Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

24. Cemburu

Setelah dua kali purnama akhirnya bisa up .....


___Selamat membaca___

"Kenapa ada pembelian baru untuk kain motif ini, sih, Na?"

"Itu pembelian dalam jumlah banyak, kamu tidak optimalkan bahan baku yang sudah ada?"

"Kamu tidak baca riwayat pesannya? Sudah jelas aku sudah melakukan sepakat warna toska kenapa bisa ada opsi lagi warna jingga?"

Omel panjang Rayyan ketika baru datang memasuki minimarket Al-Insan. Lelaki itu bahkan sampai cuma salam pendek dengan raut wajah masam. Sedangkan yang diomelin hanya diam saja tanpa menanggapi dengan wajah datar yang tenang.

Fiza terbengong ketika pertama kali melihat lelaki yang biasanya santai dan sedikit slengean itu marah. Sedangkan Ayana yang ketika masa kuliah sudah sering melihat dan mendapat amukan Rayyan mencoba memahami duduk perkara serta mencari solusi untuk meredam emosi sahabatnya.

"Rayyan, bisa tenang dulu. Ini kita miskomunikasi aja! Aku enggak tahu kalau sudah deal. Daripada kamu marah-marah, nanti kita pikirkan solusinya. Toh, stok bahan baku perca itu masih kita gunakan untuk produksi selanjutnya, kan?"

"Kamu lupa misimu apa? Ada target 1 ton kain perca bisa kamu daur ulang menjadi produk. Bukan hanya mengubah, tapi menghasilkan omset. Kalau pesanan dalam jumlah banyak kamu menggunakan kain baru, kapan target limbah konveksi selaras akan mencapai target terolah?"

"Sepertinya kamu lagi mikirin targetmu, Yan! Dan mencemaskan kegagalan itu!" potong Ayana yang mulai kepancing emosi. Dia juga tertular sebal jika rentetan omel asisten Laras itu belum terlihat ujungnya.

"Ini bukan hanya targetku, tapi kamu yang mengajukan untuk ikut misi dan program Mbak Laras!" sergah Rayyan tidak terima.

"Iyaa, nanti gampang Yan," sahut Ayana sangat enggan menyanggah lagi.

"Gampang?!" tanya Rayyan dengan sarkas. "Mau produksi dead stok?"

"Yan, bisa nggak ngomongnya dengan suasana yang lebih tenang. Enggak usah tegangan tinggi. Pasti ada solusi!" ucap Ayana sambil menghela napas yang sengaja dia perlihatkan pada Rayyan agar lelaki itu tahu dia sudah lelah mendengar amukan lelaki itu

Rayyan tidak membalas apapun, dia hanya melihat sang sahabat sekilas kemudian mengurutkan pangkal hidungnya.

Fiza yang sedari tadi ada di balik meja kasir mengunci mulutnya karena melihat Rayyan maupun Ayana sama-sama dalam situasi bersitegang. Mulutnya masam, karena melihat interaksi dua orang yang saling bersahabat itu dalam situasi memanas. Sungguh, anomali sedang terjadi.

"Kunci gudang bahan, Na!" pinta Rayyan kali ini suaranya yang kembali normal. Dia pun mengulurkan tangan guna menerima benda yang dipintanya.

Segera Ayana merogoh kunci dalam tas untuk memberikan yang Rayyan pinta.

Rayyan yang sudah memegang kunci langsung saja bergegas pergi tanpa mengucap salam

"Serem banget ya, Na," kata Fiza setelah melihat lelaki yang pernah ia incar dalam mode singa. Bahkan penjaga minimarket itu sampai bergidik melihat emosi Rayyan.

"Biasa Za, ini bukan pertama kali dia bentak gitu. Tapi, kalau udah ya udah!" balas Ayana seakan bilang bahwa yang barusan terjadi bukan sesuatu yang berarti.

"Dia cemburu? Frustasi kasih tak sampai?" tanya Fiza yang ditelinga Ayana terdengar absurd.

"Ngawur!" sanggah Ayana dengan cepatnya.

"Kali Na, siapa tahu kan?!!" kata Fiza dengan penekanan dan matanya menyipit berusaha menyakinkan Ayana bahwa yang ia katakan adalah kemungkinan besarnya.

Ayana mendelik. "Fiza, itu bisa jadi fitnah!"

Penjaga minimarket itu hanya mengerucutkan mulutnya seraya memutar bola matanya. Fiza paling benci jika Ayana dalam mode ustazah padahal dalam ia sangat yakin jika Rayyan menyukai sahabatnya.

"Ayooo! Ikut aku nyusul Rayyan, Na," ajak Fiza yang sebenarnya penasaran apa yang akan lelaki itu lakukan di gudang bahan setelah naik pitam di minimarket.

Di saat akan beranjak meninggalkan minimarket untuk menyusul Rayyan, Ayana dan Fiza mengurungkan niat karena Ilyas membuka pintu kedatangan minimarket.

Gus muda yang menemukan presensi istrinya di minimarket membuat sudut bibirnya tertarik tersenyum. "Tadi aku melihat Rayyan, habis dari sini?"

"Iya, Mas. Abis ambil kunci gudang," jawab Ayana.

"Dia kenapa? Kulihat wajahnya masam," tanya Ilyas lagi.

Gus muda yang tidak puas dengan jawaban istrinya yang hanya berupa gendikkan bahu. Kemudian Ilyas mengalihkan pandangannya ke penjaga minimarket pesantren untuk mendapatkan jawaban.

"PMS paling, Gus. Tadi aja marah-marah enggak jelas," ceplos Fiza ketika ia merasakan tatapan yang menuntut dari Ilyas.

Ayana mendelik atas mulut Fiza yang kelewat tanpa filter.

"Marah sama siapa?" tanya Ilyas penasaran tapi intonasi yang tidak biasa karena dia yakin sasaran marah lelaki yang berpapasan dengannya sebelumnya itu adalah Ayana.

"Yah Ayana sih Gus," jujur Fiza.

Ayana yang mendengar kejujuran sahabatnya langsung melemaskan bahunya karena ia menyadari Ilyas menatap dirinya hingga alis lelaki itu bertaut.

"Ay, aku belum pernah marahin kamu," protes Ilyas sebagai respon informasi dari Fiza.

"Mas, Rayyan enggak marahin aku?" terang Ayana dengan suaranya terdengar rendah frustasi. Dia sedang tidak ingin urat tegang lagi. Cukup tadi saja dengan Rayyan.

"Kamu belain laki-laki lain?" kata Ilyas dengan wajahnya yang semakin keruh.

"Ya Allah ... Tadi itu hanya brainstroming, Mas!" jelas Ayana kembali.

"Mas, kita tidak akan berdebat begini di sini kan?" kata Ayana dengan penekan di kata terakhirnya dengan lirikan mata yang dia arahkan pada Fiza. Istri Ilyas tersebut sedang mengkode bahwa mereka tidak berdua saja, tidak sepatutnya berdebat rumah tangga yang disaksikan orang luar. Walaupun itu sahabat mereka sendiri.

Ilyas yang menyadari hal tersebut kemudian ia menghela napasnya. Jika ia tidak diingatkan oleh Ayana, wibawanya sebagai pengurus tinggi pondok akan turun.

"Maaf, ya, Mbak Fiza," ucap Ilyas dengan kerendahan hati karena tidak tahu tempat ketika sedang cemburu.

Fiza yang juga terkejut sisi lain Ilyas yang hampir lepas kontrol karena menyangkut Ayana dan Rayyan. Akhirnya perempuan ceriwis itu hanya mengangguk.

"Sekarang, Mas ke minimarket cari apa?" tanya Ayana yang sepertinya dia tahu kalau tujuan suaminya masuk ke minimarket bukan sekadar menanakan muka masamnya Rayyan.

"Cari kamu, cuma mau ngasih ini." Ilyas mengulurkan kartu berlogo bank swasta serta kartu profider. "Uang jajan kamu, pakai di kartu itu. Kamu pakai simcard ini juga, buat bisa instal m-banking."

Ayana menerima dua barang pemberian suaminya kemudian anak dari pengasuh Pesantren Al Insan tersebut izin kembali ke kantor pondok.

"Gus Ilyas protektif juga ya, Na!" Komentar Fiza setelah sosok Gus Ilyas keluar dari minimarket.

Ayana yang tidak ingin menanggapi komentar Fiza mengalihkan topik dengan bertanya hal lain. "Jadi nih yang mau ke gudang bahan?"

"Jadiiii dongg," jawan Fiza yang terdengar sedikit nge-gas. Sahabat Ayana itupun langsung melakukan mode sleep pada komputer kasir dan mengambil ponsel serta kunci minimarket.

"Na, serius, apa kamu enggak sadar kalau Rayyan suka kamu?" tanya Fiza lagi saat mereka berjalan berdua menuju ruang penyimpan kain perca.

"Ngawur!" umpatan suara berat khas laki-laki menginterupsi pertanyaan Fiza kepada Ayana.

Dua perempuan yang menjalin persahabatan sejak keduanya sama-sama menjadi santriwati di Al Insan merasa tidak asing dengan suara interupsi itu. Untuk memastikannya Ayana dan Fiza menoleh ke asal suara. Keduanya melihat presensi Rayyan dengan muka masam dan tatapan yang tajam pada Fiza.

Rayyan pun berjalan mengikis jarak dirinya dengan dua perempuan yang menjadikannya topik obrolan tanpa mengubah ekspresi. "Aku itu sukanya sama kamu!" ucap Rayyan tegas sambil menunjuk Fiza.

Ekspresi Fiza membeo ketika mendengar pengakuan lelaki yang sebelumnya ia simpulkan menyukai Ayana. Sayangnya perempuan yang masih bergeming di tempat itu tidak bisa mengonfirmasi ulang karena Rayyan sudah melanjutkan langkah meninggalkan Ayana dan Fiza.

Ayana yang memang sudah tahu perasaan dan niat sang sahabat laki-laki, hanya tersenyum menatap perempuan cerewet yang kini tiba-tiba terdiam. Bungkam.

"Naaa?" lirih Fiza dengan tatapannya meminta konfirmasi akan pernyataan yang baru saja ia dengar.

Anggukan kepala Ayana sebagai jawaban atas pernyataan ketidakpercayaan Fiza. Bahkan perempuan yang berprofesi pengajar sejarah itu tersenyum geli seperti saat Ayana tersenyum melihat ekspresi kekaguman santrinya saat mengajar.

"Bukan hanya suka, Rayyan bahkan bertanya kalau dia langsung lamar kamu gimana? Atau sekalian dihalalin?"

Tentu saja Fiza semakin membuka mulutnya tidak percaya dengan penjelasan Ayana yang melambungkan inginnya.

Fiza yang membutuhkan waktu untuk mencerna ungkapan Rayyan dan juga penjelasan Ayana menjadi bimbang untuk bertemu dengan Rayyan. Akhirnya, perempuan yang berkepribadian selalu ceria itu pamit untuk kembali kembali ke minimarket. Tanpa menunggu persetujuan Ayana, Fiza bahkan langsung ngacir.

Ayana tentu saja melanjutkan niatnya untuk ke gudang. Dia juga menghubungi santriwati yang membantunya dalam program pemberdayaan agar menghindari fitnah karena bekerja berdua dengan Rayyan.

Selepas dari berkegiatan mengurus program perbedayaan yang sebagian besar di hari itu ia gunakan untuk mengalisis ketersediaan stok dengan kecocokan produk yang akan diproduksi hingga pukul lima sore dilanjutkan dengan melaksanakan salat magrib di masjid pesantren, Ayana menunggu suaminya di teras masjid untuk kembali ke dalem. Hari ini Ilyas mendapatkan jadwal untuk mengimami salat.

Setelah meletakkan perlengkapan salat di kamar, Ayana melihat Ilyas yang berkutat dengan tumpukan beberapa buku tafsir dan penunjang lainnya di kursi ruang tamu sekaligus berfungsi ruang keluarga. Ayana pun bergabung, duduk disebelah suaminya.

"Mas, aku mau buat coklat hangat. Mas Ilyas mau?" tanya Ayana setelah duduk bersisian dengan suaminya

Ilyas menoleh sebentar, kemudian meletakkan buku ke meja. "Biar mas aja yang buatin kamu."

Sebagai seorang istri yang mencoba memahami pola Ilyas, Ayana tidak membantah. Dia menunggu dan mengamati lelaki halal yang terlihat mempesona ketika tidak ada kecanggungan berada di area meja dapur, membuka sachet susu bubuk dan menyeduh dengan air dispenser.

"Dari tadi aku lihat aku senyam-senyum. Ada apa, Ay?" tanya Ilyas yang meletakkan segelas minuman permintaan Ayana di meja yang ada di hadapan istrinya.

"Terima kasih," ucap Ayana dengan senyum tulusnya.

Ilyas menganguk, kemudian ia mengingatkan apa yang ia ucapkan sebelumnya. "Pertanyaanku belum di jawab, Ay?"

"Rayyan, Mas." Netra Ilyas mendelik, tidak suka.

"Eh, maksud aku, aku suka Rayyan itu ...," kalimat Ayana tiba-tiba terhenti karena menyadari sorot mata Ilyas yang semakin tajam. Ia pun merutuki mulutnya kenapa kaimat pertama yang keluar justru menyebut nama sahabat lelakinya itu.

"Mas, sebagai teman! Enggak lebih!" tegas Ayana kemudian.

"Kamu itu, sudah tahu punya suami masih aja ngomongin lelaki lain. Itu bisa jadi bumerang untuk pernikahan kita, Ay!"

"Maaf, Mas...," ucap Ayana penuh penyesalan.

"Jangan diulangi. Lupakan Rayyan dan belajar mencintai aku!" kata Ilyas dengan tatapan tajam dan pengucapan yang di tekan.

"Mas Ilyas sepertinya sudah sangat mencintai, Ayana," konfirrmasi Ayana.

"Hati aku suka sama kamu, egoku sebagai lelaki menghalalkanmu. Kuminta jaga marwahku sebagai lelaki yang wajib hatimu jatuh cinta dan tidak ada lelaki lain, Ay!"

Jika sudah dimode seperti ini, Ayana sangat tahu bahwa suaminya memang benar-benar mencintainya dan bertanggung jawab terhadap tindakan menikahinya. Sangat wajar jika Ilyas mengingatkan akan komitmen yang mengikat keduanya agar tidak ternodai dengan kehadiran sosok lain yang memicu ketidakharmonisan rumah tangganya.

"Fiza yang disukai Rayyan, bukan aku. Kami murni bersahabat. Aku cintanya Mas Ilyas."


---bersambung---

Senin, 23 September 2024  

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro