Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

BERISIK!!

"Berisik!"

Estonia menutup telinganya dan bergegas meninggalkan perpustakaan kampus yang hari itu memang cukup ramai.

Semakin ia keluar, suara yang terdengar semakin berisik. Gerutuan, jeritan, tangisan, sumpah serapah. Semuanya terdengar begitu lantang hingga memekakkan telinganya. Belum lagi pikiran-pikiran kotor yang tidak jarang terselip di antara banyaknya suara yang memenuhi pendengarannya.

"Berisik!" Lagi, ia menutup telinganya dari pikiran orang-orang yang tengah mengamati. Mereka memang tidak mengeluarkan suara apa pun dari mulut, tetapi pikirannya berkoar-koar begitu gaduh.

"Wah, Eston-si-gadis-gila kumat lagi."

"Cantik, sih. Tapi aneh!"

"BERISIK!"

"Ampun, deh. Seseorang, tolong singkirkan gadis aneh itu dari sini!"

"Ke RSJ aja, sana!"

"Ih, cantik-cantik sinting."

Estonia selalu mengeluhkan betapa berisiknya dunia ini. Ia tidak melebih-lebihkan keluhannya tentang sebuah keberisikan. Pendengarannya sangat peka pada suara, bahkan untuk suara dari sebuah keterdiaman. Sebab, ia dapat mendengar pikiran orang-orang di sekitarnya.

Mungkin sebagian orang akan menganggap apa yang dialaminya adalah hal paling menakjubkan, tetapi baginya, itu kutukan. Kau bisa mendengar suara yang bahkan tidak keluar dari mulut seseorang. Kau dapat mendengar segala kebusukan dan sumpah serapah dari sana, bahkan dari orang paling baik sekali pun. Itu mengerikan!

Tetapi, berkat kutukan itu, ia jadi dengan mudah mengetahui siapa yang benar-benar tulus atau siapa yang membenci dan suka mengata-ngatainya. Bahkan ia pernah mendengar ada yang berkali-kali membuat skenario untuk membunuhnya. Siapa lagi kalau bukan pikiran saudara tirinya.

Estonia hidup di dalam keluarga yang berantakan, retak, atau apa pun kau menamainya. Ibu kandungnya kabur dengan lelaki lain ketika ia berusia dua belas tahun. Lalu, belum genap satu tahun, ayahnya menikah lagi dengan wanita beranak satu yang memang terlihat baik hati. Tetapi percayalah, Eston sering mendengar wanita itu mengumpat di dalam pikirannya.

Sementara itu, adik tirinya-Bela, adalah yang paling parah. Dia lebih muda setahun dari Estonia, sehingga anak biadab itu tidak pernah bersikap segan padanya, apalagi semenjak ayahnya meninggal dunia setahun yang lalu. Bela itu selaknatnya manusia dan ibunya adalah munafik yang sebenarnya. Eston sudah paham betul dengan pikiran mereka. Memuakkan!

Selain suara-suara penuh kebusukan di dalam rumah, ia juga harus berjuang dengan suara dari luar yang jauh lebih banyak dan beragam. Estonia sudah sangat lelah, delapan belas tahun hidup dalam kebisingan membuatnya terus merutuki hidupnya.

Estonia berlari masuk ke kamarnya dan meringkuk di dalam lemari-tempat favoritnya untuk sedikit meredam suara. Ia terus bergumam, berharap suara yang ia dengar hanya suaranya. Matanya terpejam, kedua tangannya menutupi telinga.

"Kumohon, diamlah!" desisnya bergetar. Hingga, tiba-tiba tidak ada suara lagi yang terdengar.

Ia membuka mata dan menurunkan tangannya-mencoba memastikan pendengarannya. Semua menjadi hening, sunyi, dan untuk pertama kalinya, Estonia dapat mendengar suara napas dan detak jantungnya sendiri. Sementara suara berisik dari pikiran orang-orang di sekitarnya tidak lagi terdengar. Apakah mereka semua berhenti berpikir?

Perlahan tangannya terulur untuk membuka pintu lemari dan hal pertama yang ia lihat kala itu adalah hutan. Ia tidak lagi berada di kamar ataupun di rumah, melainkan di sebuah tempat antah berantah. Kaki tanpa alasnya melangkah keluar lemari dan memandang ke sekitar. Hutan. Lemari itu menjadi satu-satunya benda yang berdiri di tengah hutan dengan banyak pohon-pohon besar. Tidak ada siapapun di sana, hanya ia dan kesendirian yang sunyi.

"Halo?" Ia bersuara namun tidak ada yang menyahut. "Halo!"

Hening. Sesuatu yang selama ini ia impikan akhirnya terwujud. Sebuah kesunyian. Estonia tidak bisa menghilangkan senyuman dari wajahnya tatkala menyadari hal tersebut. Kini, ia tidak perlu mengeluhkan tentang dunia dan keberisikannya.

Di tengah kegembiraannya, sebuah anak panah melesat lurus di hadapannya dan menancap di pohon di samping wajahnya. Hanya perlu satu sentimeter lagi hingga panah itu berhasil mengenainya. Estonia membeku di tempat saking terkejutnya. Tidak lama kemudian, seseorang menarik tangannya untuk bersembunyi di balik akar pohon yang besar hingga, mampu menyembunyikan mereka seutuhnya dari sesuatu yang langkahnya terdengar mendekat.

"Si-" Eston yang hendak bertanya, menjadi urung ketika orang yang menariknya, menutup mulutnya dengan tangan kekar berkulit sawo matang. Ia hanya bisa menatap lelaki berambut coklat gelap dan bermata hijau yang persis sama dengan miliknya. Laki-laki itu mengisyaratkan untuk tidak bersuara. Eston mengangguk mengerti.

Tidak lama kemudian, mereka berdua refleks menutup telinga tatkala terdengar suara bising, seperti ada ratusan manusia yang sedang berteriak secara bersamaan dengan nada yang berbeda. Sebuah suara yang tidak bisa ditolerir oleh pendengaran manusia.

Laki-laki di sampingnya itu langsung berdiri dan melesatkan sebuah anak panah ke asal suara dan seketika suara itu lenyap dengan bunyi benda berat yang menghantam tanah, tidak jauh dari tempat mereka berada.

Estonia mencoba mengintip, melihat apa yang sedang terjadi. Lelaki di sampingnya tersenyum puas. Ia mengisyaratkan untuk mengikutinya, mendekati benda yang tadi ia panah.

Estonia mengikuti, setengah berlari dengan kaki tanpa alas yang membuatnya kesulitan karena akar pohon yang menyembul dan terkadang bertekstur kasar melukai kakinya. Tetapi ia terus berusaha agar tidak ketinggalan.

Mereka berhenti di depan sebuah atau seonggok-entahlah, yang Eston lihat saat itu adalah makhluk aneh yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Tubuhnya besar, mungkin setinggi dua meter lebih, berwarna coklat tua dengan kulit bertekstur kasar. Sungguh mengerikan.

"Apa itu?" Sekali lagi Eston menanyakan hal yang sama.

"Kau juga bisa melihatnya?" Akhirnya laki-laki itu bersuara walau dengan volume pelan, nyaris berbisik.

"Tentu saja. Aku punya mata!"

Lelaki itu nampak kaget, beberapa saat sebelum akhirnya menjawab, masih berbisik. "Monster Suara."

"Monster Suara?" Eston membeo-mencoba meyakinkan dirinya, tetapi kemudian menggeleng. "Tidak. Tidak. Sebelum pertanyaan itu, sebenarnya ini di mana? Kau siapa?"

"Aku Lukas-pemburu Monster Suara. Kau sendiri, siapa? Apa yang kau lakukan di tengah hutan sendirian?"

"Aku Estonia. Aku juga tidak tahu kenapa bisa ada di sini." Eston terdiam tiba-tiba. Ia menatap Lukas dengan begitu lekat.

Lukas menatapnya bingung.

"Kau ... tidak memikirkan apapun? Maksudku, aku tidak mendengar suara pikiranmu!"

Sebelah alis Lukas terangkat.

"Ini hebat! Aku tidak mendengar apapun!"

Lukas bergegas menaruh telunjuk di depan bibir Estonia. "Jangan bicara terlalu keras. Berisik. Dewa akan marah!"

Eston diam dan mengangguk. Apakah dia harus berbicara dengan cara berbisik seperti yang pemuda itu lakukan?!

"Dari mana kau berasal?"

Estonia menunjuk ke arah di mana seharusnya ada lemari kayunya di sana, tetapi yang ia lihat hanya pepohonan dan beberapa semak belukar. Ia melirik sekeliling dan tidak menemukan lemari itu.

"Apa yang kau cari?" tanya Lukas-semakin bingung. Tetapi sebelum sempat Eston menjawab, suara langkah kembali terdengar dan disambut suara berisik seperti sebelumnya.

Lukas memberikan sebuah sumpalan kecil dari kayu yang dilapisi kapas pada Eston dan mengintruksikan untuk menyumbat kupingnya dengan benda itu.

Estonia mengikuti perintahnya, lalu lukas kembali menariknya untuk bersembunyi. Tidak lama, mereka melihat Monster Suara muncul dari balik hutan gelap. Lukas segera mengambil ancang-ancang untuk memanahnya, tetapi meleset. Monster itu mengetahui keberadaan mereka dan suaranya semakin berisik.

Lukas memberikan salah satu dari dua pedangnya kepada Estonia dan lagi, memberi kode menyerang tanpa suara.

Estonia yang pertama kali memegang pedang, langsung gelagapan, tetapi ia menguatkan tekat dan berlari mengikuti Lukas yang menerjang ke depan. Lukas mengayunkan pedangnya, mengecoh gerakan monster yang nampak lambat itu. Lalu ia berhasil menyayat kakinya.

"Potong lehernya!" Lukas mengisyaratkan dengan gerakan tangan seperti menggorok leher. Estonia langsung menurutinya; menggenggam pedangnya sekuat tenaga, dan menebas monster yang sudah tersungkur. Matanya refleks tertutup ketika darah berwarna hitam dari monster itu mengenai wajahnya.

Lukas memberi jempol. Ia menghampiri Estonia yang masih berdiri membeku dengan mata tertutup.

Sekarang, semua kembali hening. Gadis berambut hitam dengan kulit kuning langsat itu kembali membuka mata. Ia menjatuhkan pedangnya dan memandang Lukas yang tersenyum penuh kebanggaan padanya.

"Sebenarnya, apa yang sedang terjadi?" tanya Eston, berbisik.

Lukas yang awalnya diam, akhirnya menghela napas dan bercerita kalau mereka berada di Negeri Tinsel- negeri kesunyian, yang melarang penduduknya bersuara keras. Namun, saat ini sedang diteror oleh Monster Suara yang suka menjerit hingga, mampu memecahkan gendang telinga. Mendengar hal itu membuat Eston langsung membenci Monster Suara.

"Hanya orang-orang tertentu yang bisa melihat Monster Suara dan biasanya mereka akan ditugaskan menjadi pemburu. Salah satunya adalah aku," ucap Lukas. "Tapi sepertinya kau juga berbakat karena bisa melihat mereka."

"Apakah aku juga boleh menjadi pemburu?" Estonia tampak antusias.

Dunia tanpa suara adalah dunia impiannya. Tapi malah diteror oleh monster super berisik itu, tentu membuat hasratnya untuk memusnahkan mereka menjadi bergejolak.

"Tentu saja!" seru Lukas penuh keyakinan, "kita bisa melakukannya bersama. Apalagi belakangan ini mereka sering muncul dan mengganggu desa."

Estonia semakin bersemangat. Ia akan menyelamatkan dunia yang damai ini dari ancaman suara berisik. Bahkan ia sudah tidak peduli bagaimana bisa ada di negeri itu dan tidak pula memikirkan cara untuk kembali pulang. Ia merasa memang di sanalah harusnya berada. Tanpa kebisingan pikiran orang-orang di sekitarnya.

Mungkin inilah cara Tuhan menyelamatkannya, dan ia akan menyelamatkan kesunyian ini.

"Tolong biarkan aku berburu bersamamu!" bisiknya.

**

Estonia tidak pernah merasa sebebas ini sebelumnya. Seakan ada belenggu dalam dirinya yang akhirnya terlepas. Jika di tempatnya dulu ia harus menahan diri dan tidak bisa melakukan apapun pada sumber suara yang memekakkan telinganya, maka kali ini ia bisa melakukannya. Ia bisa melenyapkan Monster Suara untuk menjaga ketentramannya. Untuk menyelamatkan negeri yang menghargai sebuah kesunyian.

Mereka berdua lari menerjang kerumunan yang sedang meringkuk menutup telinga. Monster Suara kembali memasuki desa dan kali ini bukan hanya satu tapi sangat banyak hingga suaranya menggetarkan tanah di bawah sana. Mereka harus menebalkan penutup telinga untuk menahan suara yang bisa membuat telingamu berdarah atau membuat kepalamu berdenyut sakit.

Saat itu bukan hanya mereka yang datang, tetapi ada banyak pemburu lain yang ikut menolong. Estonia menggenggam pedangnya dengan sangat erat dan menunggu kode dari Lukas untuk menyerang.

Jemari pemuda yang lebih tinggi darinya itu mengisyaratkan untuk maju dalam hitungan tiga. Jantungnya semakin berdetak kencang, ia menelan ludah-bukan gugup, tapi terlalu bersemangat. Hingga hitungan ketiga, ia lari mengikuti Lukas. Mereka mengayunkan pedang sekuat tenaga, lalu berkelit menghindari serangan monster itu.

Estonia yang memang masih pemula, sering kali terjatuh saat menghindar dan sesekali hampir diinjak monster itu, untung saja Lukas yang cekatan selalu sigap menolongnya.

Mereka bekerja sama dengan sangat baik, semua berkat Eston yang memang cerdas dan selalu tenang dalam menghadapi situasi apapun. Ketika Lukas mencoba menarik perhatian monsternya, maka Eston akan mencari celah untuk menusukkan pedangnya yang tajam pada monster itu.

Satu persatu mulai tumbang dalam perang yang begitu hening. Membuat senyuman semakin terkembang di bibir Estonia. Bahkan ia tidak peduli betapa banyaknya darah hitam yang mengotori kemeja putihnya. Semakin banyak monster yang ia tumbangkan, maka semakin berkurang pula suara berisik yang ia dengar. Ini sungguh menyenangkan.

Sekarang, mereka dan beberapa pemburu yang masih bertahan, tengah berdiri di depan monster terakhir, monster paling besar dari yang lain. Tentunya juga memiliki suara berisik yang jauh lebih menyebalkan. Seperti suara ratusan orang yang tengah berteriak dan marah-marah dengan perkataan yang tidak jelas.

Mereka maju bersamaan tanpa sorak komando. Begitu hening dan sunyi. Hanya suara pedang dan monster itu yang terdengar. Anak panah melesat begitu banyak bagai hujan, mencoba mengincar matanya. Sementara ahli pedang terus menyayat dan menusuk tubuh monster yang bisa mereka jangkau. Begitu pula dengan Estonia yang semangat meski napasnya sudah berat. Ia menebas dan menusuk sekuat yang ia bisa. Genggamannya semakin mantap, senyumannya terus melekat.

Hingga suara itu menghilang bersamaan dengan monster terakhir yang tumbang.

Semua pemburu berdiri mengelilingi mayat monster yang tertelungkup bersimbah darah. Mereka saling manatap dalam diam, lalu akhirnya tersenyum penuh kemenangan. Begitu juga dengan Eston yang ikut bergembira. Pedang berlumuran darah masih tergenggam di tangannya. Ia mengatur napas yang memburu.

Sekarang, semua benar-benar hening. Menikmati kemenangan dalam ketenangan.

"Eston!" Lukas menghampiri dan menutup mata Estonia dengan tangannya. Gadis itu sontak mengenyahkan tangan itu, tetapi ketika ia kembali membuka mata, pemandangan pertama yang ia lihat adalah darah merah yang memenuhi ruangan. Ruang tamu di rumahnya.

Estonia terdiam dan membelalak. Ia melirik tangannya yang menggenggam pisau pemotong daging yang sudah memerah karena darah. Lalu di bawah kakinya, di hadapannya, di sekelilingnya, bergelimpangan mayat yang ia kenali sebagai ibu dan adik tirinya serta beberapa orang yang ia yakini sebagai tetangganya.

Pisaunya jatuh ke lantai, lalu Estonia tersenyum ketika sadar bahwa tidak ada lagi suara berisik yang mengganggu pendengarannya. Semua menjadi begitu sunyi.

"Ini menyenangkan," ucapnya dengan telinga yang perlahan mengeluarkan darah segar. "... ketika semuanya menjadi sunyi."

🌿🌿🌿 Selesai 🌿🌿🌿

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro