Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

26. Diskusi yang Menyakitkan

Langsung baca yaaaa

Pasangan abdi dalem Ibu Hamida dan Pak Syakur adalah dua orang yang Ayana dan Ilyas percaya untuk mengurus pekarangan rumah dan taman depan dalem kediaman Ilyas. Sebagai bentuk sopan santun, ketika Ayana baru saja sampai di dalem setelah pulang mengajar, dua pasangan tersebut memberikan anggukan serta senyum pada istri Ilyas.

"Bik Mida, ini ya gaji bulan ini. Terima kasih kami sudah dibantu mengurus rumah," ucap Ayana dengan menyerahkan dua amplop sekalian milik Pak Syakur.

"Iya, Mbak Ayana. Terima kasih banyak. Oh, iya, Mbak. Barusan Gus Ilyas berpesan, kalau Mbak Ayana mencari Gus Ilyas beliau ada di dalem utama. Dipanggil Kyai Marwan."

Ayana berterima kasih atas informasi yang diterimanya itu. Ia pun masuk ke dalam rumah untuk membersihkan diri dan mengganti daster rumahan. Rencananya ia akan memasak lebih dulu, nantinya ia akan membereskan rumah. Untuk ukuran huniannya bersama Ilyas yang tidak terlalu besar, membuat Ayana tidak suka jika ada orang lain masuk. Oleh karenanya, tidak ada abdi dalem yang dipekerjakan di dalam rumah.

Setelah menyelesaikan urusan pribadinya ketika di dapur dan membuka lemari pendingin isinya kosong. Bahan makanan yang ia titipkan belanja ke abdi dalem sepertinya masih ada di kulkas dalem utama. Ilyas yang ia pesan untuk memindahkan ke lemari pendingin di dapur pribadi mereka belum melakukan tugasnya.

Untuk bisa melanjutkan niat memasaknya, tentu saja Ayana harus pergi sendiri ke dalem utama. Istri Ilyas itu langsung menuju dapur melalui pintu belakang dengan melewati lorong taman penghubung ke area memasak dalem utama. Ia pun langsung membuka kulkas milik mertuanya dan menemukan kresek berisi belanjaannya.

"Tidak ada larangan laki-laki menikahi dua, tiga, dan empat perempuan sekaligus." Tidak sengaja Ayana mendengar percakapan di ruang tamu dengan nada tidak bersahabat di rungu. Seketika tangan Ayana yang mengambil belanjaannya berhenti. Tanpa berniat menguping, tetapi sudah terlanjur mendengar membuat dirinya dihinggapi penasaran.

"Maaf, Ridwan. Keluarga kami tidak ada yang melakukan poligami."

Ayana mengenal bahwa suara yang berbicara ini adalah Kyai Marwan. Nama yang disebut oleh mertuanya adalah Kyai Ridwan, ayah dari Ning Zahira. Topik yang mereka bicarakan adalah poligami, siapa lelaki yang akan mempunyai istri lagi. Tidak mungkin jika Abi Marwan akan menduakan Ummi Farhah. Kemungkinannya ... Ayana langsung membekap mulut saat kepalanya bermuara pada suatu kesimpulan.

Ia pun urung untuk mengambil bahan mentah untuk dimasak. Dengan tubuh yang sedikit bergetar, ditutuplah pintu lemari pendingin dan berjalan menuju tembok pembatas antara dapur dengan ruang tamu. Ayana berdiri, bersandar untuk bisa menangkap pembicaraan lebih jelas dan juga menopang tubuhnya.

"Berarti kamu mengharamkan yang diperbolehkan?" tantang Kyai Ridwan yang sepertinya diliputi oleh emosi.

"Maaf, Pak Kyai, jika saya menyela," suara Ilyas yang sangat Ayana hafal. Setelah menunggu beberapa detik ternyata tidak ada kelanjutannya. Sepertinya interupsi suaminya tidak mendapatkan kesempatan untuk mengemukakan pendapatnya.

"Ridwan, aku pikir kita bisa bijak sebagai orang tua," ucap Kyai Marwan yang terdengar sangat santai tidak terpancing emosi Kyai sebayanya.

"Bijak katamu? Kita yang sepakat akan menjodohkan anak-anak kita, tapi kamu menikahkan anakmu dengan perempuan lain. Keluargamu menghina keluargaku, Marwan!"

Tidak terdengar pembelaan dari mertua atau pun suaminya Ilyas. Ayana mulai berpikir jika pernikahannya dengan putra Kyai sepertinya mendatangkan masalah pada keluarga Ilyas.

"Aku sudah membiarkan putriku, Zahira berada di sini, membantu pesantrenmu memenangkan kompetisi hafiz nasional bahkan hingga ke tingkat timur tengah dan kamu tidak menepati janjimu?"

Jika Ayana pikir, ada benarnya apa yang diiucapkan oleh Kyai Ridwan. Ning Zahira adalah sosok yang berkontribusi untuk kemajuan Pesantren Al-Insan dalam mencetak hafiz seebagai program utama dan unggulan.

"Ridwan, selama tidak bertentangan dengan agama. Kita para orang tua hanya bisa mengamini keputusan mereka, bukan?" ucap Kyai Marwan.

"Sebenarnya aku heran apa yang membuatmu memilih perempuan biasa seperti itu dibandingkan putriku? Apa yang bisa dibanggakan dengan program mengelola limbah dibandingkan Zahira yang jadi hafiz hingga Makkah? Bahkan sampai sekarang perempuan itu belum juga memberikan keturunan, jangan-jangan ...."

"Maaf, Pak Kyai. Saya rasa anda sudah melewati batas dalam perkataan," potong Ilyas dengan nada rendah dan penuh penekanan. Ayana menduga jika lelaki itu sedang menekan emosinya dan menjaga sopan santun pada sahabat dari abinya.

Perempuan yang tidak sengaja mencuri dengar diskusi itu membekap mulut. Objek permasalahan yang dibahas itu sudah pasti pernikahannya dengan Ilyas. Saking penasaran dengan situasi perdebatan tiga lelaki yang dihormati karena ilmu agamanya itu pelan-pelan hendak mengintip. Sayangnya, usaha tersebut justru membuat matanya tanpa sengaja bertatapan dengan iris milik Ilyas. Ayana yang terkejut kembali menarik diri dan pergi sedikit berlari meninggalkan dapur ke dalem yang ia huni bersama suaminya

Sampai di rumah, Ayana tidak jadi menunaikan rencananya memasak. Perempuan yang tidak sengaja mendengar diskusi menyakitkan itu, jiwanya bergerumuh, menahan air mata yang tidak bisa dihalau hingga bibir bawah berdarah. Perempuan yang perasaannya tidak keruan itu seketika luruh di sofa ruang tamu.

Semua aktivitas di ruang itu, tempat pertama kali dia dan Ilyas melakukan deep talk dan mengetahui bahwa Ilyas adalah lelaki halalnya untuk pertama kali. Kegiatan bersama mempersiapkan materi yang akan digunakan sebagai bahan mengajar. Ilyas yang melakukan pekerjaan kepengurusan pesantren dan perguruan tinggi Al Insan sedangkan Ayana yang sedang mengelola pengembangan program pembedayaan, atau, sekadar menikmati susu hangat sebelum masuk kamar dan naik kepembaringan. Akankah semua hanya tinggal memori bersama di ruangan tempatnya termenung ini? Ayana menggelengkan kepala kuat-kuat.

"Tidak mau ... tidak mau. Aku tidak mau pisah, tidak mau juga jika punya madu," gumam Ayana.

Ketika suara pintu belakang ganggangnya berbunyi seperti akan di buka, Ayana langsung duduk tegak dengan kedua tangannya aktif mengusap air matanya kasar. Ia hirup udara dengan rakus dan berusaha mengontrol emosi agar tidak terlihat begitu rapuh. Benar saja, ketika pintu di buka, munculah sosok Ilyas yang membawa kresek belanjaanya. Ayana tidak menghampiri suaminya, ia sibuk mendongakkan kepala agar air mata tidak keluar dan perasaannya dapat ia kendalikan.

"Kenapa tidak sekalian dibawa pulang?" tanya Ilyas ketika masuk langsung menuju kulkas mereka.

Ditanya demikian, Ayana tidak punya jawaban apa pun. Ia sudah ketahuan. Bukan tentang membawa belanjaan dapur tetapi perihal ia menguping pembicaraan yang tidak seharusnya. Kini, Ayana hanya mengamati tanpa ada niatan beranjak untuk membantu suaminya yang meletakkan bahan mentah seperti sayur, buah dan beberapa telur, serta ikan yang ter-wrap.

Selesai dengan urusan menata bahan mentah di kulkas, Ilyas langsung mencuci tangannya kemudian bergabung di sofa yang sama dengan istrinya. Netranya yang jeli, mampu menangkap sembab di wajah istrinya.

"Ay, Kamu habis nangis?" tanya Ilyas dengan tangan yang menangkup wajah dan kedua ibu jari mengelus pipi istrinya seakan menghapus bekas air mata yang mengering.

"Mas, kamu tidak ingin menyampaikan apa pun?" ucap Ayana memberanikan diri.

"Apa yang bisa aku ceritakan, Ay? Apa yang kamu dengar?" timpal Ilyas seperti biasanya dalam pembawaan diri yang tenang.

"Kenapa harus aku yang bicara lebih dulu?" tanya balik Ayana dengan nada sebal. Ayana hanya berharap Ilyas dapat berkomunikasi terbuka bukan seakan sedang diintrogasi.

"Aku mau dengar dari sudut pandangmu, Ay," kata Ilyas dengan tangannya mengusap pipi istrinya. Seakan menyakinkan bahwa perempuan halalnya tidak perlu takut untuk mengutarakan apa yang Ayana dengar atau rasakan.

"Sekali lagi, kenapa aku yang harus mulai duluan?" dengus Ayana dengan raut wajahnya yang memberengut. Ia sudah sangat kesal tentang Ilyas yang tidak pengertian akan perasaan dan kekhawatiran dirinya.

"Baik, aku tanya. Apa kamu takut aku mengamini permintaan Kyai Ridwan?" pancing Ilyas.

"Apa ada seorang istri yang merasa aman jika tahu suaminya dijodohkan dengan Ning Zahira? Semua orang tahu secara keturunan dan ilmu Ning Zahira jauh lebih pantas bersama Gus Ilyas."

"Mas!" koreksi Ilyas. "Jadi, kamu merasa insecure dengan Ning Zahira, Ay?" lanjutnya.

"Mas ...," desah frustasi Ayana. Tangannya sudah mengusap kasar wajahnya untuk menyalurkan emosi sekaligus menghapus air mata yang berkaca sebentar lagi mengalir.

Ilyas pun memposisikan diri menghadap dan menatap sepenuhnya pada perempuan yang ia pilih menjadi teman hidup sepanjang usianya. Digengam kedua tangan perempuan yang sedang rapuh itu untuk menyalurkan keyakinan. "Itu penilaianmu. Di hadapan Allah kita tidak tahu siapa yang lebih mulia."

Ayana bergeming akan kalimat Ilyas yang menurutnya adalah penghiburan. Bukankah ceramah lelaki yang menikah dengannya itu menyampaikan jika sebaik-baik manusia yang belajar Al-Qur'an, mengajarkan dan mengamalkannya. Kriteria tersebut, Ayana merasa jauh dan Ning Zahira lah yang dekat.

"Mengapa harus penilaian orang? Ini juga bukan pantas dan tidak pantas. Kenyataannya, kamu sosok yang menyempurnakan agamaku, teman hidup menjadi taqwa sebagai hamba Allah."

Diangkatlah kepala Ayana dengan netra yang mengunci pandangan suaminya. Manik hitam milik Ilyas di sana ia mencari kesungguhan dan mencoba mengukuhkan perasaannya yang karut-marut. "Mas tidak tidak akan mendua atau tinggalkan Ayana, kan?"

"Tidak perlu khawatir. Kamu tahu aku lelaki yang berilmu, tentunya kamu tahu bagaimana akhlak orang berilmu. Percayalah!"

"Kalau begitu, aku akan berusaha membuat Mas Ilyas cukup hanya bersamaku."

Ilyas mengangguk tersenyum dan menarik istrinya dalam pelukan. 

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro