Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

Asyifa - 16

بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

"Mungkin dia jodohku kali ya! kemanapun aku pergi selalu saja bertemu dengannya. Takdir pertemuan memang indah. Benar kan Sif?"
-Novilla-

Asyifa Pov.

"Kamu ikut bersama kami ya?" Ucapku begitu saja. Entah mengapa kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutku.

Ila menoleh padaku dan Kak Hafidz nampak bertanda-tanya padaku.

"Kamu kan sahabatku Il, jadi apa salahnya kamu ikut? Aku juga ingin kamu tahu tempat favorit yang aku dulu ceritakan padamu" Ucapku panjang lebar. Aku dulu pernah bercerita pada Ila tentang tempat favoritku, sesama sahabat harus saling terbuka bukan?

Ila nampak mengangguk ragu lalu ia melirik Kak Hafidz.

"Kak, Ila boleh ikut kan?" Tanyaku.

Nampak dia berpikir lalu menganggukkan kepala.

"Boleh, kita berangkat sekarang?" Tanya Kak Hafidz.

"Aku tutup warung dulu ya kak" pamitku lalu masuk ke warung membereskan barang-barang. Aku berpikir apa yang akan terjadi nanti setelah mereka berdua saling kenal?

Aku menggelengkan kepala mengusir hal negatif yang menghantui pikiranku. Aku yakin Kak Hafidz bukan lelaki yang mudah jatuh cinta apalagi dengan Ila yang tak tahu malu dan pecicilan. Bukan aku merendahkannya, tetapi itu adalah sifat murni Ila dari sananya.

Sekitar 5 menit aku sudah selesai membereskan dan menutup warung. Aku berjalan ke depan warung dan nampaklah Ila dan Kak Hafidz berbincang.

"Ayo pergi kak, aku udah selesai menutup warung" ujarku. Kak Hafidz menganggukan kepala dan berdiri. Ila juga berdiri dan menghampiriku.

"Sif, motorku gimana?" Tanya Ila.

"Disini aja, gak ada yang ngambil kok" ucapku pada sahabat seperjuanganku dulu.

"Kalo misal ilang, aku minta ganti rugi ya?" Ucap Ila mengancamku. Aku memutar bola mataku.

"Nih anak ga ada malu-malunya, disini kan ada lelaki pasar malamnya, tak bisakah ia jaga image?" Batinku kesal pada kelakuan Ila.

"Iya, ntar aku ganti sandal swallow keluaran terbaru" ucapku ngawur pada Ila.

"Enak aja, tuh motor harganya puluhan juta tau, gampang banget mau kamu tukar dengan swallow, gak sekalian gorengan?" Ila mulai mencak-mencak, padahal kan aku cuma bercanda.

"Ehem" suara batuk seseorang menyadarkanku. Gara-gara debat gak penting, aku sampai melupakan lelaki disampingku.

"Maaf kak, yaudah ayo berangkat" ucapku lalu berjalan duluan dengan Ila.

Sekitar 200 meter jaraknya kami jalan kaki, akhirnya kami sampai di tempat favoritku. Tak banyak orang tau tempat ini karena posisinya yang jauh dari keramaian.

Sudah lama aku tak kesini, tak banyak perubahan ternyata. Ila yang sedari tadi diam kini bersorak takjub, Kak Hafidz nampak meneliti tempat ini dengan senyumnya.

Sebuah lapangan luas seperti sabana yang ditumbuhi bunga cantik serta ada sungai kecil di sepanjang padang bunga ini menambah kesan cantik, persawahan dengan padi hijau terbentang seperti permadani mahal milik raja terhampar indah. Ada pohon rindang yang tumbuh dengan lebatnya di pinggir sungai kecil tadi.

Tempat ini.

Surga di masa kecilku.

"Ya ampun Sifaa, kamu kalau punya tempat bagus jangan diumpetin dong!" Ucap Ila pura-pura kesal.

"Yee, dulu kamu pernah kuajak, tapi kamunya sibuk. Dasar sok sibuk" cibirku. Ila merengut lalu mengalihkan pandangannya.

"Sif, itu gunung apa? Cantik banget dari sini" ucap Ila sambil menunjuk gunung yang terlihat puncaknya saja karena jaraknya jauh.

"Gunung apa ya? Aku lupa namanya" jawabku sambil menggaruk kepala.

"Itu Gunung Merbabu" ucap suara berat itu, dia--- Kak Hafidz ikut mendengarkan obrolanku dan Ila.

"Waa~ bagus sekali ya, aku baru tau kalau gunung itu bisa terlihat disini. Jaraknya jauh sekali padahal" gumam Ila.

"Iya, Gunung itu mencapai ketinggian 3.145 Mdpl. Wajar jika kelihatan sampai sini" Terang Kak Hafidz pada Ila

"Waah, Masnya ini pendaki gunung ya?" Tanya Ila pada Kak Hafidz.

"Iya, waktu kuliah dulu" Ujar Kak Hafidz pada Ila.

Hei, aku disini. Kenapa mereka bicara seolah tak ada aku. Dan juga, apa ini keputusan terbaik? Aku telah mempertemukan Ila pada lelaki pasar malamnya. Apakah ini benar-benar keputusan terbaik?

"Sepertinya kita pernah bertemu sebelumnya, tapi dimana ya?" Tanya Kak Hafidz pada Ila. Ila dan tingkahnya pun menjawabnya dengan jujur, tentang pertemuan mereka di pasar malam.

"Iya, kita dulu bertemu saat di pasar malam lebih tepatnya di rumah hantu" Ucap Ila.

"Ah, saya ingat. Kamu perempuan yang lari dan menabrak saya kan?" Tanya Kak Hafidz langsung, sementara yang ditanya cengengesan gak jelas.

"Hehee, maaf kalo soal itu. Habisnya takut banget dan juga gelap, jadi aku nabrak-nabrak" ujar Ila dengan senyuman tercetak di pipinya.

Kak Hafidz cuma mengangguk saja.

"Bapak dosen kan? Ngajar dimana?" Tanya Ila pada Kak Hafidz, ia menjawab setiap pertanyaan yang dilontarkan Ila. Aku merasa terkucilkan disini, lebih baik aku menjauh sementara dari mereka.

Cukup jauh aku pergi dari mereka, kukira mereka akan mencariku tapi itu ternyata hanya ekspetasiku. Kulihat mereka dari jauh, mereka semakin akrab berbincang, Ila yang memang orangnya mudah bergaul tak menjadi hal yang aku khawatirkan. Namun hanya satu yang aku khawatirkan, aku takut Kak Hafidz jatuh cinta lalu membalas perasaan Ila, aku takut ia berubah, aku takut ia menjauh, aku takut semua hal yang aku pikirkan benar-benar terjadi.

Aku jongkok dan menatap air dari sungai kecil itu, airnya sangat jernih sampai aku bisa bercermin melihat diriku. Sudah lama aku tak kemari, biasanya aku kesini untuk merenung atau sekedar main-main.

Dulu aku pernah berkata pada diriku sendiri, aku akan kemari dengan seseorang yang special dan aku tunggu setelah sekian lama. Dan hari ini orang itu kemari, juga dengan sahabatku Ila. Aku bersyukur masih diberi kesempatan dan juga waktu untuk bisa berkumpul.

"Syifa" panggil seseorang mengacaukan lamunanku.

"Ayo pulang, sudah jam 5" ujar Ila yang sudah ada dibelakangku.
Aku melihat jam tanganku dan benar saja, sudah jam 05.01.

"Yaudah ayo pulang, Kak Hafidz mana?" Tanyaku.

"Dia udah pulang, dia tadi titip salam dan meminta maaf karena pulang tanpa pamit kamu" ucapan Ila seakan menyadarkanku.

"Kok gitu? Bukannya dia yang mengajakku kemari, bahkan sejak tadi aku gak ngobrol dengan dia" aku terpancing emosi, sungguh ini tak adil.

"Tadi ia ditelpon ayahnya, jadi ia langsung pergi" jelas Ila.

"Oh, seperti itu ya?" Ucapku pelan, di lubuk hatiku aku merasa sedikit kecewa, dia mengajakku kemari tapi ia seakan melupakanku dan asyik berbincang dengan teman barunya.

"Yaudah ayo pulang" ajakku, kami beranjak dan menyusuri jalan setapak.

"Siff, kenapa kamu gak bilang kalau lelaki pasar malam yang kumaksud adalah sahabatmu" ucap Ila sambil terus berjalan.

"Mana kutau" ucapku singkat.

"Oh iya Sif, untung saja tadi siang aku punya rencana untuk ke rumahmu, jadi aku bisa bertemu lagi dengan lelaki itu" ujar Ila dengan senyum mengambang.

"Mungkin dia jodohku kali ya! kemanapun aku pergi selalu saja bertemu dengannya. Takdir pertemuan memang indah. Benar kan Sif?" Ujar Ila padaku. Di relung hatiku aku merasa sedih bercampur pedih.

Secara tak langsung aku telah membuka akses bagi mereka, pertemuan mereka juga sama sekali tak terpikir di benakku. Aku tak tau jika pertemuan mereka secepat ini. Takdir pertemuan memang indah ya? Benar kata Ila.

"Sif" panggil seseorang menyadarkanku.

"Apa" jawabku.

"Aku mau curhat, dengerin ya?" Ujar Ila dengan mata mengerjab.

"Gak usah ijin, biasanya juga langsung ngomong" sindirku.

"Hmm yaudah langsung aja. Kamu tau kan Il? Papaku dosen di IAIN dan ternyata Hafidz itu juga mengajar disana, di fakultas yang sama pula" Jawaban Ila sedikit membuatku tercengang.

"Dan kamu tau fakta lagi Sif? Dia kenal papaku dan ia pernah berbincang dengannya, aku merasa something tau gak" ucap Ila antusias, sementara aku termangu.

Ayah Ila adalah seorang dosen terkenal sementara ibunya adalah seorang guru SMA Negeri. Ila adalah anak yang berkecukupan dan ia juga anak tunggal, gadis itu sangat beruntung. Tak seperti diriku.

"Sudah sampai Il, kamu pulangnya hati-hati ya!" Ujarku saat sampai di jalan rumahku.

"Siap neng, aku akan hati-hati kok" ucap Ila sambil memasang helmnya.

"Sampai jumpa besok Sif" salam Ila padaku.

"Iya, sampai jumpa" lirihku.

Aku masuk rumah lalu menutup pintu, setitik air mata jatuh di pipi. Aku mengusapnya dengan cepat, lalu aku berjalan menuju kamarku dan menghidupkan hp.

Kak Hafidz:

Maaf ya Kai tadi kakak pulang dulu, ada urusan mendadak.

Anda:

Iya gapapa.

Aku menghembuskan nafas membalas pesan Kak Hafidz. Kukira setelah kepulangannya, Kak Hafidz akan lebih bersikap baik padaku, apalagi sudah 4 tahun lamanya kita jarang bertemu. Namun apa yang kudapat? Dia bersikap biasa saja seolah kita selalu bertemu.

Moodku hancur sudah, aku ingin menenangkan diri dengan mandi lalu bersiap sholat maghrib.

***

Aku selesai mandi, dan aku tak jadi ambil wudhu karena aku kedatangan tamu alias datang bulan. Pantas saja aku merasa kesal dan sensitif hari ini.

Handphoneku berkedip dua kali menampakan pesan disana.

Ila:

Sif, aku minta kontak wa Hafidz dong. Siapa tau jodoh.

Kak Hafidz:

Kai, aku boleh minta kontak wa temanmu tadi? Aku ada kepentingan.

Aku membaca pesan mereka nanar dan berpikir.

"Positif thinking saja Sif" ucapku pada diri sendiri.

Bersambung..

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro