Chapter 35
Holaaaa
Saya mau share lagu Romantis sepanjang masa aliran Glam Metal nih
Teman temin saya saranin denger lagu ini sambil baca chapternya.
Soalnya liriknya pas banget, apa lagi waktu intro "I wanna lay you down in the Bad of Roses."
Duh baper saya kalo ada yang nyanyiin lagu ini buat saya #Curcol
Bad of Roses by Bon Jovi
Happy reading everyone
Enjoy this chapter
Hope you like it
❤❤❤
______________________________________
Forget the butterflies
I feel the whole zoo
When I am with you
•Anonim•
______________________________________
Jakarta, 25 Januari
10.41 p.m
"Jayden aku nggak bisa nafas."
"Hm."
Ia melonggarkan pelukan ala beruangnya.
"Jayden..."
"Jayden..."
"Jayden, aku nggak bisa tidur."
Ia berdecak, "please, aku jet lag. Cuma pengen tidur sambil meluk kamu."
"Tapi..."
"Ssssttttt. Tidur." Titahnya, ngeratkan pelukan ala beruangnya lagi.
Jayden bodoh!!! Mana katanya yang jangan masuk kamar cowok sembarangan? Sekarang ini apa?
Jayden bodoh!! Mana bisa aku tidur?!!! Menetralkan detak jantung atau sekedar bernapas normal saja aku tidak bisa, apa lagi tidur sekasur dalam pelukannya seperti ini? Sedangkan setelah menjadikanku guling, napasnya mulai teratur dan sedikit mendengkur.
Sudah dua jam aku meminum obat pereda flue tapi belum ada tanda - tanda mengantuk sedikit pun. Aroma mint Jayden yang tercium harusnya dapat menenangkan, tapi malah sebaliknya. Jantungku rasanya jumpalitan, kupu - kupu dalam perutku berterbangan. Ah, lupakan soal kupu - kupu, rasanya semua hewan dalam kebun binatang berlarian kesana kemari. Demamku bertambah parah padahal AC dalam kamar sudah kusetel dingin maksimal. Sungguh, obat itu tidak ada gunanya sama sekali.
Aku berusaha memejamkan mata, menenggelamkan wajah pada dada bidangnya. Hembusan napas Jayden terasa di atas rambutku. Karena penasaran aku memberanikan diri mendongak melihat wajah tidurnya.
He's gorgeous as always, bahkan imut ketika tidur. Aku perhatikan lekat - lekat alis sebelah kirinya ada yang botak memanjang, seperti bekas luka jahitan yang rambutnya tidak dapat tumbuh lagi. Itu menjadi ciri khas Jayden. Lalu bulu matanya panjang tapi tidak lentik. Hidungnya mancung sempurna. Bibirnya merah gelap. Ada beberapa jambang tipis yang sudah tumbuh.
Tanpa sadar aku mengelus rambut Jayden yang menutupi sebagian matanya, kuarahkan ke atas. Ia sama sekali tidak terusik dengan sentuhanku, saking nyenyaknya tidur.
Hampir sejam aku bertahan dalam posisi ini. Rasa ngantuk juga tidak kunjung datang. Sepertinya aku harus menghitung jutaan domba agar tidur.
Satu, dua, sepuluh, tiga ratus, seribu lima rabus...
Keesokan paginya...
Aku merasa ada getaran di bantalku. Aneh, kenapa bantalku bergerak? Karena sangat mengganggu, terpaksa mata lengketku terbuka.
"Morning baby. Sorry bangunin."
Mendengar suara itu aku reflek melotot menjauh dan bangun. Berusaha mencerna apa yang sedang terjadi dan setelah ingat aku lebih melebarkan lototan mataku. I was sleeping with him tonight!
Jayden menahan tawa sampai wajahnya memerah. Kenapa ia tertawa seperti itu? Ada yang aneh?
"Kamu ngiler," Ia menunjuk bagian kaos yang basah di dada kanannya, tempat aku tidur tadi dan pipi kiriku secara bergantian. Aku memegangnya, dan benar saja, basah.
Astatang! Bagaimana bisa aku ngiler?
***
"Sampe kapan mau nutupin muka kek gitu? Ayo sarapan di luar," kata Jayden setelah kami gantian mandi dan memakai baju casual. Ia menarik tanganku yang masih menutupi wajah karena malu.
"Malu..."
"Biasnya juga malu - maluin." Ucapnya enteng.
"Ish! Kapan?!"
Aku belum protes lebih lanjut ketika ia mendaratkan bibirnya di keningku dan berkata, "lupa belum morning kiss."
Aku yakin seribu persen blushing sampai wajahku merah. Tapi tampaknya Jayden tidak pedulli. Ia terus menggenggam tanganku sampi lobi apartment. Ralat, sampai tempat makan.
Kami jalan kaki ke warung tenda jualan bubur ayam tidak jauh dari apartementnya karena suatu keajaiban pagi ini aku sudah tidak demam lagi, kepalaku sudah tidak pusing seperti tadi malam. Badanku juga sudah tidak sakit semua seperti di pukuli orang se-Indonesia. I'm feeling well today.
Mangkuk di depan kami sudah sama - sama kosong, sambil menyeruput teh hangat manis Jayden berlalu untuk membayar bubur ayam.
"Hai Melody," sapa seseorang, aku menoleh.
"Eh Umar Onta? Beli bubur ayam juga?" Sapaku, melihat tentengan plastik di tangannya. Wajah Umar ceria ketika mentapaku tadi, kenapa sekarang berubah menjadi seperti takut?
"iya, du-duluan ya Mel." Pamitnya sedikit gemetar. Apa ia baru saja melihat hantu? Tapi ini kan masih pagi, mana ada hantu muncul pagi - pagi? Aneh.
"Sapa?" Suara Jayden menggelegar tepat di belakangku. Aku sampai terlonjak karena kaget.
"Astaga! Kamu ini hobi banget ngagetin ya!" Omelku. "Ketua kelasku."
"Oh." Jawabnya singkat, lalu mengajakku pulang ke apartmentnya.
Aku baru tahu kegiatan Jayden ketika di apartement, ia akan membersihkan seluruh ruangan dengan vacum cleaner dan membuang sampah. Aku menawarkan bantuan tapi ia memaksaku duduk di sofa sambil menonton tv atau memilih jadi penonton setianya. Ketika hendak menaruh laundryan di ruko apartment aku baru ikut.
Siang harinya setelah Jayden mandi dan aku ketiduran di sofa lagi karena membaca buku, ia membangunkan dan mengajakku nonton film bioskop karena sudah lama kami tidak kencan. Mumpung masih hari minggu katanya.
Setelah memarkirkan mobil hummer ia menggandengku masuk ke Mall langsung menuju bioskop lantai atas menggunakan escalator. Seperti biasa aku mendengar bisikan - bisikan.
"Eh liat tuh ceweknya imut banget, tapi cowoknya kok serem gitu? Mending sama gue." Suara bisikan gerombolan laki - laki yang turun di escalator sebelah kami.
Jayden tampaknya tidak suka. Ia segera menyuruhku naik di anak tangga satu tingkat lebih atas darinya, sedangkan Jayden memelukku dari belakang pada tangga satu tingkat di bawahku.
"Uda serem possesive lagi!" Hardik gerombolan tadi, Jayden malah semakin mengeratkan pelukannya. Aku mendengar ia menghembuskan napas berat di sebelah telingaku. Kuusap lengan tangan yang memelukku.
Tidak sampai di situ saja celotehan demi celometan alias bisikan - bisikan setan terdengar. Saat kami lanjut naik escalator berikutnya juga sama. Kali ini gerombolan cabe - cabean.
"Gila ganteng banget, sayang mukanya galak, serem lagi."
Aku reflek menoleh Jayden dan berbisik, "belom pernah kamu senyumin tuh, coba aja liat senyum kamu, mati berdiri gara - gara mimisan dia!"
Jayden malah tersenyum mendengar celotehanku, sontak saja gerombolan cabe - cabean semakin beringas ketika melihat senyumnya! Menyebalkan!
"Ya Tuhan, dia senyum, aduh nggak kuat, kaki gue lemes."
Aku menoleh ke arah mereka, kutatap sesinis mungkin agar takut, malah ada yang bilang, "sapa sih cewek yg di peluk itu? Pacarnya?"
"Adeknya kali, masih bocah gitu." Sahut lainnya.
Oke kali ini alis dan dahiku benar - benar berkerut menatap Jayden yang bertanya,"what?" Seperti tanpa dosa. Iya sih memang ia tidak salah, hanya senyum, itu pun tersenyum padaku, tapi cabe - cabean itu melihatnya! Mereka juga mengataiku bocah!
Cabe - cabean itu mulutnya minta di cabein beneran keknya! Sebel gue!
Setelah mencapai lantainya aku berhenti untuk protes. Kutatap Jayden segarang mungkin. "Kamu tuh! Jangan senyum - senyum sebarangan kenapa?!"
"Huh?" Tanyanya bingung.
"Mulai sekarang kamu cuma boleh senyum sama aku aja, itu pun kalo nggak ada cabe - cabean!" Tukasku lantang membuat ia smrik smile.
"Possessive nih?" Ejeknya seperti tidak bercermin pada diri sendiri.
"Kamu juga kan?!"
"Kamu sih imut, bisa nggak? Nggak usah imut gitu?"
"Oh!" Kali ini aku membuang muka, pipiku sudah naik sendiri.
"Tuh kan malah gemesin! Gimana sih?!" Protesnya. Aku memilih jalan terlebih dahulu mengabaikannya.
Setelah memberi dua tiket Premier, kami masuk theater dan menonton film politik. Jujur aku pusing mencoba memahami film ini. Kenapa sih selera film Jayden aneh? Dulu sukanya nonton horor triller, sekarang nonton film politik. Besok apa lagi?
Ya sudah lebih baik aku makan popcorn karamel saja sambil menurunkan kursi serta menarik selimut. Aku makan sampai tidak terasa popcorn jumbo sudah habis kulahap, tapi film membosankan ini belum kunjung usai.
Aku mengamati raut wajah Jayden dalam temaran. Ia serius sekali menonton film ini, sampai tidak sadar botol Equil di sebelahnya sudah raib kuambil dan meneguk isinya hingga habis.
"Apa sih bagusnya film ini? Cuma mau ke salon potong rambut aja susah banget?" Ucapku setelah keluar dari theater.
"Biasalah tikus berdasi emang gitu."
"Alay banget mau ke salon pake limousine." Balasku, ia hanya nyengir kuda.
"Mau makan?" Tawarnya.
"Boleh."
"Mau makan apa?"
"Aku kangen mie ayamnya pak Man, jualan di mana ya kira - kira kalo minggu gini?"
"Ck, nggak kangen aku? Malah kangen pak Man." Ucapnya dengan nada datar.
"Mie ayamnya Jayden, bukan Pak Mannya!"
"Cium lima puluh kali dulu."
"What?"
"Protes, tambah sepuluh lagi."
"Hei! Iya deh nanti kalo di mobil!" Sergahku agar ia puas. Heran, ingin makan mie ayamnya Pak Man saja susahnya minta ampun.
"Ngulur waktu tambah sepuluh kali."
"Ini kan lagi di Mall!!" Teriakku mulai kesal. Aku berjalan dulu, meninggalkannya yang mengekor menuju parkiran mobil.
"Total, seratus." Katanya setelah sampai mobil, menghidupkan mesin dan menyalakan AC.
"Terserah!!!"
______________________________________
Thanks for reading this chapter
Jangan lupa vote, comment, share, rekomendasi, add to library jika kalian suka ceritanya 😁V
Kira - kira Mel mau nyium Jayden seratus kali nggak ya?
Ada yang penasaran gimana mukanya si Umar Onta ini?
Saya kasih intip deh muka ketua kelas ganteng ganteng somplak ini
See you next Chapter teman temin
With Love
ChachaPrima
👻👻👻
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro