Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

CHAPTER 4

(Name) memandang sarapan yang sudah dia buat dalam diam, menunggu Yamada bersaudara datang untuk sarapan bersama.

"Nee-san?"

"Ah?" (Name) menoleh ke sumber suara dan melihat Ichiro yang mengerutkan alisnya, tampak tatapan khawatir tertuju padanya.

"Nee-san tidak apa-apa? Sudah kami panggil dari tadi lho," kali ini yang terdengar adalah suara Jiro.

(Name) berkedip beberapa kali, dan menyadari bahwa tiga kursi kosong tadi kini sudah diisi oleh tiga laki-laki bersaudara itu.

"Wajah Nee-san pucat," komentar Saburo.

"Aku tidak apa-apa," jawab (Name), "hanya saja aku merasa sedikit pusing tadi."

"Apa Nee-san demam?" tanya Ichiro mengangkat tangannya untuk menempelkan punggung tagannya ke kening (Name).

Tapi (Name) refleks menghindari tangan Ichiro.

"Sudah kubilang aku tidak apa-apa," ucap (Name).

Ichiro terdiam, memandang kedua adiknya yang masih khawatir pada (Name).

"Baiklah jika Nee-san bersikeras."

(Name) tersenyum kecil.

"Terima kasih, Ichiro."

Ichiro yang hendak memakan sarapannya langsung berhenti, begitu juga dengan Jiro—berbeda dengan Saburo yang sudah mengatakan 'ittadakimasu' dan memakan sarapannya.

"Nee-san."

"Hm?" tanya (Name) menoleh ke arah Ichiro.

"Nee-san memanggilku dengan panggilan apa?"

(Name) memiringkan kepalanya.

"Ichiro—" pipi (Name) langsung merona dan (Name) langsung fokus pada sarapan yang ada di depannya, "ah, kalau kau keberatan, aku akan memanggilmu seperti sebelumnya."

"Tidak," ucap Ichiro, "aku senang Nee-san sudah memanggilku dengan namaku, bukan dengan marga keluargaku."

"Kau... tidak marah?" tanya (Name).

"Untuk apa? Bukannya wajar? Karena kita keluarga?"

(Name) menatap Ichiro yang tersenyum kepadanya, dan perlahan senyum kecil ikut terukir di wajah (Name).

"Begitu ya?"

Saat (Name) hendak memakan sarapannya, perhatiannya tertuju pada Jiro yang tampak tidak tenang sedari tadi. Melihat itu membuat (Name) terkekeh.

"Aku juga akan memanggilmu dengan namamu, Jiro."

Seketika aura bahagia hadir di sekitar Jiro.

"Kau seperti orang bodoh saat menunggu respons Nee-san," komentar Saburo tanpa menoleh ke arah Jiro.

"Apa katamu, Saburo!? Heh, setidaknya kau sendiri yang belum dipanggil namanya oleh Nee-san," ejek Jiro.

"Justru namaku yang Nee-san panggil pertama kali," sahut Saburo, "dan Nee-san sudah memanggil namaku sejak kemarin."

"Sudahlah kalian berdua, di meja makan jangan bertengkar!" tegur Ichiro.

(Name) hanya tertawa melihat Yamada bersaudara berinteraksi.

[][][]

"Sudah kuduga Nee-san demam."

"Hyaa!?"

(Name) yang kembali melamun saat mencuci piring langsung tersentak kaget saat tangan besar Ichiro menyentuh keningnya.

"Nee-san juga kebanyakan melamun sejak sebelum sarapan," sahut Saburo yang membantu (Name) mengeringkan piring yang sudah dia cuci.

"Apa perlu dibawa ke dokter?" tanya Jiro yang masih duduk di meja makan.

"Jangan khawatirkan aku," ucap (Name) menggeleng, "dibawa aktivitas seperti biasa juga lama-lama akan kembali normal."

"Tidak, Nee-san bilang tadi sedikit pusing juga, kan?" ucap Ichiro.

"Sudah kubilang aku—"

Tiba-tiba pandangan (Name) memburam dan keseimbangannya goyah, membuat (Name) hampir terjatuh, jika Ichiro tidak sigap menangkap (Name).

"Apanya yang tidak apa-apa?" ucap Ichiro geram, "hari ini Nee-san izin kerja dulu—Jiro, Saburo, sebelum pergi ke sekolah mampirlah ke kantor Nee-san dan bilang ke Tuan Harrison kalau Nee-san sakit. Aku akan mengantar Nee-san ke dokter—"

"Tidak!"

Yamada bersaudara tersentak kaget saat suara (Name) yang keras. Ichiro kemudian menyadari tubuh (Name) yang gemetaran.

"A-apapun selain dokter ...," gumam (Name), "kumohon."

Hanya satu kesimpulan yang bisa mereka ambil saat itu.

"Nee-san," panggil Saburo memulai, "kau takut dengan dokter?"

(Name) terdiam, namun pada akhirnya mengangguk kecil.

"Jika disuruh memilih, aku lebih memilih berhadapan dengan laki-laki ketimbang berhadapan dengan dokter, baik dokter laki-laki ataupun perempuan," ungkap (Name).

"Tapi kondisi Nee-san akan semakin parah jika tidak dibawa ke dokter," ucap Jiro.

Ichiro terdiam, sampai sebuah solusi muncul di kepalanya.

"Nee-san, aku mengenal dokter yang terpercaya, dia laki-laki tapi dia terkenal di dunia kesehatan," jelas Ichiro, "aku akan menemani Nee-san selama pemeriksaan sampai selesai, bagaimana?" tawar Ichiro.

(Name) menggeleng, dan membuka mulutnya perlahan.

"Jika Nee-san menolak, kami justru akan semakin kerepotan," potong Saburo.

(Name) langsung menutup mulutnya, dan akhirnya mengangguk pelan.

"Baiklah, bawa aku ke dokter—jika itu tidak membuat kalian kerepotan."

[][][]

Namun hal diluar dugaan terjadi dalam perjalanan. Kondisi (Name) semakin parah membuat Ichiro semakin panik dan saat sampai di rumah sakit Shinjuku, Ichiro langsung menggendong (Name) dan melangkah cepat menuju ruang praktik Jakurai, mengabaikan teguran suster ataupun resepsionis.

"Sensei, tolong bantu aku!"

Jakurai yang sedang berhadapan dengan pasien lain, menoleh ke arah pintu dimana Ichiro sedang berdiri disana—dengan menggendong (Name) yang setengah sadar.

"Ichiro-kun?" heran Jakurai, "siapa yang kau bawa di punggungmu?"

"(Name)-neesan, dari pagi dia demam, dan sekarang kondisinya semakin parah."

"(Surname)-san?"

Kali ini suara baru menarik perhatian, termasuk (Name) yang berada di ambang kesadaran.

"Doppo-san?" sahut (Name).

"Doppo-kun, kau mengenal perempuan itu?" tanya Jakurai.

Doppo, yang ternyata sedang dalam jadwal kunjungannya dengan Jakurai hanya mengangguk.

"(Surname)-san adalah manajer dari perusahaan yang bekerja sama dengan perusahaan tempat aku bekerja, aku sudah bertemu dengannya beberapa kali saat perusahaan kami sedang melakukan rapat bersama," jelas Doppo.

"Jadi sensei," ucap Ichiro, "bisakah kau memeriksa keadaan Nee-san?"

"Sensei, maaf jika terdengar egois—tapi aku tahu (Name)-san adalah orang yang baik, jadi tolong periksa dia terlebih dahulu."

Jakurai terdiam, dan akhirnya mengangguk.

"Ichiro-kun, tolong baringkan (Name)-san di atas kasur yang ada disana."

"Baik, sensei."

[][][]

Perlahan (Name) membuka matanya, dan menyadari kini dia sudah berada di dalam mobil yang Ichiro bawa.

"Ah, Nee-san sudah sadar?" tanya Ichiro yang berada di kursi kemudi, sementara (Name) terbaring di kursi belakang.

"Ini... dimana?"

"Kita dalam perjalanan pulang, sensei sudah selesai memeriksa keadaan Nee-san, dan sensei bilang Nee-san demam tinggi, dan harus istirahat total setidaknya selama seminggu. Sensei juga sudah memberikan obat untuk Nee-san."

"Begitu... ya?"

"Perjalanan kita masih lama, Nee-san, lebih baik Nee-san kembali istirahat," ucap Ichiro.

(Name) tidak mengatakan apa-apa lagi, matanya yang setengah terbuka kini kembali tertutup, dan (Name) kembali terlelap. Ichiro yang menyadari sang kakak sudah kembali terlelap hanya bisa menghela napas, dan pegangannya pada setir menguat.

Apa yang Jakurai jelaskan pada Ichiro, kembali terngiang di kepalanya.

<><><>

"Jadi bagaimana keadaan Nee-san, sensei?" tanya Ichiro.

"Sebelum aku menjelaskannya, bisakah kau ceritakan padaku apa yang (Name)-san lakukan selama beberapa hari terakhir?" pinta Jakurai.

Akhirnya Ichiro menjelaskan kondisi (Name) sejak awal bertemu dengan Yamada bersaudara, serta keadaan (Name) yang canggung dengan laki-laki. Diluar dugaan, Doppo juga ikut menjelaskan betapa sibuknya perusahaan (Name) setiap harinya.

"Jadi begitu," gumam Jakurai mengangguk kemudian mulai menuliskan sesuatu di kertas, "Ichiro-kun, dugaanku (Name)-san jatuh sakit karena stres yang membebani pikirannya. (Name)-san tidak memiliki kondisi bahaya lainnya, dia hanya terkena demam tinggi."

Jakurai kemudian memberikan kertas tersebut pada Ichiro.

"Ambillah obat ini terlebih dahulu, aku menyarankan untuk di rawat inap. Tapi pilihan bagus lainnya adalah (Name)-san dirawat di lingkungan yang dia kenali agar rasa stresnya cepat hilang. Diusahakan selama dia dirawat, jangan buat dia stres—karena stres itu sendiri bisa memperparah keadaan seseorang."

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro