Chapter 19
There is no simple love stories
If it's simple, it's not love
If it's love, it'll get complicated
•TheLoveBit•
______________________________________
Jakarta, 9 Januari
11.05 p.m
Mengingat mommy aku jadi tidak kuat lagi, aku menangis sekencang - kencangnya.
Aku juga menjatuhkan semua paper bag yang kutenteng tadi guna mengusap air mata dengan tangan seperti anak kecil yang menangis minta di belikan balon.
Tiba - tiba Amanda mendekat dan berkata, "Brian, harusnya kamu jangan marahin Melody dulu, dia kan baru masuk rumah."
Sedang apa Amanda di sini tengah malam? Lalu di mana daddy? Dan aku tidak suka saat ia menyentuh lengan untuk menenangkanku. Amanda pasti sedang cari muka.
"Maaf tapi itu bukan urusan anda," ucap kak Brian. "Mel, masuk kamar!"
Kak Brian memanggil namaku. Itu artinya ia sedang sangat serius saat ini. Yang bisa kulakukan hanya pergi ke kamar sambil menangis dengan perasaan campur aduk tanpa memperdulikan paper bag yang berserakan di lantai.
Dalam kamar aku juga melihat ke cermin berusaha menghapus tanda laki - laki itu setelah membaca cara - cara menghilangkan kissmark di internet. Bodoh, kenapa tidak dari kemarin saja aku melakukannya. Rasanya setelah kejadian tadi pagi di depan apartement laki - laki itu, aku tidak sudi lagi melihat tanda - tandanya di seluruh leher dan dadaku. Mungkin saja ia juga menandai perempuan itu kan? Membayangkannya saja sanggup membuat air mataku keluar lagi, sedih sekaligus jijik.
Tok tok tok
"Dek, tolong bukain pintunya."
Itu suara kak Brian. Aku masih kecewa padanya yang berlebihan membentakku tadi.
Tok tok tok
"Dek, maaf dek, bukain pintunya."
Aku masih enggan menjawab, dengan kasar segera memakai baju tidur Spongebobku, berusaha menutupi tanda laki - laki itu yang belum berhasil kuhilangkan.
"Dek, gue minta maaf dek, gue nyesel bentak lo."
Kalimat yang sama di ucapkan kak Brian berulang - ulang hingga kupingku panas mendengarnya dan dengan perasaan malas aku mulai membukaan pintu. Aku masih sesenggukan, tapi tangisanku sudah tidak sekencang tadi.
"Mau apa?" Tanyaku ketus tanpa mempersilahkannya masuk.
"Boleh ngobrol di dalem?" Pintanya.
"Bilang aja mau apa?" Aku masih memakai nada yang sama.
"Gue minta maaf, sorry tadi kalap, gue cuma khawatir lo kenapa - kenapa, kalo lo pikir cuma lo yang depresi liat daddy bawa Amanda, lo salah, gue juga dek," jelasnya panjang lebar. Akhirnya aku membuang nafas berat dan membuka pintu sehingga kak Brian bisa masuk kamarku.
"Sorry dek. Gue paham apa yang lo rasain, tapi kasian daddy juga, yok coba kenalan sama Amanda dulu, lo nggak liat tadi dia belain lo?" Lanjutnya setelah duduk di kasurku.
Jika itu menyangkut daddy mungkin iya kakak bisa paham. Aku hanya berpikir mungkin saja kan Amanda sedang cari muka dengan cara membelaku seperti tadi? Bukannya ini kesempatannya untuk mendekati keluarga kami, mengambil hati kami agar luluh?
Kak Brian tidak tahu jika aku menangis bukan karena hal itu saja.
Tapi juga menyangkut laki - laki itu. Coba lihat hubungan kakakku dengan kak Bella! Selama ini lancar - lancar saja, baik - baik saja. Seperti dua orang yang saling kasmaran terus satu sama lain, membuatku iri. Sedangkan aku? Baru beberapa hari saja sudah begini. Bahkan sekarang pun aku tidak tahu sebutan apa yang cocok untuk hubunganku. Walau secara logika laki - laki itu masih pacarku.
"Apa kakak nggak ngerti juga? Nggak ada yang bisa gantiin posisi mommy!" Bentakku seraya menangis lagi.
Kak Brian yang mendengar kata "mommy" langsung memejamkan mata perlahan.
"Mommy uda meninggal dek. Emang nggak ada yang bisa gantiin posisinya tapi coba pikirin lagi soal perasaan daddy," Kata kak Brian lemah, lalu pergi dari kamarku, membuat perasaanku yang sudah campur aduk semakin tidak karuan.
Entah kenapa aku jadi semakin kencang menangis. Ya Tuhan sejak kapan sih aku jadi cengeng seperti ini? Untuk malam ini saja, aku akan menangis sepuasnya. Akan aku habiskan semua air mataku, mengenang mommy, depresi memikirkan daddy yang berusaha menggantikan sosok mommy dengan Amanda, atau juga menangisi laki - laki itu yang bahkan tidak mempedulikanku sedikit pun.
Jika laki - laki itu memang niat, ia bisa saja bertanya tentang keberadaanku kepada kak Brian atau kak Bella bahkan bisa saja ke rumah ini kan? Tapi apa yang ia lakukan? Malah seperti hilang di telan bumi. Jadi untuk malam ini saja aku akan menuntaskan tangisanku untuknya. Aku tidak akan menangis lagi untuknya besok. Aku janji.
Keesokan harinya adalah hari sabtu ulang tahun Karina. Awalnya kak Brian menawariku ikut dengan mobilnya seraya menjemput kak Bella, tapi aku menolak secara halus. Selain nanti aku pasti akan iri dengan kemesraan mereka yang pasti akan aku bandingan dengan hubunganku sekarang, aku juga sudah berjanji berangkat dengan kak Jordan.
Saat kak Jordan menjemput, aku berusaha menjadi Melody yang terlihat normal - normal saja. Walau semobil dengan kak Jordan, aku sempat berpikir bagaimana perasaannya jika ia tahu aku bersama laki - laki lain. Tapi lagi - lagi bayangan ia bersama perempuan sexy di apartementnya kemarin membuat otakku menolak memikirkannya, alhasil aku hanya dapat memejamkan mata sejenak untuk mengusir pikiran itu. Ingat Mel, ia tidak akan peduli.
"Lo nggak papa?" Tanya kak Jordan membuyarkan lamunanku. "Kok diem aja dari tadi?" Lanjutnya membuatku menoleh padanya dan berusaha tersenyum senatural mungkin tanpa terlihat di paksakan.
"Btw gimana hubungan Karina sama kak Rico?" Tanyaku untuk mengalihkan perhatiannya.
"Karina belom cerita lo kalo mereka uda jadian?"
"Oh wow," Ucapku berusaha exited. "Well yah, Karina itu sengaja bikin gue penasaran."
"Mereka emang lagi pdkt, terus jadiannya waktu taun baru kemaren, Rico nembak di depan kita semua pake bunga."
Tahun baru kemarin laki - laki itu mencuri ciuman pertamaku di Paris. Ah, kenapa aku malah memikirkannya.
"Wah sayang sekali nggak ikutan, padahal gue pengen liat muka cengonya Karina waktu di tembak," balasku.
Tidak lama kemudian kami sudah sampai di rumah Karina yang sudah dihias cantik dengan kain - kain merah jambu dominasi biru muda kesukaannya dan balon - balon yang di bentuk bunga apik.
"Happy birthday my bessssttttt," kataku sambil memeluk Karina dan memberikan kado padanya. Sedangkan kak Jordan sudah bergabung dengan kak Rico dan kak Henry setelah mengucapkan selamat.
"Aaaakkkk thank youuu, eh lo bareng kak Jordan yaaa ciee," Kata Karina berusaha menggodaku yang menurutku tidak perlu. Aku sudah tidak punya perasaan apa - apa padanya lagi, atau bahkan orang lain.
"Eh lo ya pake nggak cerita ke gue kalo uda jadian! Terus yang waktu sebelum liburan itu berarti lo uda dapet lampu ijo dong?"
"Aduh Mel, jangan keras - keras ngomongnya, kan gue malu, btw yang waktu malem - malem abis pesta topeng lo nelpon gue itu?"
"Iya."
"Terus gimana jadinya lo?"
"Apa?" Tanyaku bingung.
"Lo uda bilang kalo salah nembak sama sapa namanya, Jayden?"
"Ah iya..." Belum sempat aku melanjutkan omongan tiba - tiba...
"Jadi gitu..."
Suara itu...
Aku dan Karina menoleh ke sumber suara dan seketika jantungku rasanya berhenti berdetak. Jayden berdiri beberapa meter di belakangku. Dan ia mendengar yang baru saja Karina omongkan meski pun sayup - sayup musik lebih mendominasi ruangan ini.
Aku mendekatinya dan berkata, "J-Jayden. Ini..."
"Sorry, selama ini ternyata gue cuma ge er." Katanya sambil tersenyum pahit lalu berjalan pergi. Aku berusaha mengejarnya.
"Jayden, ini nggak kayak yang lo kira, Jayden tunggu, Jaydeeeennnn." Teriakku sambil mengejarnya, berusaha menyamai langkahnya.
"Jay..."
Ia malah menutup mulutku dengan satu jari sambil menggeleng pelan dan berkata, "Kali ini tembak cowok yang bener, jangan salah lagi. Dan be happy, ya?" Katanya lirih, dan sambil tersenyum lalu pergi. Kenapa ia malah tersenyum? Hatiku malah lebih sakit berkali - kali lipat.
Saat aku mengejarnya suara panggilan kak Jordan memberhentikanku. Tapi tidak dengan Jayden, ia hanya terus berjalan tanpa menoleh.
"Melody? Lo deketin Jayden juga? Gue kira lo deketin gue selama ini, ternyata lo deketin semua cowok ya? Terutama cowok berandalan kayak Jayden. Murahan tau nggak lo!" Bentak kak Jordan lalu...
Bugh bugh bugh
"Kkkkyaaaaa" pekikku.
Jayden menghajarnya habis - habisan. Seketika itu juga pertahananku runtuh. Aku melanggar janjiku sendiri untuk tidak menangis. Dan ya, aku menangis sekarang.
"Jayden udah, berhenti Jayden!" Teriakku sambil menangis, bukan karena aku membela kak Jordan, mana mungkin aku membela orang yang sudah menghinaku. Aku hanya tidak ingin membuat kegaduhan di pesta Karina yang keberadaanya sudah tidak kupedulikan lagi.
"Jaydeenn berhentii!!!" Teriakku sambil memeluknya dari belakang. Aku juga tidak ingin orang - orang berpikiran negative tentangnya, terutama sahabatku Karina.
"Jjjaaaayddddeeeeenn!!!!" Teriakku berkali - kali sambil menangis. Kemudian ia baru berhenti saat kak Jordan sudah tersungkur dan aku segera melepaskan pelukan lalu berdiri di antara mereka.
"Kenapa lo berhenti, kakak tiri gue tersayang?! Setelah sekian lama nahan diri akhirnya lo hajar gue juga kan?!" Teriak kak Jordan sambil meringis kesakitan, wajahnya sudah babak belur.
Apa yang baru saja kak Jordan bilang? Kakak tiri? Kak Jordan saudara tiri Jayden? Anak Gamelita yang katanya ambisius itu? Kenapa hatiku jadi semakin sakit memikirkan perasaan Jayden? Tapi lebih sakit lagi saat Jayden melihatku dan kak Jordan bergantian, tidak mengatakan apa - apa lalu pergi.
"Jaaaydeeenn," teriakku sambil mengejarnya, tapi langkahnya di percepat. Aku menghiraukan tatapan orang - orang di pesta Karina, berusaha mengejar Jayden.
"Jaydeennn, tunggu," teriakku berkali - kali sambil menangis dan berlari mengejarnya. Tapi ia sudah masuk mobil hummernya dan bersiap pergi.
Aku masih berlari mengejarnya, membuang stilleto sepuluh senti yang kupakai agar dapat berlari cepat, tapi terlambat, Jayden sudah pergi.
Aku baru berhenti berlari saat mobilnya sudah jauh, lalu terduduk di atas aspal tengah jalan sambil menangis keras, menangisi kepergiannya.
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro