Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

10- Coba Lagi

Happy reading!!!


Kecewa terlalu dalam, sehingga memilih diam. Semuanya melebihi batas sehingga itu semua kandas. Baginya tidak ada yang perlu dipertahankan, Zoe menganggap semuanya selesai. Ya, memang harus seperti itu. Dari kecil dirinya selalu dilatih untuk tegas dalam mengambil keputusan.

"Lo kirim aja lewat email, vid."

"Ok, gue kirim."

Sambungan telepon terputus, setelah ada kesepakatan. Zoe membuka pintu balkon menghirup udara segar sore hari setalah hujan. Telinganya menangkap derum motor yang kian mendekat. Matanya terbelalak saat melihat ducati hitam, berhenti di depan gerbang.

Zoe masih berdiri di balkon memandangi Zero yang sedang membuka gerbang. Zoe memperhatikan setiap gerak-geriknya. Sampai Zero melepas helm dan mengetuk pintu. Mungkin, dia tidak melihat kehadiran Zoe di balkon.

Zoe memilih di kamar saja meskipun tahu ada Zero yang datang. Ada sedikit rasa malas dan bingung, kenapa Zero ke sini lagi? Tidak perlu dong, dia caper atau meminta dirinya untuk kembali? Bukannya sudah punya gandengan baru.

"Ihh, kenapa gue jadi overthinking gini dah. Ngapain juga mikirin ngurusin hidup dia."

Suara ketukan pintu mengalihkan Zoe. "Masuk."

Zoe kira, yang masuk bakalan maminya atau mbok, ternyata cowok itu. "Nggak jadi, keluar," ujarnya sinis.

Namun, Zero tetaplah Zero, dia nekat masuk dan duduk di sofa yang ada di kamar Zoe. Kamarnya memang luas, ada meja khusus belajar, sofa untuk santai dan karpet beludru di bawahnya.

"Oke, biar gue yang keluar." Zoe berjalan melewati Zero, namun tangannya ditarik Zero sehingga tidak memungkinkan untuk bergerak.

"Kamu ada masalah apa si?"

Zoe memutar bola mata malas. "Masalah gue ya elo," ujarnya berusaha melepaskan genggaman Zero.

Zero berdiri tanpa melepaskan genggaman tangannya, berjalan di depan Zoe dan membawanya ke luar dari kamar.

"Ck, bisa lepasin nggak si!"

Bukannya melepas, Zero malah menguatkan genggamannya. Berjalan dengan muka datar khasnya, menuruni satu demi satu tangga rumah, Zoe yang di belakangnya agak geregatan pun menarik rambut Zero yang sering ia sebut tuing-tuing karena terguncang saat berjalan.

"Aww!"

Meskipun berhasil, genggaman tangannya tidak lepas, tapi Zoe sedikit senang karena kekesalannya sudah terlampiaskan.

"Mami kenapa biarin dia masuk kamar si?!"

"Bukannya dulu gitu? Apa salahnya," kata maminya yang fokus menyuapi Garvi.

"Ayaya tatata Ju." Garvi ikut berceloteh khas bayinya.

"Dulu ya dulu, sekarang ya sekarang. Nggak bisa disamain gitu dong," ujarnya sedikit keras.

Zero yang mendengarnya, merasakan ribuan jarum menusuk tubuhnya. Sesakit itu memang, namun Zero harus tetap mencoba lagi.

"Mami yang panggil Zero ke sini, mau nyuruh anterin kamu belanja bulanan."

"Biasanya juga mami belanja sendiri, kalo nggak ya mbok. Ini kenapa jadi perintah-perintah aku si."

Zoe sebenarnya tidak masalah diperintah belanja bulanan, namun yang salah adalah maminya harus melibatkan Zero dalam hal itu.

"Udah sana pergi, banyak protes, tuh list belanjaan udah mami tulis ada di meja."

Zoe pasrah, meraih kertas tersebut dan melangkah tanpa menoleh ke belakang. Zero yang melihat itu, langsung berpamitan dan bergegas menyusul Zoe yang ngambek.

"Kenapa si mami suka banget sama elo!"

Di depan motor sebelum pergi, Zoe masih misuh-misuh tidak jelas. Moodnya jadi tidak baik dan ia malas untuk keluar apalagi dengan Zero.

"Bukannya kamu juga?"

"Lo tuh nggak usah kepedean jadi cowok. Bisanya nyakitin, buat kecewa masih aja sok-sok peduli sama gue."

Zoe meraih helm dan memakaikan ke Zoe yang kepalanya tertutup hoodie, "bawal. Kamu aja nggak mau tahu yang sebenarnya terjadi."

"Gue udah tahu, nggak perlu lo jelasin."

"Udah, sini naik." Zero mengulurkan tangan untuk pegangan Zoe naik motor tingginya.

***

Supermarket yang kira-kira berjarak 800m lumayan ramai pengunjung. Zoe turun dari motor, melepas helm dan merapikan hoodienya.

Zoe hanya berpakaian sederhana, hoodie putih kebesaran dan celana jeans hitam. Begitu juga Zero dengan hoodie dan jeans hitam.

Zoe mulai mengambil troli belanja dan berjalan menyusuri rak, mencari barang yang ada di catatan. Zero hanya membuntuti seperti anak kecil.  Zoe yang mulai mengambil satu persatu barang membuat troli yang tadinya kosong pun terisi.

Zero inisiatif mengambil alih mendorong troli karena sudah mulai terisi. Zoe pun membiarkan Zero melakukan hal demikian meskipun dirinya gengsi dan masih marah dengan Zero.

"Nih, tepung kagak?" Zero menunjuk setumpuk tepung bermacam jenis yang ada di sana.

Zoe mengecek catatan dan ternyata tertera tepung 1kg, sehingga Zoe mengambil dan menaruhnya pada troli.

"Zeroo, ambilin."

Zero yang melihat Zoe menjinjit dan berusaha mengambil gula yang ada di atas terkekeh karena baginya Zoe sangat lucu, apalagi dengan nada manjanya yang ia rindukan. Begitu menggemaskan.

"Dasar pendek," ledeknya, Zero dapat mengambil dengan mudah karena tingginya 183 cm dan Zoe yang hanya 160 cm pasti tidak sampai dan kesusahan, atlet basket mana yang tidak tinggi? Zero termasuk ke dalamnya.

"Ininya aja yang ketinggian," cibirnya pelan.

"Iya deh, kamu juga tinggi." Daripada menambah masalah kan? Masalah satu aja belum kelar, jangan sampai ada masalah lain yang dapat menghambat misinya untuk menjelaskan agar bisa balikan dengan Zoe. "Ke mana lagi?"

Zoe menunjuk ke depan ke tempat ikan dan sayur-sayuran. Memang, belanjaannya begitu banyak.

"Anjir nanti bawa baliknya gimana?"

"Ngomongnya," tegur Zero. "Ya tinggal dibawa gimana si?"

"Susah, mana naik motor nggak lihat ini banyak banget?"

"Bisaa," ujar Zero enteng.

Zoe kembali memilih udang yang menurutnya masih segar. Zoe mendapat tips dari maminya, karena dirinya pecinta udang, jadi Zoe sering membelinya. Udang yang masih segar pasti baunya masih sedap, jika sulit untuk membedakan bau, udang segar memiliki tekstur daging yang lebih kenyal, dan kepala dan kulitnya masih melekat di badan.

"Masih sama ternyata," kata Zero memperhatikan Zoe.

"Ha?" Bingungnya, karena Zoe sedanh memencet udang, setelah ia rasa itu masih segar Zoe pun meletakan ke dalam troli yang hampir penuh.

"Masih suka pencet-pencet udang," kata Zero sembari bernostalgia.

Zoe tidak menanggapi, ia beralih ke tempat sayur, mengambil wortel, kubis, kangkung, dan lainnya.

"Vibes pasutri nih."

Zoe dikagetkan dengan suara cempreng yang ada di belakangnya. Zoe menoleh namun setelah itu kembali pada belanjaannya. Kenapa juga harus bertemu di sini?

"Eh hai, belanja juga Kay?" Bukan Zoe yang bertanya, melainkan Zero.

"Iya, nemenin nyokap."

"Langgeng juga hubungan kalian."

Kening Zoe berkerut, itu tadi ejekan? Atau apa ya? Bukannya karena dia hubungannya dengan Zero jadi hancur?

"Ayo." Zoe menoleh ke Zero, dia tidak nyaman dengan Kayshila.

"Duluan, nanti ibu negara ngambek."

"Hati-hati kalian. Zoe nomor hp lo ganti? Bagi yang baru napa," kata Kayshila sebelum Zoe benar-benar pergi dari sana.

"Sorry, gue buru-buru."

Mereka bergegas ke kasir dan membayarnya. Antre tidak terlalu panjang, jadi mood Zoe tidak akan bertambah buruk. Zero tahu itu. Setelah membayar. Dan kantong belanjaan yang begitu besar itu, Zero bawa menuju parkiran, Zoe masih saja diam.

"Kamu ada masalah sama Kay?" Zero bertanya sembari mengimbangi jalan Zoe. "Kayak ada sesuatu gitu, padahal kan kalian dulu deket."

"Kan gue bilang, dulu ya dulu, sekarang ya sekarang."

"Ya udah aku nggak maksa kamu buat cerita."

"Emang," katanya menerima kantong belanjaan yang berat. Karena mereka sudah sampai pada motor milik Zero.

"Pegang dulu, mau pake helm." Setelah Zero memakai helm. Ia meminta kembali kantong belanjaan, membiarkan Zoe memakai helm, dsn naik ke motornya terlebih dahulu, setelah itu, menyerahkan lagi ke Zoe dan meletakkan di tengah mereka.

"Aku juga mau jelasin yang sebenernya, biar kamu nggak salah paham terus sama aku," kata Zero sebelum melajukan motornya.

"Nggak perlu, gue udah tahu."

"Ya ampun, coba lagi terus kek ale-ale." Desah kekecewaan terdengar ke telinga Zoe. Zoe tersenyum tipis mendengarnya. "Kamu kapan nggak batu si!"

Zoe mengedikan bahunya acuh, setelahnya Zero mulai menyalakan mesin dan melajukan motornya dengan kecepatan sedang.













Wahhh ada kemajuan, walaupun dikit. Suka kek gini nggak?
Oke, jangan lupa vote komen!
TBC!!!

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro