
Bab 3 - Simbah Tetuka
Ayah Moses melongo, mendengarkan anaknya bercerita cepat dengan raut muka pucat dan penuh kepanikan. Bahkan jemarinya pun belum diangkat dari papan ketik, sabuk bintang berujung delapan menutupi sebagian jari. Mata ayahnya beralih dari sabuk ke Moses.
"Pelan-pelan, nak. Napas dulu."
Moses sudah hampir sesenggukan, matanya berair, ia sedang di ambang mau menangis, kepanikan melanda. "Sabuk itu, yah. Sabuk itu celaka."
Ayahnya sejatinya pula tahu kalau ribut-ribut, bila tercium oleh Ibunda, pasti tambah ribut. Maka ayahnya menaruh telunjuk di bibir. Lalu berkata pelan, "di mana Rakila menghilang?"
Moses mengajak ayahnya ke lantai atas tempat jemuran dengan mengendap. Sampai di atas, "Ayah, ini sabuk apa sebenarnya? Mengerikan."
Ayahnya meneliti tempat jemuran, tidak ada tanda-tanda bahwa kejadian aneh telah terjadi. "Itu sabuk antik biasa, Ayah suka sabuk itu dan kukira Moses juga akan suka. Kata si penjual sabuk itu punya aura."
"Ayah. Sabuk itu membuat Rakila lenyap. Sabuk itu membawa kami ke tempat aneh."
Ayahnya tidak langsung menghakimi Moses sedang berimajinasi tidak-tidak. Sendirinya tahu diri dan terbuka menerima aneka keganjilan, sebab sendirinya selalu melahap dan mencipta hal-hal ajaib di benak lalu dituang ke tulisan.
"Maksudmu, sabuk itu membawamu ke dimensi lain? Sabuk itu portal dimensi lain, begitu?"
Moses sudah menangis sembari mengangguk-angguk, ia cemas keselamatan Rakila. "Ayah, kita harus menyelamatkan Rakila."
Ayahnya tampak berpikir, lima menit dalam kurungan imajinasi dan reka-reka. Seperti ketika Moses bermain tebak-tebakan dengannya.
"Ayah percaya Moses. Selalu percaya dan yakin Moses selalu berkata jujur." Ucapnya akhirnya.
"Tapi?"
"Kejadian ini seperti cerita-cerita yang ayah tuliskan. Kamu benar, terlalu mengerikan bila kejadian betulan."
"Ini betulan, Ayah. Rakila menghilang. Betulan. Dari mana ayah dapat sabuk itu?" Moses dilanda cemas yang meningkat tiap detiknya. Nasib buruk Rakila yang diculik muka ular itu membayangi terus benaknya. Rakila itu sepupu yang mengasyikkan, menyebalkan yang menyenangkan. Moses merasa amat dekat dengannya, tak mau ia ada hal buruk sedikit pun menimpa Rakila.
"Dari Sudimara. Ada mbah-mbah penjual barang antik."
"Ayo kita ke sana. Diam-diam. Mungkin mbah itu tau sabuk apa ini sebenarnya. Rakila harus diselamatkan segera. Kalau ayah yang lihat sendiri pasti ngeri juga walau ayah suka nulis yang ngeri-ngeri itu."
"Oke. Kita tolong Rakila. Kita berangkat ke Sudimara. Kamu nyalakan motor, biar ayah yang pamit basa-basi sama ibu kamu, mumpung lagi keasyikan ngerumpi."
Mereka turun dan ayah Moses membuka pintu kamar tempat ibu Moses dan ibu Rakila sedang tidur-tiduran sambil bercerita drama keluarga yang bikin ketawa. Pamitnya pergi sebentar beli jajan. Ibu Moses mengiyakan dengan cepat, minta titip dibelikan kacang kulit.
Moses sudah menyalakan motor. Ia menenangkan diri. Ia akan segera bertindak mencari tahu bersama Ayahnya. Memang, semenjak kecil ia sudah dicekoki banyak cerita imajinasi seru dan tak masuk akal. Semua itu ia cerna dengan suka hati dan membuatnya jadi gemar cerita dan baca. Namun, bila salah satu dari ketidakmasukakalan itu terjadi dalam kehidupan nyata, siapa tidak terguncang? Apalagi kalau menyangkut keselamatan jiwa seseorang dekat.
Ayahnya menyuruh Moses memakai helm. Berangkatlah mereka, bermotor ngebut menuju Sudimara. Di jalan, ayah Moses menyempatkan mengungkapkan, "Moses, anggap ini sebagai ujian pertamamu sebagai pahlawan."
"Ayah, sudahlah, ini bukan waktunya." Moses lebih mencemaskan keselamatan Rakila daripada menganggap ini sebagai jalan cerita kepahlawanan yang ayahnya suka karang-karang.
"Oke-oke." Ayahnya sepertinya tahu isi benak Moses. Sisa perjalanan yang ngebut lihai masuk celah kendaraan yang tengah terjebak macet itu mereka habiskan dengan diam. Lima belas menit kemudian mereka sampai di lapak penjual barang antik di pertigaan dekat jembatan menuju stasiun Sudimara, Jombang. "Untunglah masih buka. Biasanya jam segini sudah mabur orangnya."
Moses melihat benda-benda logam usang yang memang menyiratkan aura antik dan mistik. Cincin batu akik banyak ditata di kotak, dengan ragam motif dan irisan. Ada mahkota entah sultan atau raja apa diletakkan di meja. Tusuk konde emas, perlengkapan pakaian pentas ala wayang, wayang mini, kipas lebar yang biasanya digunakan untuk menjalankan aksi layar bumi gonjang ganjing langit kerlap kerlip.
Orang penjaga lapak itu pun tak kalah mistiknya. Moses langsung menebak orang itu adalah dukun. Entah itu gadungan atau sungguhan. Ia tak mempermasalahkan, yang penting kini adalah jawaban.
Ayah Moses yang mengajukan pertanyaan kepada lelaki tua berambut panjang abu-abu tak disisir itu. Perawakannya sudah tambun, ia memakai pakaian longgar dan mulutnya sibuk menghisap rokok. Empat jarinya bersematkan cincin batu akik sebesar kepala tikus.
Lelaki tua yang ayah Moses sebut dengan nama Simbah Tetuka itu mendengarkan rincian kejadian yang dialami Moses. Beliau mengangguk samar, matanya tidak fokus terhadap si pencerita.
"Bisa beri petunjuk, Mbah?"
"Barang mana yang kujual padamu kemarin?" Simbah Tetuka bertanya. Suaranya serak berat.
Ayah Moses meminta sabuk yang dijejalkan Moses ke dalam saku celananya. "Ini Mbah."
"Oh ini." Simbah Tetuka menerima sabuk antik bintang berujung delapan itu dengan rabaan dan indera penciuman.
"Bagaimana, Mbah? Saya harus segera menyelamatkan sepupu saya Rakila."
Simbah Tetuka lama mencermati sabuk celaka itu bergantian dengan mengamati pembawaan Moses. Itu perlakuan yang membuat Moses merasa kurang nyaman.
"Anakmu tidak bohong, Le." Kata Simbah Tetuka.
Pernyataan itu sedikit menohok ayahnya, yang sempat secuil saja kepikiran bahwa Moses mengarang cerita. "Sini nak, Simbah Tetuka jelaskan." Simbah Tetuka mengundang Moses untuk duduk di dekatnya di bangku bambu. "Kamu tidak salah. Kamu benar tentang sabuk ini. Sabuk ini memang portal dimensi lain."
"Kok bisa, Mbah?"
"Tapi dengan catatan. Sabuk itu hanya akan berfungsi bila menjadi milik orang yang bukan sembarangan. Kamu pemiliknya, kamu bukan anak sembarangan."
Ayah Moses menjentikkan jari, mengamini perkataan Simbah Tetuka serta pembenaran atas segala usahanya memoles puteranya. Puteranya bukan anak sembarangan. "Sudah sering kubilang kan, Moses? Kamu anak istimewa."
"Saya hanya ingin menyelamatkan sepupu saya, Mbah." Jawab Moses murung.
"Itu sudah kewajiban kita sebagai saudara. Menolong satu sama lain. Ya, Moses, kamu harus menyelamatkan Rakila sepupumu. Hanya kamu seorang yang bisa menyelamatkannya saat ini."
"Tapi bagaimana caranya, Mbah?" tanya ayah Moses.
"Moses harus masuk kembali ke dimensi lain itu, secepat mungkin. Sekarang juga."
"Tapi saya tidak tahu bagaimana membukanya, mbah."
Simbah Tetuka menyerahkan sabuk itu kembali ke Moses. "Coba kamu perhatikan lagi. Apa hal terakhir yang kamu lakukan terhadap sabuk itu sebelum insiden?"
"Saya dan Rakila memutar-mutarnya."
"Itu caranya."
"Tapi berapa kali, Mbah?"
"Ada berapa ujung dari bintang sabuk itu?"
"Delapan."
"Lakukan."
Tapi ketika Moses hendak memutar sabuk itu, ayahnya mencegah. "Tunggu dulu, begitu saja? Tidak ada penjelasan apa dimensi yang akan anakku masuki? Lalu kenapa hanya dia saja, saya tidak boleh ikut, begitu?"
Simbah Tetuka menjelaskan dengan tenang. "Meski kamu yang membelinya, namun bukan berarti kamu yang menjadi pemilik sejatinya. Sabuk itu telah memilih anakmu sebagai pemenuh takdirnya."
"Sebenarnya sabuk apa ini?"
"Itu bukan sabuk biasa. Itu sabuk pusaka. Selanjutnya, anakmu nanti yang akan mendapatkan penjelasannya sendiri, biar kita belakangan saja. Yaitu dengan masuk ke dimensi lain itu. Seperti yang selalu kamu katakan kepada anakmu. Anakmu akan menjadi pahlawan sesungguhnya."
"Saya tidak mau jadi pahlawan, saya hanya ingin menyelamatkan Rakila." Moses bangkit dengan gagahnya lalu memakai sabuk itu di pinggangnya. Memutarnya delapan kali.
Simbah Tetuka mencegah putaran terakhir, ia menambahkan pesan, "Ingat selalu cerita-cerita yang mengilhamimu. Itu akan menguatkanmu. Dimensi lain sana mengerikan, apalagi alam makhluk yang menculik sepupumu."
Moses mengangguk. Putaran terakhir, Moses lenyapdari hadapan ayahnya dan Simbah Tetuka yang membeku dalam waktu.
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro