Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

14- Keluarga Zero

Happy reading!!



Setelah bel sekolah berbunyi, Zoe keluar kelas dengan ragu menuju parkiran di mana Zero meminta menemuinya. Hatinya terus bergumam memilih antara iya dan tidak sebanyak sepuluh kali, menemukan iya, diulangi sampai ketemu kata tidak dan begitu seterusnya, hingga Zero mengagetkan tepat berada di depannya.

"Ayo." Zero berusaha meraih tangan kanan Zoe yang nganggur.

Zoe mengikuti jalan Zero yang memiliki langkah lebar. "Bisa lepasin nggak, diliatin," bisiknya sembari berusaha melepaskan genggamannya.

Zoe tidak nyaman menjadi pusat perhatian murid lain apalagi dengan Zero, si murid baru yang langsung jadi a prince off Smagaman. Pasti nantinya akan menjadi bulan-bulanan fans Zero.

"Dah naik." Zero yang memasangkan helm untuk Zoe, yang melihat deg-degan dan memekik girang.

Zoe tetap terlihat supaya santai dan anggun, walaupun jantungnya sudah jedag-jedug tidak karuan apalagi dilihat yang lain. Zoe menundukkan kepalanya saat motor Zero sudah melaju keluar dari area sekolah.

"Pegangan dong." Zero menarik tangan Zoe untuk melingkar ke perutnya.

Rumah Zero melewati jalan raya lebih jauh dibandingkan dengan rumah Zoe. Mobil-mobil besar berlalu lalang karena memang jamnya yang pas untuk kendaraan berat. Seakan celah untuk Zero lewat begitu sempit.

"Rumah lo pindah?"

"Kenapa?" Zero memelankan laju motornya berusaha untuk mendengar pertanyaan Zoe.

Zoe itu malah untuk menjelaskan ulang kata-katanya. Jadi, memilih diam membiarkan Zero yang menatapnya dari kaca spion. Zero masih hafal itu, apalagi saat Zoe sedang badmood seperti itu, akan tambah susah diajak bicara. Saat mood baik, dulu malah Zoe yang cerewet saat di atas motor.

Zero tiba-tiba memelankan laju kendaraannya lagi setelah tadi agak sedikit mengebut, laju motor tidak stabil sama sekali, Zoe yang keheranan melihat ke arah depan yang terlihat janggal.

Citttt
Brakk!

Gesekkan motor dan aspal terdengar jelas di telinga. Pekikan dari si pengendara mengudara di jalan raya yang ramai, seketika arus lalu lintas berhenti begitu saja, seperti listrik yang tiba-tiba padam saat malam hari dan semuanya terjadi begitu cepat.

Zoe memejamkan mata, memeluk erat tubuh seseorang yang ada di depannya. Kejadian itu benar-benar tepat di depannya, melihat dengan jelas bagaimana kronologi ibu dan anak itu jatuh mencium aspal dan masih jelas suara yang di dengarnya tadi.

"You ok?" Karena Zero benar-benar merasakan ketakutan Zoe dari pelukannya, sangat terasa tangan Zoe yang gemetar memeluknya.

"Z-zero itu ... Kasian, tolongin."

Ibu dan anak itu dikelilingi orang-orang yang ada di sana. Kejadian itu benar-benar membuat Zoe ketakutan. Ibu tersebut yang akan menyalip terburu-buru karena mobil send lampu terlalu mendadak alhasil si ibu banting setir, terjatuh motornya yang belum mati berhasil menyeret korban.

Zero menepikan motornya, Zoe dengan gemetar turun dari motor. "Kamu tunggu sini aja, aku yang ke sana ok? Udah nggak papa," ujar Zero menggenggam sembari mengusap punggung tangan Zoe.

Zoe memerhatikan gerak-gerik Zero yang sedang mengeluarkan gawai dari sakunya, Zero menghubungi ambulans karena sedari tadi orang yang menolong itu hanya kepikiran yang ada di depan matanya saja.

Setelahnya, Zero menghampiri Zoe yang sedang menggigit jarinya tegang.  "Gimana?"

"Udah nggak papa, ditenangin mereka aku udah hubungi ambulans. Nggak terlalu parah, cuma shock." Zero memberikan pengertian ke Zoe, jangan sampai karena hanya melihat Zoe menjadi trauma. "Udah yuk, ditunggu mama loh."

Zero meraih tangan Zoe, menuntunnya menuju ke motor dan melanjutkan jalan ke rumah Zero.

***

Zoe sudah duduk manis di sofa empuk ruang keluarga rumah Zero. Dengan mamanya Zero yang masih antusias bercerita banyak ke Zoe, memeluknya, bahkan mencium gemas. Mirip seperti itu yang sudah lama berpisah dengan anaknya kemudian dipertemukan kembali.

"Ma, ya ampun pipi cewekku abis nanti."

Zero sudah tampil dengan pakaian yang berbeda, kaos putih dengan celana pendek yang menambah kegantengan Zero, jika saja anak sekolah melihat pasti sudah teriak.

"Kangen banget sama si cantik mama ini." Sekali lagi mama Zero memeluk Zoe.

"Kangen mama juga," balas Zoe. Jujur memang Zoe merasakan nyaman dan senang di sini.

"Mama punya sesuatu buat Zoe." Beliau menarik Zoe untuk mengikutinya ke kamar yang ada di lantai bawah.

Zoe tidak tahu akan dibawa ke mana hanya mengikuti saja, tidak tahu juga denah rumah baru milik Zero.

"Mama udah lama pindah ke sini?"

"Zero nggak cerita sama kamu sayang? Dasar anak itu. Belum lama, ya pas kami pulang."

Zoe hanya mengangguk saja dengan memerhatikan mama Zero yang sedang mengeluarkan sesuatu dari lemari. "tadaa!"

"Wah, apa tuh ma?" Tanyanya. Setalah tahu isi dalam paper bag itu Zoe ternganga melihatnya.

Satu set outfit yang jelas harganya sangat mahal. Dari dress, jam tangan, sepatu, dan tas.

"Khusus untuk cantiknya mama."

"Ya ampun, ini bagus banget, makasih ma, jadi ngerepotin, aku suka," ujarnya senang.

"Syukur kalau kamu suka." Segera menyerahkan paper bag dan mengajak Zoe keluar dari kamar tersebut.

Zero masih duduk anteng sembari dengan mulutnya yang tak berhenti mengunyah dan matanya yang fokus pada tayangan di televisi.

Mamanya menepuk paha Zero yang terlihat. "Kamu nggak cerita sama Zoe kalau pindah rumah?"

"Nggak. Rumah dia juga udah pindah ma," tunjuk Zero meskipun matanya masih fokus pada tayangan di depannya.

"Sudah lah, cocok banget. Jodoh ini," antusias mama Zero.

Zoe hanya menanggapi dengan cengiran lebar.

"Jangan jadi dukun dadakan ma," celetuk Zero.

"Ucapan ibu itu manjur. Mama harap si kalian masih berhubungan kayak dulu, kalau ada masalah cerita diselesaikan bareng, jangan diam-diaman apalagi putus, huu jangan," nasihat beliau kepada mereka. Sudah pasti akan senang bahkan kalau bisa kayang jika berhasil punya mantu seperti Zoe.

"Tuh dengerin ay."

Langkah kaki yang terdengar mengalihkan pandangan Zoe, terlihat lelaki paruh baya dengan pakaian informalnya. Zoe sangat mengenalu pria tersebut, tetapi postur tubuhnya sangat berbeda, terlihat lebih kurus dari yang sering dia lihat dulu.

"Siapa nih?"

"Cewek aku lah," ujar Zero dengan nada pamer.

Zoe berdiri dan mengulurkan tangan untuk salaman, namun beliau menariknya ke dalam pelukan.

"Apa kabar?"

Zoe terkejut kemudian menormalkan raut wajahnya. " Baik, papa gimana?"

Pria yang diketahui papa Zero itu menepuk pundak Zoe. "Sudah lebih baik, seperti yang kamu lihat ini." Menunjukkan agar terlihat lebih baik.

"Udah ada papa, jadi ayo kita makan, mama udah masak banyak sayang," ajak beliau ke meja makan.

Mereka sudah di ruang makan, dengan banyak sajian di mejanya. Mama Zero menyentongkan nasi ke semua piring.

Zoe yang ingin membantu malah dicegah, jadi Zoe hanya duduk manis di sebelah Zero. Dengan kejahilan Zero yang menyenggol-nyenggol kaki Zoe.

"Jangan lupa, berkas yang papa minta kemarin," kata Papa Zero kepada Zero yang sedang menjahili Zoe.

"Di meja makan, dilarang membicarakan pekerjaan!" Kata mama Zero garang.

Zoe bertanya-tanya pada dirinya sendiri, sejak kapan Zero menggantikan papa? Melihat kondisi papa Zero, juga membuat banyak pertanyaan karena tidak seperti dulu yang terlihat kuat, sekarang terlihat lemah dan lebih kecil. Ternyata banyak yang Zoe lewati.


TBC!!!

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro