Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

Chapter 17

Selamat datang di chapter 17

Tinggalkan jejak dengan vote dan komen

Tandai jika ada typo (suka gentayangan)

Thanks

Happy reading everyone

Hope you like this

❤️❤️❤️

____________________________________

You’re prince charming with his white horse is waiting for you,
Sister

~Galaxy Andromeda~
______________________________________

Jakarta, Agustus
08.02 p.m.

Sepanjang perjalanan, Galaxy Andromeda mengekori Cecilia Bintang. Bahkan laki-laki itu tak sungkan-sungkan untuk duduk bersama seperti saat berangkat. Bedanya, kali ini Bintang tahu dan tidak keberatan. Gadis itu bahkan juga tahu ketika dia jatuh tertidur, Galaxy kembali meletakkan kepalanya di pundak. Usapan tangan besar dan hangat milik adik kelas itu segera menyusul. Tidak dapat dipingkiri, sangat nyaman memang. Namun itu tidak lama karena setelahnya Galaxy ikut menyandarkan kepalanya sendiri di kepala Bintang sembari memeriksa isi kameranya yang penuh dengan gadis itu.

Galaxy mencermati satu per satu foto-foto tersebut : Bintang yang sedang berkacak pinggang di depan Yola, berlatar belakang bunga warna-warni entah apa namanya. Bintang yang sedang memeluk diri sendiri sebab kedinginan sambil menunduk. Bintang yang sedang menoleh sambil membenarkan rambutnya agar pundaknya tertutup. Potret Bintang yang menggandeng tangannya dari arah belakang di Taman Labirin. Bintang yang berwajah serius ketika mereka mencoba menyusuri jalan keluar tempat itu. Kemudian potret Bintang dari belakang yang mengenakan kaus cokelat terang milik Galaxy. Kibaran surai hitam lurus gadis itu tampak memesona kendatipun sedikit berantakan. Lalu Bintang yang tersenyum lebar sambil menepis kameranya di Dotto Train dan masih banyak lagi.

Lekuk pada bibir Galaxy yang tipis tidak pernah pudar sewaktu melihatnya. Kemudian tanpa sengaja foto itu bergeser menjadi foto Aira. Lekukan itu pun perlahan menjelma menjadi sebuah garis lurus. Ditariknya napas dalam-dalam dan dia keluarkan secara perlahan. Dari foto tersebut, dia memindah pandangannya pada sosok di sebelahnya.

Embusan napas yang tercipta dari ruas paru-paru mengalir keluar melalui hidung dan mulut laki-laki itu lagi. Bersamaan dengan gerakan tak nyaman yang Bintang tunjukkan, tanpa memutus pandangannya ke arah kamera yang masih menampilkan foto Aira, tangan kanannya secara otomatis terulur untuk menyentuh puncak kepala gadis itu.

Apa yang harus dilakukannya sekarang?

Sembari memikirkannya, laki-laki itu mematikan kamera untuk fokus menatap luar jendela yang menampilkan langit malam. Lampu-lampu kuning jalan tol mempercantik suasananya.

Perjalanan dari Puncak menuju Jakarta sendiri membutuhkan waktu sekitar kurang lebih empat jam. Selain karena bukan rahasia lagi jika menjelang penghabisan akhir pekan seperti ini banyak warga Jakarta yang kembali sehingga menyebabkan macet, berhenti untuk makan malam juga menjadi alasan semua anggota tim basket tiba di SMA Geelerd pukul delapan malam.

Usai turun dari bus dan para anggota tim basket membubarkan diri, Galaxy masih mengekori Bintang yang berjalan di depan gerbang. Bersama dengan Zhardian, dia menunggu gadis itu menelepon seseorang.

“Yakin lo kagak sibuk?”

Galaxy mendengar Bintang sedang bertanya pada seseorang di seberang telepon. Saat mata gadis itu menangkap sosok Yola berpamitan padanya, Bintang hanya mengangkat tangan sebagai balasan.

“Ya udah, gue tunggu di depan gerbang, hati-hati bawa motornya. Thanks Kak.”

Galaxy melihat Bintang menutup sambungan telepon dan menghadapnya serta Zhardian. “Gue dijemput kakak gue, kalian gimana?” tanyanya.

“Gue juga Kak.” Zhardian membuka suara lebih dulu dan dijawab anggukan oleh Bintang. Kemudian gadis itu serta sahabatnya menoleh ke Galaxy.

“Gue naik ojol.” Jawaban Galaxy membuat Zhardian mengernyit kemudian mengutarakan ketidaktahuannya.

“Sejak kapan lo naik oj—ugh!”

Zhardian meringis sekaligus mengaduh. Tidak jadi melanjutkan pertanyaannya sebab Galaxy menyikut perutnya, mengode agar berhenti mengoceh. Diusapnya daerah itu. Berharap rasa sakitnya akan reda. Memang tidak keras, tetapi karena menyenai bagian persis dibawah rusuk, jadinya lumayan.

Sedangkan bocah itu sendiri malah tanpa rasa dosa tersenyum polos pada Bintang.

“Ekhm. Mana HP lo, Kiddo?” tanya gadis itu setelah berdeham.

Meski tidak paham kenapa kakak kelas itu meminta ponselnya, Galaxy tetap menyerahkannya pada Bintang tanpa perlu bertanya. Zhardian hanya mengamati. Seakan merasa jadi obat nyamuk. Ingat ya, obat nyamuk elektrik, bukan yang dibakar itu. Agar kelihatan elite.

“Sandinya dibuka dulu,” ucap kakak kelas itu lagi sembari menyerahkan ponsel. Usai membuka kunci, jari lentik dan panjang gadis itu menari lincah di atas layarnya. “Nanti kirim foto gue ya?”

“Iya Kak,” jawab Galaxy sembari meraih kembali ponsel miliknya. Namun saat otaknya menyadari sesuatu, dia mendelik dengan pancaran wajah bahagia. Matanya menjelajah berpindah-pindah. Dari ponsel yang masih menampilkan apa yang diketik gadis itu lalu ke Zhardian, terakhir ke Bintang. “Ka-Kakak ngasih nomor HP Kakak?”

“Bukan, itu nomor HP-nya mang Uung. Gue cuma nge-prank lo aja. Ya iyalah!” jawab gadis itu sambil memutar bola matanya malas. Sebenarnya menutupi rasa ingin tertawa sebab melihat tingkah Galaxy yang oon. Sedetik kemudian mengarahkan pandangan ke Zhardian yang cengo. “Zhardian mau nomor HP gue juga?”

“Nggak usah Kak! Cukup gue aja! Zhardian nggak boleh!” sergah Galaxy cepat.

Bintang tidak bisa menahan senyuman saat melihat laki-laki yang berstatus sebagai adik kelasnya itu menyikut perut Zhardian lagi.

“Eh, suka-suka kak Bintang dong Gal mau ngasih gue nomor HP-nya!” Zhardian juga berusaha menepis tangan Galaxy sambil berusaha mengeluarkan ponsel dari kantung celana jinnya.

“Enak banget lo Zhar, kagak minta, kagak usaha langsung dikasih, nah gue?!”

Galaxy kembali menghentikan aksi Zhardian. Bintang yang berdiri tidak jauh dari situ malah tertawa lebar. Lalu bunyi klakson motor yang baru saja tiba di dekat sana membuat mereka berhenti.

“Nah tuh jemputan gue udah dateng, cabut dulu yak,” pamit Bintang pada dua adik kelas itu yang masih saling menyikut satu sama lain.

“Nanti gue telepon ya Kak,” sahut Galaxy yang sudah melepaskan Zhardian untuk melihat gadis itu beralih fungsi jadi pengemudi sehingga dia diabaikan.

Beberapa saat kemudian, jemputan Zhardian juga datang. Tinggalah dirinya sendiri dari mereka yang semula bertiga. Masih ada beberapa anggota tim lain juga yang menunggu jemputan, jadi Galaxy tidak merasa sendirian.

Sebenarnya Galaxy tidak memiliki bayangan tentang pulang naik apa atau bersama siapa. Saat ini, euphoria mendapat nomor ponsel kakak kelas itu masih dirasakannya. Mungkin, dia akan menelepon pak Jono, supir pribadi yang bekerja untuk keluarganya atau memesan taksi daring. Utamanya, Galaxy harus menamai kontak telepon Bintang dengan sesuatu yang bagus terlebih dahulu.

Bae, kedengarannya sangat bagus.

Akhir pekan ini sangat menyenangkan, pikir laki-laki itu. Namun, pikiran itu harus sirna dalam sekejab kala dia melihat mobil yang tak asing berhenti tepat di depannya. Galaxy melihat plat nomor untuk memastikan. Pintu kaca mobil sebelah kemudi turun memperlihatkan si pemilik yang ternyata benar menjadi dugaannya. Senyum yang sedari tadi melekuk di bibirnya yang tipis praktis hilang.

“Dek, masuk mobil.”

Suara itu menelusup ke indra pendengarannya. Galaxy tidak bisa mencegah dirinya sendiri untuk bertanya-tanya dari mana Aira tahu keberadaannya dan siapa sebenarnya yang memberitahukannya? Bahkan telah bersusah payah menjemputnya ke sekolah dengan mengemudikan mobilnya sendiri. Mungkinkah Aira telah perhatian padanya lagi?

Laki-laki yang memakai sweter abu dengan jaket Alan Walker hitam yang menggantung bersama kamera di lehernya itu pun pada akhirnya memutuskan menyimpan pertanyaan tersebut terlebih dahulu untuk membuka pintu mobil bagian tengah, menjatuhkan ransel besarnya kemudian membuka pintu bagian depan untuk memosisikan dirinya duduk di sana dan mengenakan seatbelt.

“Udah makan?” tanya Aira tanpa melihat Galaxy sebab sibuk memasukkan persneleng.

“Udah.”

“Temenin gue makan di tempat biasanya ya, gue laper belum makan malem.”

Galaxy hanya bergumam. Ya, mungkin Aira sudah perhatian lagi. Mungkin ini kesempatannya untuk berbaikan dengan Aira. Seperti kata Zhardian, menyelesaikan permasalahan yang ada di antara mereka. Bukan menghindar seperti yang beberapa waktu ini dia lakukan.

Dalam keadaan seperti ini, Bintang terlintas dalam pikirannya. Gadis itu jelas membawa mood yang baik untuk Galaxy. Maka dari itu dia akan berterimakasih kepadanya kelak.

Jakarta, Agustus
08.02 p.m.

Mereka tiba di salah satu tempat makan sepuluh menit kemudian. Restoran itu cukup ramai. Meski demikian, mereka tidak menemukan kesulitan mendapat meja yang kosong karena ternyata Aira sudah melakukan reservasi di tempat kesukaannya ini.

“Udah lama banget kalian nggak ke sini,” sapa pramusaji yang mereka kenal. “Kayak biasanya?”

Aira tersenyum sambil mengangguk. Karena suana hati Galaxy sedang baik, dia juga membalas senyuman pramusaji itu sambil mengiyakan. Tidak apa-apa makan makan malam dua kali. Terpenting, dia bisa berbaikan dengan Aira, baginya tidak masalah.

“Katanya udah makan? Tumben makan malem dua kali?” tanya Aira sembari menaikkan kedua alis cantiknya, sebab merasa aneh dengan Galaxy.

Biasanya adik laki-lakinya itu anti pati makan malam dua kali karena ingin membentuk otot perut. Makan makanan berlemak tentu akan menghambat usaha tersebut, apa lagi kesukaan makanan laki-laki itu adalah makanan manis. Menu penutup seperti crème brulé di restoran ini. Tidak hanya itu saja yang aneh. Suasana hati laki-laki itu tampaknya juga sedang baik, tidak murung seperti biasa saat dia mengajaknya pergi berdua.

Aira mendengar Galaxy bergumam sambil tersenyum sebagai jawaban. Kemudian meletakkan kamera di meja untuk pamit ke restroom.

Benda itu jelas sangat menarik perhatian Aira. Setelah berdebat dengan dirinya sendiri dan dimenangkan sisi egoisnya, Aira mengambil kamera itu dengan anggun dan membuka hasil foto pada layar. Hal yang pertama kali dia jumpai adalah foto selfie Galaxy dan Bintang saling bersandar, kelihatan duduk di dalam bus. Bintang dengan mata terpejam, sementara Galaxy menempelkan hidung serta bibir tipisnya pada puncak kepala Bintang. Dengan kata lain, Galaxy mencium Bintang dan gadis tomboy itu tampak tidak keberatan sebab tersenyum dalam tidurnya.

Debaran jantung Aira berubah cepat. Menilik kembali pada foto itu, dia menggeser untuk melihat foto yang lain. Kali ini Aira melihat Galaxy dan Bintang sedang selfie. Tampak menaiki sebuah kendaraan. Aira tidak tahu jenis kendaraan itu tapi ada beberapa hal yang mengusiknya.

Pertama sweter mereka sama, kedua Galaxy tersenyum lebar sambil melirik Bintang yang berada disebelah laki-laki itu. Berpose malas sebab untaian rambut hitam lurus itu sedang dihidu Galaxy.

Tidak cukup puas memandangi dua foto tersebut, Aira menggeser-geser layar dan menemukan banyak sekali foto-foto candid Bintang.

Menurut Aira, apa yang dilakukan Galaxy sudah terlalu jauh. Ketika dia meletakkan kembali kamera di meja, bertepatan dengan itu, Galaxy terlihat muncul dari restroom.

Usai adik laki-lakinya itu duduk di seberang, Aira membuka suara. “Gala ....” Dia memulai dengan nada yang sangat pelan dengan tekanan, sebab kedua tangannya mengepal, menahan diri untuk tidak memuntahkan amarahnya di tempat makan ini.

Memang, tujuannya tadi mencari info dari teman-teman Galaxy—selain Zhardian—tentang keberadaan adiknya lalu menjemputnya di sekolah, adalah untuk memperbaiki hubungan mereka. Namun, tampaknya Galaxy tidak menginginkan itu. Terbukti jelas pada hasil-hasil foto tersebut.

Aira melihat adiknya masih menunggunya bicara. “Nggak usah deketin Bintang,” tambahnya langsung pada inti permasalahan tanpa ingin basa-basi.

“Kirain malem ini cuma pengen bahas kita. Ternyata—”

“Gala!” pekik Aira. “Kalau lo masih deketin Bintang, jangan bahas kita! Gue udah pernah ngomong ini nggak sekali dua kali ya, tapi berkali-kali! Jangan deketin Bintang atau cewek mana pun!” Lagi-lagi suara Aira penuh penekanan.

Galaxy tersenyum. Namun jenis senyum yang tidak sampai ke matanya.

“Kenapa?”

“Lo sendiri tahu jawabannya kenapa. Yang jelas bukan apa yang lo pikirin selama ini! Lo sadar nggak sih? Gue ngomong kayak gini tuh demi kebaikan. Lo itu pianis Gala! Pianis! Ibaratnya jari-jari lo itu emas. Dan lo malah ikutan basket. Lo bertindak terlalu jauh Gala! Ngerti kan lo, maksud gue kayak gimana?!”

“Bukannya cara bikin orang yang kita sukai terkesan dan bahkan bisa balik suka sama kita itu, harus bertindak jauh ya? Biar dikira enggak main-main, tapi serius?”

“Gala!”

Tepat sedetik Aira menutup mulut, ponselnya berdering kencang hingga memekakan telinga keduanya. Tidak hanya keduanya, tetapi juga pengunjung lain. Aira segera mengambil alat komunikasi tersebut dari dalam tas dan baru akan mengabaikan panggilan itu. Namun ketika nama Barja muncul, dia mengurungkan niat. Isyarat itu dapat dibaca jelas oleh Galaxy.

“You’re prince charming with his white horse is waiting for you, Sister. Sebaiknya lo angkat, dan gue permisi.”

“Gala, kita belum kelar ngomong,” pekik Aira sembari mengikuti Galaxy beranjak usai adik laki-lakinya menyambar kamera di meja dan menyelempangkan asal.

Pramusaji kenalan mereka yang sudah membawa menu hendak ke meja itu pun terheran dan hanya bisa memandang nanar.

“Gala,” panggil Aira lagi. Langkahnya sudah sangat dia percepat akan tetapi tentu tidak sebanding dengan kaki-kaki panjang Galaxy yang melangkah lebar.

Aira terus mengejar adiknya hingga mencapai depan restoran tapi Galaxy sudah terburu naik taksi.

Astaga, ini benar-benar tidak sehat, pikir pemilik wajah cantik tersebut sembari ngos-ngosan. Hubungan adik-kakak seperti ini sangat tidak sehat. Dia ingin hubungan mereka kembali sehat seperti dulu. Tapi kenapa Galaxy sama sekali tidak ingin memperbaikinya?

Kalau begitu tidak ada cara lain lagi selain menemui Bintang. Ya, Aira akan menemui Bintang dan mengatakan dengan jelas apa maksud dan tujuannya agar menjauhi Galaxy.

Aira baru akan membuka pintu mobilnya ketika ponselnya berdering lagi dan Barja sedang meneleponnya. Sembari menjatuhkan dirinya di kursi kemudi, Aira mengaktifkan sambungan telepon. Dia ingin menyapa Barja dengan nada riang seperti biasanya tapi entah kenapa malah isakan yang pertama kali keluar dari mulutnya.

“Ra, kamu nggak apa-apa?” tanya suara di seberang. Terdengar begitu khawatir. Aira ingin mengatakan baik-baik saja tetapi tidak sanggup.

Karena hanya suara tangisanlah yang terdengar, Barja kembali bertanya. “Kamu sekarang di mana? Aku ke sana.”

Telah menemukan kekuatannya untuk berhenti sejenak, Aira menjawab, “Nggak perlu, kamu kan masih—”

“Aku ke sana sekarang Ra, kasih tahu aja lokasinya.”

__________________________________

Thanks for reading this chapter

Thanks juga yang udah vote dan komen

See you next chapter teman temin

With Love
©®Chacha Eclipster
👻👻👻

29 September 2020

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro