Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

satu

Dami tahu hari-hari terakhirnya bekerja di perusahaan itu akan sulit, tapi dia tidak menyangka Park Yena akan membuatnya semakin berat.

Sejak Dami memutuskan untuk mengundurkan diri, Yena tidak berhenti menunjukkan ketidaksukaannya. Bukan dengan kata-kata, melainkan dengan sikap yang semakin menyebalkan. Setiap kali mereka melewati lorong kantor, Yena selalu memastikan bahu mereka bertabrakan. Kadang-kadang hanya sekadar sentuhan kecil, namun cukup keras untuk membuat Dami merasa tidak nyaman.

Pekerjaan yang seharusnya sudah lebih sedikit, ini malah Yena tambahkan sehingga semkain banyak yang harus Dami lakukan. "Kau harus menyelesaikan ini pada hari ini juga."

"Geunde, Sunbaenim. Hari ini aku ada deadline dari Pak Min. Tak bisakah besok?" Sejujurnya Dami sudah lelah sekali, tapi dia masih berusaha untuk berbicara dengan pelan, sopan, dan halus walaupun siapapun pasti menyadari betapa lelahnya dia dari nadanya.

"Aku tak mau tau."

Begitulah keseharian Dami selama ini.

Awalnya, Dami berusaha mengabaikan perilaku itu. Dia mencoba meyakinkan dirinya bahwa Yena hanya marah karena tak ada lagi yang bisa dimanfaatkan untuk mengerjakan tugas-tugasnya. Dami sudah lama tau bahwa Yena sering kali memberikan pekerjaan pada orang lain, terutama dirinya. Saat Yena berlagak sibuk atau tertekan dengan deadline, Dami yang dengan patuh menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan yang bukan bagiannya, hanya demi menjaga hubungan baik. Tapi kini, setelah Dami menyerah pada situasi itu dan memilih pergi, Yena tidak lagi bisa memanfaatkannya. Itu, Dami yakin, yang menjadi alasan Yena semakin jadi.

Suatu hari, puncaknya terjadi saat Dami sedang berjalan keluar kantor. Park Yena, yang datang dari arah berlawanan, menabraknya begitu keras hingga tas Dami jatuh ke lantai. "Oh, mian," kata Yena dengan nada sinis, tanpa usaha sedikit pun untuk membantu. Darah Dami mendidih, tapi dia menarik napas dalam-dalam dan memungut tasnya. Ia tetap diam, meski dalam hatinya, amarahnya sudah mendesak ingin keluar.

Dami tentu tau dia harus melakukan sesuatu, tapi tidak bisa. Setiap kali Yena berusaha mengganggunya, Dami hanya diam dan menunduk. Dia tidak ingin ada drama, tidak ingin ada masalah baru. Tapi perlahan, sikap Yena mulai mempengaruhi pekerjaannya. Fokusnya terpecah, stresnya meningkat, dan ia sering kali pulang dengan kepala penuh tekanan. Ia tak bisa lagi berdiam diri.

Kini, tinggal sehari lagi sebelum dia benar-benar selesai dengan semuaini. Dami duduk di pojok belakang bus, punggungnya menempel pada jendela yang bergetar pelan setiap kali bus melewati jalan berlubang. Ia menatap keluar jendela, tetapi pandangannya kosong. Di telinganya, suara teman baiknya terdengar pelan melalui earphone.

"Jadi, dia benar-benar tabrakin bahu kau lagi?" suara Jian terdengar serius di ujung telepon.

Dami hanya menghela napas. "Iya. Udah berulang kali. Setiap lewat, sengaja aja gitu. TIdak keras, tapi cukup buat bikin aku hilang keseimbangan."

Jian terdiam sesaat, lalu berkata, "Kenapa nggak kau bilang sesuatu? Atau laporin ke HR?"

Dami menggeleng pelan, meskipun Jian tak bisa melihat. "Aku tidak ingin ribut. Aku tinggal satu hari lagi di kantor itu. Tidak worth it."

"Geunde Dami-ya, kalau terus begini, kau yang akan terluka," Jian mendesah, suaranya terdengar prihatin. "Dia jelas marah karena tidak ada yang bisa dimanfaatin lagi. Itu bukan salah kau."

Dami tersenyum getir. Ia tau Jian benar. Park Yena memang selalu bergantung padanya untuk menyelesaikan pekerjaannya, dan ketika Dami memutuskan untuk keluar, Yena mulai menunjukkan ketidaksukaannya dengan cara yang semakin terang-terangan. Tabrakan bahu yang disengaja, tatapan sinis, komentar sinis yang dilontarkan di belakangnya. Semua itu mulai memengaruhi emosinya, meskipun Dami berusaha keras untuk tidak peduli.

"Ya, tapi aku cuma mau ini selesai dengan tenang. TIdak ingin meninggalkan drama apa-apa," kata Dami, suaranya rendah. Bus berhenti di lampu merah, dan dia merasa semakin berat dengan suasana itu. "Aku cuma ingin cepat-cepat pergi dari sana."

Jian tidak menanggapi langsung. Ia tau Dami terlalu sering menahan diri, membiarkan orang lain menginjaknya tanpa memberikan reaksi. "Kalau kamu butuh cerita lagi, kau tau aku selalu ada, kan?" suara Jian penuh kehangatan dan dukungan, sesuatu yang Dami hargai lebih dari apa pun saat ini.

"Gomawo, Jo Jian," jawab Dami pelan, matanya berkaca-kaca tanpa ia sadari.

Ketika bus akhirnya berhenti di halte dekat rumahnya, Dami turun tanpa terburu-buru. Udara malam yang dingin menyapanya, namun ia tak merasakannya. Ia berjalan pelan menuju pintu depan rumahnya, membiarkan telepon dengan Jian berakhir tanpa banyak kata perpisahan. Ketika akhirnya berada di dalam rumah, Dami berdiri di depan cermin yang tergantung di ruang tamu.

Matanya menatap bayangannya sendiri. Wajahnya terlihat lelah, lebih lelah dari yang pernah ia sadari. Tapi bukan itu yang menarik perhatiannya. Tangan kirinya terangkat, jemarinya menyentuh bekas luka samar di pergelangan tangan kanannya. Luka yang sudah lama sembuh, tapi masih terasa perih setiap kali dia mencoba mengingat asal-usulnya. Sampai sekarang ia tidak ingat kenapa bekas luka samar itu ada. Apa yang sudah terjadi padanya. Sangho juga tidak menjawab kala Dami bertanya.

Dengan sentuhan lembut, Dami mengelus bekas luka itu. Apakah dulu ia dulu berpikir rasa sakit fisik bisa menghapuskan rasa sakit emosionalnya?

Dia menarik napas panjang, mengalihkan pandangannya dari cermin. Meskipun dia tahu dia harus melangkah maju, beratnya hari-hari terakhir ini membuatnya merasa seolah terjebak di tempat yang sama, berkutat dalam lingkaran emosi yang tidak pernah berakhir.

[TBC]

----------

10 Oktober 2024

mari kita anggap ini adalah hadiah di flash sale hari ini hehehe pembuka sebelum akhirnya nanti sabtu or minggu aku update part terbarunya!

see you later, guys! have a nice day!

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro