tidak suci lagi. Tidak ada orang yang menyayangi dan menenangkan saat ingatan itu datang. Kaki Ririn melangkah dengan pasti ke depan menyongsong kendaraan yang ngebut di bawah hujan.
Lambat laun cahaya mobil menyilaukan matanya. Detik itu juga Ririn kembali menyaksikan Umi yang sedang tersenyum. Umi mengangguk. Ya, Ririn merasa lebih baik tidak lagi di dunia ini tanpa tujuan dan tanpa ada yang mencintai seperti orang lain. Keempat teman sekamarnya selalu mendapat telepon dari orang tuanya, sedangkan Ririn tidak. Apa gunanya kembali ke asrama?
"Ririn! Jangan!" Suara Umi terdengar panik.
Tiga meter jaraknya mobil itu berhenti dengan klakson yang panjang. Ririn tersungkur di aspal. Kedua lengannya langsung memeluk lutut. Hujan semakin deras. Ririn menggigil, meski baju yang dipakainya ada tiga lapis.
"Astaga, hampir saja saya menabrak orang." Ada suara pria dewasa. "Adik tidak apa-apa? Ada yang luka?" tanya suara itu. Tangannya menyentuh bahu Ririn hingga Ririn beringsut.
Binatang.
"Maaf. Adik mau ke mana hujan-hujan begini?"
Ririn tak punya kekuatan lagi untuk lari. Tubuhnya semakin erat dia dekap. Kedua kakinya melekat di paha dengan tangan melingkar di betis seperti ikatan kayu api. Kalau kali ini binatang akan membahayakannya, Ririn janji mobil berikutnya akan membawa ia ke akhirat. Ririn tidak suka disentuh. Tidak akan ada lagi yang boleh melihat tubuhnya.
"Pa, ayo! Hujannya deras sekali. Dingin, Papa."
Suara perempuan membuat kekuatan Ririn kembali. Dia bangkit, tapi tidak punya tujuan lagi. Apa mungkin Ririn harus ke asrama? Dia berbalik dan kini di hadapannya ada bapak-bapak yang juga basah kuyup. Dialah yang dari tadi mengajak Ririn berbicara.
"Adik mau ke mana?" tanyanya.
"Ajak ke rumah dulu. Kasihan bajunya basah. Nanti masuk angin," kata anak perempuan yang baru turun dengan payung lebar.
***
Bersambung ...
13 Agustus 2023
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro