Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

CHAPTER 1

(Name) menghela napas panjang, sebelum akhirnya berjalan keluar dari rumah barunya, rumah Yamada bersaudara.

'Tak disangka aku benar-benar menjadi kakak mereka bertiga,' pikir (Name) menutup pintu rumah kemudian berjalan menjauhi rumah Yamada bersaudara, 'ya, walaupun hanya trial.'

Kemudian ingatan atas kejadian kemarin kembali terngiang di dalam kepala (Name).

<><><>

"K-k-k-k-k-k-kakak!?" pekik (Name) memandang sang bos.

"Huh, apa kau lebih memilih menjadi yang lain?" tanya sang bos mengangkat sebelah alisnya.

Pipi (Name) memerah, dan dia langsung menggeleng.

"Bos, kau tidak bisa melakukannya seenaknya!"

"Oh, benar," ucap Harrison lalu menatap Yamada bersaudara, "apa kalian mau menerima (Nickname) sebagai kakak angkat kalian? Aku akan membayar kalian tiap bulan selama (Nickname) menjadi kakak kalian, bagaimana?"

"Dari ucapanmu, sepertinya (Surname)-san hanya akan menjadi kakak angkat kami dalam waktu yang sebentar, benar?" tanya Saburo.

"Tergantung situasi dan kondisi nantinya," jawab Harrison tersenyum.

"Tapi, kenapa harus kami?" tanya Ichiro.

"Karena kalian menerima jenis pekerjaan apapun, kan?" tanya Harrison kembali.

"U-uhm, kalian bisa menolaknya," ucap (Name) sedikit panik, "Mr. Harrison memang suka berbuat seenaknya, jadi tolong maklum atas sikapnya."

"Oh, atau kalian mau mencoba trial-nya dulu?" tanya Harrison, "cepat atau lambat (Nickname) akan tahu alasanku meminta kalian menjadi keluarganya, atau lebih tepatnya—dia menjadi keluarga kalian."

Harrison mengeluarkan selembar cek, kemudian menulis sejumlah nominal uang, kemudian memberikannya pada Ichiro.

"Untuk trial, apa ini cukup? Selama trial, (Nickname) akan tinggal bersama kalian selama seminggu, setelah itu keputusan berada di tangan kalian, mau menerima tawaranku atau tidak."

"Mr. Harrison! Setidaknya Anda perlu izin dariku juga!!"

<><><>

Tentu saja (Name) langsung diberi libur pada hari ini agar dia bisa membawa barangnya untuk menginap selama seminggu di rumah Yamada bersaudara. Setelah membawa barang-barangnya ke rumah Yamada bersaudara, mereka kembali pada aktivitas biasa mereka, kecuali (Name) yang menganggur di rumah, yang pada akhirnya memutuskan untuk berbelanja bahan makanan di supermarket terdekat.

"Seminggu bersama Yamada bersaudara," gumam (Name), "semoga saja tidak terjadi yang tidak-tidak selama seminggu ini."

Namun perhatian (Name) langsung teralihkan oleh laki-laki yang berdiri tak jauh darinya, yang dari jaketnya dapat (Name) tebak adalah Ichiro. Sementara Ichiro sendiri menyadari kehadiran (Name) yang semakin dekat padanya.

"Oh, aku ingin pergi ke supermarket," jawab (Name) menunduk dengan pipi yang sedikit memerah, "setidaknya aku harus membeli bahan makan selama aku menginap di rumah kalian. Oh, dan jika kalian tidak keberatan, aku juga akan memasak makan malam."

"Eh, tidak perlu repot-repot, Nee-san," sahut Ichiro, "lebih baik gunakan uang Nee-san untuk keperluan Nee-san, lagipula uang yang diberikan Tuan Harrison cukup banyak—"

Tiba-tiba (Name) mengangkat kepalanya, dan meletakkan kedua tangannya di bahu Ichiro, mengagetkan Ichiro pastinya.

"Tapi setidaknya izinkan aku melakukan ini karena aku sudah banyak merepotkan kalian!" ucap (Name) dengan lantang, semakin mengagetkan Ichiro.

"... em, Nee-san?" panggil Ichiro.

(Name) terdiam, dan perlu beberapa detik baginya untuk menerima semua informasi kejadian yang terjadi, yang tentu saja membuat (Name) langsung melepaskan kedua tangannya dari bahu Ichiro lalu kembali menunduk. Kali ini wajah hingga telinganya ikut memerah sampai Ichiro dapat membayangkan asap yang keluar dari kepala (Name).

"M-maafkan aku, Yamada-san!" ucap (Name) masih menunduk, "t-tapi aku serius mengenai ucapanku tadi, j-jadi kumohon jangan larang aku."

Ichiro memandang (Name) yang berdiri di depannya dengan sedikit heran.

'Berbeda sekali dengan Nee-san saat di kantor tadi pagi,' batin Ichiro.

"Kalau begitu, izinkan aku menemani Nee-san," sahut Ichiro, "setidaknya Nee-san tidak akan bingung bahan apa yang harus dibeli untuk kami bertiga jika ada aku, kan?"

(Name) terdiam sejenak, sebelum akhirnya mengangguk.

"K-kalau begitu, mohon bantuannya, Yamada-san."

[][][]

"Nee-san."

"Y-ya?"

Kini mereka berdua sudah selesai berbelanja, dan sedang dalam perjalanan pulang ke rumah. Selama di dalam supermarket, Ichiro merasa sedikit terganggu dengan (Name) yang tampak menjaga jarak dengannya sampai sekarang.

"Apa kau takut dengan laki-laki?"

"Eh, tentu saja tidak!" ucap (Name), "yang takut dengan laki-laki itu kouhai-ku dan teman masa kecilku," gumam (Name) kemudian.

"Kalau begitu, kenapa Nee-san menjaga jarak dariku?" tanya Ichiro, "apa aku melakukan sesuatu atau kesalahan?"

(Name) berhenti, kemudian memandang Ichiro yang tanpa sadar sudah mendahuluinya.

"Kau... menyadarinya?"

Ichiro ikut berhenti, kemudian menoleh ke belakang, ke arah (Name).

"Tentu saja," jawab Ichiro, "apa aku melakukan sesuatu yang salah?"

(Name) menggeleng.

"Apa kau ingat ucapan Mr. Harrison yang mengatakan bahwa cepat atau lambat aku akan mengetahui alasan beliau meminta kalian jadi adik-adikku?"

Ichiro mengangguk, dan kali ini (Name) mendekat, tapi hanya untuk tiga langkah. Melihat sang kakak yang hanya maju sedikit itu membuat Ichiro memandangnya dengan heran.

"Selain dalam pekerjaan, aku sangat canggung menghadapi laki-laki."

Ichiro berkedip beberapa kali, dan membuka mulutnya.

"Sudah kubilang bukan phobia," potong (Name) menggeleng, namun tak bisa menahan diri untuk tersenyum.

"Lalu kenapa Nee-san bisa menjadi canggung? Apa terjadi sesuatu?"

"... apa kau keberatan jika kuceritakan masa laluku?"

"Selama Nee-san merasa tidak keberatan, aku siap mendengarkan."

"Sebenarnya," ucap (Name) menarik napas, "aku bersahabat dengan anak Mr. Harrison, dan Mr. Harrison sendiri adalah teman dekat dari mendiang kedua orang tuaku."

'Mendiang ...,' pikir Ichiro.

"Apa kau memikirkan kenapa aku memanggil kedua orang tuaku mendiang?" tanya (Name) seolah sadar dengan apa yang Ichiro pikirkan, "mereka meninggal saat umurku 18 tahun."

Ichiro hanya bisa diam mendengarkan, dan (Name) mulai berjalan ke sebelah Ichiro dan mereka melanjutkan perjalanan mereka ke rumah.

"Aku akan ceritakan masalah orang tuaku di lain hari," ucap (Name) terkekeh, "karena mendiang orang tuaku dan Mr. Harrison sudah saling mengenal sejak mereka sama-sama memulai perusahaan dari nol, jadi aku dan anaknya dekat sejak kami kecil."

"Begitu ya? Lalu?"

"Namun saat umur 15 tahun temanku sempat diculik, dan aku tidak tahu apa yang terjadi, karena begitu dia selesai diselamatkan, dia jadi androphobia," sambung (Name), "aku tak bisa memikirkan skenario terburuk selain memikirkan bahwa temanku ini hampir diperkosa saat diculik," ungkap (Name).

Ichiro terdiam, tidak tahu untuk merespons apa mengenai cerita (Name).

"Mungkin pengaruh psikologi dekat dengan temanku itu membuatku sempat membenci semua laki-laki," ungkap (Name) tertawa kecil, "itu hanya berlangsung sesaat, karena rasa benci itu berubah menjadi rasa canggung pada laki-laki, atau lebih tepatnya, aku jadi terlalu berhati-hati pada laki-laki."

(Name) menarik napas panjang.

"Aku tidak bisa begini terus, sementara teman masa kecilku ini sudah berjuang dengan melakukan terapi sebisanya," ungkap (Name), "oleh karena itu Mr. Harrison menawarkan pada kalian untuk menjadi keluargaku sampai aku tidak canggung lagi dengan laki-laki."

(Name) mengela napas lalu menatap Ichiro.

"Maaf jika ceritaku membosankan—"

"Tidak kok," potong Ichiro, "terima kasih sudah memberitahuku alasannya, Nee-san."

(Name) terdiam, menatap Ichiro yang tersenyum padanya, dan (Name) sendiri membalas senyuman Ichiro dengan senyum kecil.

"Sama-sama."

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro