Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

23. Ayana, I Love you

Selamat Idul Adha. Mohon maaf lahir dan batin.

Biar enggak korban perasaan digantungin cerita ini. satu part untuk yang penasaran sama kehidupan Ayana Ilyas setelah menikah. Di sini ada yang pernah berharap punya jodoh seperti Gus Ilyas?


___Selamat Membaca___

"Oalah totebag kemarin itu buat resepsinya Ning Ayana ya," kata Bu Lina saat Ayana sudah kembali ke rutinitasnya. Menjalankan program pemberdayaan masyarakat.

Ayana mendapatkan pesanan totebag, cardholder sekaligus dengan lanyard dengan motif floral berwarna jingga langsung saja mengunjungi rumah jahit. Dia sedang menghitung perkiraan kebutuhan kain serta bahan pelengkap dan menyesuaikan dengan ketersediaan bahan baku.

Ayana sedang meminta komitmen penjahit yang tetap tentang kesanggupan dalam produksi atau bila tidak sanggup langsung dikomunikasikan saja agar dirinya bisa menghubungi penjahit musiman. Jasanya yang akan digunakan bila orderan overload dan di kejar tenggat.

"Bu Lina tolong, panggil seperti biasanya. Panggil Mbak, jangan Ning."

"Nggak bisa gitu dong Ning, sekarang kan Ning Ayana istrinya Gus Ilyas."

"Gus Ilyas yang putra kyai, bukan saya. Kalau Ayana sama seperti Bu Lina, orang biasa. Jadi tolong, cukup panggil Mbak ya Bu," pinta Ayana.

Di hari itu sudah berapa orang Ayana meminta pada orang-orang pada orang-orang yang memanggilnya Ning untuk memanggilnya dengan sebutan Mbak.

Sebagaimana dia yang tidak terbiasa untuk dipanggil ustadzah yang seakan menunjukkan strata tertentu Ayana ingin menjadi teman teman berdiskusi teman proyek pengembangan atau teman bicara di mana yang namanya teman harus tidak ada panggilan yang membuat sungkan apalagi seperti sekarang disebut Ning.

Orang akan semakin menjaga sikap, tidak menunjukkan jati dirinya tidak luwes bertindak dan Ayana tidak menyukai itu. Oleh karenanya, mari bersikap seperti biasanya panggil Mbak Ayana jangan Ning.

"Sebenarnya pantas banget sih kalau Mbak Ayana bersanding sama Gus Ilyas. Serasi."

Ayana tersenyum dengan tulus rayu mengucapkan terima kasih atas ungkapan dari salah satu penjahit tersebut.

Setelah urusan melakukan delegasi instruksi dengan beberapa rumah jahit pada hari itu, Ayana juga perlu melakukan persiapan mengajarnya kembali. Silabus serta konsep bahan ajar yang akan ia susun dalan power point ada di ruang pengajar.

Ketika Ayana memasuki ruang kerjanya banyak dari para ustadzah dan ustad ataupun para staf yang ada di pesantren mengucapkan selamat atas pernikahannya sekaligus mendoakan bagaimana ini suatu keberkahan padahal sebelumnya dia takut sekali mendengar bahwa tidak pantas untuk bersanding dengan Gus Ilyas

Baru saja akan duduk di kursi kerjanya yang ada di ruang pengajar, terlihat dari pop up ponselnya jika suaminya yang melakukan panggilan WhatsApp.

"Assalamualaikum, Gus," salam Ayana setelah menggeser ikon telepon hijau ke atas.

"Waalaikumsalam. Kamu sudah selesai keliling ke penjahitnya, Ayana?"

"Iya, Gus. Sudah."

"Sekarang kamu sedang ada dimana?"

"Di ruang pengajar, Gus. Saya mau menyiapkan materi mengajar buat besok. Sekaligus review juga."

"Bukannya kamu pengajar madrasah, bukan uztazah diniyah? Seharusnya ba'da Zuhur seperti ini kamu sudah bisa pulang, 'kan?" tanya Ilyas yang dipendengaran Ayana seakan sindiran.

Ayana menepuk dahinya. Ia melupakan statusnya sekarang sebagai istri. Ilyas yang notabenenya pengurus pondok tentu bisa mengakses jadwal dan rutinitas yang ia jalani.

"Gus Ilyas sekarang ada dimana?" tanya Ayana memastikan bahwa alasan imamnya menelepon bukan karena sengaja pulang karena mengira dia sudah selesai kegiatan di madrasah.

Ayana tahu kalau kegiatan Ilyas di pondok seharian penuh. Jam 4 sore baru bisa kembali ke rumah itu pun jika malam tidak mengajar di jenjang sekolah tinggi. Tentu berbeda dengan dirinya yang mengajar setengah hari. Ba'da Zuhur dia bisa kembali ke asrama ustazah, menemani Fiza di minimarket ataupun sekarang mengurus tanggung jawab baru dalam pemberdayaan masyarakat.

"Saya di dalem, Ayana. Ternyata kosong, kamu belum kembali."

"Maaf, Gus. Saya balik sekarang. Saya izin mematikan panggilan dulu, mau membereskan barang-barang."

Setelah mengucap salam ketika mengakhiri panggilan dengan suaminya, Ayana pun bergegas membawa laptop dan buku yang berisi mind map bahan mengajar Sejarah Islam.

Di depan pintu dalem kediaman Ilyas yang terbuka, dirinya langsung masuk dan menemukan presensi Ilyas yang sedang menunggunya dengan tab di genggam. Diucapkan salam seraya langkah kakinya menghampiri sang suami.

Sebagai bentuk takzim, ia melakukan salim ketika sudah duduk di samping lelaki halalnya. Tidak lupa ia mengucapkan maaf dan juga menyampaikan alasan kenapa dirinya berencana membuat bahan kepengajaran di ruang kerjanya.

Ilyas tersenyum tidak mempermasalahkan kemudian mengacak puncak kepala Ayana seakan memberikan ketenangan. Ayana sempat melirik apa yang nampak dalam layar 11 inchi tersebut.

"Sedang baca apa, Gus?" tanya Ayana ketika layar

"Mempelajari skripsi mahasiswa yang minggu depan mau ujian. Dia ambil penafsiran ayat poligami dalam surat An-Nisa lewat pendekatan sejarah sebagai asbabul nuzulnya."

Ayana yang berlatar belakang sebagai sarjana dalam lulusan peradaban Islam tentu sangat memahami antropologi dari kebiasaan masyarakat pagan yang mempunyai istri lebih dari satu. Bahkan Sang Nabi yang diutus untuk masyarakat tersebut mempunyai pasangan dengan periwayatan yang berbeda menyebut 9 atau 12 orang.

"Menurut sudut pandang Gus Ilyas, poligami itu bagamana?" lirih Ayana dengan rasa penasaran dan juga takut jika Ilyas sepakat dan berencana melakukan poligami untuk rumah tangganya.

Pertanyaan perempuan yang telah dipilihnya menjadi istri itu sangat menarik atensinya. Dengan menukikkan salah satu alisnya, Ilyas sedang mengamati ekpresi Ayana untuk mengetahui maksud dibalik pertanyaan Ayana.

"Ini pendekatan sejarah, Ayana. Kamu pasti tahu kesimpulan akhir dari rumusan masalah skripsi yang diangkat ini. Lebih baik, sekarang kamu ganti baju, Ayana. Habis ini ikut aku."

"Mau ke mana Gus," tanya Ayana keheranan. Dia dan Ilyas tidak ada pembicaraan apapun jika hari ini keduanya akan pergi.

"Mas, Ayana," koreksi Ilyas.

Ayana menatap bingung pada suaminya. "Panggil Mas, Ayana. Biasakan, yaa!" pinta Ilyas yang jelas menjadi suatu perintah. Ayana mengangguk saja.

"Belanja. Kita kan belum beli bahan dapur emang gak malu makan sama mertua terus."

"Jadi kita pisah urusan dapur?"

"Kita tinggal di dalem sendiri itu biar bisa mandiri urus rumah tangga kita tanpa intervensi dari Abi dan Ummi."

Mata Ayana berbinar menyetujui ucapan Ilyas. Sejujurnya Ayana masih merasa kerdil jika berada dan beriteraksi di dalem utama, kediaman mertuanya. Selain masih mencoba mengikis insecure dalam dirinya yang hanya orang biasa berada ditengah keluarga ulama, Ayana juga sadar diri bahwa ada perasaan bahwa sebenarnya Kyai Marwan tidak menyukainya atau ikatannya dengan sang putra sekarang ini.

Ayana segera mengganti busananya sementara Ilyas memanaskan mobilnya yang berada di samping garasi dalam. Ia akan menuju toserba terdekat dan akan membawa banyak barang, keberadaan Xenia miliknya tentu lebih solutif daripada dia membawa motor. Belum lagi cuaca yang terik membuat Ilyas membiarkan bidadari dunianya terpapar sengatan matahari.

Kemudian keduanya keluar bersama untuk membeli beberapa keperluan bahan dapur serta peralatan yang dibutuhkan untuk masak hanya dikonsumsi berdua saja.

"Kamu mau ambil santriwati buat bantu kamu di dapur, Ayana?" Ilyas membuka percakapan ketika Ayana sibuk memilih panci teflon sedang. Panci serbaguna yang bisa digunakan untuk menggoreng sekaligus merebus air sekitar 750ml air.

"Tidak usah, Mas. Kita kan masih berdua, sepertinya tidak akan repot jika hanya sekadar menyiapkan makanan. Porsinya masih sedikit."

"Baiklah, tapi kamu tahu kan kalau saya agak pemilih akan makanan? Sehari 3 kali makan, seringnya aku memakan masakan fresh, baru saja di masak, Ayana. Apa kamu nantinya tidak akan kerepotan?"

"Insyaallah tidak Gus. Kan saya kerjanya setengah hari. Tetapi, jika nanti keteteran boleh kan kalau makanannya ambil di dapur santri atau beli?"

Ilyas menyunggingkan senyum. "Kalau kamu kelabakan nanti bilang saya, ya. Sesekali juga boleh kok ambil makanan dari dalem utama. Di dapur Ummi sama Abi. Di sana selalu ada makanan di setiap jam makan. Saya turunan Abi, rewel di makanan."

Informasi terkait Kyai Marwan yang memang pemilih akan makanan sudah Ayana ketahui sejak dirinya masih berstatus santriwati dan berteman dengan santriwati yang menjadi abdi dalam. Menurut cerita temannya, bahwa dapur dalem utama akan masak setiap ba'da subuh, menjelang zuhur dan juga selepas magrib. Dengan menu mingguan yang berbeda dan sudah diberikan perincian menu dari Nyai Farhah.

Sebenarnya, Kyai Marwan juga sangat menyukai masakan yang dibuat sendiri oleh sang istri, tetapi karena yang dilakukan istrinya bukan hanya mengurus dirinya dan dapur maka sedikit tolerir dengan abdi dalem yang memasak. Tentu saja sudah melewati pelatihan memasak yang dilakukan oleh Nyai Farhah terlebih dahulu.

Berbeka pengetahuan tersebut Ayana yakin jika Ilyas pun akan bersikap bijaksana sebagaimana Kyai Marwan yang memberikan ruang istrinya tidak melulu di dapur tapi ada pemakluman jika memang sedang kerepotan dengan tugas dan peran selainnya.

"Ayana, kalau aku dipanggil Mas, kamu mau dipanggil apa?"

"Apa ya, Mas? Sudah nyaman di panggil Ayana atau Mbak Ayana. Aneh, geli kalau ada panggilan lainnya," ungkap Ayana jujur.

Ilyas menggeleng tanda dirinya tidak setuju. Hubungannya dengan Ayana halal, lelaki itu tidak menyukai panggilan yang terlalu formal, berjarak dan sama seperti orang lain memanggil sang istri. Jika demikian apa spesialnya ayana untuk dirinya.

"Kalau Ay, gimana? Ayana, Ayang, Aishiteru, I Love You."

Pipi Ayana kembali bersemu merah. Secepat itukah Ilyas jatuh cinta. Tetapi, tidak bisa dinafikan. Ayana jatuh hati pertama kali ketika suaminya menyampaikan kultum pertama kali. Hati pengajar Al Insan tersebut merasakan debar berdekatan dengan Ilyas. Jika sebelumnya menjadi tabu dan haram, berbeda kan dengan hari ini. "Me too," balas Ayana dengan sudut bibir melengkung senyum.

Ilyas yang gemas ingin menarik istrinya dalam dekapan. Namun, karena di area umum lelaki keturunan kyai itu hanya mengacak pelan puncak kepala wanita halalnya. 


Senin, 17 Juni 2024

Gimana part ini, manis, 'kan?

meskipun aku selipin sedikit potensi masalah keduanya dicerita ini.

Ditunggu kelanjutannya yaaa!

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro