Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

8- 65%

Happy reading!!

Langit cerah di siang hari menemaninya sepanjang jalan. Sembari menendang kerikil-kerikil kecil yang tersebar di jalanan dengan wajah suntuk dan capeknya. Jarak dari sekolah ke rumah lumayan jauh, namun Azorella tetap saja berjalan kaki, ini terjadi karena dirinya ditinggal Zero. Entah ke mana cowoknya saat jam pulang, biasanya dirinya selalu stay di parkiran atau menunggunya di depan kelas.

Memang jika marah semuanya dilupakan sampai rasa capek pun tidak ia hiraukan. Bising kendaraan tidak masuk sampai ke telinganya. Tas berat yang ia gendong juga tidak terasa, yang ada hanya umpatan dan sumpah serapah untuk Zero.

Menghela napas, matanya melihat sekeliling. Gila, ternyata sudah jauh juga dia berjalan. Kakinya menuju super market yang berdiri kokoh di sana. Memilih berbagai jajanan dan satu, cokelat dan es krim, untuk mengembalikan moodnya.

Setelah membayar, Zoe tidak kembali jalan ke arah rumahnya, ia berbelok ke taman yang ada di seberang super market, sekadar mencari udara segar dan membuang sedikit amarahnya.

"Di telepon nggak diangkat, ini belum dibalas juga. Awas aja!" Masih dengan gumaman kekesalannya sembari mengecek gawai, Zoe yang hendak mengambil duduk pun urung, ketika melihat seseorang dengan seragam sepertinya ada di sana juga, bahkan tidak asing.

Berusaha menyipitkan mata, melihat cewek dan cowok itu sedang bercengkerama. Orang yang begitu Zoe kenal, mengkhianatinya? Zero, yang ia tunggu kabarnya dari tadi, ternyata sedang asyik-asyikan dengan sahabatnya sendiri. Pantas saja, iia tadi meminta pulang terlebih dahulu.

"Anjir, sebenernya gue salah apa si, sama kalian berdua?" Pegangan pada kresek berisi jajanannya mulai melemah. Pandangannya yang terlalu fokus ke satu titik sampai bisa mengabur.

"Apa salah gue?" Tanyanya pada diri sendiri, begitu lemah dan lemas. Dirinya sudah sangat percaya pada Zero, pun perempuan yang sedang bersama zero di sana.

Kayshila Sekar, sahabatnya. Zoe percaya Kay, suka dan duka mereka selalu berbagi, tetapi untuk pacar apakah harus dibagikan juga? Dadanya sesak bak dihantam batu besar. Saat itu juga, logikanya memberikan dorongan untuk menghampiri mereka, namun kakinya tidak kuat, memilih untuk menjauh dari sana.

Berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh, namun dadanya semakin sesak, semakin ditahan semakin sakit.  Mengusap air matanya, Zoe menyetop taksi yang lewat dan langsung naik memberi tahu alamat rumahnya.

Semalaman Zoe mengurung diri di kamar dan mematikan gawai, untung saja orangtuanya tidak di rumah, jadi Zoe merasa aman saja, tidak diinterogasi.


Esok harinya, Zoe berangkat sekolah dengan keadaan mata yang sedikit sembab meskipun sudah dikompres. Saat masuk gerbang, Zoe berharap dapat bertemu dengan Zero, namun tidak. Sesampainya di kelas, seperti biasa Zoe duduk manis di sebelah Kay. Namun, beda suasana ingin bertanya tapi tidak sanggup mendengar kenyataannya.

"Lo kenapa si? Diemin gue, nggak biasanya," ujar Kay sembari memiringkan kepala ke arah Zoe.

Zoe melirik singkat dan tidak membalasnya.

"Kenapa si?" Kay bertanya sekali lagi, Zoe malah mengangkat tasnya dan bertukar tempat duduk.

Seharian Zoe tidak mengobrol dengan Kay, boro-boro, menatap lama saja malas. Zoe merasa kecewa dengan Kay. Meskipun dalam hatinya begitu kecewa dan marah, Zoe tetap saja ingin mencari Zero, ingin mendengar sesuatu dari mulutnya.

"Lihat Zero?" Tanyanya ke teman sekelas Zero.

"Nggak masuk Zoe, bahkan nggak ada kabar sama sekali, emang nggak ngabarin elo?"

Zoe malas mendengar pertanyaan retoris seperti itu, misal dia tahu dan dikabari Zero tidak mungkin dia akan bertanya kan? "Makasih," ujarnya sebelum pergi dari sana.

Sepulang sekolahnya, Zoe mampir ke rumah zero, apa sebenarnya dia sakit? Meskipun kecewa rasa pedulinya masih besar. Mungkin kemarin cuma kesalahpahaman kan? Sungguh Zoe juga bimbang dengan perasaannya.

Dirinya selalu diselimuti rasa tidak enak saat perjalanan ke rumah Zero. Gerbang rumah Zero tertutup rapat, sepi, seperti tidak ada kehidupan. Haruskah Zoe memanjat gerbang yang lumayan tinggi itu?

"Lo di mana si?" Zoe celingak-celinguk . "Pak! Permisi ...."

Tidak ada yang menyahut satu pun. "Misi Ma, Mama di rumah? Zero! Buka, aku di luar," berteriak memanggil siapapun yang bisa membukakan pintu.

Capek, Zoe memilih menyudahinya dengan perasaan kecewa. Menekuk bibirnya dan menyenderkan kepalanya ke gerbang. "aku dateng mau minta penjelasan kemarin Je, tapi kamu di mana? Kamu nggak ngabarin aku sama sekali," ujarnya penuh kesedihan.

"Ngapain di situ neng? Udah dari kemarin kayaknya sepi, nggak pada di rumah," kata ibu-ibu yang lewat mengagetkan Zoe.

"Apa ibu tahu, pemilik rumah ini pergi ke mana?"

"Ibu juga nggak tahu neng, ya udah permisi ya, neng."

"Je, kamu pergi ke mana? Kenapa nggak ngasih tahu aku dulu? Kamu beneran bosen sama aku ya Je, kemarin kamu bareng sama Kay, bahkan kalian kelihatan mesra, terus aku harus gimana Je?"

Air matanya tidak bisa dibendung lagi. Keterlaluan, tidak memberi kabar, terakhir kali melihat sedang dengan cewek lain, dan sekarang pergi tanpa kabar?

Dengan pandangan fokus ke rumah Zero, Zoe membayangkan kemarin, jika saja Zoe memilih menghampiri mereka yang sedang bermesraan, dibanding memilih pergi, pasti Zoe tahu dan tidak ada ditinggal tanpa kabar seperti ini. Zoe harap, Zero hanya pergi sebentar.

Nyatanya tidak berhari-hari, Zoe masih menunggu kabar dari Zero, namun zonk. Chatnya pun yang dulu masih centang satu dan Zoe mulai terbiasa hidup tanpa Zero. Ditambah Zoe memilih pindah sekolah ke SMA Negeri 3 Mandala, sekolahnya yang sekarang serta bertemu dengan ketiga sahabat kocaknya.

Membayangkan masa dulu, membuat Zoe berpikir bahwa tidak seharusnya dia terlarut terlalu lama dalam kesedihan, untuk melupakan Zero memang membutuhkan waktu yang cukup lama. Bahkan sampai sekarang pun masih sulit, dan kenapa juga malah dia kembali ke sini.

Malam yang sunyi ditemani hujan dengan suasana sejuk, membuat pikirannya melanglang buana masuk ke dunia masa lalu. Membayangkan betapa bodohnya dia dikhianati oleh sahabatnya sendiri. Sampai sekarang Zoe tidak berhubungan lagi dengan Kay.

Waktu itu, saat di cafe, ternyata Zero masih berhubungan baik dengan Kay, atau malah mereka masih menjalin hubungan pacaran, Zoe tidak tahu.

"Sorry, Zero. Gue nggak bakalan bego lagi cuma karena elo, nggak akan bisa," ujarnya mengusap air mata palsunya.

"Seberapa keras lo berjuang buat balik lagi sama gue, gue nggak akan mau dan nggak akan gue terima."

Zoe mengibaskan rambutnya seperti iklan shampo. Hujan memang membuat Zoe mampu bernostalgia atau merangkai cerita baru hanya di dalam otaknya saja.

"Gue nggak mau lagi dibegoin elo, yang bener aja, lo pikir dengan lo dateng ke sini, ngobrol sama mami gue, lo bisa tuh luluhin hati gue? Ya kali." Seringaian kecil terlihat pada ujung bibirnya.

"Ya, meskipun misi gue belum 100 persen tapi lumayan udah 65 persen, berarti kurang 35, oke Zoe cuma dapetin 35, lo bakalan bisa."

Yah, mungkin Zoe sudah mirip orang gila di pinggir jalan yang sering ngobrol sendiri.

"Cowok nggak cuma elo kali, masih banyak."










Oke cukup dulu.
Doain Zoe supaya bisa dapetin 35% lagi. Wkwkw
Gayanya emang sii, semoga bisa ya Ju, mangat dah

See u guyss
Jangan lupa vote komen!!
TBC



Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro