20| Kembali Seperti Semula
20| Kembali Seperti Semula
Terminal bus pukul lima pagi terlihat sangat ramai terutama karena kedatangan beberapa bus bersama armada yang Reynanda tumpangi. Awal pekan telah menyambut Rey setibanya di ibu kota. Tandanya Rey hanya memiliki waktu tiga jam sebelum tiba di kantor.
Perempuan dengan rambut yang menggelitik leher Rey masih tenang dalam tidurnya. Menjadikan bahu Rey sebagai bantalnya. Si keras kepala yang puluhan kali mengadu kepala dengan kaca jendela bus lalu akhirnya menyerah. Mengalah untuk meminjam bagian tubuh Rey yang ditawarkan Rey sebagai sandaran kepalanya.
"Kau pasti sayang sekali pada kutu-kutumu sampai tidak pernah keramas. Teman-teman, kalian bisa lihat bajunya? Dia juga tidak mencuci bajunya. Kulit hitam dan kering, ya Tuhan. Kenapa aku harus mengabsen semua kekurangannya?"
Tangan Rey bergerak mengusap kepala balita dua tiga tahun itu. Rambut Ririn terasa halus di telapak tangannya dan juga wangi.
"Sudah sampai." Rey berbisik sembari tangannya masih bergerak di rambut Ririn.
Rey menahan napas ketika Ririn memegang tangannya.
"Kau ini, sudah jelek! Bau! Kutuan! Kudisan!"
Kulit tangan Ririn seperti agar-agar. Kalian tahu, permukaannya begitu lembut. Mungkinkah Ririn tidak pernah mengerjakan pekerjaan rumah sendiri? Dia bahkan tidak mampu membersihkan toilet dengan benar.
"Waktu SMP aku ke rumah Rey. Kau dengan Attar sedang membahas aku."
Kalimat pembukaan Ririn membuat Rey kehilangan rasa kantuknya.
"Kapan? Kau ke sana setelah kejadian itu?"
Ririn mengangguk.
"Kau ingin membahasnya denganku?"
Ririn mengangguk lagi. Ririn lebih banyak tidur dalam bus. Inilah salah satu ia bangun dan tiba-tiba mengatakan hal itu.
"Padahal aku hanya penasaran. Aku tidak berpikiran untuk mati karena ada Reynanda. Tapi kau mengatai Bapak."
Rey menelan salivanya kelu. "Mati?" Rey ingat kehebohan yang diciptakan Ririn di SD sebelum dia berhenti sekolah. Ririn memotong nadinya di belakang sekolah.
Ririn menoleh ke jendela di sebelahnya. Pohon bagaikan bayangan akibat kecepatan bus tersebut.
"Mati. Waktu itu aku ingin meninggalkan Bibi seperti Umi. Bibi sering bilang, aku mati saja. Anehnya kalau aku hampir mati, Bibi membawa aku ke Puskesmas." Ririn menarik napas pendek. "Umi minta aku patuh kepada Bibi."
Rey mendengarkan dengan saksama. "Kau berutang apa pada bibimu?"
Ririn menoleh, kemudian menggeleng. "Banyak sekali. Aku akan membayarnya sedikit demi sedikit."
"Kenapa? Belum mengumpulkan uang?"
Ririn menggeleng, tapi dia juga mengangguk. "Aku belum bekerja. Nanti aku bayar Bibi setelah punya uang sendiri."
"Kau mencintai bibimu?"
Ririn mendengkus. "Kenapa kau penasaran sekali dengan hal itu? Aku saja tidak tahu! Aku hanya ingin membayar utangku pada Bibi agar aku ada kegiatan di dunia."
Suara Ririn yang kesal di sore itu membuat Rey waspada melihat sekitarnya. Namun, syukurnya orang lain dalam bus tersebut tidak memedulikan mereka.
"Kegiatan kau di dunia hanya untuk membayar utang pada bibimu?"
"Kan sudah kukatakan. Jangan diulang terus."
Rey tidak tersinggung mendengar keketusan suara wanita itu. Anehnya, Rey ingin tertawa karena membuat Ririn kesal ternyata gampang sekali. Banyak-banyaklah berbicara.
"Kau bisa membayar sedikit utangmu padaku. Aku menagihnya sekarang."
"Baiklah. Berapa?" Ririn membuka ranselnya.
Rey merebut tas itu dari Ririn.
"Ceritakan tentang bibi dan pamanmu."
Ririn kelihatannya memikirkan dari mana dia akan bercerita. "Aku tidak membayar dengan uang?"
Rey menggeleng. "Utang bukan cuma tentang uang. Lagian, apa kau meminjam uangku?"
Ririn dengan cepat menggeleng. "Ada utang maaf. Uang ongkos pulang dan pergi ini. Makan."
Rey lalu menggeleng. "Bayarlah dengan menceritakan yang sanggup kau ceritakan."
"Tapi aku mengantuk."
Rey bersungut-sungut. Memang benar-benar balita ini. Namun, dua jam kemudian, Ririn membuka mata karena kepalanya terbentur kaca mobil.
"Aku pergi untuk menjauh dari Paman. Waktu itu tidak apa-apa selama tinggal dengan papa Dila karena dia membayar Attar. Aku juga bisa membayar utang kepada Bibi."
"Lalu apa yang Attar katakan hingga kau meninggalkan Pak Aji?"
Ririn duduk menyamping dengan telunjuk menunjuk hidung Rey. "Kau tadi minta cerita Bibi dan Paman, Rey!"
Ririn tidak sadar bahwa dialah yang menggiring cerita ke sana.
"Utangmu akan semakin sedikit."
Kunci membuat Ririn patuh adalah ingatkan ia kepada utangnya. Rey mencatat pemahaman itu. Wajah Ririn yang kesal tiba-tiba surut. Balita dua tiga itu membuat perjalanan Rey tidak membosankan. Apakah Attar mengetahui rahasia ini sehingga berhasil membuat Ririn meninggalkan kehidupannya di desa? Rey masih sibuk dengan pertanyaan dalam kepalanya ketika suara Ririn mulai terdengar.
"Aku tidak tertarik lagi karena Mas Aji ingin membuatku jadi istri sungguhan. Kata Bibi aku harus menjaga baik-baik status pernikahan yang bersih. Lihatlah, ini dataku tertulis Belum Kawin. Attar sangat baik mau menyelamatkan aku. Attar memberikan ide untuk pergi yang jauh."
Ririn bodoh itu menyerahkan Kartu Tanda Penduduk miliknya kepada orang lain. Pantas mudah sekali bagi Attar membawanya. Rey menyimpan KTP perempuan itu ke dalam dompetnya sendiri. Biarkan Ririn kesusahan menemukan benda itu nanti.
"Aku tidak suka Aji. Dia kadang-kadang mengerikan, seperti Paman Darma."
Rey tidak mendengar suara Ririn karena ternyata perempuan itu kembali tidur.
Dan ini menjadi tidur yang terakhir. Rey telah membangunkan Ririn. Karena Rey menyentuh rambutnya, Ririn memegang tangan Rey dengan begitu kuat, bahkan hampir memelintir lengan Rey.
"Kewaspadaanmu kuacungkan jempol."
"Attar sudah datang?" Ririn melihat ke bawah melalui jendela.
Sekitar pukul 22.00 WIB Ririn menghidupkan ponselnya ketika terbangun dari tidur yang kesekian. Puluhan panggilan tidak terjawab dari Attar bisa membuat ponsel Ririn meledak. Sejak kemarin mati dan ternyata saat hidup beberapa menit saja, dayanya habis. Lalu Ririn memakai ponsel Rey untuk menelepon Attar.
Rey mendengar Attar bertanya tanpa memarahi Ririn. Jika itu Rey, ditinggal tanpa kabar, pasti akan marah-marah dulu sebelum mendengarkan penjelasan.
"Lain kali kau saja yang antar aku. Kau tidak berhak menyalahkan aku kenapa minta bantuan Rey karena kau yang tidak mau kuajak berkali-kali. Rey sudah menyesal mengantarku. Dia juga lelah."
Reynanda mendengus. Dia melipat tangannya di dada.
"Tunggu di terminal, ya! Aku harus masuk kantor. Kalau tidak, nanti nilaiku jelek dikasih Reynanda dan Pak Rafka."
"Sudah? Aku harus memeriksa file di sana," sela Rey meminta ponselnya dikembalikan.
Attar menyambut kedatangan mereka dengan senyum lebar. Oh, bukan mereka, hanya Ririn saja. Langkah lebar Attar menuju Ririn seakan ingin segera memeluk perempuan itu sejak Ririn turun dari bus. Namun, Attar hanya berkacak pinggang melihat gadis itu setelah ia sampai di dekat Ririn.
"Kuminta kau di dalam rumah. Tapi apa? Kau pergi menyeberang pulau. Hebat, sudah pintar kau sekarang!" Attar bertepuk tangan.
Reynanda merasa muak mendengar bercandaan pria itu.
"Ayo, pulang!" Ririn berjalan memunggungi Attar dan Rey.
Attar memeluk punggung Rey sebelum mengikuti Ririn.
"Kak Rey!"
"Dila?" Justru Ririn yang bersuara di saat Rey hanya terpancang di tempatnya berdiri.
Rey belum menoleh ke arah belakangnya. Mata Rey tertuju kepada Ririn yang kembali mengambil langkah mendekat dengan wajah penuh rasa ingin tahu.
"Bagaimana kau tahu aku di sini?"
Rey mendengar nada yang beda. Bukan Ririn yang selama dua hari ini dia kenal. Ini Ririn yang membuatnya kesal di pertemuan terakhir kali, empat tahun yang lalu.
"Kau mengejarku untuk mengembalikan harta ayahmu? Jangan mimpi! Aku tidak membawa apa pun dari rumah itu!"
Dila tertawa. "Tidak membawa apa pun. Kau membawa papaku. Kau mengambilnya. Kau mengambil nyawanya."
Suara tamparan keras membuat Rey akhirnya menoleh ke belakang. Dila mengusap pipinya menatap Ririn dengan mata berkaca-kaca.
"Ayo bicara lagi! Aku juga akan membunuhmu!" Ririn makin mendekat kepada Dila. Dengan tingginya, Ririn terlihat sangat mengintimidasi.
"Aku bersumpah, aku sangat sangat membenci Bunda Ririn!" Dila berteriak.
"Pergi yang jauh kalau kau benci. Jangan datangi aku. Dasar, bodoh!" Ririn menarik rambut Dila.
Ririn berteriak saat Rey menarik rambutnya. Kini tatapan benci Ririn tertuju kepada Rey.
"Kalian sama saja," desis Ririn. Ririn memberikan satu tamparan di pipi Rey.
Setelah itu, dia pergi. Diikuti Attar di belakangnya
***
"Kak Rey benar. Aku harus tinggalkan desa itu. Aku pergi tidak berarti meninggalkan kenangan bersama Mama dan Papa. Biarpun aku pergi sejauh mungkin, kenangan tentang mereka akan tetap melekat dalam hatiku."
Rey meletakkan teh hangat di meja. Dila dibawanya ke apartemen. Sebelumnya Rey sudah memberikan kartu akses masuk untuk Dila. Melihat sebuah koper, Dila ternyata telah datang sebelum ke terminal. Siapa lagi yang membawa Dila ke sana jika bukan Attar.
"Kau pergi dengan Attar untuk menjemputku? Attar yang mengajak? Darimana dia mendapatkan nomormu? Aku mencarimu ternyata kau sudah di sini."
Dila tersenyum. "Tehnya hangat. Terima kasih." Dia lalu minum. "Entahlah tidak tahu dari mana Attar punya nomor baruku."
"Bagi aku juga." Rey mengeluarkan ponselnya.
"Kak Rey mencariku? Sungguh?"
Rey mengetik nomornya di ponsel Dila kemudian memanggil kontaknya. Ketika mencari panggilan tidak terjawab pada ponselnya, dia menemukan nomor ponsel Attar. Rey juga menyimpannya.
"Aku ke rumah lamamu. Kukira bisa mendapat informasi. Hm." Rey bergumam. Ia meletakkan gawai ke meja di sebelah teh panasnya "Bagaimana kau bisa pergi berdua dengan Attar, sementara dia penyebab hancurnya keluarga kalian?"
"Aku tidak suka membenci siapa-siapa. Baik Attar, maupun Bunda Ririn. Akan tetapi sangat susah. Setiap mengingat perlakuan Kak Ririn, aku selalu merasa tersisih dari keluargaku satu-satunya. Bolehkah aku berharap kalau dahulu aku dan Papa tidak membawanya pulang? Dia berubah menjadi kacang lupa kulitnya. Dulu dia terlihat bagai kucing di bawah hujan yang membuat aku kasihan dan ingin memungutnya."
"Ya. Dulu aku menyayangi Kak Ririn, sebelum dia menikah dengan Papa. Dia berubah sejak menjadi istri papaku."
Rey memindahkan pembahasan pada sekolah Dila, "Apa rencanamu? Kau ingin kuliah di mana?"
"Aku sudah mendaftar dan membayar uang semester pertama. Bulan ini pengumuman. Aku akan mencari pekerjaan. Kak Rey bisa bantu aku mencari tempat tinggal?"
Jika dua hari yang lalu Rey mendengar pertanyaan ini, Rey akan merayu Dila untuk tinggal dengannya.
"Bisa-"
"Setelah aku mendapatkan pekerjaan. Aku ingin yang tidak terlalu jauh dari kampus dan tempat bekerja."
"Kau ingin bekerja di mana? Toko atau kantoran?"
Dila menimbang. "Toko lebih baik."
Rey mengangguk. Sore ini kuantar kau ke toko. Lalu besok kau sudah bisa menentukan tempat tinggal mana yang paling sesuai untukmu. Aku harus ke kantor pagi ini. Kau tidak apa-apa kutinggal?"
Dila menggeleng dengan ceria.
"Aku akan tinggal dan tidak ke mana-mana," kata Dila membuat tanda damai dengan dua jari.
Reynanda sangat bersemangat untuk pergi ke Haleproduction di Senin pagi. Rey sudah memakai kemeja rapi. Beberapa menit setelah sarapan bubur ayam bersama Dila, Rey melajukan mobilnya ke kantor rintisan Indri Helena itu.
Rey pikir tubuhnya akan merasa lelah, mengantuk, atau merasa bekerja kantoran merupakan beban. Rey malah mendapatkan antusiasme tinggi untuk tiba di kantor dan ternyata dia kepagian.
Rey langsung ke mejanya. Ruangan itu masih kosong. Melihat benda bulat di dinding, jam baru menunjukkan pukul tujuh dua puluh. Ketika jarum panjang menuju angka enam, Rey mendongak mendengar suara sepatu.
"Semangat Senin pagi, Mas Rey." Arfa-lah yang sampai pertama selain Rey. Sepuluh menit berdua saja dengan Arfa, Linsa juga datang.
Pukul delapan kurang dua menit, rombongan Sila akhirnya tiba. Mereka menempati meja masing-masing.
Bangku di sebelah Linsa masih tak berpenghuni.
"Mas Rey," panggil Linsa.
Reynanda menatapnya.
"Ehm. Itu, kata Pak Rafka apakah Mas Rey sudah membaca pesannya?"
Rey langsung melihat. Ternyata Rafka mengirimkan sebuah foto.
"Ririn sakit dan itu surat keterangan dokternya."
Rey membukanya bersamaan dengan meluncurnya penjelasan Linsa. Tertulis hari ini pukul 7.30 WIB pada kertas A5 tersebut.
***
Ririn membuka matanya. Keadaan kamarnya gelap. Ririn turun dari tempat tidur dengan meraba-raba sampai ia menemukannya. Dalam sekejap kamar itu dipenuhi cahaya putih. Ririn melihat ke arah jam dinding. Dua kali Ririn perlu mengucek matanya untuk memastikan ia tidak salah lihat. Dia tertidur dari pagi sampai malam! Ririn mencari ponselnya di mana-mana. Tidak menemukan dalam kamar, Ririn bergegas mencarinya keluar kamar.
"Hai. Makan malammu," ucap seseorang membuat Ririn terkejut.
"Kau melihat di mana ponselku?" tanyanya pada Attar yang menyiapkan sesuatu di dapur.
"Makan dulu."
Ririn mendekati Attar. Dia menekan telapak tangan ke meja makan. "Kau yang menyimpannya?"
"Ponselmu berisik. Banyak sekali pesan dan telepon dari dosen itu."
Ririn mendengus. "Aku memang harus mengabari dia. Di mana ponselku? Berikan!"
Attar mengeluarkan benda itu dari saku bajunya. Seketika Ririn langsung mengambilnya. Saat Ririn menyalakan sambungan internet, pesan beruntun dari Rafka masuk untuk menanyakan keadaan Ririn. Mungkin karena melihat pesannya telah dibaca, laki-laki itu menelepon Ririn.
Ririn menjauh dari Attar.
"Kau di rumah atau rumah sakit, Rin?" tanya Rafka membuat Ririn mengernyit heran.
"Di rumah."
"Syukurlah kalau seperti itu."
Kemudian terdengar suara ketukan pintu.
"Boleh buka pintunya?" tanya Rafka.
Ririn berjalan dengan cepat ke pintu lalu membuka daun pintu. Rafka di sana memegang ponsel di telinga.
"Pak Dosen ada perlu ke sini?" Ririn menurunkan telepon selulernya.
"Aku khawatir mendengar kau sakit. Apalagi kau tidak dapat dihubungi sama sekali."
Ririn melirik Rafka yang terlihat benar-benar mencemaskannya.
"Aku tidak sakit." Ririn berkata dengan suara datar andalannya.
Tidak ada yang terasa sakit di tubuhnya kecuali ... kecuali bahwa ia ingin merasakan sakit seperti orang-orang. Lalu Ririn mendengar suara-suara yang mengajak ia untuk melompat dari sepeda motor Attar ke tengah jalan. Hal terakhir dari ingatan Ririn tadi pagi adalah suara klakson bersahutan serta umpatan demi umpatan dari pengguna jalan serta Attar yang menarik paksa Ririn dari jalan raya lalu memasukkan Ririn ke kamar. Attar membuat Ririn tidur yang panjang dengan satu suntikan. Untuk itu, Ririn tidak akan menyatakan Attar bersalah. Attar datang di waktu yang tepat. Kalau tidak, pasti Ririn sudah menjadi bangkai.
"Kau tidak boleh pergi sendiri." Begitulah kalimat terakhir Attar sebelum kelopak mata ririn meredup.
"Sikumu terluka," kata Rafka melihat kain kasa dan plester. Ada luka gores juga yang tidak begitu dalam yang menghiasi lengan Ririn. Ririn memang menggunakan kemeja pendek.
Mengingat tadi pagi dia memakai kemeja panjang, Ririn yakin kalau Attar-lah yang mengganti bajunya. Attar melepas kemeja Ririn. Ririn merasakan gegelak kemarahan dalam dirinya yang berusaha dia sabar-sabarkan. Itu tindakan yang tidak akan pernah Ririn terima.
"Bapak tunggu dulu." Ririn berdiri untuk ke belakang.
Separuh tubuh Attar duduk di pinggir meja dengan tangan terlipat. "Keluar."
"Ayo makan."
Ririn mendekat kemudian menarik ujung kemeja Attar. "Tinggalkan aku!"
Ririn merasakan kemarahan menjalar ke matanya. Wajah Attar memburam dalam pandangan Ririn.
"Kau dengan Paman tidak ada bedanya! Kalian sama saja!" teriak Ririn murka. "Keluar!"
Attar tidak berkata sepatah kata pun saat kakinya melangkah keluar dari rumah. Ririn juga tidak peduli jika Rafka melihat semua kejadian itu.
"Bapak juga sudah boleh pergi."
Setelah tinggal sendirian di rumah, Ririn menaikkan kemejanya ke atas perut. Temuan di pinggangnyalah yang membuat Ririn yakin bahwa Attar betul-betul sudah bertindak di luar batas. Luka di pinggangnya akibat tertusuk kayu telah dibalut seperti sikunya.
Ririn mendengar suara denting yang halus dari gawainya. Kemudian melihat pesan dari Attar.
Attar [Aku tahu kau akan marah. Ada obat di meja kamarmu. Minum obat itu setelah menghabiskan makan malam. Aku siap kapan pun kau butuh. Besok kau sudah tidak marah lagi. Aku tidak berniat jahat. Percayalah.]
Sulit untuk menerimanya. Namun, Ririn tidak bisa hidup tanpa Attar. Dia membutuhkan Attar untuk mencarikan uang kuliah dan menyediakannya makan. Ririn bergantung kepada orang itu. Ia janji nanti setelah mendapatkan pekerjaan, Ririn akan membayar Attar lebih dulu. Ririn akan mandiri.
***
2390 kata
tbc
12 Oktober 2023
Ga tahu Ririn tuh kalau sedih harus cerita ke siapa? Bukannya kalau cewek perlu tempat bersandar eaa. Daripada sedih, Ririn savage kek ke Dila aja deh.
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro