Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

Chapter 32

Hai teman teman
Ada yang penasaran lagu kesukaan Jayden Wilder?
Ini dia, Inside the fire by Disturbed
Aliran musik NU metalica

Jangan di tonton kalo nggak kuat

Btw lagu ini aslinya kecintaan saya ngahahahah #apasih

Tapi beneran guys, literally my fav.

Untuk selanjutnya akan saya share musik metal, rock, gothic, dll kesukaan Jayden

Alias kesukaan saya wkwkwkwk

#abaikancurcolgaje

Well, selamat membaca
Hope you like it

______________________________________

I think you're suffering from a lack of vitamin me
Anonim
______________________________________

Jakarta, 18 Januari
18.10 p.m

Mobil mini cooper kuningku sudah terparkir lima menit yang lalu di parkiran cafe. Namun aku masih belum beranjak turun karena menunggu Jayden menghabiskan kuenya. Katanya, "aku nggak mau bagi ke yang lain, ini kan cuma buat aku."

Ya sudah terserah. Aku bahkan mencolek sedikit kue hasil bikinanku sendiri saja tidak boleh. Dasar pelit!

Setelah Jayden menjilati jari - jarinya yang penuh dengan coklat hingga bersih dan mengelapnya dengan tisyu basah barulah kami turun. Ia tidak sadar dengan kejutan lain yang aku dan teman - teman siapkan di cafe ini. Jayden hanya mengira aku mengajaknya kencan. Aku rasa ia juga tidak peduli dengan apa yang kubicarakan tadi karena asyik dengan kue coklatnya.

Ia menggandengku berjalan ke arah pintu masuk cafe. Ketika itu terbuka semua berteriak, "surprise..."

Jayden malah berkata, "ngapain sih ganggu kencan aja." dengan nada datar.

Aku melihat kak Jameka sudah emosi seperti ingin menggoreng adiknya hidup - hidup. Kak Brian sudah siap melemparnya dengan kursi, Kak Bella, Karina, Tito dan Lih memutar bola mata malas. Sedangkan teman - teman berandalan dan beberapa teman kuliah sekelasnya yang kami undang malah ikut mengehela napas bosan.

Untuk mencairkan suasana aku mengambil kue ulang tahun di atas meja dekat aku berdiri dan melemparkannya ke wajah Jayden.

Semua tertawa terbahak - bahak melihat Jayden yang wajahnya antara shocked, ingin marah tapi di tahan, juga malu. Semua mengumpatinya. Puas karena ia tidak bisa membalasku.

"Mampos! Rasain lo!" Kata kak Brian, tertawanya paling keras.

"Tuh bales kalo berani! hahaha." Suara tawa kak Jameka menggelegar. "Nih gue tambahin." Ia lalu meratakan kue itu di wajah kesal Jayden. Aku hanya meringis.

Akhirnya semua ikut menyerbu Jayden. Menambah lemparan kue - kue kecil ke wajah geramnya, lalu ia membalas melempar kue lain ke semua teman - teman termasuk aku.

Sekarang suasananya seperti perang. Saling melempar kue satu sama lain tanpa pandang bulu. Cafe yang sudah di hias cantik  dominasi warna hitam dan gold menjadi berantakan karena ulah kami. Bahkan ada beberapa balon yang meletus dan minuman yang tumpah di mana - mana. Kami sudah persis seperti anak umur lima tahun yang suka memporak porandakan rumah ketika bermain. Dan kami tidak peduli, saat ini hanya moment bahagia ini yang paling penting.

Setelah aksi lempar - lemparan kue, Jayden berdiri di tengah ruangan guna mengucapkan terima kasih kepada kami karena sudah mempersiapkan kejutan kesekian kali untuknya.

"Terlebih buat Mel." Katanya.

Seketika semua berteriak, "Bucin lo!!"

"Berandalan kok bucin!!"

"Nggak singkron ama muke lo"

Jayden tidak marah kali ini, ia malah duduk jongkok karena tertawa lepas. Rasanya aku ikut senang melihatnya tertawa seperti itu, seperti tanpa beban.

Padahal aku tahu beban di pundaknya begitu berat yang mampu ia sembunyikan rapat - rapat dengan wajah datar, tanpa ekspresi dan tidak bisa ditebak itu. He looks like wearing a mask, or something likes trying to hide his feelings behind the mask.

Tapi kau pasti tahu efek tertawanya itu bukan? Para betina teman - teman berandalan yang di undang dalam ruangan ini mau pun beberapa teman sekelasnya langsung seperti terpesona. Ada yang menatapnya dengan memuja sambil menggigit bibir bawahnya, ada yang salah tingkah, ada yang nyeletuk, "OMG coba Jayden ketawa kayak gitu terus ya, gue bakalan rajin masuk kuliah nih."

"Vitaminnnn cuy, vitammiiinnnn."

"Lo liat kan barusan si bos ketawa? Aduh meleleh gue."

"Coba si bos kayak gitu teruus, makin cinta deh."

Dan aku tidak suka itu. Apa aku salah? Lagi pula siapa yang suka jika kau berada di posisiku? Tentu saja ada rasa rasa takut jika salah satu dari betina - betina kelaparan seperti mereka akan berusaha menggoda Jayden. Dan bagaimana pula jika Jayden merespon melihat semuanya yang cantik - cantik, tinggi dan sexy?

Aku cemburu? Tentu saja, siapa yang tidak akan cemburu jika berada di posisiku? Aku juga tidak ingin mengatakannya pada Jayden karena ini adalah hari ulang tahunnya. Apalagi melihatnya tertawa lepas seperti itu dengan bahagia, mana bisa aku membuatnya merusak momentnya dengan pengakuan kecemburuanku itu. Ya kan?

Tenang Mel, Jayden nggak bakalan kayak gitu, lo uda buktiin sendiri kan waktu ikut dia futsal? Sebagian hatiku lagi berkata demikian.

Aku menghembuskan napas. Lebih baik pergi mengambil minuman lain saja untuk menetralkan hati di meja sudut. Hanya meja itu satu - satunya yang tidak berantakan. Kue - kue dan minunam - minumannya juga masih utuh. Aku mengambil jus jeruk dan meneguknya ketika seseorang mengagetkanku.

"Di pantengin aja, samperin sono, bantu ngelapin mukanya kek gimana kek, malah di sini. Nggak liat cewek - cewek pada ngerubungin cowok lo kek lalet gitu?" Senggol Karina yang sudah berganti pakaian. Ia sedang mengelap wajahnya dengan tisyu kering.

Aku menoleh ke Karina. "Lo uda ganti baju aja. Btw thanks Kar uda ikutan ngasih surprise Jayden." Kataku, berusaha mengalihkan pembicaraan sekaligus berusaha mengalihkan kecemburuanku.

"Sama - sama," jawabnya. Tapi tampaknya Karina tetep kekeh tidak ingin mengganti topik. Buktinya saja ia masih terus mendesakku dengan pertanyaan, "ngapain sih lo di sini sendirian?"

"Nggak liat lo? Gue lagi haus. Btw lo nggak di cariin bebeb lo ikutan ke sini?" Tanyaku sekali lagi berusaha mengalihkan pembicaraan. Kali ini tampaknya berhasil.

"Bebeb gue lagi belajar, uda kelas dua belas, bentar lagi ujian." Kata Karina santai.

"Anak rajin ya?" Tanyaku setengah mengejek.

"Jelas dong."

"Kok beda ama lo?" Candaku.

"Kayak lo kagak aja."

Lalu kami tertawa lagi, menertawakan diri kami sendiri. Aku sempat melirik Jayden sekilas. Ia berjalan mendekati Tito. Sedangkan Tito yang melihat Jayden bersingkut memejamkan mata takut.

"Ampun bos, ampun bos, bonyok wajah gue baru sembuh jangan di tambah lagi." Mohonnya. Tito pikir Jayden akan menghajarnya karena ikutan melempar kue ke wajah bosnya itu.

"Kunci mobil gue goblok!" kata Jayden datar.

Menyadari hanya kunci yang Jayden minta, Tito membuka matanya dan bersikap biasa lalu mengambil kunci mobil Jayden dalam kantung celana jeansnya.

"Thanks." Jawab Jayden singkat dengan senyuman, tapi sanggup membuat Tito geleng - geleng kepala dan bergumam, "itu beneran si bos kan ya? Gue mimpi apa gimana di senyumin si bos?"

Lih yang di sebelah Tito juga melongo melihat Jayden yang berjalan ke rest room meninggalkan mereka.

Tidak lama kemudian semuanya  berhamburan pulang. Aku juga sudah membersihkan diri. Saat keluar dari rest room aku tidak sengaja bertemu dengan Jayden.

Ia ternyata memang menungguku, katanya ia sudah mencari kakak minta ijin mengantarku pulang. Tanpa menjawab pun Jayden sudah  menggiringku masuk mobil hummernya.

"Hatching... Hatching."

Tiba tiba aku bersin - bersin ketika memasang savety belt. Jayden yang sedang menyalakan mobil menoleh padaku yang sedang menggosok - gosok hidung karena gatal.

"Are you oke?" Tanyanya dengan mengernyitkan alis.

"Cuma gatel." Kataku singkat masih menggosok hidungku.

"Yakin?"

"Iya, nggak usah khawatir." Ucapku.

Jayden mengambil tisyu kering di kursi tengah dan memberikannya padaku yang tidak lupa kuucapkan terima kasih.

Setelah itu Jayden melajukan mobil dengan kecepatan standart. Di tengah jalan untuk memecahkan keheningan aku menyalakan musik, seketika Inside the fire berteriak mengagetkanku dan aku reflek mengecilkan volumenya.

"Kamu kenapa sih suka banget nyetel musik kenceng begini? Nggak budek apa?" Protesku.

"Musik metal kayak gitu mau di dengerin pelan? Dengerin jass aja sono." Jawabnya masih fokus menyetir. Aku hanya mencibir. Ia malah smrik smile, menggerakkan persneling lalu meraih tangan kananku dan menggengamnya.

Astaga, sudah berapa juta kali sih ia memperlakukanku seperti ini, tapi kenapa jantungku masih tidak bisa stay cool?

Aku meliriknya, lampu jalan yang tidak sengaja menerangi wajahnya memperlihatkan sisa krim kue yang menempel di sebelah telinganya.

Aku menoleh ke belakang berusaha meraih tisyu dengan tangan kiri. Tanganku tidak sengaja menjatuhkan selembar brosur. Gerakanku terhenti, meraih dan membaca brosur itu.

Jayden yang menyadarinya mengikuti pandanganku dan mehela napas seperti frustasi. Lalu Ia melepas genggaman tangannya untuk menepikan mobil dan menghidupkan tanda hazardnya.

"Jadi bener ya yang di bilang kak Brian kamu mau pindah kuliah bulan depan?" Kataku dengan menunduk, tidak jadi meraih tisyu itu dan mulai memainkan kukuku.

Jayden diam sebentar sekali lagi menghembuskan napas beratnya. "Brian itu mesti salah info."

Aku menoleh padanya. "Bukan bulan depan kok pindahnya," tambah Jayden balas menatapku.

Sebenarnya melihat krim kue di sebelah telinganya mengganggu pemandanganku karena sangat lucu tapi entah kenapa aku tidak ingin tertawa sedikit pun.

"Terus kapan?" Tanyaku lirih dengan alis berkerut.

"Semester depan. Enam bulan lagi."

"Selamat ya, ketrima beasiswa di Cambridge University." Kataku memaksakan seulas senyum dengan mata mulai berkaca - kaca. Semoga Jayden tidak melihatnya.

Aku tahu ini bukan waktunya sedih karena Jayden akan pindah ke Ingrris sebentar lagi. Sekarang hari ulang tahunnya. Harusnya aku tidak boleh memperlihatkan kesedihanku. Untuk itu aku berusaha menahannya, merapal dalam hati agar tetap tersenyum.

Jayden memejamkan mata sebentar lalu merogoh kantung celana jeansnya, mengeluarkan sebuah amplop dan mengambil isinya lalu menyerahkan satu Melody's magic card kepadaku.

"Aku mau pake kartu itu sekarang." Katanya.

"Apa yang kamu pengen?" Tanyaku sambil memegang kartu itu.

"Kamu belajar yang rajin, katanya mau jadi dokter, Oxford University ada jurusan kedokteran tuh. Masuk Oxford aja. Aku tunggu di Inggris." Pintanya sambil mengusap puncak kepalaku.

"Tapi kan kamu uda lulus waktu aku baru masuk kuliah." Aku mengatakannya tanpa menatap matanya.

"Ambil kelas akselerasi. Jadilah dokter. Itu kadomu buat aku."

______________________________________


Thanks for reading this chapter

Ada yang nonton you tubenya sampe habis?

Ngeri ya videonya?

Sapa yang pengen nyleding para betina kelaparan silahkan komen makian kalian

Hayoo siapa yang semangat belajar kalo di gituin sama kecintaan kalian?

Jangan lupa vote, koment, dan share jika kalian suka ceritanya

Bonus photo My Favorite

See you next chapter teman - teman

With love
Chachaprima
👻👻👻

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro