Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

empat

Setelah kecelakaan yang dialami Sangho, dunia Dami dan Seungjae seolah terbalik. Kecelakaan itu bukan hanya membuat Sangho terpaksa beristirahat total di rumah sakit, tapi juga memaksa Dami dan Seungjae menghadapi kenyataan bahwa Sangho tidak akan bisa bekerja seperti biasa untuk waktu yang cukup lama.

Sangho dirawat dengan luka parah di kaki dan tangannya. Dokter yang merawatnya memberitahukan bahwa ia perlu menjalani rawat inap setidaknya selama satu bulan, karena luka-luka di tulangnya memerlukan pemantauan ketat untuk memastikan proses penyembuhan berjalan dengan baik. Setelah itupun, Sangho tetap tidak bisa langsung kembali bekerja dengan penuh kapasitas. Hanya satu penulis yang bisa ia tangani, dan itu pun penulis pemula setelah Sangho dan perusahaan berbicara.

Seungjae, yang merupakan salah satu penulis utama di bawah bimbingan Sangho, menghadapi dilema besar. Tidak ada manajer lain yang mau menangani Seungjae karena kepribadiannya yang sulit ditebak dan cenderung menuntut. Sangho selalu bisa menanganinya dengan baik, tetapi sekarang, pilihan siapa yang akan menjadi manajernya menjadi terbatas.

Dalam kondisi seperti ini, Sangho berusaha mencari solusi. Meski terbaring di ranjang rumah sakit, pikirannya terus berputar. Ia sadar bahwa Dami, adiknya, adalah satu-satunya orang yang bisa ia percayakan untuk sementara. Tapi, Sangho tahu ini bukan tugas yang mudah, dan Dami mungkin akan merasa terbebani.

Dami memang merasakan keraguan yang besar ketika Sangho memintanya untuk menggantikannya sementara menjadi manajer Seungjae. Meski Sangho dan Dami memiliki hubungan dekat sebagai kakak-adik, Dami tahu bahwa pekerjaan sebagai manajer Seungjae bukanlah pekerjaan ringan. Seungjae dikenal keras kepala dan cenderung bekerja tanpa henti, bahkan ketika tubuhnya sudah menunjukkan tanda-tanda kelelahan seperti saat ia pingsan di apartemennya.

"Oppa, aku tidak yakin bisa," kata Dami pelan, sambil duduk di kursi dekat ranjang Sangho di rumah sakit. "Kau tahu aku sulit untuk bersosialisasi dengan orang lain."

Sangho menghela napas panjang, mencoba duduk lebih tegak meski gerakan itu menyakitkan. "Aku tahu, Dami-ya. Tapi aku tidak punya pilihan lain. Kau satu-satunya orang yang bisa aku percaya sekarang. Dia butuh seseorang yang bisa mengawasinya dengan baik, dan aku yakin kau bisa melakukannya."

Dami terdiam. Ia menatap kakaknya yang terbaring lemah, dipenuhi perban di beberapa bagian tubuhnya. Luka-luka yang dialami Sangho tampak begitu nyata, dan itu membuat Dami merasa tertekan. Rasa tanggung jawab mulai membebani pundaknya.

Sangho menyadari kebimbangan Dami, lalu dengan suara lebih lembut, ia berkata, "Buthak-iya, Dami-ya. Aku butuh bantuanmu kali ini. Kau tidak perlu melakukannya selamanya. Hanya sampai aku bisa kembali bekerja."

Mendengar permohonan kakaknya dalam kondisi seperti itu, Dami merasa hatinya melunak. Meski ia tahu ini adalah tugas yang berat, ia tidak bisa menolak permintaan Sangho. Rasa sayang dan tanggung jawab sebagai adik mendorongnya untuk mengambil keputusan. Setelah menghela napas panjang, Dami mengangguk pelan. "Arrasseo, Oppa. Aku akan coba."

Senyum tipis muncul di wajah Sangho, meski masih tampak lelah. "Gomapda, Dami-ya. Aku benar-benar berhutang padamu."

***

Dami masih tidak bisa percaya dengan keputusan yang ia buat ketika akhirnya ia berdiri di depan pintu apartemen Seungjae. Ini adalah kali pertama ia benar-benar menjadi manajer seseorang, dan bukan orang sembarangan—ini adalah Seungjae, penulis yang dikenal ambisius dan sulit diatur. Dami menggenggam tasnya erat-erat, mencoba menenangkan diri sebelum mengetuk pintu.

Ketika pintu akhirnya terbuka, Dami langsung disambut oleh tatapan Seungjae yang tajam namun penuh rasa penasaran. Wajah Seungjae tampak lusuh, namun senyumnya yang khas, sebuah senyum miring yang sedikit sinis, segera muncul di wajahnya.

"Ah, jadi kau manajer sementaraku?" kata Seungjae dengan nada bercanda, tetapi di balik nada itu, ada sesuatu yang tersembunyi. Seolah ia sudah merencanakan sesuatu di dalam kepalanya.

Dami hanya bisa mengangguk, merasa sedikit terintimidasi. "Iya... Kakakku memintaku untuk menggantikannya sementara," jawabnya dengan nada hati-hati. Dami bergidik ngeri melihat Seungjae sekarang, berpikir apakah ini orang yang sama dengan yang di rumah sakit kemarin itu.

Seungjae mengangkat alisnya dan tertawa kecil, suara tawanya terdengar ringan tapi penuh makna. "Hmm, aku mengerti. Jadi, kau akan mengawasi semua gerak-gerikku mulai sekarang?" Seungjae melangkah mundur sedikit, mempersilahkan Dami masuk ke apartemennya. "Silahkan masuk."

Dami merasa sedikit gugup saat memasuki apartemen Seungjae. Kali ini, barulah Dami bisa memperhatikan apartemen itu dengan seksama. Sebelumnya ia terlalu sibuk dengan Seungjae yang tiba-tiba pingsan.

Apartemen itu sederhana, tetapi ada kesan ketenangan dan kedalaman dari setiap sudutnya. Di meja ruang tamu, laptop Seungjae tergeletak terbuka dengan layar yang masih menyala, menunjukkan bahwa ia baru saja berhenti bekerja sebelum Dami datang.

Setelah Dami duduk di sofa, Seungjae masih berdiri di dekat meja, memperhatikan Dami dengan senyumnya yang sama. "Jadi, kau benar-benar mengambil alih pekerjaan Sangho hyung?" tanyanya, nada suaranya setengah serius, setengah mengejek.

Dami meneguk ludah, mencoba menjawab dengan tegas. "Aku hanya sementara, sampai Oppa sembuh."

Seungjae mendekati sofa dan duduk di seberangnya, menatap Dami dengan tatapan yang membuat suasana terasa semakin berat. "Kau tahu, Sangho hyung selalu bilang bahwa aku ini pekerja keras. Aku selalu mengejar deadline dan tidak akan berhenti sampai semuanya selesai."

Dami mengangguk, meskipun ia merasa ada sesuatu yang disembunyikan Seungjae di balik kata-katanya.

"Tapi sekarang," lanjut Seungjae sambil mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, "aku akan punya manajer baru yang mungkin tidak tahu betapa pentingnya semua itu bagiku. Kau tahu apa artinya, Dami?"

Dami merasa terjebak di antara keinginan untuk menjawab atau tetap diam. Ia bisa merasakan bahwa Seungjae mencoba mengujinya. Namun, sebelum ia sempat menjawab, Seungjae melanjutkan, "Itu artinya aku punya kesempatan untuk bersenang-senang sedikit."

Dami mengerutkan dahi, tidak yakin dengan maksud dari kata-kata Seungjae. "Apa maksudmu?"

Seungjae tersenyum lebih lebar kali ini, tapi senyum itu tetap terasa misterius. "Kita lihat saja nanti."

Dami menghela napas panjang dalam hati. Ini pasti akan menjadi perjalanan yang penuh tantangan. Meski begitu, Dami tahu bahwa ia sudah memutuskan untuk membantu kakaknya, dan apapun yang akan terjadi dengan Seungjae, ia harus menghadapinya. Terlepas dari betapa sulitnya Seungjae, Dami merasakan tanggung jawab besar untuk membuktikan bahwa ia bisa menjalankan peran ini, setidaknya sampai Sangho sembuh dan bisa kembali bekerja. Namun, dalam benaknya, Dami juga bertanya-tanya apakah ia benar-benar siap menghadapi semua ini—terlebih dengan Seungjae yang tampaknya memiliki rencana tersendiri untuknya.

Dan di sisi lain, Seungjae tampak menikmati setiap detik dari situasi ini.

[TBC]

----------

17 Oktober 2024

mantap ga tuh wkwkkwkw tiba-tiba jadi manajer Seungjae wkkwkw gimana nih kira-kira harinya Dami selama jadi pengganti Sangho sementara? semoga dia kuat ya ges kwkwkwk

btw tau kan ya Sangho rada keras gitu sama Dami. Jadi di pikiranku, yg cocok jadi Sangho adalahhhhhhhh jeng jeng jeng. YAP. Scoups wkwkwkwk

happy reading!

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro