Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

3| Tidak Suka Cantik


3| Tidak Suka Cantik


Setelah kepindahan Reynanda, sekolah menjadi tenteram bagi Ririn. Ririn Dianika naik kelas delapan dan masuk kelas unggulan. Itu dikarenakan Ririn peringkat pertama berturut-turut di kelas tujuh. Walaupun juara kelas, guru tidak pernah memintanya menjadi OSIS seperti para murid yang suka mencari perhatian mereka. Ririn juga tidak mendaftar. Ririn hanya suka belajar. Menjadi juara kelas tidaklah penting, meskipun Ririn diberi hadiah seragam baru. Hanya karena pakaian lebih bagus yang warnanya putih bersih juga jilbabnya, Ririn akhirnya mendapatkan teman. Melani sejak menemani Ririn untuk menjauhi Rey, selalu mengajak Ririn ikut ke kantin bersama. Hanya dia. Dan satu lagi, seharusnya guru-guru membuat nilai Ririn standar saja agar peringkat kelas berpindah ke tangan murid kesayangan mereka. Namun, setidaknya para guru telah menunjukkan pada Ririn bahwa jujur itu harga mati. Kejujuran tidak kalah oleh penampilan Ririn yang buruk.

Setahun berubah menjadi dua tahun seperti memejamkan mata. Sebentar dan tidak ada yang berkesan, walaupun Ririn suka berada di sekolah. Sekolah adalah tempat yang aman dan tidak ada yang membuat Ririn harus bersembunyi. Semua orang sadar diri untuk menjauhi Ririn. Kalau di rumah tidak bisa. Mata Paman Darma yang tajam selalu mengintai ke mana Ririn. Ririn ke kamar mandi hanya untuk buang air kecil, ternyata dia ada di depan pintu waktu Ririn hendak keluar. Ririn selalu bertanya-tanya bagaimana jika saat Ririn mandi? Apa dia akan mendobrak pintu plastik itu? Di rumah Ririn merasa takut, walaupun dia tidak mengerti alasannya.

"Pendaftaran di SMA 3 Unggulan sudah dibuka. Kau lihat brosur ini, baca baik-baik dan pelajari apa yang harus kau lakukan." Bibi Lilis mengajak Ririn bicara selesai makan. Bibi memasak pindang ikan gabus dan merebus daun ubi yang dipetik dari belakang rumah. Padahal, Paman Darma tidak di rumah. Bagi Ririn masakan ini terlalu mewah untuk mereka berdua saja.

"Sekolah ini jauh. Aku boleh tinggal di asrama?" 

SMA unggulan itu adalah sekolah yang paling banyak diminati. Letaknya di kota kabupaten. Alumni yang melanjutkan ke sana dan datang ke SMP memakai almamater terlihat keren. Kata mereka, pelajaran di sekolah itu banyak sekali dan setiap siswa tidak bisa belajar sambil main-main. Mereka hanya fokus belajar dan Ririn suka mendengar cerita mereka.

"Kau memang harus masuk asrama. Kau bisa belajar hidup yang bersih di sana." Bibi Lilis mulai berceramah. Ririn dalam hatinya mulai berkomentar bahwa seharusnya Bibi Lilis senang karena Ririn mampu menghemat air selama hidup dengannya.

"Satu hal yang perlu kau ingat. Aku tidak akan pernah mengurus mayatmu jika kau mati sebelum membayar jasaku." Kesimpulannya, Ririn dilarang mati. Tidak apa-apa menurut Ririn. Sudah tiga tahun Ririn lupa untuk mengakhiri hidupnya.

Pembicaraan itu sudah berlalu satu minggu. Sekarang Ririn berada di rumah Melani. Kamarnya sangat cantik. Cat dinding merah muda dengan tempelan bunga dan juga tokoh animasi. Ririn tidak tahu karena tidak pernah menonton televisi. TV di rumah adalah milik Bibi Lilis. Kesukaannya sinetron dan pemainnya semua jahat-jahat. Ririn tidak suka melihatnya.

***

"Besok acara perpisahan. Kita harus ke salon. Kau harus ikut. Kau bintang kelas kita. Pesta akan kehilangan pendarnya kalau kau tidak ada."

"Aku tidak suka pesta."

"Sekali ini saja. Kita akan tamat. Aku tidak melanjutkan sekolah di sini lagi. Kau pun tidak pernah mengatakan akan melanjutkan ke SMA yang mana. Kita berdua akan sulit untuk bertemu—kurasa."

"Aku tidak mau. Aku tidak suka pesta."

"Temani aku, please. Hanya kau temanku selama di SMP."

Dan karena alasan itu, Ririn tidak bisa menolak lagi. Melani memang teman Ririn satu-satunya. Dia tidak membentuk geng, walaupun dia cantik dan tinggi. Saat ini tinggi mereka sama, tapi Ririn berbeda karena dia tidak cantik.

"Aku akan membuat kau berubah menjadi ratu dalam sekejap!"

Ririn merasa Melani sangat berlebihan, tetapi Ririn tidak mengutarakannya.

Orang-orang yang mengerumuni Ririn di usia empat tahun itu dengan nada sedih mengatakan kalau Ririn cantik. Kata mereka, 'Kasihan anak kecil secantik ini dirusak oleh pamannya sendiri,' atau 'Ririn sangat cantik dan menggemaskan. Malang sekali, masih kecil harus mendapatkan perlakuan buruk,' lalu 'Semoga tidak berdampak buruk bagi hidupnya. Ririn harus melupakan kejadian itu dan hidup menjadi gadis yang cantik dan selalu ceria.' Dan Ririn benci menjadi cantik karena seseorang mengatakan sambil berbisik, walau sebetulnya Ririn dapat mendengarkan, 'Eh, pamannya itu memang bejat dan tidak punya moral, tapi Ririn juga sangat cantik. Karena itulah, pamannya merusak anak kecil itu.'

Saat melihat wajah di cermin, Ririn tahu kenapa selama ini dia suka penampilan yang buruk. Buruk adalah perlindungan. Cantik membawa penderitaan. Dari cerita tetangga yang Ririn dengar ia simpulkan bahwa dahulu Ririn mengalami kejadian buruk karena Ririn cantik. Tentu saja Ririn berpikir menjadi buruk akan membuatnya mengalami kejadian baik. Buktinya, selama ini Ririn aman tinggal bersama Paman Darma yang mau tidak mau menjadi wali Ririn semenjak kematian Umi dan Bapak.

Gadis dalam cermin hias di salon itu menatap Ririn. Matanya bulat dengan bulu mata yang lentik dan tebal. Rambut kusam dan keras yang tadinya panjang sekarang tinggal sebahu. Terasa lembut menyentuh leher. Aromanya sewangi cokelat. Ririnlah yang meminta dikeramas dengan sampo beraroma cokelat sewaktu Tante Devi bertanya. Kening yang kecil ditutupi oleh poni lurus sepanjang alis. Pipi Ririn, ya betul, yang di dalam cermin adalah Ririn, terlihat sangat bersih.

"Badannya juga digosok. Tangan, kaki, dan seluruh tubuhnya, ya Ma." Melani mengajak mamanya, Tante Devi. Tempat ini adalah salon langganan mamanya.

"Tidak!" Ririn beranjak dari tempat duduk dan meremas bajunya di bagian leher. "Jangan. Aku tidak mau."

Di hadapan Ririn sudah ada empat orang, Melani, Tante Devi, dan dua karyawan salon. Ririn sanggup berlari sangat cepat. Jika mereka memaksa, Ririn berencana akan mengamuk, menendang, menggigit, atau membenturkan kepala ke kepala mereka.

"Baik. Tidak apa-apa. Hem, kalau bagian lengan dan betis saja, bagaimana?" tanya Tante Devi melunak. "Kamu tidak perlu membuka seluruh baju, Ririn. Kita bersihkan bagian yang tidak tertutupi oleh pakaianmu. Mau?"

Melani terlihat berharap. Kedua petugas salon juga. Kembali lagi Ririn memperhatikan gadis yang memakai kaus kuning dengan banyak bintik hitam di bagian leher dari balik cermin. Dia Ririn Dianika. Terlihat perbedaan yang sangat kontras antara muka dan lengan, dan kaki. Kalau terjadi sesuatu karena perubahan itu, Ririn pikir lebih baik dia mati saja. Ririn memejamkan mata lalu mengangguk. Seseorang menarik lengannya ke bangku lagi. Mereka mengusap lengan Ririn. Ririn menutup mata daripada tiba-tiba kesadaran timbul untuk berlari meninggalkan orang-orang itu. Ririn mengingat masa-masa indah sewaktu Umi dan Bapak masih hidup demi melupakan apa yang sedang dikerjakan orang terhadap tubuhnya.

"Wah! Cantik sekali. Ma, Ririn aslinya memang cantik." Melani berbisik. Ririn membatin, Melani adalah gadis aneh. Dia seharusnya sungguh-sungguh melakukan itu agar Ririn tidak bisa mendengar.

Seseorang menepuk bahu Ririn. Mereka mencuci tangan dan kaki Ririn sehingga remaja itu merasa dingin. Lalu sekarang kulit Ririn menjadi bersih dan lembut.

"Ini uang untuk membeli baju. Kalian pergi ke butik Tante Dina di sebelah konter pinggir jalan raya. Pilih yang cocok untuk kalian pakai di pesta. Mama tinggal kalian. Bisa kan berdua?"

Melani mengangguk setelah menerima uang ratusan ribu. Selanjutnya, Melani membonceng Ririn ke tempat yang disuruh mamanya. Ririn suka melihat dress yang cantik. Saat Melani menyuruh Ririn memakai salah satunya, dia tidak menolak. Tanpa menanggalkan kaus buruk yang dipakai Ririn mencoba pakaian bagus itu. Melani setuju dan mereka akan ke pesta dengan pakaian indah. Dalam hatinya Ririn berjanji akan kembali menjadi Ririn yang biasanya setelah seluruh acara itu selesai. Ririn tidak aman menjadi cantik. Ririn yakin cantik adalah awal dari penyesalan.

***

Saat Ririn dan Melani tiba di halaman sekolah, beberapa orang mengomentari penampilan Ririn. Mereka berdua berjalan melewati beberapa bangku yang telah disusun di bawah tenda yang ditegakkan di tempat biasanya upacara.

"Di belakang saja, Mel," bisik Ririn dan Melani tetap menarik lengan Ririn menuju bangku yang paling depan.

Acaranya akan dimulai pukul sepuluh pagi ini, tetapi sekarang pukul sembilan sudah ramai. Kelas sembilan kelihatan sangat menantikan acara itu. Adik kelas yang menjadi panitia seluruh persiapan sedang mempersiapkan segalanya. Di panggung ada yang mengatur letak alat musik. Pembawa acara belum terlihat karena sedang dihias. Penari Gending Sriwijaya dari kelas tujuh dan delapan yang telah siap dengan pakaian adat Palembang duduk di bangku sebelah tenda. Mereka sangat cantik dan kulitnya mulus. Hiasan di kepala kelihatan mewah, walaupun bukan emas. Penerima tamu menuntun Ririn dan Melani serta tamu yang baru tiba menuju bangku. Setelah menunjukkan di mana mereka sebaiknya duduk, dia tersenyum dan meninggalkan Ririn dan Melani untuk menjemput kakak kelas yang lain.

"Mundur aja di kursi paling belakang." Ririn tidak suka melewati mereka lagi, akan tetapi duduk di paling depan dan menjadi objek perhatian seluruh orang karena Ririn berubah, lebih tidak menyenangkan. Melani terpaksa mengalah.

Saat seperti ini Ririn mengandalkan ketidakpeduliannya. Mereka membicarakan Ririn. Banyak yang kaget melihat penampilan Ririn. Sampai pembawa acara memulai dengan salam lalu berpantun, teksnya dibuat oleh guru Bahasa Indonesia dan si MC menghafal seluruh baris. Sekarang giliran penari gending yang tampil. Kamera penonton siap merekam penampilan tersebut. Ririn berpikir semua orang sedang menikmati tarian yang gemulai dari gadis-gadis cantik tersebut, tetapi nyatanya masih ada yang melihat Ririn bahkan secara terang-terangan. Kebanyakan yang melakukannya adalah anak laki-laki yang tidak sekelas dengan Ririn. Ririn bahkan tidak mengenal mereka dan mereka membuat Ririn tidak nyaman.

"Mana jaketmu, Mel?"

"Tidak kubawa. Ada di jok motor. Ini kuncinya." Melani sangat sayang meninggalkan acara. Dengan kodenya meminta Ririn untuk ke parkiran sendiri.

Ririn menerima kunci dan pergi ke parkiran. Melani sering memperlihatkan kepada Ririn saat dia membuka kunci jok motor. Ririn tahu caranya. Hanya saja Ririn agak kesusahan menuju kendaraan milik Melani karena banyak kendaraan lain parkir di sekitarnya. 

Setelah mengenakan jaket sehingga tangan dan lehernya tertutup, Ririn hendak kembali ke bawah tenda tempat Melani duduk. Seseorang memanggil nama Ririn. Panggilan itu tidak ia sahuti.

"Benar! Kau Ririn." Orang itu mendatangi Ririn. Dia berdiri di hadapan Ririn dan menatap Ririn dengan wajah tersenyum. "Ternyata kau cantik."

Keringat di punggung Ririn mengalir.

"Kau sudah berubah," puji lelaki itu. Jaraknya dengan Ririn hanya dua langkah. Jika diukur dengan kakinya, mungkin hanya ada selangkah. "Sepertinya kau sudah melupakan teman sekelasmu saat kelas tujuh. Aku Attar, teman sebangku Rey. Kau masih ingat dengan Rey?"

Ririn yakin tidak akan terjadi apa-apa, tetapi ia pun bingung kenapa tangannya malah bergetar? Kemudian Ririn melihat Melani. Gadis itu menyusul Ririn.

Melani tampak kesusahan menemukan tempat Ririn. Attar pun mengikuti arah pandangan Ririn. Ketika Attar lengah, Ririn mengambil kesempatan untuk berlari.

"Aaa!!!" Teriakan itu keluar dari mulut Ririn.

Attar yang berhasil mengejar Ririn langsung melepaskan tangannya. Dia sangat heran karena reaksi Ririn. "Kau kenapa? Aku tidak ada niat jahat," jelasnya.

Ririn tidak peduli apa alasannya. Dia berlari sekuat yang ia bisa menghindari Attar. Bukan kembali ke bawah tenda. Ririn menemui Melani dan memaksa gadis itu untuk pulang. Jika Melani menolak, Ririn akan berjalan kaki. Ririn takkan pernah menjadi Ririn dengan keadaan seperti hari ini. Ririn menolak menjadi objek pembicaraan.

Ririn melihat Attar menggeleng-geleng dari kejauhan. Ririn pikir mungkin lelaki itu sedang mengumpat dan mengatai Ririn gagu. Pikiran tentang Attar Ririn bawa hingga dalam perjalanannya pulang. Apakah Attar sengaja berjalan ke parkiran untuk bicara dengannya? Apakah yang tadi hanya kebetulan?

** 

Bersambung ...

Sumsel, 9 Agustus 2023

Maaf baru bisa update dan terima kasih kepada yang masih membaca dan mengingatkan KAsev untuk update cerita ini. 

Love yang banyak buat kalian.

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro