Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

17| Pulang untuk Tinggal

17| Pulang untuk Tinggal


Ketika Attar menelepon sore itu, Ririn menjawabnya dalam taksi. Ririn mendengar Attar memujinya sebagai anak baik. Ririn membuat Attar percaya kepadanya. Tentunya Ririn tidak mau Attar sampai tahu kalau Ririn besok pagi akan berangkat ke desa bibinya tinggal. Sekarang pastinya Attar berpikir bahwa Ririn akan menghabiskan akhir pekan di rumah saja seperti perintahnya.

Sesaat tiba di rumah, Ririn segera menelepon Reynanda.

"Ada apa?" tanya Rey terdengar malas berbicara dengan Ririn.

"Kau sudah membeli dua tiket untuk keberangkatan paling pagi?" todong Ririn dengan kalimat cepat.

"Sudah."

"Untuk pulangnya?" tanya Ririn.

Rey mematikan telepon dari Ririn. Ririn terdiam dan menyadari bahwa mendapati lawan bicara mematikan telepon saat kita masih ingin berbicara itu sangat menjengkelkan. Ririn menekan lagi nomor Reynanda. Laki-laki itu mengabaikan Ririn. Lalu masuklah sebuah alamat yang harus Ririn tuju besok pagi.

Reynanda [Pastikan tidak membuatku menunggu.]

Paginya Ririn terkejut ketika Ririn diturunkan oleh sopir taksi di bandara. Ririn tidak tahu ia harus ke mana. Ririn hendak berjalan mencari tempat yang agak sepi untuk menelepon Rey dan bertanya keberadaan lelaki itu.

"Mau ke mana?"

Suara Reynanda dari balik punggungnya membuat Ririn mendengkus, "Kenapa kau ajak aku ke sini? Kita tidak naik bus?"

Alis Rey bertaut, "Bus? AKAP maksud kau?"

Ririn mengangguk. "Kau membeli tiket pesawat terbang? Aku tidak mau." Ririn melihat suasana keramaian bandar udara tersebut. Tidak terbayangkan bahwa Ririn akan berada jauh di atas langit.

"Kau naik bus sendiri kalau mau. Kalau tetap ingin aku antarkan ke Sumatra, ikut aku sekarang." Reynanda tidak menunggu Ririn yang bersikeras ingin naik bus. Laki-laki itu melipir tinggalkan Ririn yang tidak punya pilihan selain mengikutinya.

Rey menyerahkan kepada Ririn sebuah tiket. Ririn terpaksa mengikuti langkah kaki Rey serta apa saja yang dilakukan Rey.

"Rey." Ririn naik tangga di belakang Rey. Ririn jadi bisa menarik kemeja Rey. Seluruh tubuhnya sudah merasakan ketakutan, bahkan suara Ririn bergetar.

"Jangan tunjukkan betapa kampungan dirimu!" bentak Rey.

Pramugari yang tersenyum kepada mereka bahkan tak membuat baik Rey maupun Ririn malu. Apalagi Ririn mana mungkin sempat merasa malu karena dia diliputi kengerian.

Ririn masih memegang baju kemeja Rey hingga mereka tiba di dalam pesawat, seperti anak kecil yang mengekor di belakang ibunya.

Rey berhenti di samping bangku lalu menaruh ranselnya.

"Letakkan tasmu," pinta Rey dengan nada yang ketus.

Ririn hanya menatap Rey. Kengerian Ririn telah dikalikan dua ketika Rey membentaknya tadi. Takut dengan pengalaman pertama akan terbang, juga takut kepada Rey.

Secara paksa Rey melepaskan ransel dari punggung Ririn. Setelah itu, Rey duduk di bagian sebelah jendela. Melihat Ririn yang masih berdiri, Rey menarik pergelangan tangan Ririn sampai Ririn terduduk.

"Ponsel?" tanya Rey.

Ririn seperti orang linglung. Pandangan mata Rey yang men-scan tubuhnya tidak Ririn sadari. Rey kemudian menunduk ke bawah tempat duduk Ririn untuk mengambil ransel milik Ririn. Rey membuka tas Ririn kemudian mengambil ponsel Ririn.

"Bagus." Reynanda bergumam kemudian meletakkan kembali barang Ririn ke tempatnya semula.

Ririn menjadi patung yang sangat tegang. Ririn tidak berani menarik napas. Bahkan sentuhan orang lain yang biasanya dengan refleks akan Ririn balas, entah itu memukul orang itu atau hanya memarahinya, tidak Ririn lakukan. Termasuk ketika tangan Rey tanpa sengaja menyentuh Ririn saat membantu memasangkan sabuk pengaman.

Pertama kali di dalam hidupnya, Ririn takut mati. Dan pertama kali pula dalam sejarah hidupnya, sepanjang Ririn dapat mengingat, Ririn membutuhkan tempat pegangan.

***

Perempuan itu tidak bercanda. Dia benar-benar takut. Bibirnya yang tidak diberikan pewarna sejak Rey melihatnya tadi, kini nyaris seputih kertas. Namun, keadaan perempuan itu sama sekali tidak mengetuk rasa kasihan Rey terhadapnya. Sebelum Rey merasakan tangannya dipegang dengan sangat erat ketika pesawat bergetar sesaat tadi.

Ririn tidak melepaskannya. Perempuan itu menutup mata, juga telinganya dari panggilan Rey agar melepaskan tangannya. Rey berinisiatif mengambil botol air mineral. Rey meletakkan ke pipi Ririn sebagai upaya untuk membangunkan Ririn dari ketakutan yang tidak masuk akal.

Lama-lama mata Ririn terbuka. Ia menatap ke sebelah, ke arah Rey. Rey menyerahkan minuman itu.

"Habiskan."

Tentu saja Rey harus bermuka galak. Ririn akan mudah patuh jika Rey berlagak demikian. Jika biasanya Rey memang marah, kali ini bisa dikatakan Rey tidak menemukan alasan untuk marah. Melihat seseorang yang hampir mati jantungan di sebelahnya membuat Rey agak kasihan.

Rey melirik ke tangan Ririn yang gemetaran membuka tutup botol minum. Rey mengambilnya dari Ririn. Dengan suka rela Reynanda membukakannya. Mungkin saja para malaikat sedang berkerubung di sekitar Ririn untuk bertepuk tangan terhadap perlakuan baik Rey.

Ririn meneguk minuman itu dengan cepat. Sebotol langsung dia habiskan. Rey sedikit takut jika Ririn akan menyusahkan lagi ketika ingin buang air kecil nanti. Namun, nasi sudah jadi bubur. Rey yang meminta Ririn menandaskan air dalam botol itu.

Dan benar pikirannya. Tidak berapa lama Ririn menanyakan bagaimana cara dia buang air kecil di langit.

Rey hampir saja tertawa. Melihat wajah Ririn memerah, bukan karena malu pastinya, membuat Rey berdiri. Anggap saja Kafka Reynanda sedang mengajak anak balita jalan-jalan. Segala kebutuhan anak itu tentunya harus Rey penuhi. Termasuk menuntun dan menemani hingga depan pintu toilet.

"Rileks. Apa yang kau cemaskan." Rey berkata setelah mereka duduk kembali.

Ririn kini membuka kelopak mata. Tubuhnya bersandar dengan napas naik turun masih tidak beraturan.

"Aku tidak mau pulangnya nanti naik ini lagi," gumam Ririn.

Rey acuh tak acuh. Memilih memejamkan mata saja.

Beruntungnya Rey bisa melepaskan tugasnya sebagai babysitter Ririn dalam perjalanan darat. Dari bandara menuju desa, Rey tidak perlu mengawasi balita itu lagi. Meskipun Rey harus berdebat dulu saat memerintahkan Ririn untuk duduk di bangku tengah, tentunya ada orang lain yang lebih dulu di posisi itu, sementara Reynanda yang telah membuat janji dengan travel langganan tersebut sudah disediakan bangku di sebelah pengemudi.

"Mereka semua laki-laki. Kau yang harusnya duduk dengan mereka. Aku di depan!" Begitu alasan Ririn.

Rey hampir tega meninggalkan wanita keras kepala dan egois itu, kalau saja sopir travel tidak bersuara, "Jangan bercanda lagi, Rey. Dari jauh kau bawa pulang, di sini malah dibuat menangis."

Hell! Rey tidak bercanda padahal. Namun, karena Rey masih ada rasa malu biarpun semua penumpang itu orang asing, Rey tak mau dirinya dikatai tidak gentleman. Dan hasilnya adalah Reynanda mengalah lagi untuk wanita itu. Rey berharap setiap bantuannya ini akan dicatat malaikat sebagai amal baik.

Cukup sampai di sana pengorbanan Rey untuk perempuan berkepribadian ganda dan keras kepala itu. Sejak duduk dalam mobil sampai kembali ke Jakarta, Rey tidak akan mengurusi apa pun lagi kemauannya. Rey pastikan dia akan berhasil mengajak Dila dan Ririn biarlah dia mencari caranya sendiri.

***

Rumah kontrakan Dila kosong. Rey tidak menyerah mencari jejak Dila. Rey pun pergi ke rumah lama Dila.

Soal Ririn, Ririn tadinya bersikeras ingin menemui Dila juga. Entah dari mana wanita itu tahu bahwa Rey ingin ke rumah Dila. Jadi, Rey mengantarkan Ririn ke gerbang kompleks pemakaman. Sekarang Rey bebas, bisa mencari Dila, setelah memberikan rasa penasaran kepada para tetangganya ketika pulang ke rumah bersama Ririn untuk mengambil kendaraan roda dua.

Namun, hal yang sama ditemui Rey saat tiba di depan rumah milik Aji Bramantya yang lama. Rey memutar otak untuk mencari informan yang sekiranya dapat memberikan kejelasan ke mana perginya Dila.

Rey mendatangi rumah tetangga Dila.

"Siapa?" tanya ibu-ibu muda yang rambutnya tertutup oleh jilbab serta menggendong balita sungguhan.

"Rey, temannya Dila," kata Rey menunjuk rumah sebelah.

"Dila." Nada suara wanita itu melemah. "Mas mencari Dila? Dila sudah lama pindah dari sini, Mas."

Reynanda mengangguk. "Ibu tahu ke mana Dila pindah?"

Ibu muda itu berpikir. "Mengontrak. Katanya sudah pindah lagi sejak papanya meninggal."

"Kira-kira ada yang tahu ke mana Dila?"

Wanita yang wajahnya berminyak itu menggeleng. "Tidak ada yang tahu, Mas. Dila sangat tertutup. Tidak punya teman."

Rey mengucapkan terima kasih. Urusannya di sini sudah tidak ada lagi. Rey akan langsung pulang saja. Rey pun memesan travel untuk ke bandara.

Tidak tahu apa yang menggerakkan Rey hingga kembali ke kompleks pemakaman. Walaupun sudah merasa senang bisa bebas dari Ririn, tapi nyatanya di sinilah Rey. Ia memberhentikan kendaraannya di bawah pondok kayu.

"Jangan menuduhnya! Pamanlah yang jahat!"

Itu suara Ririn. Desa siang ini begitu lengang. Sosok Ririn yang tidak terlihat dari tempat Rey, tapi suaranya sampai ke telinga Rey.

"Gadis bodoh! Ayo kita pulang saja. Kau tidak perlu kembali kepada Attar. Dia bukan siapa-siapa kau." Lawan bicara Ririn ternyata adalah pamannya.

"Bibi! Aku tidak mau di sini. Aku ingin pergi saja. Bibi bantu aku. Jangan menyentuhku! Bibi, bantu aku. Attar tidak jahat. Paman Darma yang jahat."

Suara Ririn semakin nyaring artinya mereka semua semakin dekat dengan posisi Rey. Rey bisa mendengar suara tepukan, bukan, itu suara tamparan.

"Jangan melawan. Kau tidak akan pernah kembali ke sana," ucap seorang perempuan.

Setelah itu, tidak ada suara teriakan dan permohonan Ririn. Sekian menit Rey berdiri di bawah gapura pemakaman, rombongan orang berisik itu tak kunjung datang.

"Aku datang dengannya. Tidak salah kalau aku memastikan dia mau ikut denganku lagi atau tidak."

Reynanda mengarahkan kendaraan ke rumah bibi Ririn. Paman Ririn baru saja keluar dari rumah dengan wajah semringah di balik kaca mobil L300. Reynanda berhenti tepat di halaman yang tidak terurus. Daun kering bertebaran. Rumput menghiasi sebagian besar pekarangan rumah. Rey tidak perlu mengetuk sebab daun pintu menganga lebar. Rumah itu hening. Rey masih berdiri ragu-ragu di pintu tanpa memanggil pemilik rumah.

"Rey?" Seseorang menepuk bahu Rey dari belakang hampir saja menyebabkan Rey gagal jantung. Suara wanita itu sangat lirih.

Bibi Ririn tidak mengatakan apa-apa kepada Rey. Dia terus ke dalam lalu memberikan gembok untuk sebuah pintu kamar. Rey berasumsi bahwa di balik pintu ada Ririn.

"Kabar kedatanganmu dengan Ririn sangat cepat menyebar." Bibi Ririn menunjuk sebuah bangku rotan di ruang tamu.

Reynanda yang dipersilakan duduk oleh tuan rumah segera duduk manis. "Aku hanya ingin bertanya, apakah Ririn masih ingin tinggal sampai akhir pekan ini? Aku berangkat sore ini, penerbangan terakhir," tambah Rey.

"Aku berharap Ririn di sini. Tapi aku sudah tidak bertenaga untuk menjaganya."

Rey mengernyit melihat tubuh bibi Ririn yang memang tidak seperti terakhir kali Rey melihatnya. Bibi Ririn memang terlihat tua dan tidak berdaya.

Bibi Ririn menggeleng-geleng. "Aku tidak akan mengizinkan dia pergi bertemu Attar. Attar penipu!" Bibi Ririn berteriak. "Dia menipuku! Dia membawa Ririn tanpa seizinku. Dari awal aku tidak percaya kepadanya."

"Bibi! Buka pintu! Bibi salah! Attar tidak menipu. Attar baik!"

"Pamannya sebentar lagi kembali. Aku minta tolong, bawa pergi Ririn. Bawa yang jauh. Jangan bertemu Attar." Bibi Ririn memegang tangan Rey yang dipenuhi oleh kebingungan.

Wanita tua itu berjalan tertatih ke kamar yang tadinya dia kunci. Lalu membuka gembok itu.

"Aku mau pergi. Aku tidak suka berada di sini!" Ririn berlari keluar. "Rey!" Ririn menarik kemeja Rey seperti di bandara tadi.

"Cepat! Paman hanya pergi membeli bir. Cepatlah pergi! Dan jauhi Attar!" Bibi Ririn mendorong Ririn kepada Rey. 

Rey terkejut ketika kedua tubuh mereka beradu. Mereka memang memiliki tinggi yang hampir sama sehingga kepala keduanya nyaris bertabrakan. Namun, keponakan wanita tua itu mampu melesat menjauh dari Rey secepat kilat.

"Bibi tidak tahu apa-apa! Aku yang tahu mana yang baik untukku."

Terakhir kali sebelum Rey keluar dari rumah bibi Ririn, wanita tua itu masih menatap Rey dengan mata penuh permohonan.

"Aku percaya kepadamu." Bibir bibi Ririn mengatakan tanpa suara, tetapi ajaibnya Rey mampu membaca maksudnya.

"Ada suara mobil Paman. Rey cepat! Paman akan mengejarku. Ayo cepat, Rey!" Ririn menarik baju Rey.

Reynanda bak kerbau yang dicucuk hidung. Ia benar-benar kebingungan dengan orang-orang itu.

***

tbc

Sumsel, 8 Oktober 2023

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro