Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

Chapter 14

Selamat datang di chapter 14

Tinggalkan jejak dengan vote dan komen

Tandai jika ada typo (suka lepas dari pengelihatan saya)

Thanks

Happy reading everyone

Hope you like it

❤❤❤

______________________________________________

And missing you again?
I can’t and don’t want to take the risk

~Galaxy Andromeda~
______________________________________________

Puncak, 7 Agustus
13.55 p.m.

Angin dingin menggelitik kulit-kulit Galaxy. Sayangnya membuat sekujur tubuh tegap itu sedikit menggigil. Namun dia harus terlihat kuat di depan Bintang yang sekarang membawanya ke suatu tempat tumbuhnya tanaman berbentuk kotak. Bagian bawah berwarna hijau, atasnya merah, serta tingginya menjulang melebihi Galaxy.

Gadis itu menariknya lebih dalam menuju tanaman yang membentuk serupa dinding dengan banyak cabang. Menelusuri serangkaian jalan berkelok-kelok selama beberapa detik, dengan tujuan mencari tempat yang pas untuk memuntahkan segala kekesalan yang terselubung di dalam pori-porinya pada Galaxy.

Dirasa sudah menemukan, saat baru berniat melepaskan, Galaxy Andromeda yang dapat membaca niat Bintang merasa tidak rela sehingga mempererat tautan jari-jemari mereka.

Bintang yang merasakan jumlah tekanan tangannya bertambah pun kontan berhenti. Bermaksud memutar badan dan bersiap memaki, tapi gadis itu lebih dulu tercengang.

“Kiddo! Lepas—eh? Kiddo? Lo kedinginan?” tanya Bintang yang melihat wajah Galaxy mulai kehilangan warna, bahkan bunyi pelan gemelutuk gigi laki-laki itu bisa dia dengar samar-samar sekaligus merasa aneh. Padahal tautan jemari mereka terasa hangat, tapi kenapa tubuh laki-laki itu menggigil?

“Enggak kok Kak,” kilah Galaxy. Mengatakannya dengan bibir yang sedikit membiru dan gemetar. Sangat kentara jika sedang berbohong.

“Bentar, lepas dulu tangannya,” pinta Bintang.

Baru sadar, kenapa gadis tomboy yang berwajah khawatir tadi tidak menarik bagian belakang baju laki-laki itu saja untuk menyeretnya ke sini, dan malah menggandengnya seperti ini? Sekarang gadis itu harus menanggung konsekuensi jantungnya yang mulai berlomba-lomba memompa serta mengedarkan darah ke seluruh tubuh dengan intensitas cepat.

“Nggak mau, entar Kakak ngilang lagi, susah nyarinya,” jawab Galaxy jujur, membuat jantung gadis itu malah memukuli dadanya semakin kencang. Bintang yakin sekarang tidak hanya jemari mereka yang saling bertautan yang terasa hangat, tapi juga pipinya dan mungkin sudah merambat ke seluruh wajahnya.

Diamatinya wajah polos tersebut selama beberapa kali kedip. Entah kenapa membuat gadis itu jadi tidak tega marah-marah.

Ya Tuhan, sebenarnya sudah berapa kali dia memaklumi adik kelas ini?

Membuang napas sambil memejamkan mata sesaat, Bintang berucap, “Enggak kok ....”

Suara alto tersebut memang lirih, tapi Galaxy bisa mendengarnya dengan baik. Jadi untuk menjawab Bintang, dia menggeleng. “Lagian Kakak belum jawab permintaan maafin gue.”

Iya sih.

“Lepas dulu,” pinta Bintang lagi. “Beneran nggak kabur.”

Kening Galaxy berkerut samar. Mengamati wajah manis di hadapannya untuk mencari letak kebohongan tapi tidak ketemu. Namun juga belum bisa membuat dirinya yakin sepenuhnya, sehingga harus bertanya, “Jangan ngilang beneran ya Kak?”

“Iya, ini bawa tas selempang gue kalau nggak percaya.”

Galaxy mengikuti arah pandang Bintang kala menunjukkan tas selempang kecil hitam bentuk simpel yang melingkari bahu gadis itu. Walau sudah ada jaminan, Galaxy masih tidak mau melepaskan. “Emang mau ngapain Kak kalau nggak kabur?”

“Makanya lepasin dulu biar tahu.” Bintang sengaja tidak menjawab agar laki-laki itu penasaran lalu pada akhirnya melepaskan tautan jari-jemari mereka.

Namun ... benarkah Bintang ingin melepaskannya? Kenapa lagi-lagi tidak yakin seperti kenyaman yang dibentuk laki-laki itu melalui pelukan pada dini hari?

Gadis itu segera menendang pikirannya ke tepi. Demi kerang ajaib! Dia tidak boleh egois. Ada yang lebih membutuhkan jaket tersebut sekarang. Lagi pula, laki-laki itu sudah berhasil membuat pipi dan wajahnya menghangat. Bintang yakin sebentar lagi kehangatan tersebut akan menjalar ke seluruh tubuhnya juga. Meskipun mengenakan dress agak terbuka—terutama bagian punggung dan pundak—Bintang pikir tidak akan menjadi masalah. Malah debaran jantungnya yang harus dia selamatkan lebih dulu.

Selama beberapa detik Bintang memperhatikan pandangan Galaxy yang berpindah-pindah. Mulai dari wajah gadis itu ke tautan jari mereka, dan begitu lagi, diulang hingga beberapa kali. Padahal tubuh tegapnya jelas sedang menggigil, tapi wajah polos itu jelas mengambarkan kegamangan.

Karena terlalu lama menunggu Galaxy berpikir, Bintang memberi isyarat dengan memanggil laki-laki tersebut sambil menggoyang tautan jari mereka.

Kiddo ....”

Baru akhirnya Galaxy melepaskan tautan secara perlahan-lahan. Memastikan Bintang tidak akan kabur darinya. Setelah tidak saling menaut sepenuhnya, pada detik itu pula angin dingin kontan menyerbu dan Galaxy reflek meyilangkan kedua tangannya di dada sambil melihat sekitar.

Merasa asing dengan tempat ini, alisnya berkerut samar. Di mana ini?

“Pakek aja Kiddo.” Suara Bintang memecah fokus Galaxy. Pada saat menatap gadis itu, dia melihat jaket Alan Walkernya sudah terulur. Galaxy sontak menolak.

“Enggak, Kakak yang lebih butuh. Bajunya agak ... ekhm ... kurang bahan. Pasti dingin,” jawab Galaxy sambil mengulurkan jaket itu kembali pada Bintang setelah menahan dehamannya menggunakan tangan. Dia juga sempat melirik ke arah lain sesaat.

“Lo yang lebih butuh. Gue nggak kedinginan, kalau dinginnya cuma segini sih kecil. Entar mau beli kaos aja di toko souvenir.”

“Kalau gitu ayo kita cari tokonya sama-sama, tapi jaketnya Kakak pake dulu sampe tokonya ketemu,” usul Galaxy sambil mengulurkan jaketnya lagi.

Kiddo ... tapi lo kedinginan ....” Bintang bersikeras menolak. Benar-benar merasa tidak memerlukan jaket itu dan berpikir Galaxy yang lebih membutuhkannya sekarang.

Thanks Kakak udah khawatir, tapi enggak! Punggung Kakak keliatan! Pasti dingin dan diliatin cowok-cowok!”

Entah hanya perasaan Bintang saja atau memang raut wajah serta getsture Galaxy menunjukkan rasa geram ketika mengutarakan hal tersebut?

“Udah gue tutupin pake rambut kok.”

“Mana coba liat?!”

Tidak, Bintang yakin Galaxy sedang ... posessive? Kenapa juga hatinya berantisipasi dari perasaan asing yang baru pertama kali siggah dan dia rasakan?

Masih berpikir, laki-laki itu ternyata sudah berdiri dibelakangnya dan mengamatinya. Entah kenapa gadis itu jadi merasa malu.

“Masih keliatan! Kakak pakek aja kajetnya sampe kita nemu toko souvenir!”

Untuk menutupi rasa malunya Bintang berteriak, “Kita nggak bakalan ke mana-mana kalau lo nggak pake jaket itu! Tuh mulut udah biru gitu! Buruan pakek! Nggak lucu kalau lo sampe ambruk di sini! Emang siapa yang mau gotong?!”

“Ya udah Kakak yang maksa.” Kalimat Galaxy memang pasrah, tapi tidak dengan nadanya. Sebelum menerima jaket itu, Galaxy melepas kamera yang menggantung di lehernya untuk meminta tolong dibawakan Bintang.

Begitu seluruh jaket itu telah membungkus tubuh tegapnya, dengan cepat lengan-lengan kekar adik kelas tersebut meraih tubuh Cecilia Bintang dan membawa gadis itu ke dalam dekapannya. Bintang yang kaget karena masih menyelempangkan kamera Galaxy di lengan kanannya sontak memberontak.

“Heh! Ngapain lo—” Gadis itu menghentikan kalimatnya untuk berpikir kata apa yang cocok diungkapkan selain meluk gue? Kiddo lepasin!”

Alih-laih melepaskan, Galaxy malah menarik zipper jaketnya sampai batas atas, sehingga tubuh gadis itu sudah menyatu dengannya. “Enggak, punggung Kakak keliatan, pasti dingin, pasti diliatin cowok-cowok juga.”

“Kiddo!” Bintang berusaha memukuli dada laki-laki itu tapi aroma Galaxy membuat pikirannya mulai gila. Mencoba waras, gadis itu meluncur turun tapi dengan sigap tubuh tegap yang memeluknya dapat membaca siatuasi, sehingga niat kaburnya gagal.

“Nggak, sampe Kakak mau pakek jaket gue. Lagian kayak gini bukannya malah hangat ya Kak?”

Astaga seandainya laki-laki itu tidak berbicara dengan nada polos, pasti Bintang sudah menendang tulang kering atau menginjak kaki-kaki pemilik aroma menenangkan ini sedari tadi.

Kiddo! Gue pukul lo!”

“Bentar aja, lima menit biar nggak dingin, abis itu Kakak boleh mukul gue kalau tetep nggak mau pakek jaket gue.”

“Kelamaan!”

“Ya udah pukul aja, tapi gue belum mau ngelepas Kakak.”

Bintang terdiam. Bingung harus memilih yang mana. Antara memukul lalu mengenakan jaket Galaxy atau menyerah. Namun aroma serta dekapan hangat ini membuat otaknya macet. Pada akhirnya dia hanya bisa berdiam diri, lalu secara perlahan mengubur wajah panas merah meronanya pada dada bidang Galaxy yang bedetak kencang. Tanpa sadar, tangan-tangannya juga melingkari tubuh Galaxy yang harum. Serta menghidunya semampu yang paru-parunya tampung. Terasa hangat dan menenangkan. Berikutnya perlahan gadis itu merasakan sesuatu yang dingin sekaligus embusan hangat menempel pada puncak kepalanya. Seperi ... bibir dan hidung Galaxy.

Kiddo, ngapain?” Suara Bintang sedikit berdengung sebab terhalang dada bidang Galaxy, tapi laki-laki itu dapat menangkap maksudnya.

“Rambut Kakak wangi, gue suka nyium wanginya,” jawab Galaxy apa adanya.

“Lo modus kan?”

Demi apa pun, seharusnya Bintang meninju wajah polos itu karena telah kurang ajar mencium puncak kepalanya tanpa izin. Semisal sudah izin sekali pun, belum tentu juga gadis itu akan mempersilahkannya. Tapi kenapa sekarang tubuhnya terpatok untuk membiarkan?

I said, if that for making you mine, why not?” ungkap Galaxy tanpa jeda dan tanpa ragu.

Bintang kembali terdiam sekitar lima detik. Pikirannya mengembara, membentuk sikap penasaran yang tidak dapat dia cegah untuk bertanya, “Lo kayak gini juga sama cewek lain?”

“Kalau gue ngaku pernah meluk kak Aira, Kakak bakalan marah nggak? Selain itu nggak ada lagi.”

Cecilia Bintang menarik sudut bibirnya ke atas membentuk sebuah senyuman. Entah kenapa dia kian ingin mengeratkan pelukannya. “Itu kan kakak lo sendiri, wajar dong ... astaga polos banget.”

“Kalau Kakak?”

Mendapat pertanyaan itu membuat pacu jantung Cecilia Bintang bertambah cepat. Wajahnya pun dia kubur lebih dalam pada dada Galaxy.

“Kak?”

“Hmmm?”

“Kalau Kakak?”

“Harus dijawab ya?” Bintang semakin merona dan memeluk laki-laki itu lebih erat. Bahkan dia kesusahan hanya untuk bernapas normal dan mereguk saliva untuk membasahi tenggorokannya yang kering.

“Pengen tahu.” Suara berat, dalam serta terkendali itu kembali terdengar dari atas puncak kepala Bintang. Usapan tangan besar dan hangat juga dia rasakan membelai surai hitamnya yang lurus pada bagian atas.

Bintang mereguk ludah dahulu sebelum memilih jawaban yang tidak langsung. “Semalem sama ini.”

“Apa? Nggak denger, Kakak pelan banget gomongnya.”

Bintang semakin merasa gila. Dengan sisa kewarasan yang menipis dia berteriak, “Udah lima menit! Buruan lepasin!” Berusaha menjauhkan tubuh, Bintang menahan dada Galaxy menggunakan tangan tanpa mendongak. Tidak berani melihat wajah laki-laki itu.

Sementara Galaxy menunduk mengamati tingkah Bintang. “Kok cepet? Semenit lagi bolehkah?”

Masih dengan wajah merah merona, Bintang sontak mendongak untuk menatap kedalaman iris cokelat terang laki-laki itu. “Enggak!”

Kedua alis tegas Galaxy terangkat. “Kok wajah Kakak merah lagi? Beneran nggak lagi sakit?”

Bintang gelagapan, lalu lebih memilih menunduk dan mendorong dada laki-laki itu. “Gue nggak sakit! Kiddo ... lepasin! Diliatin orang-orang!”

“Nggak ada orang.”

“Bukan berarti lo bisa seenaknya gini!”

Galaxy tidak menjawab, melainkan mengubak topik pembicaraan. “Mau tahu kabar baik nggak Kak?”

“Apaan sih?! Buruan lepasin!”

Sebelum melepaskan, Galaxy menunduk dan membisikkan sesuatu. “Kayaknya kita kesasar di Taman Rahasia alias Labirin Garden.”

Bintang kontan mengamati sekitar dan menemukan dinding-dinding yang terbuat dari tanaman memenuhi sekililingnya. Sampai Galaxy melepaskan jaketnya dia masih memiringkan kepala.

“Nggak, gue inget kok tadi jalan—woi! Woi! Woi! Ngapain lo buka kaus juga?! Bukannya lo kedinginan?! Jangan macem-macem ya mentang-mentang di sini sepi!” Gadis itu praktis berpaling dan menutupi wajah menggunakan telapak tangan kanan lalu bersiap kabur. Namun Galaxy menangkap pergelangan kirinya dengan cepat.

“Siapa juga yang mau macem-macem sama Kakak? Nih, Kakak pake kaus gue aja, biar gue pake jaket,” jawab Galaxy sambil mengulurkan kaus cokelat terang tersebut pada Bintang. Sebenarnya juga merasa payah, dalam keadaan seperti ini kenapa dia harus lebih kedinginan daripada pada Bintang? Jadi mau tidak mau lebih memilih jaketnya yang dia kenakan sendiri. Lagi pula, kakak kelas itu sendiri yang mengatakan tidak seberapa kedinginan.

“Tapi—”

“Kak, sampe toko souvernir doang. Itu punggung Kakak beneran keliatan! Emang Kakak suka ya diliatin cowok-cowok?! Sengaja nyari saingan buat gue?!”

Mendengar nada ketus itu, Bintang kontan meraih kaus Galaxy dengan cepat, tanpa memandang sang pemilik. “Siapa juga yang suka! Siapa juga yang nyari saingan buat lo!” Gue tomboy nggak bakalan ada yang ngelirik! Bintang melanjutkan dalam hati.

“Pake dulu sebelum ada orang.”

Bintang membentuk bibirnya mirip paruh bebek. “Ck! Iya ... iya ... ini gue pake! Nih kamera lo!”

Galaxy yang semakin menggigil karena masih bertelanjang dada, segera meraih kameranya dan cepat-cepat mengenakan jaketnya sendiri menggunakan tangan satu.

“Udah belum?” tanya Bintang yang masih memunggungi Galaxy setelah mengeluarkan rambutnya dari kaus laki-laki itu yang dia kenakan. Kebesaran, tapi sangat nyaman dan beraroma khas laki-laki itu.

Astaga, sebenarnya situasi macam apa ini? Kalau orang melihat, bisa-bisa mereka disangka telah berbuat mesum. Padahal tidak seperti itu. Iya kan?

“Udah,” ucap Galaxy setelah mengalungkan kameranya lagi. Kemudian tanpa babibu menggenggam tangan Bintang dan segera membawanya berjalan membelah Taman Rahasia.

“Eh Kiddo ngapain lo kayak gini?! Lepasin!”

And missing you again? I can’t and don’t want to take the risk!” [17]

Sungguh Bintang merasa lelah dengan semua ini. Entah berdebat dengan Galaxy, atau pun berdebat dengan dirinya sendiri yang selalu berujung dimenangkan oleh tindak tanduknya. Jadi dia pasrah saat laki-laki itu segera membawanya menelusuri jalan Taman Rahasia yang membingungkan.

Sama membingungkannya dengan hati serta pikiran Bintang terhadap Galaxy.

______________________________________

17 Dan kehilangan kau lagi? Aku tidak bisa dan tidak ingin mengambil risiko tersebut
______________________________________

Thanks for reading this chapter

Thanks juga yang udah vote dan komen

See you next chapter teman-temin

With Love
©®Chacha Prima
👻👻👻

8 September 2020

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro