Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

Bab 17 - Biru Langit

Tampak jelas bahwa Rakila, anak manusia saudara Moses, takut setengah mati. Tangannya dirantai. Ia meringkuk menggigil. Matanya terdapat lingkar hitam. Malang sekali anak manusia itu. Perbuatan Raikewan tidak bisa dimaafkan. Rakila dijadikan kelinci hiburan.

Di hadapan Warok Sentadu muncullah proyeksi tubuh asli si Raiulo. Tongkat penguasa Raikewan sudah dipegangnya. Ada bercak darah di ujung tongkat yang memiliki bilah batu tajam. Warok Sentadu duga itu adalah darah Railutung. Sengaja tidak dibersihkan, sebagai tanda bahwa penguasa lama sudah mati.

Ular raksasa itu berhenti menggeliat menggetarkan permukaan hitam legam Palagan Wolu. Warok Belibis dan Warok Kepik terjepit di bawah ekor si ular, tak dapat bergerak. Prajurit Raikewan berdiri berjajar di sepanjang sisi tubuh ular raksasa. Proyeksi si Raiulo menjilat-jilat udara, mata pipihnya memicing ke Warok Sentadu. "Pahlawan kalian tidak akan terwujud di siklus kali ini."

"Kau tak tahu apa-apa, Raiulo." Tanggap Warok Sentadu tenang. Ia tentu mendengar rintihan dua murid Waroknya. Tapi untuk mengambil tindakan sekarang akan jadi hal yang gegabah. Warok Sentadu terkepung di depan gerbang kabut yang telah diperkuat dengan mantra.

"Lalu kau tahu banyak apa-apa? Ketahuilah, Baureksa Luhur kalian sudah bungkam. Petunjuk-petunjuk luhur sulit dijangkau lagi. Itu adalah pertanda bahwa junjungan kami mulai beraksi. Junjungan mulia Duruwiksa yang dulu kau penjarakan di langit, sekarang telah bebas."

Warok Sentadu meludah. Ia akan selalu meludah sebagai tanda penghinaan untuk para bedebah dimensi. Ia tak akan pernah takut. "Maksudmu, bebas sebagian. Duruwiksa masih terkurung."

"Terserah apa katamu. Bebas sebagian atau bebas utuh, tidak masalah. Entitas Duruwiksa akan selalu ada dan dapat memberi kami kekuatan. Penjara langitmu sebentar lagi runtuh. Duruwiksa akan datang memberi perhitungan. Kerajaan picik yang kalian lindungi akan runtuh!"

Warok Sentadu meludah lagi. "Kalian Raikewan, bertindak sebagai penjahat yang bodoh. Mau saja mengorbankan banyak nyawa Raikewan. Kalian hanya diperalat. Duruwiksa sedari dulu tidak akan pernah membagi-bagi keuntungan. Kalian pikir, kalian dapat menembus gerbang kabut lalu mengobrak-abrik desa-desa demi mencapai kerajaan? Kalian pikir kalian akan menang? Jika pun kalian dapat memenangkan pertarungan ini, yang mana aku sangsikan, Duruwiksa akan mengklaim jerih payah tumpah darah kalian, kalian akan dilenyapkan. Meleklah, Duruwiksa pernah melenyapkan satu golongan, yang tidak lebih bodoh dari kalian."

Si Raiulo tampak tidak tersinggung, yang tersinggung adalah para prajuritnya. Mereka sudah mengangkat senjata, menunggu aba-aba tuan baru mereka.

"Terserah kau mau bicara apa. Kau hanya satu. Kau akan tumbang. Serang!"

Ratusan Raikewan menyerbu menuju tempat berdiri Warok Sentadu. Ia bertarung seorang diri. Menebas dan menendang sana sini. Jatuh tumbang lalu bangkit lagi menghempas dengan jurus tapak lenting, mencelatkan puluhan Raikewan sekaligus. Warok Belibis dan Warok Kepik hanya dapat menyaksikan dengan ditindihi beban ekor ular yang sukar diangkat. Mereka menyaksikan gurunya bertarung lebih dahsyat daripada sebelumnya. Kemampuan gurunya belum habis. Jurus-jurus yang sebelumnya tak pernah mereka lihat, dilancarkan oleh Warok Sentadu. Lelana brata kilat yang dilalui Warok Sentadu di masa lampau melalui celah tersembunyi di Cakragraha ternyata menyimpan banyak kejutan. Laku lelana brata dari sana amat berbeda dengan laku lelana brata biasa melalui celah yang diijinkan Kerajaan.

Sekali dua kali Warok Sentadu mengeluarkan jurus bilah sentadu tajam yang memenggal tubuh para Raikewan menjadi dua bagian. Tetapi mereka terus saja bermunculan. Membuat Warok Sentadu keheranan. Ia ingat kematian Raikewan tetap meninggalkan bangkai. Yang terjadi saat ini adalah Raikewan yang tumbang lenyap seperti debu. Duruwiksa pasti telah bermain-main dengan proses penciptaan mereka. Semua ini, tidak alami.

Duruwiksa memang mampu melakukan hal-hal seperti itu. Itulah sebabnya mereka amat bahaya dan jangan sampai mengambil alih kuasa dunia. Ular raksasa bergeming menyaksikan Warok Sentadu menghabisi serbuan Raikewan. Gerbang kabut pun belum dapat ditembus. Setiap Raikewan yang berhasil lolos dari gempuran Warok Sentadu, menubrukkan diri ke lapis lindung gerbang kabut desa Randucakra dan mendapati diri mereka hancur bagai beling. Raikewan bermuka gorila dan beruang mengangkat batu singgasana Railutung yang telah mati, melemparnya ke gerbang kabut. Warok Sentadu hampir saja tertimpa batu itu, ia segera menghindar dan diserang oleh lusinan Raikewan pembawa tombak. Ada satu tombak yang mengenai bahunya. Gerak Warok Sentadu pun jadi melambat. Ledakan terjadi ketika batu singgasana Railutung menghantam gerbang kabut. Tulang belulang Railutung tercerai berai ke segala arah. Darah kehijauan mengotori lapis lindung gerbang kabut, bebatuan serpih terbakar.

"Pertahanan yang mengagumkan." Kata ular raksasa. Warok Sentadu melihat anak manusia bernama Rakila berteriak minta tolong, mata anak itu membelalak melihat pertempuran mengerikan.

"Kau tidak akan pernah bisa masuk." Balas Warok Sentadu. Dengan bahu terluka ia mengibaskan lengan jubah yang kini melebar dan menjadikan tepiannya tajam. Ia hempaskan energi angin dari lengan jubah itu, menerbangkan lusinan Raikewan yang membawa tombak.

"Aku akan tetap mencoba." Ular raksasa menggilas dengan ekornya. Warok Belibis dan Warok Kepik remuk tulangnya. Mereka menjerit kesakitan. Keduanya ditepis oleh ekor ular raksasa, terhempas dan menghantam gerbang lain di Asta Lawang. Warok Sentadu mengibaskan lagi lengan jubahnya, tak memedulikan luka di bahu.

Ular Raksasa mengambil ancang-ancang. Ia dapat melata di udara. Matanya berapi, lidah cabangnya menjilat-jilat udara. Celaka, ular raksasa hendak menerobos ke gerbang kabut. Warok Sentadu kepayahan mengibaskan energi angin untuk menghalau si ular. Deru angin dapat ditembus mudah oleh ular raksasa. Karena terlalu fokus menghalau ular raksasa yang kian mendekati gerbang kabut, Warok Sentadu tak dapat mengantisipasi datangnya serangan dari samping. Ia diseruduk oleh Raikewan badak. Ular raksasa kini dapat jalan bebas untuk menubruk lapis lindung gerbang kabut.

Warok Sentadu membelalak ngeri. Ia memanjatkan doa supaya mukjizat yang diharapkannya segera datang. Sebelum semuanya terlambat. Ia sangsi lapis lindung gerbang kabut dapat bertahan dari serudukan ular raksasa yang memiliki moncong sekeras baja dan intan.

Tiba-tiba semuanya jadi putih.

Cahaya membutakan meledak dari titik ketika moncong keras ular raksasa sudah hampir mencium lapis lindung gerbang kabut. Cahaya putih menyilaukan menyapu habis para Raikewan buatan Duruwiksa. Warok Sentadu dan dua muridnya pun mengalami kebutaan. Untuk mengetahui apa gerangan yang terjadi, Warok Sentadu mengeluarkan tubuh halusnya. Ia meraga sukma.

Ular raksasa menggeliat kesakitan. Kaca kerangkeng manusia pecah. Anak manusia di dalamnya mengucek-ucek mata dengan panik. Segalanya masih putih. Ada sesosok yang jelas dapat dilihat oleh mata batin Warok Sentadu.

Astacakra telah datang. Ia bercahaya keemasan. Dari dadanya terpancar delapan sorotan cahaya energi. Matanya menyorotkan cahaya putih tepat ke mata si ular raksasa. Ia tengah membutakan dan melenyapkan entitas si ular raksasa. Si ular raksasa menggeliat tak karuan. Astacakra terbang di udara mengikuti gerak geliat si ular. Ia pertahankan sorotan cahaya dari matanya.

Anak manusia dalam kerangkeng yang pecah kacanya histeris menjerit. Ia mencengkeram rantai kuat-kuat agar tidak terpelanting. Geliat si ular raksasa makin membabibuta sampai memutus rantai pengekang si anak manusia. Warok Sentadu harus menyelamatkan anak itu. Ia kembali ke tubuh raganya dan mengaktifkan mata batin, sebab mata raganya masih buta karena cahaya. Ia melompat dan menyelamatkan anak itu.

Astacakra alias Moses menggulung si ular yang kini makin menciut diterpa cahaya energi luhur. Ia pun mendarat, berjalan menuju titik tengah Palagan Wolu. Matanya masih memancar cahaya yang menyeret Raiulo. Si ular telah berubah jadi tubuh semula, Raiulo yang meringkuk menggigil ketakutan. Gerakan sabetan tangannya mengirim Raiulo meluncur di udara menuju keping cakram dimensi Raikewan. Raiulo menjerit kepanasan menembus lapisan atmosfer. Astacakra kemudian melakukan gerakan untuk memunculkan delapan portal pancaran energi, Asta Pancar. Dari tiap depan gerbang Asta Lawang, muncul lingkaran cahaya putih. Astacakra menyatukan tangan di atas kepala. Delapan portal cahaya energi itu bergerak dalam iring-iringan yang serasi, bergerak memutar dengan Astacakra sebagai porosnya, mengitari dari rentang jarak yang jauh lalu mendekat. Asta Pancar berubah jadi kepingan-kepingan yang bertumpuk di atas kepala Astacakra.

Warok Sentadu sama sekali buta ilmu mengenai apa yang hendak dilakukan Astacakra.

Asta Pancar kini menyatu, menciptakan lingkar cahaya energi yang besar. Sekali tepukan tangan Astacakra, portal itu memuntahkan cahaya energi yang dahsyat, menyorot ke langit. Segalanya tambah menjadi putih. Bahkan mata batin Warok Sentadu pun jadi buta.

Pada saat Warok Sentadu mendapatkan kembali penglihatannya, ia sudah di Cakragraha, berbaring di matras tempatnya bersemedi tiap malam. Di sampingnya berbaring dengan mata terbuka, dua muridnya, Warok Belibis dan Warok Kepik. Di seberang, Moses berbicara pelan kepada saudaranya, Rakila, yang sudah selamat. Moses menyentuhkan telunjuk dan ibu jarinya di kening Rakila. "Semua akan baik-baik saja. Kamu selamat." Rakila dibuat tertidur.

"Moses, bagaimana kau dapat kembali? Kawah energi surya lenyap." Warok Sentadu mendudukkan diri.

Moses berjalan pelan mendekatinya. Ia sudah dalam wujud anak kecil lagi. "Selalu ada jalan. Aku berjumpa dengan Sapta Cakra. Ia memberitahuku mengenai jalan yang lain, melalui Lawang Ombo."

"Lawang Ombo? Aku belum pernah dengar. Itu berarti kau berhasil. Kau telah menjadi Astacakra."

"Iya. Aku akan siap menjadi Astacakra bagi Randucakra dan sekitarnya. Selama yang aku bisa." Bicara Moses tenang dan mantap. Membuat Warok Sentadu jadi takjub. Ia pun menyatukan tangan sebagai tanda penghormatan.

"Terima kasih telah menyelamatkan kami semua."

"Dengan senang hati. Aku telah melihat tujuan yang lebih besar dari menjadi Astacakra. Lihatlah ke luar, segalanya sudah berubah. Ini adalah titik mula terbaru."

Moses mengajak tiga Warok keluar dari Cakragraha.

"Luar biasa." Kata Warok Kepik.

"Begitu indah. Aku jadi iri dengan kalian manusia bisa selalu melihat langit biru yang indah." Kata Warok Belibis.

Langit Randucakra berubah jadi biru cerah, dengan awan-awan yang berarakan berjauhan. Ada bulatan memancar sinar terang menghangatkan. "Itu matahari atau surya, terserah mana yang ingin kalian sebut." Terang Moses. "Dan ini bukan sementara."

Warok Sentadu sampai meneteskan air mata. "Lalu, bagaimana dengan pergeseran dimensi?"

"Dengan energi cahaya Cakra Satria, aku berusaha mendorong cakram dimensi Raikewan yang terlepas sumbunya dari semesta Watukayu. Semoga dimensi mereka kini stabil. Sumbu dimensi butuh waktu lama untuk mewujud kembali."

Tak pernah Warok Sentadu bayangkan Cakra Satria dapat melakukan itu. "Lalu, bagaimana dengan Duruwiksa?"

"Duruwiksa merasa mereka leluasa karena langit semesta ini selalu dalam keadaan gelap. Penjara langit bocor karena kegelapan. Duruwiksa pun bersahabat dengan kegelapan itu sendiri. Maka satu-satunya jalan yang dapat menguatkan penjara langit itu adalah dengan cahaya. Melalui himpunan cahaya kekuatan Cakra Satria, aku membukakan langit yang baru buat semesta ini."

"Semoga semesta ini diberkahi."

"Ini hanya sebuah awal." Kata Moses.    

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro