Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

Chapter 28

There's nobody in the world that knows me better than my sister
Tia Mowry
______________________________________

Jakarta, 16 Januari
15.05 p.m

"Jadi gitu kak," kataku sambil menyeruput bubur kepiting yang cocok dengan suasana hujan seraya menceritakan insident headset ulah Jayden pada kak Jameka.

Saat ini kami sedang nongkrong di smoking area Teras Dharmawangsa Restaurant. Bukan tanpa alasan kami memilih restaurant ini. Kak Jameka adalah vegetarian yang sangat pemilih, memperhatikan segala makanan yang tidak mengandung produk hewan, sedangkan di restaurant ini punya menu vegan bahkan kita juga dapat memilih menu gluten free. Jadi restaurant ini cocok untuknya.

Kak Jameka yang mendengarkan ceritaku manggut - manggut sambil merokok, membuang ampasnya yang sudah terbakar pada asbak di atas meja, lalu mengambil secangkir  Americano hangat dan meneguknya.

Sedangkan Jayden, ia sudah kembali ke basecamp karena ada balapan. Ceritanya ia meninggalkan balapan demi memenuhi permintaanku untuk menjemputku pulang sekolah tadi. Entah bagaimana kak Jameka bisa ikut dan ujung - ujungnya jadi girls day out seperti ini. Padahal tujuan utamaku ingin di jemput Jayden adalah agar bisa mengomelinya, tapi malah gagal total hanya gara - gara ia tersenyum. His smile is my weakness. I mean, all of him is my weakness.

"Kalo soal makalah akuntansi gampang Mel sayang, kebetulan gue lagi mulai kerja di perusahaan bokap dan pegang bagian keuangan, gue bisa ngajarin lo."

"Really?" Tanyaku senang, ternyata tidak sia - sia kami nongkrong.

"Iya, kapan sih di kumpulin?" Sekali lagi kak Jameka menghirup rokoknya.

"Minggu depan sih kak."

"Good, weekend kita belajar itu."

"Thank you so so so so much kak Jameka," ucapku kelewat senang, menyatukan jempol dan telunjuk membentuk hati seperti artis Korea, kuacungkan padanya.

"Ya tuhan, ada - ada aja," katanya sambil tersenyum di antara asap rokok yang keluar dari mulut dan hidungnya. "Btw, Makasih Mel."

"Huh?"

"Uda bikin Jay senyum lagi. Terakhir kali gue liat dia senyum tulus kek gitu waktu nyokap kami masih idup," terang kak Jameka dengan nada yang beda, seperti dalam dan mengena di hati. "Lo pasti uda diceritainlah sama Jay gimana kondisi keluarga kami. Kami ini anak - anak broken home yang kabur dari rumah mewah rasa neraka."

"Maaf kak sebelumnya, tapi Jayden waktu itu nggak cerita tentang kak Jameka, jadi gue nggak tau sama sekali, makanya dulu waktu pertama liat kakak, gue jadi... ya gitu deh." Ungkapku. Aku sudah pernah bilang bukan kalau dalam diri kak Jameka ini seperti ada sesuatu yang membuat kita nyaman untuk terus bercerita. Tapi kali ini aku akan membiarkan ia melanjutakn ceritanya.

"Salah gue juga Mel, waktu bokap kawin lagi dengan alibi mau kuliah ke Belanda, gue sebenernya kabur kesana ninggalin Jay gitu aja." Rokok yang dihisap kak Jameka tinggal sedikit, lalu ia mematikan benda itu sebelum lanjut bercerita.

"Gue baru tau dia di usir sama bokap setelah tahun baru kemaren pulang ke sini. Gue nyari si Jay kemana - mana, waktu itu nggak sengaja nguping istri bokap yang sekarang yang lagi ngomongin kalo abis nemuin si Jay di apartementnya dan bahas basecamp, gue langsung ke sana, begitu ketemu Jay karena saking kangen dan khawatir liat kondisinya gue meluk adek gue tanpa liat lo. Sorry." Kak Jameka berbisik dalam akhir kalimat, matanya berkaca - kaca. Aku jadi turut sedih.

Disisi lain aku seketika jadi malu pada diri sendiri karena terlalu cepat menarik kesimpulan tentang kejadian minggu lalu yang membuatku sia - sia cemburu. Sikap gegabah ini harus di hilangkan.

"Btw lo tau nggak si Jay dulunya kek apa?" Kata kak Jameka mengalihkan pembicaraan "Dulu penampilannya anak baik - baik lho, nggak kayak sekarang, berandalan." Tukas kak Jameka mencoba menetralkan suasana hatinya.

"Kakak ada fotonya?" Tanyaku sangat exited.

Kak Jameka mengeluarkan ponselnya dari tas hermes limited edition yang dulu pernah dijadikan sogokan daddy ketika aku ngambek saat pesta topeng. Lalu membuka password, menggeser - geser layar dan menyerahkannya padaku.

"Astaga," aku langsung menutup mulut. "Hahahahahaha ngapain sih? Kayak gini yang di sebut anak baik - baik? Hahahaha."

"Ya liat aja potongan rambutnya, culun gitu hahahaha. Anak baik - baik tuh." Ujar kak Jameka lalu mengambil ponselnya kembali. "Yang ini photo aib, jangan bilang sapa - sapa." Lanjutnya sambil memberikan ponselnya padaku lagi.

Aku cukup tekejut, photo aib Jayden? Seperti apa itu? Aku jadi berpikir yang aneh - aneh. Tapi ekspresiku yang semula tegang berubah seratus delapan puluh derajat ketika melihat photonya yang satu ini.

Aku tidak tahan untuk tertawa terbahak - bahak ketika melihat photo Jayden. Kak Jameka pun juga begitu. Tawa kami mengudara di ruang smoking area yang sedang cukup ramai saat ini tanpa mempedulikan tatapan orang - orang dengan berbagai ekspresi wajah mereka, di tengah hujan deras yang mengguyur kota Jakarta.

Rasanya aku senang sekali sore ini,selain cepat akrab dengan manusia unik seperti kak Jameka, juga mendapat informasi tentang Jayden darinya. Mulai dari dulunya Jayden seperti apa, makanan kesukaannya, ulang tahunnya yang kurang dua hari lagi. Btw itu berarti aku harus menyiapkan kado untuk Jayden secepatnya.

Dan kak Jameka juga bilang Jayden tidak play boy seperti kelihatannya. Jayden tidak suka mempermainakan perempuan karena tidak ingin mereka berakhir seperti mamanya. But friends with benefits? Who knows?

Setelah menghabiskan bubur kepitingku dan kak Jameka yang menghabiskan saladnya, Jayden menjemput kami lagi.

Kau tahu eksprsiku saat ia datang? Aku malah tertawa terbahak - bahak, kak Jameka hanya berdehem sambil menghabiskan sisa Americano hangatnya tanpa punya dosa, sedangkan Jayden? Ia kebingungan melihatku dan kakaknya.

"What the hell was going on?" Tanya Jayden terus menerus saat mengantarku pulang sesudah menurunkan kak Jameka di butik langganannya.

"Nothing." Kataku bersikap stay cool sambil mengipaskan tangan di area wajah karena panas akibat terlalu banyak tertawa.

"Nggak beres." Celetuknya sambil menggelengkan kepala berkali - kali. "Aneh."

Alisku berkerut, lalu mulai mencari bahan obrolan lain. "Gimana luka punggungmu?"

"Lumayan, makasih uda ngingetin minum antibiotic terus." Jawabnya, melirik sekilas sambil mengelus puncak kepalaku dengan tangan kiri.

Kau tahu? Ini juga termasuk salah satu kelemahanku. Rasanya aku seperti toothless, nigh fury dragon yang dijinakkan Hicup dalam film How to train your dragon. Tunduk. Atau kau bisa menyebutnya bucin.

Aku merasa lucu, ingat kata - kata Heath Graham dalam Novel Lovely Glacy karya mak Oney. Heath bilang "semua akan bucin pada waktunya." Dan inilah waktu kebucinanku sekarang.

"Gimana kakimu?" Tanyanya membuyarkan lamunanku.

"Kamu uda tanya itu jutaan kali tau nggak?" Kataku jujur. Karena Jayden memang selalu menanyakan keadaan kakiku. Tidak hanya melalui pesan, telpon, video call, bahkan saat bertemu seperti sekarang ini, ia selalu menyakanan hal itu. Padahal kakiku hanya terkilir, tidak sebanding dengan luka tusuk di punggungnya.

"Just make sure." Katanya datar.

Beberapa menit kemudian kami sampai di depan rumahku, Jayden ikut turun, membukakan pintuku lalu menuntunku seperti orang tua umur seratus tahun yang sangat ringkih sehingga harus berhati- hati setiap akan melangkah. Berlebihan.

Ia menuntunku sampai foyer depan."Jayden aku bisa jalan sendiri, liat nih uda nggak bengkak kan?"

"Ya uda kalo gitu aku pulang dulu."

Aku mengernyit. "Lho kok ngambek sih?"

"Enggak kok." Jawabnya datar. Aku tidak bisa membedakannya karena ia selalu bicara dengan nada itu.

"Oh ya?" Tanyaku tidak yakin. Ia tidak menjawab melainkan meyakinkanku dengan mencium bibirku kilat, membuatku terkesiap.

"Cepet sembuh oneng!" Katanya sekali lagi mengusap puncak kepalaku lalu pergi. Sedangkan aku? Jangan di tanya bagaimana reaksiku. Aku hanya terus menaikkan pipiku lalu berbalik.

"Astaga, anda mengagetkan saya! Se-sejak kapan anda di sini?" Tanyaku kaget sekali melihat Amanda duduk di ruang tamu yang terhubung dengan foyer depan.

"Sudah satu jam yang lalu." Jawabnya. Aku langsung menggigit bibir bawahku dan memejamkan mata.

"Itu berati anda melihat... Di-dia sedang...??"

"Iya, kalian mengabaikanku." Selanya cepat sebelum aku menyelesaikan kalimatku.

Mampus!

Aku langsung berlari padanya, "Please jangan kasih tau daddy dan kak Brian," Mohonku sambil memasang wajah melas.

"Begini, karena saat ini statusku belum resmi jadi ibumu, aku tidak akan mengadukan pada daddy dan Brian, tapi jika nanti aku sudah jadi ibumu, biar kujewer telinga pacarmu itu. Berani - beraninya dia nyium putriku di depan mataku." Kata Amanda sambil bersendekap tangan. "Apa aku sudah cocok jadi ibu?" Tanyanya sambil tersenyum.

Ya Tuhan aku tidak tahu harus bereaksi apa. Antara bersyukur karena Amanda tidak akan mengadukan pada daddy dan kakakku, atau terharu karena ucapannya. Saat ini yang dapat kulakukan hanya memeluknya sambil mengucapkan terima kasih dan, "Anda sudah cocok jadi emak - emak yang anaknya nakal."

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro