Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

5- Deja Vu

Happy Reading!!

Langit biru bak lautan luas yang bersih tanpa awan menjadi saksi suasana sepi pada lapangan basket, hanya ada satu orang yang sedang sibuk dengan kegiatannya. Dribble, Shoot, kembali lagi hanya itu-itu saja. Dengan keringat yang bercucuran membasahi Jersey miliknya. Rambutnya juga sudah basah seperti bekas keramas. Lagi-lagi bola dilambungkan, namun sayang tidak masuk ke dalam ring.

"Sialan." Hanya umpatan-umpatan kecil yang keluar dari mulutnya.

Basket adalah hidupnya, basket yang selalu menemani hidup Zero, apapun keadaannya. Basket adalah pelampiasannya, basket adalah tempat untuk memulihkan lara, basket itu Zero. Yah, mungkin seperti itu.

Zero kira, setelah semuanya selesai dan kembali, tidak ada yang berubah. Kalau kalian tahu, Zero sangat-sangat mencintai Azorella. Mau menyesal pun untuk apa? Zero harus segera memperbaiki hubungan mereka. Zero tidak menganggap itu semua selesai, tidak ada kata akhir dalam hubungan mereka, setahu Zero.

Shoot ....

Lagi-lagi meleset.

"Nggak bakal bisa!"

Zero menangkap bola saat ada yang menganggu. Setelah tahu siapa yang datang, zero acuh, kembali mendribble bola.

"Batu banget dibilangin." Cowok itu merebut bola yang akan dilambungkan Zero.

"Ganggu mulu kerjaan lo!"

"Yee suka-suka gue lah."

Ozzy, sepupu Zero itu memberikan sebotol minum. Sepupu yang baik memang. Dengan santai Zero menerimanya.

"Stress mulu hidup lo," ujarnya cengengesan. Ozzy tahu apa yang menghantui pikiran sepupunya itu.

"Ngapain?" Tanya Zero menghiraukan kata Ozzy.

"Ngajak lo main lah," jawabnya ngegas. "Jangan mikirin mbak mantan mulu makanya."

Zero mendengus. "Belum ada kata putus."

"Kasihan banget sepupu gue. Padahal ceweknya aja udah move on, jalan sama yang baru, lo stuck mulu." Ozzy terus meledek, mengambil bola milik Zero dan melambungkan ke ring.

"Bajigur." Meraih bola dan kembali berusaha memasukkan bola ke ring.

"Sing tenang maszeh." Lagi-lagi Ozzy hanya bisa meledek Zero dan tersenyum geli. Ozzy menepuk pundak Zero dengan keras. "Udah tahu, kalo basketan kudu tenang, tetep aja lo bar-bar. Jangan karena cewek lo jadi gini terus."

"Siapa Sakya?" Pertanyaan itu yang ingin Zero tanyakan sejak tahu, bahwa Azorellanya sering bersama dengan Sakya.

"Kenapa nggak cari tahu sendiri?"

Ingin sekali Zero melemparkan bola basket ke kepala sepupunya itu. Dengan muka tampannya yang berubah menjadi sinis, Ozzy merapatkan telapak tangan memohon ampun, bercanda saja.

"Sakya Manunggal. Lo pasti tahu dong, anak tunggal kaya raya itu, masa lo nggak ngerti si?"

"Main gue kejauhan, jadi nggak ngerti. Yang serius napa si?!"

"Kalo hubungan dia sama Zoe si kurang tahu, tapi dilihat-lihat nggak mungkin cuma sahabat. Banyak juga yang bilang mereka pacaran."

Membuang pandangan menahan sesuatu yang bergejolak, Zero menyugar rambut basahnya.

Ozzy menepuk pundak sepupunya itu. "Daripada lo galau mulu, mending kita main."

Tanpa berkata Zero bangkit dari duduknya, yang otomatis Zero pasti setuju pergi bersama Ozzy.

"Eh, tapi lo jangan mandi."

"Mandi lah, basah gini."

"Ya kalo mandi lo nggak kek perawan gue nungguin nggak masalah." Ozzy mengencangkan suaranya, badan Zero sudah termakan oleh tembok.

Menunggu Zero mandi memang seperti menunggu cewek yang akan kencan. Harus dandan terlebih dahulu agar terlihat cantik. Zero memang selalu memerhatikan penampilannya, jika ingin dipandang baik dan mengenakkan mata orang yang memandang, kita harus berpenampilan rapi pula.

***

Weekend waktunya untuk main. Untuk sekadar merefresh otak. Zoe sudah siap dengan outfit warna avocado. Tinggal menunggu Sakya saja, katanya dia akan menjemput ke rumah.

Zoe juga diajak oleh Sakya, menemaninya membeli kado untuk nenek yang berulang tahun. Zoe mau-mau saja, apalagi dengan iming-iming ditraktir.

Ducati hitam itu berhenti tepat di depan teras rumah bernuansa minimalis. Sangat gagah, dengan pengendaranya yang tinggi melepas helm full facenya.

"Lama banget dah." Zoe menerima uluran helm dari Sakya.

"Mama lo ada?" Tanya Sakya sembari celingak-celinguk ke arah pintu.

"Udah pergi, lo kelamaan," katanya bersungut-sungut, sembari memakai helm. "Ih gimana si?!"

"Jangan marah-marah mulu makanya, sini. Maaf ya, tadi ada urusan mendadak." Sakya mengaitkan helm yang dikenakan Zoe.

Setalah itu, Zoe menaiki Ducati hitam milik Sakya, motor tinggi tidak masalah, tinggi badannya pas dan sudah biasa menunggangi motor Sakya itu.

"Mau beli apaan?" Zoe bertanya lumayan keras.

"Nggak jadi."

"Hah?"

"Nggak jadi."

Zoe yang kurang mendengar hanya menganggukkan kepalanya, menikmati angin yang menerbangkan ujung kaus dan rambutnya. Agak heran ketika Sakya menepi pada emperan cafe yang lumayan ramai. Dengan polos Zoe turun dan melepas helmnya.

"Katanya beli kado?" Tanyanya heran.

Setelah melepas helmnya, Sakya terlihat mengembuskan napas. "Nggak jadi. Mama gue yang beli tadi, udah ditungguin Ipon ama Ansel." Sakya menunjuk ke dalam cafe.

De'cafe, tempat yang minimalis dan modern, banyak muda-mudi yang datang, cafenya juga selalu ramai. Mereka berdua masuk melewati orang-orang yang ada di sana. Ivona dan Ansel sudah duduk manis di pojok ruangan yang terlihat lebih aesthetic.

"Juu!"

Zoe yang mendengar langsung memberikan tatapan menusuk pada Ivona, memang tidak lihat tempat.

"Udah lama lo?" Tanya Zoe, sembari meletakkan tas selempang di sampingnya.

"Belum si, belum pesen juga kita."

"Tumben banget, nongkrong di sini," kata Zoe menaikan alisnya.

"Gue menang lotre," jawab ngawur Ansel. "Seribu dapet sejuta."

Ivona yang duduk di samping Ansel langsung menggeplak tanpa rasa bersalah. Ansel memang suka ngawur.

"Ke toilet bentar, kalo pesen minumnya oreo, terus samain ama Ipon."

"Gue temenin deh," kata Ivona meminta pada Zoe.

Ansel menarik tangan Ivona yang hendak berdiri menyusul Zoe. "Biarin."

Zoe langsung berjalan ke arah toilet yang ada di ujung kanan. Matanya sekelabat menangkap bayangan seseorang yang ia kenal. Acuh, Zoe masuk ke dalam toilet. Zoe merasa kurang enak dengan baju yang dipakainya, ia hendak merapikannya.

"Oke rapi." Keluar dari sana, badannya tidak sengaja bertabrakan dengan seseorang. "Sorry."

Jaket itu, Zoe kenal siapa pemiliknya, Zero, Zoe kenal sebab dia yang memberikan jaket tersebut. Ternyata Zero masih memakainya.

"Ada yang sakit?" Zero mengecek dengan memegang kedua lengan milik Zoe. Kebiasaan dulu masih saja Zero lakukan. Badan Zero tidak sekeras itu, hanya Zero mau melakukan itu dan ini kesempatan yang bagus untuk Zero.

Zoe merasakan deja vu. Pikirannya berjalan, berputar membayangkan sesuatu yang sepertinya sudah pernah dirasakan. "E-enggak."

Zoe berjalan meninggalkan Zero yang masih berdiam di tempat, membuang pikirannya jauh-jauh, Zoe tidak mau lagi. Zoe akan melakukan misinya dengan baik, melupakan Zeroun.

"Nih punya lo." Sakya menggeser minuman oreo ke arah Zoe.

"Thank you Sakya." Zoe tersenyum manis pada Sakya.

"Ceritanya kita lagi double date," ujar Ivona sembari mengaduk minumnya.

"Yahh, serah lo aja." Ansel memutar bola mata malas.

"Yee nggak liat aja tu mata pada lihatin kita Mulu."

Mereka bertiga menatap sekeliling, tidak salah si kata Ivona. Zoe merasa kurang nyaman, ditambah saat Zero yang ada di pojok sana memerhatikan.

"Oji bukan tuh?" Ansel memberikan kode lewat dagu pada Sakya.

"Iya sama anak baru," jawab Sakya.

Ivona menendang-nendang kecil kaki Zoe. Mengode dengan mata dan kode-kode khusus yang hanya mereka berdua yang tahu.

"Napa lo, masih naksir anak baru?"

"Apa si Ansel," sewot Ivona.

"Lagaknya aja kek orang pacaran, dahlah jadian aja kalian," ujar Zoe menggoda mereka berdua.

"Dah ada cewek juga tu anak baru," ujar Ansel yang membuat kedua cewek itu menengok ke arah Zero dan temannya.

Kenapa juga, harus di tempat yang sama, bertemu dengan Zero terus menerus? Zoe memerhatikan dari tinggi badannya, mereka berdua seperti orang yang sedang melepas rindu. Mendekap satu sama lain dan memberikan kenyamanan.

"Cocok," celetuk Sakya yang membuat jiwa Zoe seperti melayang.

Lemas seluruh badan setelah mengetahui siapa dia, tatapan mereka berdua seolah dalam. Berarti memang betul, semua bukan hanya karangan dari bayang-bayang Azorella.

Yeyy!!
Zoe-Zero?
Zoe-Sakya?
Kira-kira siapa cewek itu?
Udah ada gambaran kenapa hubungan mereka kek gitu?
AWKWKWK

Si cantik Zoe


Nehh Abang Zero pakejaket dari Zoe

Jangan lupa vote komen luv!!
See you 

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro