6- Jo
Happy reading
Hati-hati di jalan ....
Lagu dari tulus yang mengalun indah di ruangan sedang bernuansa putih tortilla dengan banyak barang-barang perempuan di dalamnya. Di sudut ada meja belajar dengan banyak tumpukan-tumpukan buku yang sedikit berantakan. Sebelah kanan terdapat meja rias yang terdapat kaca berkarakter kepala kartun. Sedikit cahaya yang masuk dari jendela menambah kesan aesthetic pada kamar Azorella.
Pagi-pagi sudah memutar lagu galau. Tiada hari tanpa galau, tetapi memang lagu-lagunya memaksa Zoe untuk galau. Dirinya masih mematut diri di depan cermin sembari bersenandung. Mengikat rambutnya setengah seperti hari-hari biasanya.
"Mbak." Pintu terbuka menampilkan wanita paruh baya. "Itu udah ditunggu mas Sakya."
Mbok Suki merupakan orang yang membantu di rumahnya. Dengan logat jawanya yang khas kadang membuat Zoe suka mengikutinya, Zoe juga sedikit-sedikit belajar bahasa Jawa kepada mbok Suki.
"Nggih mbok, makasih."
Setelah itu, mbok Suki menutup kembali pintunya.
"Kenapa jemput gue coba?" Bertanya kepada dirinya sendiri, Zoe lantas menutup botol parfum, meraih tas untuk menuju ke bawah.
Di lantai dasar, sudah ada mami papinya yang seperti sedang sibuk dengan kegiatannya, mami yang seperti memarahi papi karena kecerobohannya.
Zoe acuh, dan ia menghampiri Sakya yang sedang bermain dengan Garvi. Membuat Garvi tertawa dengan candaan Sakya. Bisa juga Sakya yang sok, ceplas-ceplos itu main dengan bayi.
"Lo ngapain jemput gue?"
"Pengin, nggak boleh?" Sakya menjawab tanpa menatap Zoe. Masih fokus bermain dengan adik gemas Zoe.
"Udah sini sarapan dulu, orang Sakya jemput harusnya kamu bilang makasih," ujar maminya yang sudah selesai memberi ceramah pagi untuk papinya.
"Iya-iya deh," ujarnya malas, kemudian berlalu menuju ruang makan.
"Sarapan dulu Sak, kalo nggak berangkat sendiri sana, jangan ajak anak tante."
Mendengar ucapan mami Zoe, mau tidak mau Sakya ikut sarapan, walaupun sudah biasa, tetapi karena tadi Sakya sudah sarapan ya sudah kenyang.
"Dih mami ama anaknya sendiri galak, giliran yang lain gitu tuh."
"Masih pagi jangan julid," tegur papinya yang sedang menyendok makanan.
"Cieee yang habis di ceramahin," ledek Zoe kepada papinya.
Sakya tidak heran melihat Zoe yang meledek papinya seperti itu. Mereka memang ayah dan anak yang bersahabat. Setahu Sakya.
"Dapat pahala kak," jawab santai papinya. "Duduk Sak."
Tradisi sarapan pagi di keluarga Zoe memang tidak boleh ditinggalkan, meskipun sedikit tetap harus sarapan, sarapan pagi juga bermanfaat untuk tubuh dan untuk berpikir cemerlang, orang tuanya selalu menerapkan itu.
"Makasih om."
"Pacaran ya?" Tunjuk papinya dengan sendok ke arah mereka berdua yang duduk bersampingan.
"Nggak," jawab Zoe jutek.
"Nggak om, cuma temen." Begitu pun Sakya, yang mengatakan tidak.
"Kasihan dia jomlo Sak," kata papinya.
"Ih papi apaan banget dah." Zoe menekuk mukanya.
Papinya tersenyum geli, kembali menyuap makanannya, dan menatap Sakya yang berubah agak canggung.
"Papi berangkat duluan kalian hati-hati."
Zoe dan Sakya bergantian mencium tangan sang papi. Dengan setelan jasnya papi Zoe berjalan dengan gagah.
Ruang makan hening, Zoe dan Sakya tidak melemparkan pertanyaan satu sama lain. Tetapi sebenarnya dalam benak Sakya terdapat benang-benang kusut yang berseliweran.
"Mau susu nggak?" Tanya Zoe pada Sakya saat dia menuangkan setengah susu ke dalam gelas.
Sakya menggeleng. "Kenyang gue."
Zoe meneguk susu putihnya, lantas merapikan piring bekas makan tadi. Dan mereka bergegas untuk berangkat sekolah.
"Mam, kakak berangkat, dadah embul." Pamitnya dan mengunyel-unyel pipi adiknya.
"Pamit Tan, makasih sarapannya, enak seperti biasa."
"Hati-hati kalian."
"Dadah Garvi."
***
"Pon, lo tahu Jo?"
"Jo siapa?"
"Ya kalo gue tahu, nggak tanya ama elu," Zoe berkata demikian sembari menggetok kepala Ivona dengan bolpoin.
"Emang di sekolah kita ada yang namanya Jo?" Tanya Ivona lagi. "Sak."
"Hm." Sakya yang ada di sebelah mereka sedang bermain gim daring dengan Ansel menggumam.
"Di sekolah kita ada yang namanya Jo?"
"Nggak ada." Bisa dibilang semua isi sekolah Sakya tahu, jadi mereka percaya saja.
"Napa dah?" Ansel ikut menimpali.
"Nih ada cowok chat Zoe bilang namanya Jo." Ivona menunjukkan room chat tersebut ke dua cowok itu.
+6286927256082
Azorella?
Ya
Sp?
Aku Jo
"Nggak jelas banget jadi manusia," komentar Ansel.
Sakya bergeser. "Napa juga lo bales."
"Menghargai," jawabnya enteng. "Lo ngerti nggak nomor itu?"
"Nggak, aneh," jawab Sakya malas.
"Coba sini." Ivona mengambil hp Zoe yang masih dipegang Ansel. Ivona mengetikkan sesuatu di sana.
Mereka berempat sedang ada di rooftop sekolah, karena panas mereka mencari angin, ditambah suasana yang sepi jadi enak untuk santai.
"Wih dibalas nih." Ivona menunjukkan gawai kepada pemiliknya.
Sakya dan Ansel ikut nimbrung, mereka menghentikan sementara gimnya.
Anak Smagaman? Nggak ada tu yang namanya Jo
Iya, jodohmu.
Ansel bereaksi pertama. "Garing anjir," katanya dilanjut dengan gelak tawa.
Sakya bergeming bak patung, belum merespon, begitu juga Zoe yang acuh.
"Orang gabut pasti," ujar Ansel.
"Ya udah biarin aja lah," kata Zoe meraih gawainya dari genggaman Ivona.
"Sini pinjem." Sakya mengambilnya, membuka kunci layaknya sang pemilik. "Lo terganggu nggak kalo ada kayak gini?"
"Kadang," jawabnya ragu.
Sakya dapat menilai keraguan Zoe dari mata dan raut wajahnya yang kurang meyakinkan.
"Ya udah lo diem. Apa? Gue cowoknya."
Sakya mengirimkan pesan suara kepada nomor tidak dikenal itu. Mengaku sebagai cowok Azorella.
"Yee modus bae lu centong nasi." Ansel menarik tubuh Sakya, dan menyembunyikannya di ketek.
Melepas dekapan Ansel, Sakya menyerahkan kembali gawai ke pemiliknya.
"Woi, kayaknya kita ganggu yang lagi pacaran nih," suara menggelegar menyebar ke penjuru rooftop.
Pasukan gang Sakya datang beramai-ramai, Zoe dan Ivona malas ketika mereka ada mereka, pasti rusuh.
"Cabut aja dah kita." Zoe menarik Ivona pergi dari sana.
"Mbak Ju mau ke mana? Mending di sini aja," kata salah satu dari mereka.
"Malas banget ada lo," jawab Ivona mewakili Zoe.
Mereka berdua menuruni tangga, sebenarnya mereka tidak tahu harus ke mana yang jelas terus berjalan saja memutari sekolah.
Zoe memerhatikan Ivona yang seperti menahan tawa, tersenyum geli menyembunyikan sesuatu.
"Masih waras?" Menempelkan telapak tangan ke dahi Ivona.
Tawa Ivona pecah. "Tahu nggak si? Itu tadi tu kode dari Sakya tahu," ujarnya sembari menabok bahu Zoe.
Sepertinya kurang afdol jika cewek-cewek tertawa tanpa menepuk orang yang ada di sebelahnya. Zoe mengaduh, "ngawur." Balasnya menepuk bahu Ivona lebih kencang.
"Jadi, mau sama sahabat sendiri apa balik ama mas mantan?" Goda Ivona.
"Nggak duanya, ide lo kurang bagus."
"Mau gue cariin cowok?"
"Makasih, mending lo cari buat diri sendiri," ujarnya tak suka. Selepasnya Zoe menarik Ivona agak duduk di bangku yang tersedia di depan koperasi, lumayan sepi juga dan jika ingin jajan lebih dekat.
"Susah gue mah, selera gue jadi berubah 360 derajat, mending halu aja."
Zoe memutar bola mata malas, tidak heran, tontonan Ivona semuanya cowok-cowok ganteng, begitupun bacaan yang memuat banyak kepribadian yang sempurna.
"Serah lo aja."
"Serius nih, lo mau balikan sama mas mantan? Atau jalin hubungan sama sahabat sendiri?" Tanyanya ulang.
"Nggak duanya."
"Zero!! Dicariin Zoe." Ivona berteriak tepat di telinganya, menunjuk-nunjuk kepalanya dengan bersemangat.
Zeo menelan ludah bulat-bulat, mungkin sudah berubah pucat, sahabat kampret memang.
Zoe yang sedang berjalan menoleh ke arah mereka. Tubuh tinggi tegapnya yang dibalut jersey basket yang sedikit basah menambah kesan maskulin seorang Zero.
Tangan Zoe merambat ke arah paha Ivona, mencubit dengan kemampuan yang dimilikinya, rasakan.
Kenapa juga Zero berjalan ke arahnya? Gawat.
"Sakit bego." Ivona meringis sembari menepuk punggung tangan Zoe.
Zoe kembali menelan ludahnya kasar. Dirinya tidak bisa berbuat apa-apa.
"Udah siap?"
Oke, wajahnya pasti terlihat sangat bego. Siap untuk apa ya? Penjelasan? Baginya tidak ada yang perlu untuk dijelaskan, dari awal semuanya, ditambah kemarin, sudah menjawab semua pertanyaan yang ada dibenaknya sejak lama.
Setelah bertanya demikian Zero yang masih berdiri berjarak dari mereka maju dan ternyata membuka pintu koperasi. Zoe beranjak, meninggalkan Ivona yang masih mengusap hasil cubitan miliknya.
Zoe harus kabur dari sana.
Yeyy update lagi .... Gimana? Gemas ga si sama Zoe? Xoxoxo
Oke, udah dulu ya, See you!!!
Jangan lupa vote komen!
Aku marah loh😠🔪
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro