Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

Chapter 4

Selamat datang di chapter 4

Tinggalkan jejak dengan vote dan komen

Tandai jika ada typo (suka gentayangan)

Thanks

Happy reading everyone

Hope you like it

❤❤❤

_____________________________________________

Lebih baik usaha keras mencari ilmu dan merangkak membangun prestasi untuk mendapat beasiswa daripada harus berdiam diri meratapi nasib

~Cecilia Bintang~

______________________________________________

Jakarta, 5 Agustus
05.00 a.m.

Seperti rutinitas pagi biasanya. Bintang akan bangun pukul lima, lalu menguap lebar sambil berusaha duduk, merentangkan tangan sembari tersenyum menatap poster Kevin Durran—pemain basket idolanya—yang memenuhi dinding kamar tepat depan kasur. Kemudian peregangan otot dan lari-lari kecil di tempat seperti pemanasan, sebelum akhirnya mandi, melempar cucian kotor ke keranjang mirip menembak bola ke ring, sarapan dan menunggu jemputan Barja sambil mendalami materi hari ini.

Selain berprestasi dalam bidang basket, gadis tomboy itu juga berprestasi dalam bidang pelajaran. Alasannya cukup mulia. Sebagai anak yatim, dia tidak ingin membebani mamanya dalam urusan biaya sekolah. Bagi Bintang, lebih baik usaha keras mencari ilmu dan merangkak membangun prestasi untuk mendapat beasiswa daripada harus berdiam diri meratapi nasib.

Oleh sebab itu dia tidak hanya mendapat beasiswa dari basket, tapi juga dari pelajaran.

Kata mamanya, perempuan harus pintar dan mandiri. Gunanya untuk mendidik anak-anaknya nanti dan mampu mengurus semua tanpa bantuan orang lain termasuk mencari materi.

Kala Bintang baru saja merenungkan wejangan ibu negara alias mamanya, teriakan kakak perempuannya merayap ke telingan gadis tomboy tersebut. “Taaang ... jemputan lo dateng tuh!”

Sejujurnya, Bintang masih teringat kejadian kemarin siang namun mencoba bersikap normal. Malah ikut tertawa dan mengatakan itu sebagai candaan supaya Barja tidak menghindar dan tidak merasa tak enak hati atau tidak nyaman berada didekatnya.

Bintang tidak ingin kehilangan sahabat sebaik Barja. Laki-laki yang setiap hari menjemputnya ke sekolah dan mengantarnya pulang mirip ojek online tapi bayaran paling mahal hanya dua mangkok seblak mercon mang Uung. Orang yang kadang melakukan hal-hal konyol bersamanya. Juga paling mengenal dirinya.

Bintang mengemasi buku yang baru saja dia baca lalu memasukkannya ke ransel, menyambar helm di atas rak tidak jauh dari tempat dia berdiri, berikutnya berjalan menuju pintu utama yang tidak terhubung dengan toko bunga bernama D’Lule milik mamanya.

Saat mencapai ruang tamu, Bintang bertemu kakak perempuannya yang berucap, “Kirain si Jaja. Ternyata bukan.”

“Ha? Bukan si Jaja?!” ulang Bintang lantas bergegas keluar rumah dan mendapati Galaxy duduk di kursi rotan berlengan yang terletak di teras rumahnya.

Laki-laki itu mengenakan jaket olahraga SMA Geelerd dan meletakkan ransel di kursi sebelahnya duduk.

“Met pagi, Kak,” sapa suara berat dari bibir tipis itu seiring dengan lambaian tangan singkat.

“Ngapain lo di sini?!” tanya Bintang sambil berkacak pinggang menggunakan tangan satu sebab tangan yang lain sibuk memegang helm, tanpa berniat ikut duduk.

“Jemput Kakak. Kan kita lagi pdkt.”

“Anying! Siap bilang gue mau pdkt ama lo?!” Usai ngomel dan menghiraukan Galaxy, Bintang meletakkan helm di kursi, lalu mencari ponsel yang terselip di antara buku pelajaran, kemudian menjauh dari adik kelas tersebut untuk menelepon Barja.

Pada dering kelima sahabatnya itu baru mengaktifkan sambungan. “Halo?!” sapa suara di seberang. Terdengar berteriak akan tetapi terasa jauh. Juga suara angin yang bertimpang tindih lebih mendominasi. Sepertinya Barja sedang dalam perjalanan.

“Oi! Ke mana lo anying! Gue nungguin lo!”

Sorry, gue lupa ngomong kagak bisa jemput lo!” Lagi-lagi Barja berteriak.

“Itu gunanya lo beli hp? Buat ganjel pintu?! Bukan buat ngabarin gue kalau nggak bisa jemput?!” Bintang menyindir terang-terangan. Akan tetapi pada detik yang lain mengingat sesuatu. “Ja, lo hindarin gue? Kan udah gue bilang kemarin itu cuman bercanda doang dan reflek ngomong gitu gegara emosi.” Entah kenapa mengatakannya sambil melirik Galaxy yang masih mengamatinya. Sekarang wajah adik kelas itu tampak merengut.

“Kagak Tang! Gue lagi jemput Aira!”

Bagai disambar petir di pagi hari. Kedua sudut bibir Bintang turun membentuk sebuah garis cembung alias cemberut. Diremasnya kuat-kuat ponsel yang masih dalam genggamannya hingga buku-buku jarinya memutih.

Sejak kapan si Jaja jadi deket Aira?!

Tangannya memang meremas ponsel, tapi kenapa hatinya yang terasa remuk dan sakit? Apa lagi ketika Barja kembali berteriak, “Lo berangkat ama Gala aja, bye Kentang goreng!”

“Gila lo Ja! Halo ... Ja! Jaja! Jajanan pasar! Argh ....”

Rasanya Bintang ingin makan seblak mercon sekarang juga.

Pandangannya kini jatuh pada jam digital yang tertera di layar ponsel yang menunjukkan pukul enam lewat empat puluh lima menit. Itu artinya dia harus segera berangkat sebab jarak antara rumahnya dan SMA Geelerd membutuhkan waktu sekitar sepuluh menit jika ditempuh naik motor. Kalau naik angkot pastinya akan lebih lama.

Gadis cuman  itu berdecak. Ya kali gue harus bareng dia! Bisa ge er tuh bocah. Tapi udah jam segini. Sialan si Jaja!

Pergulatan batin dan pikiran akhirnya dimenangkan oleh pikirannya. Sekali lagi dia berdecak. Ketika kepalanya menoleh ke Galaxy, ternyata adik kelas imut nan unyu itu sudah tidak berada di kursi rotan berlengan teras rumahnya, melainkan sedang mengobrol dengan mamanya yang tiba-tiba menyiram bunga.

Sejak kapan mamanya menyiram bunga? Kenapa Bintang tidak mendengarnya?

“Halo Tante nama saya Galaxy, calon pacarnya kak Bintang. Kami lagi pdkt, tolong do’akan ya Tan,” ucap Galaxy dengan nada tenang nan damai. Seolah-olah sedang membaca berita cuaca.

Wanita paruh baya bernama Erlin yang berstatus sebagai mamanya Bintang kini tersenyum riang. Dimatikannya keran untuk menerima uluran tangan Galaxy. “Kirain si Jaja pacarnya anak buntut Tante. Soalnya ke mana-mana bareng.”

Mendengar nama Barja disebut, lagi-lagi Galaxy kontan merasa jengkel dan hanya memaksakan senyum, sama seperti tadi ketika dia melihat Bintang menelepon Barja.

“Tenang, kamu pasti Tante dukung kok. Sering-sering main ke sini ya Nak.”

“Ngomong apaan lo barusan?!” Tiba-tiba Bintang nyerobot mirip angkot ugal-ugalan. Pandangannya yang semula mengarah ke Galaxy, kini sudah berpindah ke mamanya. “Nggak usah didengerin Ma.”

Hatinya berdenyut menahan sakit sebab Barja mengabaikannya untuk menjemput Aira dan sekarang kepalanya tambah berdenyut memikirkan Galaxy yang polos sedang berceloteh hal ngawur pada mamanya. Apa lagi mendapat respon baik.

What the duck?

“Berangkat dulu Ma.” Pandangannya beralih ke Galaxy. “Ayok!”

Bintang berpikir lebih memilih menyalami wanita paruh baya yang melahirkannya ke dunia untuk pamit dengan menenteng kerah Galaxy sama seperti kemarin, daripada sibuk meratapi nasib dan telat masuk sekolah.

Oh! Tentu dia tidak ingin berakhir seperti kakak perempuannya yang langganan terlambat lalu dihukum ketua OSIS galak yang sekarang jadi pacar kakak perempuannya tersebut. [4]

Beruntunganya SMA Geelerd bukan sekolah yang menanamkan sistem pengurangan poin bila melakukan pelanggaran maupun penambahan poin bila meraih berprestasi seperti SMA kakaknya dulu. Walau opsi yang terakhir itu sangat menguntungkan bagi Bintang.

“Hati-hati di jalaaan ...” teriak sang mama lantaran masuk rumah.

Well, Bintang melepas kerah jaket Galaxy untuk celingukan mencari kendaraan laki-laki itu. “Di mana motor lo?” tanyanya bingung sambil menenteng helm yang tadi sudah sempat dia ambil.

“Gue nggak naik motor, Kak.”

“Mobil?” tanya Bintang lagi-lagi penasaran. Kalau bukan karena jam yang mepet, dia tidak akan sudi berangkat bersama adik kelas ini.

“Enggak, umur gue belum bisa bikin SIM, jadi sementara kita naik scooter dulu ya Kak. Tenang, gue bawa dua kok.”

“Gimana?” Bintang kontak terjingkat kaget dan melotot ketika laki-laki itu melepas ranselnya yang besar lalu mengeluarkan sebuah scooter hitam lipat lengkap dengan helm. Tampak kelihatan baru. Sementara scooter hitam lainnya ternyata diparkir di antara bunga-bunga halaman rumahnya, jadi tidak akan terlihat bila Galaxy tidak mengambilnya.

Bintang speechless. Tidak tahu harus tersanjung karena adik kelas itu baru saja membawakannya scooter atau mengutuk Galaxy jadi debu kosmik.

Bentar ... bentar ... nih human beneran nyuruh gue naik scooter?! Bintang masih meandangi Galaxy yang tengah membetulkan scooter yang masih terlipat.

Kepala Bintang menoleh ke arah rumah sembari berpikir apakah motor mamanya bisa dipinjam. Tapi tidak bisa karena itu merupakan satu-satunya kendaraan yang digunakan untuk mengantar pesanan bunga pelanggan.

“Nih, Kak ... ayo berangkat entar telat, kita harus ngebut.”

Suara berat tersebut kembali memenuhi kesadaran Bintang. Sekali lagi melirik ke arah jam tangan yang menunjukkan pukul tujuh kurang sepuluh menit.

Sialan si Jaja!

“Gue punya jalan pintas buat naik scooter. Ini helm Kakak taroh rumah aja. Pakek helm ini,” ujar laki-laki itu sembari mengulurkan helm yang mirip dipakai orang bersepeda pada Bintang.

Kalau gue kagak buru-buru, gue nggak bakalan mau berurusan sama yang namanya Gala ini!

Sebenarnya Bintang tidak ingin memberi kesempatan apa pun pada laki-laki ini untuk mendekatinya. Ingat, gara-gara adik kelas ini Barjanya jadi menyukai Aira! Tapi demi kerang ajaib! Mau bagaiamana lagi? Tidak ada pilihan lain.

Bintang akhirnya meraih scooter usai meletakkan helm di meja teras dan memakai helm yang diberikan Galaxy, kemudian mulai menaikki satu kaki jenjangnya ke scooter. Dia baru akan melanju ketika adik kelas itu malah melepas jaket olah raganya.

Galaxy mengulurkan jaket tersebut pada Bintang sambil berkata, “Nih Kak, biar roknya nggak terbang-terbang.”

Sekali lagi Bintang terbelalak. Tidak menduga jika Galaxy ternyata sudah memikirkan segala kemungkinan yang bahkan tidak terpikir olehnya. Haruskah dia tersipu?

Dengan cepat Bintang menyambar jaket itu dan segera melilitkannya di pinggang. “Buruan, keburu telat.”

Senyum laki-laki itu terbit. Merasa suatu kemajuan sebab gadis tomboy di sampingnya tidak menggunakan nada sengak lagi. Lihat. Kalau terus berusaha pasti akan membuahkan hasil bukan? Meskipun sedikit ribet, tapi Galaxy merasa ada kalanya berkorban itu perlu.

Galaxy pun hormat pada Bintang. “Siap komandan!” katanya yang direspon dengan sikap jengah gadis tomboy tersebut.

Sesaat kemudian mereka mulai melaju menyusuri kompleks perumahan Bintang menuju kompleks yang lain tanpa sekalipun melewati jalan raya. Matahari pagi yang sehat dan angin yang menerpa wajah Bintang berangsur memperbaiki mood-nya yang sempat hancur lebur karena Barja.

Sepanjang perjalanan mereka diam. Bintang yang biasanya ghibah orang dengan Barja, tidak bisa menahan dirinya dalam kesunyian. Dia juga sebenarnya penasaran akan sesuatu. Lalu memutuskan untuk menyejajarkan scooter yang dia kendarai mendekati Galaxy dan bertanya, “Dari mana lo tahu rumah gue?”

Karena suara kenadaraan yang mendominasi sehingga tidak seberapa jelas mendengar omongan Bintang, Galaxy sedikit berteriak. “Apa Kak?”

“Dari mana lo tahu rumah gue?!” Bintang pun menaikkan tekanan suaranya.

“Dari Kak Rajendra,” jawab Galaxy jujur. “Abis ini belok kiri Kak!”

“Si Indro?” Bintang kembali bertanya untuk memastikan. Kalau benar demikian, kurang seblak mercon nih si Indro! Rutuknya dalam hati karena telah berani-beraninya memberikan alamat rumahnya pada bocah unyu ini. Ekhm ... maksud Bintang, bocah penuh kejutan ini.

Mereka pun belok ke kiri sesuai arahan Galaxy. “Kenapa kok dipanggil Indro? Kan namanya Rajendra Roger, nggak ada Indronya, Kak?” tanya laki-laki itu, polos seperti basa.

Bintang yang masih sibuk mengutuk Rajendra sembari fokus ke jalan  dikagetkan oleh pertanyaan Galaxy yang di luar dugaannya.

“Susah aja manggilnya. Bingung mau manggil gimana. Mau manggil Rajendra kepanjangan. Mau manggil Roger kok terlalu keren. Ya udah temen-temen pada manggil Indro aja yang gampang.”

Nah sekarang dia juga bingung, bukannya mengomel kenapa malah menjawab pertanyaan laki-laki yang sedang menyejajarkan scooter-ya. Dengan nada yang tenang pula.

“Hahaha ....” tawa Galaxy pecah. Terdengar renyah di tengah bisingnya suara kendaraan. Tak serta merta membuat Bintang lupa dugaan awalnya.

“Kirain si Jaja yang ngasih tahu, soalnya dia tahu lo jemput gue. Btw, dia lagi jemput kakak lo.” Bintang merasa tawa Galaxy berhenti seketika. Awkward. Jadi dia melanjutkan. “Haha! Ngapain juga gue ngasih tahu lo. Pasti juga lo udah tahu.”

“Oh.”

“Oh?” Bintang membelalakan mata. Hanya respon itu yang dia dapat dari Galaxy. Sebelum pikirannya mengembara untuk bertanya kenapa respon adik kelas itu kontan berubah, jalan yang mereka lalui telah resmi memasuki kawasan sekolah. Mau tidak mau, Bintang segera turun dari scooter dan mengikuti laki-laki itu memarkirnya di parkiran sekolah.

Meskipun kecil, dua scooter hitam itu kelihatan menyolok dari mobil, motor dan sepeda yang terparkir rapi di sana.

“Nanti gue anter pulang ya Kak? Maksudnya, kita naik scooter bareng lagi.” Galaxy menawari Bintang pasca melepas helmnya.

Usai meletakkan helm di stir scooter, Bintang menjawab, “Kagak usah. Btw, how ever thanks a lot. Lo udah jemput gue. Kalau nggak, bisa telat. Tuh, rambut lo berantakan, rapiin!”

Sekali lagi Bintang menepuk pundak Galaxy sembari terburu-buru ke kelas. Tidak akan memberi jeda pada laki-laki itu untuk menjawab atau sekedar bernapas, sebab perhatian pada rambutnya.

____________________________________________

4 Baca KETOS GALAK IS MY BOYFRIEND
____________________________________________

______________________________________________

Thanks for reading this chapter

Thanks juga yang udah vote dan komen

See you next chapter teman-temin

With Love
©®Chacha Eclipster
👻👻👻

8 Agustus 2020

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro