Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

15- Pekan Olahraga

Happy Reading!!!!

Gerbang SMA 3 Mandala terbuka lebar, banyak yang akses keluar masuk yang di sana juga disambut dengan banner besar bertuliskan pekan olahraga. Semua kegiatan belajar mengajar sementara dihentikan untuk memeriahkan acara tersebut.

Cuacanya begitu mendukung acara hari ini. Sebagian besar sudah berkumpul di lapangan setiap cabang olahraganya. Murid cewek sudah siap dengan alat-alat pendukungnya. Ada yang membawa galon besar, drum, botol untuk bertepuk tangan dan yang pasti mereka menyiapkan suara untuk berteriak.

Seperti Zoe dan Ivona, mereka sudah memegang masing-masing dua botol bekas untuk nanti, mereka masih sibuk berfoto. Suasananya begitu ramai, banyak juga murid dari SMA lain yang datang untuk mendukung.

"Mendadak kebelet pipis," ujar Ivona sembari menutup kakinya menahan.

"Salah lo, minum banyak banget." Zoe mengikuti Ivona dari belakang, sembari memotret pemandangan manusia yang ada di depannya.

"Nih nih pegangin." Di depan pintu kamar mandi, Ivona menyerahkan semua barang yang dipegang ke Zoe.

"Matamu nggak lihat?! Susah gue," katanya ngegas. Meskipun begitu, Zoe tetap sabar menghadapi Ivona yang grasak-grusuk.

"Widii ada mbak ular nih."

Tiba-tiba saja bahunya disenggol yang membuat sedikit oleng. Zoe tidak menanggapi, memilih diam membaca sesuatu di gawainya.

"Ngerasa jadi si paling cantik, sampe nggak cukup sama satu cowok!" Ujarnya tidak enak didengarkan.

Zoe hanya melirik dari ekor matanya, dasar tidak tahu malu, harusnya menjaga value Smagaman, dia malah bertingkah bar-bar seperti tidak di didik. Berkata demikian seolah dia mengetahui semuanya tentang Zoe. Karena Zoe tahu posisinya lagi di mana, ramai, dan banyak tamu dia memilih diam walaupun sebenarnya ingin menimpali.

"Ehh lo bisu apa gimana, nggak cukup lo sama Sakya sampai lo ambil Zero juga?!"

"Maksud lo apa?!" Ivona yang baru keluar dari kamar mandi langsung mendorong Flora dengan brutal. "Kalo nggak tahu apa-apa nggak usah ngomong, malu lo!"

"Gue nggak ada urusan sama lo ya." Flora menunjuk muka Ivona yang langsung ditampik dengan kasar.

"Nggak usah nunjuk-nunjuk gue sama jari laknat lo! Urusan Zoe bakal jadi urusan gue juga."

Flora tidak sendirian, dia bersama dua temannya, Cheryl dan Luna. Untuk sekelas makhluk seperti Flora di sekolah, tidak mungkin sendirian.

Zoe meletakkan barangnya dan Ivona di lantai, menarik Ivona agar tidak mengurusi Flora and the gang. "Biarin aja, manusia kurang kerjaan kayak dia nggak pantes diladenin."

"Mulut lo dijaga ya!"

Sebenarnya Zoe ingin menertawakan Flora, cewek tumbuh-tumbuhan itu sangat tidak jelas, ucapannya tidak nyambung sama sekali.

"Uppsii." Zoe menutup mulutnya dengan gaya. Melihat sekeliling di mana murid cewek lain sudah mulai meninggalkan area kamar mandi, tersisa sedikit yang masih kepo dengan mereka.

"Kalo sama Sakya ya Sakya nggak usah Zero juga lo ambil, sasimo." Cheryl ikut-ikutan ketua gengnya.

"Eh geng tumbuhan, bau busuk mulut lo," kata Ivona mengejek.

Zoe sudah menahan tawa gila-gilaan, "buang-buang waktu gue lah," kata Zoe menunduk mengambil barang yang diletakkan tadi.

Sebelum Zoe pergi, tangannya ditarik Luna, si anak buah tumbuhan. "Eitss."

"Mau kerjaan? Bantuin ibu kantin nyuci piring gih lo pada, dapet pahala," kata Zoe santai.

"Lo nggak usah deketin cowok gue. Zero cowok gue," kata Flora dengan penuh tekanan.

"Oh, oke," jawab Zoe acuh dan pergi dari sana. "Buang-buang waktu aja."

Pasti, manusia sejenis tumbuhan semak belukar itu kemarin melihat dia dibonceng Zero, semuanya ada mereka urusi, berlagak tahu semuanya dan mengaku dirinya sebagai pacar Zero, Zoe terus nerapalkan sumpah serapah untuk Flora yang membuang waktunya untuk menonton.

***

"Hei."

Zoe sudah membelokkan kakinya setelah ditarik oleh Zero untuk menjauh dari lapangan basket. Tadinya mau ke lapangan futsal, karena Sakya dan Ansel banyak juga teman kelasnya yang ikut futsal dibanding basket, jadi Zoe memilih ke lapangan futsal, tapi malah diseret Zero. Lagian, si Ivona kemana, kalau ada Ivona kan lumayan dia bisa pergi.

"Inget kata mama kemarin?" Tanyanya, setalah menjauh dari keramaian.

Zoe berdecak mendengar pertanyaan Zero. Kata mama Zero kemarin, cuma berpesan singkat saja.

"Kalian harus terus sama-sama, awas aja kalau berantem lama. Kalau ada masalah diselesaikan bareng, jangan diem atau pergi, mama tahu hubungan kalian lagi nggak baik."

Ya, memang insting seorang ibu begitu besar, orang tua Zero sudah begitu menerima kehadirannya, pun keluarganya yang juga menerima Zero dengan baik.

"Malah bengong," tegur Zero.

"Iya, gitu doang," ujar Zoe malas.

"Gitu? Kamu bilang gitu? Sekate-kate emang ni anak, tambah ngeselin tapi tambah sayang juga," katanya sembari mengacak rambut Zoe.

Zoe memegang tangan Zero berniat untuk menggeser tangannya yang bertengger manis di kepalanya, namun Zero malah terus menggenggam tangan mungilnya.

"Lepasin nggak," pinta Zoe, karena tidak enak dilihat yang lain, makin ke sana- ke mari juga nanti gosip tentang dirinya dan Zero.

"Nggak mau."

Zero sudah siap dengan Jersey dongker yang bernomor punggung 9, kalau kalian tahu itu tanggal lahir Zoe.

"Lo main kapan?" Tanya Zoe menatap Zero yang ada di sampingnya.

"Ciee kepo, berarti sayangnya udah balik ya?" Zero yang cengar-cengir lantas membuat Zoe ingin menaboknya. "aduh, habis ini aku, kamu harus nonton."

Zero menatap langit, pikirannya sudah menembus awan. "Nggak harus nonton deh, tapi kamu harus ada di sana, paling depan, semangatin aku."

Belum juga Zoe menjawab, namun Zero sudah menariknya masuk ke area lapangan basket, mengantarkan Zoe di kursi penonton paling depan. Untuk sekarang giliran SMA 3 Mandala dengan SMA 1 Mandala, sama-sama kuat di basket.

Peluit menjadi tanda permainan itu dimulai, Zoe melihat permainan Zero kali ini lebih baik dari apapun. Dia terus mendribble mengantarkan bola ke keranjang, mengeshoot sampai akhirnya bola berhasil masuk dengan apik.

Zero berbalik melihat ke arah Zoe dan memberikan kiss bye, Zoe yang melihat itu malah mengepalkan tangan dibalas dengan kekehan dari Zero.

"WOI APA INI?! KITA NONTON BASKET APA NONTON UWUU!"

"ZEROOO!!!"

"SMAGAMAN! SMAGAMAN!"

"JANGAN BIKIN TREND BUCIN DI SINI, INI TEMPAT LOMBA BASKET!!!"

Teriakan dari penonton yang kebanyakan cewek mengisi lapangan yang ramai. Kebanyakan pasti iri. Zoe malah diam saja di tempat fokus dengan permainan dan poin yang didapatkan masing-masing tim.

"Woi."

"Kodok bule!" Latah Zoe saat Ivona datang mengagetkannya. "Lo bisa masuk sampe depan? Keren juga."

"Jadi pengin lihat kodok bule, pirang nggak?" Tanya ngawur Ivona. "Bisa dong, gue nyempil lah."

"WOI ZERO SEMANGAT! ADA ZOE DI SINI." Teriakan Ivona bisa mengalahkan suara apapun tadi.

"Berisik lo."

"Yee kasih semangat dong. Cepet."

"SMAGAMAN SEMANGAT!" Suara Zoe dan Ivona ya 11 12, cempreng, keras dan berisik.

"Semangatin Zero," ujarnya dengan manabok lengannya.

"Zero sekolah di smagaman, ini basket timnya samagaman. Otomatis gue ngasih semangat ke siapa? Zero, malah semuanya."

"Gengsinya turunin dikit mba," kata Ivona dengan nada menyindir.

Kedua tim tersebut terus berkejaran poin, smagaman lebih unggul dua. Jika saja smagaman bisa lebih unggul poinnya, akan masuk ke babak final. Teriakan-teriakan semangat dari penonton menghiasi lapangan, benar-benar ramai dan kompak saling mendukung.

Zoe menatap sekeliling, bukan lagi fokus ke permainan. Melihat Flora dan temannya yang sepertinya berlebihan, membawa banner bergambar muka Zero dan bertuliskan 'semangat Zero! Gantengnya aku harus menang!'

"Pon, liat." Zoe menunjuk ke arah tersebut dan reaksi Ivona pasti sudah terbahak-bahak.

"Lo cemburu?" Tanya Ivona dibalik keramaian.

"Apa yang harus dicemburui? Nggak ada," jawab Zoe. Dibalik rasa kecewanya, untuk apa cemburu dengan Zero? Dia kan sudah selesai.

"Waktu tersisa, satu menit. Ya. Lagi-lagi si tuan rumah berhasil mendapatkan three point. Siapa yang akan berhasil masuk ke babak final?" Suara dari sound menjadi pengingat mereka.

Zoe sudah yakin, Smagaman akan masuk final. Sampai detik terakhir smasa berhasil mencetak poin menjadi seri. Smaga sudah harap-harap cemas.

"ZERO! KAMU PASTI BISA!" Teriak Zoe saat Zero berhasil membawa bola menuju tempat lawan.

Detik-detik terakhir, mendengar teriakan Zoe, justru Zero menoleh.

"ZERO NGGAK PERLU NOLEH, WAKTUNYA BAKAL ABIS!"

Teriakan dari pendukung Smagaman yang kesal karena Zero harus menoleh ke arah Zoe terlebih dahulu. Setelah Zero yakin dengan memandangi bidadarinya, dia melanjutkan mendribble bola, tidak mulus, banyak yang menghadang, Zoe melemparkan bola ke yang lain, diterimanya lagi dan

Shoot ....

Waktu seperti berhenti seketika, gravitasi bumi menjadi tanda, bola yang dilambungkan ke atas akan kembali ke bawah.

"Yaaaa!"

"YUHUU."

"YEEE!"

Sorak - sorai kemenangan terdengar merdu, pemain langsung membentuk lingkaran dan memeluk satu sama lain, menjadi penghargaan untuk mereka bersama.

Zoe bertepuk tangan ria bersama Ivona yang terlihat sangat senang. "Berkat elo!" Kata Ivona antusias.

Dari kejauhan, Zoe melihat Zero datang menghampirinya. "Makasih."

"Selamat," ujarnya tersenyum lebar, dan memberikan sebotol minum untuk Zero.

"Makasih lagi." Demi apapun, Zero sudah seperti orang gila yang cengar-cengir, rasa capeknya hilang, tergantikan dengan rasa bahagia.

"Emm, gue udah siap denger cerita lo," katanya yang membuat antusias Zero berlebihan. "Tapi."

"Ada syaratnya?" Tanya Zero

"Iya, lo harus bawa piala itu."

"Oke dengan senang hati, deal ya." Zero mengulurkan tangan yang disambut dengan senang hati oleh cewek di depannya.

"Ok, deal."







TBC!!

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro