
CHAPTER 6
"Ini sarapan hari ini, Nee-san."
(Name) yang sedang duduk bersandar di atas kasur menoleh ke arah pintu, dan mengangkat kedua alisnya saat melihat Jiro membawa nampan berisi bubur dan air putih.
"Oh, selamat pagi Jiro," sapa (Name) menutup bukunya lalu menatap Jiro.
"Bagaimana keadaan Nee-san?" tanya Jiro meletakan nampan tersebut di atas meja sebelah kasur (Name).
"Lebih baik," jawab (Name) penuh tekad, "besok aku bisa bekerja seperti biasa!"
Jiro yang baru mengambil meja kecil untuk (Name) hanya bisa memandang lama (Name), sebelum akhirnya meletakkan punggung tangannya di kening (Name).
Dan samar terdengar suara 'Ssssh' dari punggung tangan Jiro.
"Nee-san," ucap Jiro datar, "sepertinya panas Nee-san membuat Nee-san sedikit mabuk mengira bisa bekerja besok."
"Eeeh, tapi aku merasa lebih baik dari kemarin!" protes (Name) melihat Jiro meletakkan meja kecil di depannya.
"Tapi bukan berarti Nee-san bisa bekerja besok," sahut Jiro meletakkan nampan yang dia bawa tadi di atas meja tadi.
(Name) hanya mengembungkan kedua pipinya.
"Jaa, ittadakimasu," gumam (Name) menepuk kedua tangannya—sebelum akhirnya memakan sarapan yang dibawa Jiro.
"Jika ada perlu, telepon aku—aku ada di kamarku seharian ini," ucap Jiro melangkah keluar kamar (Name).
"Eh?" (Name) berhenti makan dan langsung menoleh ke arah Jiro, "bukannya hari ini kau sekolah, Jiro?"
Jiro berhenti, kemudian menatap (Name).
"Hari ini aku mau bolos sekolah, Nee-san."
(Name) mengerutkan alisnya, dan hendak menyahut—
"Aku tidak bolos karena Nee-san," potong Jiro memegang knop pintu, "kebetulan saja hari ini aku tidak suka semua pelajarannya."
"Tapi tetap saja," sahut (Name), "tidak baik bolos sekolah, Jiro. Masih ada waktu untukmu pergi sekolah, kan?" tanya (Name) melirik jam dinding yang ada di kamarnya.
Jiro terdiam sejenak, memandang tangannya yang memegang knop pintu.
"Akan kupikirkan."
Setelah itu Jiro keluar dari kamar (Name), meninggalkan sang kakak.
[][][]
'Gerah ....'
(Name) membuka matanya, dan menyadari dia sudah dalam posisi tertidur.
'Huh, bagaimana aku bisa tertidur—'
"Oh, maaf membangunkanmu, Nee-san. Saat aku datang Nee-san tertidur dengan posisi setengah duduk setelah menghabiskan sarapan Nee-san."
Suara Jiro sukses menarik perhatian (Name), dan dilihatnya Jiro yang hendak keluar sambil membawa nampan berisi sarapan (Name) yang sudah habis.
"Jiro?" kaget (Name) langsung menoleh ke arah jam dinding dan melihat jam menunjukkan pukul sepuluh, "Jiro, kau—"
"Bolos?" potong Jiro, "tidak—aku masuk sekolah seperti biasa, tapi aku bolos pada jam pelajaran ketiga," sambungnya.
(Name) hanya bisa diam, dan melihat respons sang kakak membuat Jiro sedikit tersenyum.
"Lebih baik Nee-san kembali istirahat, oh—apa perlu kubawakan sesuatu?"
(Name) terdiam, sebelum akhirnya menggeleng.
"Kalau begitu istirahatlah," ucap Jiro keluar dari kamar (Name).
Suasana menjadi sunyi, setelah yakin Jiro benar-benar jauh dari kamarnya, (Name) pun menutup matanya.
[][][]
Sensasi dingin yang perlahan menguat membuat (Name) perlahan sadar, dan dia benar-benar sadar saat merasakan seseorang mengelus kepalanya. (Name) mencoba membuka matanya, namun rasa nyaman yang dia rasakan membuatnya lebih tergoda untuk tenggelam di dalam rasa nyaman tersebut dan melanjutkan sesi tidurnya. Dibalik kecilnya kelopak mata yang terbuka, samar terlihat seseorang sedang duduk di kasur (Name), dan tangannya sedang mengelus kepala (Name) dengan lembut.
"Otou ... san?" itulah yang keluar dari mulut (Name).
"... Nee-san?"
Kesadaran (Name) kembali sempurna saat suara Jiro memasuki indra pendengarannya.
"M-maaf Jiro, aku—" (Name) berusaha bangkit tapi Jiro menekan kepala (Name) sehingga dia kembali ke posisi tidurnya
"Tidak apa-apa," ucap Jiro, "jika Nee-san merasa lebih baik karena mengingatnya, aku tidak masalah mengelus rambut Nee-san."
(Name) terdiam, kemudian mengangguk singkat.
"Ah, tapi jika Nee-san merasa keberatan kepalanya dielus, aku akan berhenti."
Baru saja Jiro menarik tangannya, (Name) langsung menahan pergelangan tangan Jiro.
"Tidak apa-apa," ucap (Name) kemudian menarik selimutnya agar menutupi wajahnya, "lagipula aku senang ada yang mengelus kepalaku saat sakit seperti ini."
Lalu suasana menjadi sunyi untuk beberapa saat.
"Ngomong-ngomong Jiro," ucap (Name) menurunkan selimut dari wajahnya, "terima kasih. Kau yang membawa kipas dan memberiku kompres, kan?"
Jiro terdiam sejenak, melirik ke arah kipas yang sedang menyala ke arah (Name), dan kompres air dingin yang beberapa saat yang lalu dia letakkan di atas kening sang kakak.
"Sama-sama," sahut Jiro, "memangnya siapa lagi selain aku yang melakukannya?"
"Oleh karena itu aku berterima kasih padamu," sahut (Name) terkekeh.
Suasana kembali sunyi untuk kedua kalinya. Perlahan mata (Name) berencana kembali menutup untuk terlelap.
"Apa yang terjadi saat Nee-san sakit dulu?" tanya Jiro tiba-tiba, "s-sebelum kedua orang tua Nee-san meninggal, maksudku."
(Name) berkedip beberapa kali, sebelum akhirnya menutup matanya.
"Saat itu aku kelas dua SMA. Okaa-san membuatkanku bubur dengan sup kesukaanku," jelas (Name), "dia juga menyelimutiku dan sering mengganti kompres di keningku. Kadang dia membuka jendela kamarku agar udara segar masuk."
Senyum muncul di wajah (Name) saat mengingat masa-masa penuh kehangatan itu.
"Otou-san akan mengusap kepalaku saat dia pulang kerja, dan berkata padaku akan membawaku ke restoran manapun atau jalan-jalan kemanapun jika aku sudah sembuh."
"Hee," ucap Jiro, "ayo piknik setelah Nee-san sembuh."
(Name) hanya terkekeh mendengar ajakan Jiro.
"Lalu bagaimana denganmu, Jiro?"
"Huh, sebenarnya kami jarang sakit sampai seperti Nee-san," jawab Jiro, "tapi dulu saat kecil, Saburo sering kena demam ringan ...."
Kemudian Jiro bercerita bagaimana Yamada bersaudara mengatasi sakit yang datang melanda mereka, yang notabenya jarang terjadi karena sistem imun mereka bertiga yang kuat.
"... akhirnya seharian itu Nii-san menjaga kami berdua," ucap Jiro menutup ceritanya.
Jiro menoleh ke arah (Name), dan mendapati perempuan itu sudah terlelap. Jiro perlahan menjauhkan tangannya dari kepala (Name). Jiro mengambil handuk kecil yang berada di atas kening (Name), lalu merendamnya ke dalam air dingin yang dia bawa tadi. Setelah mengeringkan handuk tersebut, Jiro sedikit menyingkirkan beberapa helai rambut (h/c) yang menghalangi kening (Name).
"Semoga cepat sembuh, Nee-san," ucap Jiro meletakkan handuk tersebut ke atas kening (Name) dan membawa mangkok besar berisi air dingin keluar dari kamar (Name), "agar kita bisa pergi piknik berempat bersama."
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro